Actions

Work Header

You are Loved

Summary:

“Hayi?”
Haitham menoleh, tanpa repot-repot menata terlebih dahulu raut wajahnya yang kesal.
Berlawanan dengannya, sosok yang memanggilnya barusan justru tampak berseri-seri.
Sepasang mata rubinya melebar, seolah senang sekali karena tebakannya benar. Sudut-sudut bibirnya tertarik, menampilkan sederet gigi yang bersih dan rapi. Pipinya bahkan sedikit merona karena senyumnya yang begitu lebar. Jantung Haitham berdetak sedikit lebih cepat.
“Kak…Kaveh?”

***

Akibat kalimat yang ia dengar waktu kecil, Haitham selalu merasa bahwa tidak ada yang menyayanginya.
Selama ini itu bukan masalah baginya. Justru bagus, alih-alih membuang waktu untuk bersosialisasi, ia dapat fokus belajar dan membantu pekerjaan rumah untuk meringankan beban kakak sepupunya, Zhongli.
Hingga suatu ketika, ia dipertemukan kembali dengan teman masa kecilnya, Kaveh, yang dengan riang mengobrak-abrik rencana hidup gadis itu.
Seolah belum cukup, Kaveh lalu menyatakan bahwa ia menyayangi Haitham.
Konyol, sungguh.
Tapi, mengapa jantung Haitham berdebar-debar karenanya?

Notes:

CW for this chapter: Sexual harrassment, Bullying.
Haitham is a girl.
Please be mindful of the tags before reading!

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Pertemuan Kembali

Notes:

CW for this chapter: Sexual harrassment, Bullying.
Haitham is a girl.
Please be mindful of the tags before reading!

Chapter Text

Sepatu Haitham mengetuk-ngetuk lantai dengan tempo semakin cepat. Kedua tangannya menyilang di depan dada, lidahnya berdecak kesal. Bahunya mulai pegal akibat terlalu lama menggendong tas sekolah berisi buku-buku pelajarannya hari itu, tapi apa daya, langit tak henti-hentinya menumpahkan air. Pasalnya, dia lupa membawa payung dan jaket hari itu. Bodoh memang, padahal Haitham tahu betul sekarang ini telah memasuki musim hujan, dan mereka sepertinya hobi sekali turun di jam-jam pulang sekolahnya.

Haitham menghela napas.

Sebenarnya bukannya dia lupa membawa payung. Haitham yakin sekali dia tidak pernah mengeluarkan payung lipat miliknya dari dalam tas. Hanya saja, sepertinya beberapa hari yang lalu ada yang ‘meminjam’ payungnya dan ‘lupa’ mengembalikan.

Gelak tawa yang menggelegar mengalihkan perhatian Haitham.

Dia melirik melalui ekor matanya.

Sekelompok siswa tertawa-tawa di kantin seberang lapangan. Sebagian besar anak kelas sebelas, tapi Haitham mengenali beberapa orang anak sekelasnya di sana. Sepertinya ‘peminjam’ payungnya adalah salah satu dari gerombolan itu. Bukannya asal menuduh, tapi samar-samar obrolan mereka sampai ke telinga Haitham.

“...liat tuh dia udah nggak sabar gitu.”

“Taruhan sama gue, bentar lagi pasti bakal dia terobos hujannya.”

“Nggak sia-sia lo ambil payungnya. Bentar lagi kita bakal dapet pemandangan asoy, nih.”

“Ayoo, cepet lah terobos sana. Jackpot banget hari ini hujannya gede, mana dia lupa bawa jaket, basah dikit juga pasti langsung ngejiplak.”

Kalimat itu lalu disambut gelak tawa yang lainnya.

Haitham mengertakkan gigi. Kakinya berhenti mengetuk-ngetuk lantai. Otaknya berputar, memikirkan cara agar dia dapat pulang tanpa memberikan kepuasan bagi cowok-cowok kurang ajar itu.

Sialnya, ia diinterupsi oleh sebuah suara yang memanggilnya ragu.

“Hayi?”

Haitham menoleh, tanpa repot-repot menata terlebih dahulu raut wajahnya yang kesal.

Berlawanan dengannya, sosok yang memanggilnya barusan justru tampak berseri-seri.

