Chapter Text
“Kak, tunggu–”
“Kenapa, Hayi? Yuk, sini, sebelum mereka bubar.”
Haitham malah menghentikan langkahnya dan menggeleng.
“Kakak aja deh, takut kalian malah canggung kalau ada aku.”
Kaveh mengibaskan tangannya. “Nggak akan, kan ada aku.”
“Tapi tetep aja, Kak…”
Haitham menunduk, menatap ujung sepatunya yang mengkilap. Seragam yang ia kenakan baru, tidak lagi terlalu sempit seperti dulu. Ujung roknya saat ini pas di lututnya, sesuai peraturan sekolah. Tidak hanya itu sebetulnya, di balik semua itu Haitham juga mengenakan satu set bra dan dalaman yang baru, dengan ukuran yang lebih pas dan nyaman untuk tubuhnya. Zhongli langsung membelikan semua itu untuk Haitham setelah mendengar cerita Kaveh.
Haitham ingat betapa terkejutnya Zhongli saat mengetahui sebagian besar masalah yang selama ini dihadapinya ternyata berakar dari hal sepele semacam ini.
“Ya ampun, Hayi, maaf ya Kakak nggak peka soal ini,” kata Zhongli kala itu, mata emasnya menyorot sedih.
“Bukan salah Kakak!” sergah Haitham cepat-cepat. “Kakak kan memang hampir nggak pernah lihat aku pakai seragam sekolah, karena Kakak biasanya sudah berangkat sebelum aku bangun dan pulang setelah aku ganti pakai baju rumah. Lagian Kakak laki-laki. Pacar Kakak juga cowok. Wajar kok kalau Kakak nggak ngerti.”
“Makanya Hayi tolong bantu ajarin Kakak supaya ngerti ya, soal kebutuhan Hayi. Jangan sungkan minta apapun sama Kakak, soalnya…” ia berdeham, “ sebetulnya uang warisan nenek dan orang tua kamu masih banyak, kok. Kakak sengaja nggak kasih tahu Hayi supaya uang itu nggak dihamburkan buat hal yang nggak perlu, tapi harusnya Kakak tahu ya, Hayi nggak kayak gitu.”
Haitham terperangah. “Tapi…bukannya selama ini Kakak selalu pakai gaji Kakak buat bayar-bayar tagihan dan belanja bulanan?”
Zhongli terkekeh. “Betul, Kakak memang pakai uang pribadi Kakak untuk kebutuhan sehari-hari kita, tapi kadang Kakak pakai uang warisan itu buat kebutuhan-kebutuhan Hayi seperti seragam atau uang sekolah Hayi. Lalu, suatu hari nanti waktu Hayi mau menikah atau memutuskan untuk tinggal sendiri tanpa Kakak, uang itu bisa jadi bekal buat kehidupan Hayi nantinya–”
Kata-kata Zhongli terputus oleh suara sedotan ingus Kaveh yang begitu nyaring. Pemuda itu terkejut sendiri, lalu nampak malu. Mata rubinya berkaca-kaca.
“M-maaf, Kak,” ia tergeragap, lalu melirik Haitham. “Hayi, kamu beruntung banget punya Kak Zhongli yang sayang banget sama kamu.”
Haitham tersenyum, sengaja menatap Zhongli untuk memperlihatkan ketulusannya.
“Iya, aku sangat beruntung.”
“Yi?”
Tangan Kaveh dengan lembut menyibak poni kelabu Haitham dan menilik sepasang mata zamrud tersebut. “Kenapa?”
Haitham berbisik lirih, “Kak…gimana kalau temen-temen Kakak nggak suka sama aku…? Gimana kalau mereka nge- judge aku juga kayak kakel waktu itu?”
Kaveh tertawa. “Hayi, cewek-cewek yang ngelabrak kamu kemarin itu memang anak-anak bermasalah. Paling petantang-petenteng, berlagak kayak mereka yang punya sekolah. Terus mereka memang ngincar adik-adik kelas yang cantik atau populer buat mereka labrak, tentunya karena mereka iri.”
Haitham mengernyit, “Terus kenapa aku kena juga?”
Kaveh mencubit pipinya gemas. “Ya karena kamu juga cantik dan berprestasi, Hayi sayaang. Jelas-jelas mereka itu iri sama kamu.”
Wajah Haitham menghangat. “Tapi aku sama sekali nggak populer. Orang Kak Kaveh sendiri yang bilang, nggak ada yang tahu aku anak kelas mana.”
“Itu sih karena kamunya sendiri yang nggak mau bergaul. Sebenernya banyak yang bilang ke aku mau kenalan sama kamu, tahu, tapi mereka sungkan karena kamu kelihatannya lebih suka ke mana-mana sendiri.” Ia tersenyum lembut. “Makanya, Hayi coba ya kenalan dulu sama mereka? Supaya kamu punya temen baru jadi nanti nggak sendirian lagi setelah aku lulus.”
Haitham sedikit cemberut. “Harus banget ya…? Nggak bisa gitu aku tetep sama Kak Kaveh aja setelah Kakak lulus?”
Sepasang mata rubi Kaveh melebar, lalu tiba-tiba ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan memekik di sana.
“ Aaaaaa!” seruannya teredam tangannya sendiri, “Gue nggak jadi lulus aja gitu? Bisa nggak sih gue boikot ujian gue sendiri? Udah sampe mana kira-kira lembar jawaban gue ya–”
“Bulol banget maneh* astaga,” celetuk seseorang yang tiba-tiba sudah melingkarkan sebelah tangannya di bahu Kaveh. Kulitnya kecokelatan, rambutnya putih, kedua matanya sewarna bara api.