Sepasang mata rubinya melebar, seolah senang sekali karena tebakannya benar. Sudut-sudut bibirnya tertarik, menampilkan sederet gigi yang bersih dan rapi. Pipinya bahkan sedikit merona karena senyumnya yang begitu lebar. Jantung Haitham berdetak sedikit lebih cepat.

“Kak…Kaveh?”

Pemuda di hadapannya mengangguk cepat. “Iya! Ini Kaveh!” Seringainya semakin lebar seolah dia begitu senang karena Haitham mengingatnya. Aneh. “Gue tadi udah ragu-ragu mau nyamperin karena takutnya lo lupa sama gue.”

Haitham meneliti penampilan pemuda itu.

Memang, jika dibandingkan dengan dulu, Kaveh berubah. Tubuhnya jadi jauh lebih tinggi sekarang. Lemak-lemak bayinya pun sudah hilang, meskipun tidak sepenuhnya, membuat garis-garis wajahnya semakin tegas namun tetap terlihat muda. Suaranya juga lebih berat sekarang. Kaveh telah tumbuh menjadi pemuda yang…yah, tampan.

Tetapi mana mungkin Haitham melupakan sepasang mata rubi cemerlang yang selalu berbinar itu. Atau senyumnya yang secerah matahari. Dan tentu saja…

“Memangnya siapa lagi yang manggil aku ‘Hayi’ selain Kak Kaveh?” dengus Haitham.

“Oh, betul juga,” kata Kaveh seraya menggaruk lehernya kikuk. “Hayi sejak kapan sekolah di sini?”

Haitham menatap Kaveh seolah-olah ia berbicara dengan seorang imbesil. “Sejak…awal tahun ajaran?”

Hah? Kok bisa-bisanya gue nggak pernah lihat kamu sih? Padahal ini udah mau masuk semester dua.”

Haitham mengangkat bahunya tak acuh. “Mungkin Kak Kaveh mainnya kurang jauh.”

“Nggak mungkin,” tukas Kaveh segera. “Orang tukang bakso sama tukang es teh di belokan aja gue kenal, kok. Apalagi murid sekolah ini.”

“Kalau gitu aku yang mainnya kurang jauh,” jawab Haitham asal. Dia mulai melepas tas dari bahunya, berniat menggunakannya untuk menutupi kepalanya dari hujan. “Kak, udah dulu ya, aku mau pulang nih.”

“Eh iya, sori jadi ganggu waktu lo.” Kaveh lalu mengerutkan alis, melihat Haitham mengangkat tasnya di atas kepala. “Lo pulang naik apa, Yi?”

“Jalan kaki.”

“Lah, payung lo mana?”

“Ketinggalan.”

Kerutan di antara alis Kaveh menjadi semakin dalam. “Terus lo mau nekat terobos hujannya?”

Haitham mengangkat bahu. “Ya mau gimana lagi?”

“Jangan dong, tunggu dulu sebentar.” Kaveh mengobrak-abrik isi tasnya, lalu mengeluarkan sebuah payung lipat berwarna hijau gelap. “Nih, pake dulu aja payung gue. Daripada lo hujan-hujanan nanti malah sakit. Bentar lagi ujian semester kan?”

Haitham menggeleng. “Nggak usah, Kak. Rumahku nggak jauh, kok.”

“Udah, pake aja. Kebeneran gue juga belum mau pulang, kok. Masih ada kegiatan lagi. Biasanya sih sorean dikit udah berhenti hujannya.”

“Tapi–”

“Veh!”

Perhatian Kaveh teralihkan sepenuhnya kepada seorang siswi yang memanggilnya. Kalau tidak salah, dia adalah salah seorang anggota OSIS. 

“Buru sini! Rapatnya udah mau mulai.”

Kaveh meringis. “Duh, Yi, gue pergi dulu ya. Besok kita lanjut ngobrol lagi.”

“Kak, tapi ini payungnya–”

“Pegang dulu aja, besok gue ambil ke kelas lo, oke?”

Seraya mengedipkan sebelah mata, centil sekali, Kaveh menyeringai dan berlari-lari pergi. 


 

Keesokan harinya, Kaveh benar-benar muncul di kelas Haitham.

“Hayii,” rengeknya seraya langsung menghampiri kursi Haitham, entah abai atau betul-betul tidak menyadari tatapan kaget sekaligus terpesona siswa-siswi di kelas tersebut ke arahnya. 

Rupanya Kak Kaveh memang populer, batin Haitham. Sial.

“Kok susah banget sih nyari kelas lo? Gue udah nanya semua orang tapi hampir nggak ada yang tahu.”

“Maaf deh aku nggak sepopuler Kak Kaveh,” jawab Haitham sekenanya. “Nih, payung Kakak.”

Thank you! ” kata Kaveh riang, membuat Haitham mengerutkan alis. Bukannya dia yang harusnya berterima kasih karena telah dipinjami payung? “Hayi, lo laper nggak? Kita jajan ke kantin, yuk.”

Hayi menggeleng. “Aku udah makan bekal jam istirahat pertama tadi.”

“Kalau gitu ngemil-ngemil aja deh, gue yang traktir. Ayoo, Hayi.”

“Nggak bisa,” jawab Haitham tegas seraya bangkit dari tempat duduknya. Tangan kanannya mendekap sebuah buku. “Aku harus ngembaliin buku ini ke perpustakaan, kalo nggak nanti aku kena denda.”

“Oke kalo gitu gue temenin lo ke perpus, terus kita ke kantin ya.”

“Nggak bisa, Kak Kaveeh,” tandas Haitham. “Aku mau lanjut belajar buat ulangan.”

“Yah…” sahut Kaveh kecewa. “Ulangan apa sih? Sini gue sambil ajarin deh–”

Tanpa membiarkan Kaveh menyelesaikan kalimatnya, Haitham buru-buru melangkah keluar dari kelasnya. Hatinya sedikit pedih saat melihat tampang Kaveh yang lesu, bak anak anjing yang tidak diajak bermain, namun dia berusaha mengabaikannya. 

Demi kehidupannya yang tenang di sekolah.

***

 

Prasangka buruk Haitham betul-betul terjadi.

Sepulang sekolah, segerombolan anak kelas sebelas sudah menunggu di depan kelas Haitham dengan tampang masam. Semuanya perempuan. Teman-teman sekelas Haitham yang mau pulang berusaha sebisa mungkin menghindari mereka. Sebagian besar malah memilih untuk menunggu di kelas hingga mereka pergi. Haitham menghela napas. Seandainya saja dia juga bisa menunggu di sini sampai mereka pergi dengan sendirinya, tapi dia yakin, semakin lama dia mengulur-ulur waktu, akan semakin memuncak pula emosi mereka.

Menghela napas lagi, Haitham meraih tas sekolahnya dan berdiri.

Benar saja, gerombolan kakak tingkatnya segera berkerumun dan menghadang jalannya saat dia melangkah keluar dari kelas.

“Lo Haitham, ya?” tanya salah seorang dari mereka, kemungkinan besar pentolannya. “Sini bentar, kita mau ngobrol sama lo.”

Mati-matian Haitham berusaha menahan diri untuk tidak menghela napas lagi, alih-alih, dia mulai merutuki Kaveh di dalam hati.

***

 

Haitham meringis saat merasakan punggungnya menabrak tembok.

Entah botol minum atau tempat bekalnya di dalam ransel menusuk tulang belikatnya. Barangkali besok punggungnya akan memar-memar. Sial, kuat juga cewek-cewek ini.

Namun belum cukup sampai di situ, sebuah tangan kurus menyusup ke helai-helai kelabu panjang Haitham dan menariknya, keras. Haitham reflek memekik, separuh kaget separuh sakit.

“Dasar lonte, ” umpat gadis yang menjambak rambut Haitham, si pentolan geng. “Nggak kapok ya dulu kita peringatin lo sekali, sekarang berani-beraninya kecentilan ke Kak Kaveh.”

Haitham mengernyit. “Siapa yang kecentilan? Yang ada juga Kak Kaveh yang centil duluan ke aku–”

Kata-katanya terputus akibat tamparan pedas di mulutnya.

“Jaga ya tuh congor, anjing! ” bentak siswi yang barusan menamparnya. “Berani-beraninya ngatain Kak Kaveh. Lo tuh harusnya bersyukur Kak Kaveh udah berbaik hati mau notice lo yang kayak sampah ini. Bahkan sampai minjemin payungnya buat lo, kan? Terus sikap lo ke dia malah jutek banget. Nggak tahu terima kasih emang lo, lonte.”

Haitham menggigit bibirnya yang pedih, berusaha untuk tidak mengutarakan kebingungannya secara lantang.

Centil salah, jutek salah. Jadi aku harus bersikap kayak gimana ke Kak Kaveh?

“Denger, tuh!” timpal seorang yang lain. “Sok kecakepan banget sih lo. Mentang-mentang punya aset gede jadi sengaja pake seragam ketat sama rok pendek gitu. Murahan banget sih.”

“Heran emang, kok bisa-bisanya seragam kayak gini lolos dari inspeksi guru ya?” sahut si pentolan geng. “Oh, gue tahu. Pasti karena lo dipake juga ya sama mereka? Makanya lo bisa dapet privilege kayak gini? Ternyata guru-guru kita juga nggak tahan ya ngeliat belahan dada yang lo pamer-pamerin itu.”

Reflek, Haitham menceletuk, “Iri ya, Kak?”

Wajah-wajah di hadapannya seketika berubah menjadi merah padam.

Anjing, lo nggak ada sopan-sopannya ya sama kakel!” bentak si pentolan geng. Didorong emosi, alih-alih menarik rambut Haitham, dia mendorong kepala Haitham, mengarahkannya ke tembok di belakangnya. 

Celaka.

Haitham reflek memejamkan mata, menunggu benturan keras yang mungkin akan mengantarnya ke IGD. Namun, alih-alih terbentur, kepalanya justru ditangkup oleh telapak tangan yang besar dan hangat. Cengekeraman di rambut panjangnya terlepas, sehingga Haitham dapat mendongak dan melihat si pendatang yang baru saja menyelamatkannya dari kemungkinan mengalami kerusakan otak.

Kaveh.

Belum pernah Haitham melihat Kaveh semarah ini. Alih-alih berapi-api - seperti apabila dia merajuk padanya - amarahnya kali ini tampak kelam, bak awan mendung yang menggulung sebelum badai. 

Walaupun begitu, saat berbicara, suara Kaveh tenang. “Oh jadi gini ya sikap anak-anak kelas sebelas ke adik kelas? Bukannya mengayomi, malah nge- bully. Kayaknya waktu itu kita kasih ospek kurang keras ya ke kalian?”

Luar biasa melihat bagaimana wajah-wajah para siswi itu memucat begitu cepat. 

“K-kak Kaveh…”

“Gue juga nggak inget pernah minta tolong ke kalian buat negur Hayi soal sikapnya ke gue. Rasanya gue bahkan nggak pernah ngobrol sama kalian, deh. Kok bisa-bisanya kalian ngelabrak Hayi sambil bawa-bawa nama gue sih? Siapa yang nyuruh?” Tiba-tiba saja suaranya turun beberapa interval, sarat ancaman. “Gue nggak suka banget, ya.”

Beberapa dari gerombolan itu mulai berkaca-kaca. Wajar, karena Haitham yang bukan menjadi sasarannya pun diam-diam sedikit gentar akan kemarahan Kaveh.

Perlahan mereka satu-persatu mengatakan, “Maaf, Kak Kaveh…”

“Nggak ke gue. Minta maaf ke Hayi.”

Seperti gerombolan anak itik, mereka serentak menoleh ke arah Haitham. Raut wajah mereka jelas-jelas tidak menunjukkan penyesalan, malah tampak malu dan kesal, tetapi dengan patuh mereka berkata, “Maaf…Haitham.”

Haitham hanya mengangguk, tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Di sisinya, Kaveh menghembuskan napas panjang. Amarahnya sepertinya sedikit reda setelah mendengar permintaan maaf mereka, karena ia kembali ke mode kakak kelas yang mengayomi. “Kalian ini udah dewasa. Udah kelas sebelas, sebentar lagi naik kelas dua belas, terus lanjut kuliah. Coba pikir deh, kalau misal Hayi sampai celaka gara-gara kalian, bisa-bisa malah kalian yang dikeluarin dari sekolah. Mau masa depan kalian hancur hanya gara-gara sok keren kayak gini doang?”

Gerombolan itu menggeleng seraya menyuarakan lirih, “Nggak, kak…”

Haitham mengerutkan kening saat mendengar isakan di sana-sini. Tangis mereka malah pecah setelah dinasehati Kaveh. Aneh.

“Awas kalau kalian macem-macem lagi sama Hayi. Gue punya rekaman kejadian barusan. Selain bullying, kalian juga secara nggak langsung udah menghina guru-guru kita. Kalau sampai rekaman ini nyampe ke tangan mereka, gue bisa pastiin hukumannya berat.” Kaveh menunggu hingga mereka mengangguk-angguk sebagai respon, lalu berkata, “Udah, sekarang bubar sana.” 

Tanpa ba-bi-bu, mereka buru-buru pergi.

Kaveh memelototi mereka hingga hilang dari pandangan sebelum mengalihkan perhatiannya kepada Haitham.

Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Tubuhnya sedikit membungkuk agar dapat menyejajarkan matanya dengan Haitham. Raut wajahnya sarat kecemasan. 

“Yi, lo nggak apa-apa? Ada yang sakit? Ada yang luka? Kepala lo tadi sempet kena nggak?”

Sejujurnya, bibir Haitham masih terasa pedih dan punggungnya mulai berdenyut-denyut nyeri, tapi didorong kebiasaan, dia menggeleng.

“Serius?” Tangannya mengelus-elus belakang kepala Haitham dengan lembut. “Di sini nggak ada yang sakit? Lo ngerasa pusing nggak?”

“Nggak, Kak. Aku nggak apa-apa.”

Bibir Kaveh sedikit menekuk ke bawah, seperti akan menangis. “Maaf ya, Yi, mereka jadi ngelabrak elo gara-gara gue…”

“Iya emang gara-gara kak Kaveh,” dengus Haitham kesal. “Dari kemarin kan aku udah nolak Kakak pinjemin payung Kakak ke aku, tapi Kak Kaveh malah maksa.”

“Tapi kalau nggak gitu kemarin lo bakal kehujanan–”

“Jadi lebih baik aku di- bully sama kakak kelas daripada kehujanan?”

Kaveh tertegun. Ekspresinya disaput kengerian saat pemahaman mulai meresap di otaknya.

“Hayi…jadi kemarin lo nolak bantuan gue karena…lo tahu bakal kejadian kayak gini?”

Haitham hanya menunduk, tidak memberi jawaban.

“Maaf, Hayi, maaf banget,” kata Kaveh lagi. “Gue nggak nyangka bakal kayak gini jadinya.”

Haitham mendengus. “Makanya lain kali dengerin dulu omongan aku, jangan main paksa terus pergi gitu aja.”

Kaveh cemberut. “Iyaa, Hayi, makanya ini gue minta maaf ke lo.” Jahil, tangannya meraih pipi gadis itu dan mencubitnya pelan. “Lo juga makanya jangan judes-judes banget jadi cewek, biar orang-orang nggak pada salah kaprah sama lo.”

Haitham menepis tangan Kaveh sengit, tampak siap menggigit jari pemuda itu hingga putus, “Apa sih, Kak!”

Bukannya takut, Kaveh malah terbahak. “Gemes banget sih, Hayi.”

Otak Haitham tidak memahami korelasi antara kalimat itu dengan dirinya, tapi tak urung jantungnya sedikit melompat.

Seolah belum cukup membuat Haitham salah tingkah, Kaveh kini membungkuk dan mengacak rambut kelabu gadis itu, mengabaikan desisan galaknya. “Kurang-kurangin deh judesnya, Yi. Lo tuh cantik, tahu. Gue yakin kalo lo lebih ramah sedikiit aja, pasti bakal banyak yang naksir sama lo.”

Jantung Haitham tiba-tiba saja berdegup liar. Gawat. Apakah benturan barusan malah membuatnya terkena arrhythmia?

Kejahilan Kaveh tidak berlangsung lama. Mata merah cemerlangnya kembali menampakkan kekhawatiran. “Yi, lo bener nggak pa-pa? Gue anter ya pulangnya, takut lo kenapa-napa.”

Dia mendelik pada Kaveh. “Nggak usah! Minggir, Kak Kaveh! Aku mau lewat.”

Dengan patuh, Kaveh menyingkir, tapi mulutnya masih terus memanggil-manggil Haitham, menawarkan untuk mengantarnya pulang. Haitham tidak menggubrisnya, cepat-cepat berlalu dari sana. Langkahnya baru melambat setelah melewati gerbang sekolah.

Kata-kata Kaveh terus terngiang di telinganya.

...kalo lo lebih ramah sedikiit aja, pasti bakal banyak yang naksir sama lo.

“Buat apa, Kak?” lirih Haitham tanpa ada yang mendengar. “Apa gunanya, kalau aku bahkan nggak layak disayang?”