Dalam satu tarikan napas, Kaveh menepis tangan pemuda itu. “Seno! Ngapain lo tiba-tiba nimbrung ke sini?”
Pemuda itu menyeringai. “Abisnya maneh lama pisan ditungguin dari tadi nggak nyampe-nyampe, ya udah urang* inisiatip jemput aja.” Matanya melirik ke arah Haitham. “Kamu ceweknya si Kapeh ini ya? Kenalin, Cyno.”
Haitham ragu-ragu menyambut uluran tangan pemuda itu. “...Haitham.”
Cyno mengerutkan keningnya. “Lah, naha* beda? Peh, maneh bilang pacar maneh namanya Hayi. Wah, kacau ieu* mah, jangan-jangan maneh ada main belakang ya.”
“No, lo jangan ngomong sembarangan ya,” sahut Kaveh berang. “Hayi itu panggilan gue buat Haitham. Gue bucin cuma sama dia seorang.”
“Ooo kitu* ,” kata Cyno seraya manggut-manggut, “oke salam kenal, ya, Hayi.”
“ Lo nggak usah ikutan manggil dia Hayi!”
***
Hari telah senja saat Kaveh menghentikan motornya di depan rumah Haitham. Senyum tak lepas dari wajahnya tatkala ia membantu gadis itu melepas pengait helmnya.
“Gimana, Yi, temen-temenku?” akhirnya ia bersuara.
Haitham mengangguk pelan. “Mereka seru,” akunya, “Nilou ramah banget. Kak Dehya dan Kak Candace kelihatannya bisa diandelin. Kak Layla…kayaknya dia kurang tidur, ya? Aku kasihan lihatnya. Tighnari sekalinya buka mulut kata-kata yang keluar pedes banget, tapi paling bener daripada yang lain. Kak Cyno lebih lucu kalau dia nggak bercanda.”
Kaveh tertawa mendengar penuturan Haitham yang blak-blakan. Tangannya menepuk rambut Haitham lembut. “Mereka nggak kayak yang kamu takutin, kan?”
“Nggak.” Haitham diam sejenak. “Kak Kaveh bener. Kayaknya…lebih enak punya temen daripada sendiri.”
“Ya kan?” Dia menghela napas lega. “Syukurlah kalau gitu. Aku lega sekarang kamu punya temen yang bisa jagain kamu di sekolah, jadi aku bisa lebih fokus buat persiapan ujian masuk Akademiya.”
Sepasang alis Haitham seketika menukik. “Loh? Bukannya Kak Kaveh udah pasti dapet kursi di Fakultas Arsitek?”
Kaveh meringis. “Ah…soal itu…”
“Kenapa? Kak Zhongli kan pernah bilang mau ngasih rekomendasi–” Raut wajah Haitham sedikit memucat saat ia berangsur-angsur paham. “Jangan bilang…gara-gara kejadian waktu itu…?”
“Iya, tapi ini bukan salah Hayi, oke?” Kaveh buru-buru menegaskan. “Ini salahku sendiri. Udah sepantasnya aku diganjar seperti ini karena aku udah ngecewain Kak Zhongli…”
“Tapi ini menyangkut masa depan Kak Kaveh!” Haitham sedikit menaikkan volume suaranya. “Bukannya Kak Kaveh mau ngikutin jejak ayah Kak Kaveh jadi arsitek?” Haitham menggeleng. “Nggak bisa. Tunggu di sini, aku mau ngomong sama Kak Zhongli.”
Kaveh segera menahan lengan gadis itu. “Hayi, udah nggak usah.”
“Jangan gitu, Kak! Bukannya ini cita-cita Kakak dari kecil? Perjuangin dulu–”
Kata-kata Haitham terputus saat tangan Kaveh menangkup pipinya. Sepasang mata rubinya berkobar penuh tekad, senyum yang tersungging di bibirnya mencerminkan kepercayaan diri.
“Aku tetep berjuang, kok,” katanya mantap. “Hayi betul, jadi arsitek itu cita-citaku dari kecil. Sampai sekarang pun, ambisiku belum berubah. Aku yakin, tanpa bantuan Kak Zhongli pun, aku pasti bisa masuk Fakultas Arsitek Akademiya. Jadi Hayi percaya aja sama aku ya?”
Dihadapkan dengan kesungguhan semacam itu, amarah Haitham seketika luntur.
Ia menghembuskan napas panjang. “Kalau Kak Kaveh udah ngomong gitu, aku bisa apa? Berarti tugasku sekarang tinggal nyemangatin Kak Kaveh aja.”
Kaveh mengangguk-angguk antusias.
Haitham mengulurkan tangan dan menepuk pipi Kaveh. “Jangan lupa istirahat, jaga kesehatan. Percuma belajar mati-matian kalau malah tumbang pas hari H tes masuk Akademiya.”
“Iyaa, Hayi.”
Kaveh sedikit menunduk agar Haitham dapat meraih puncak kepalanya, lalu memejamkan mata bak anak anjing yang menikmati elusan pemiliknya, membuat Haitham diam-diam semakin senang mengusak helai pirang pemuda itu.
“Terus…kalau Kak Kaveh ngerasa capek, jangan sungkan dateng ke aku ya.” Ia berdeham sedikit. “Aku mau ngasih Kakak semangat kalau Kakak mulai putus asa. Aku mau jadi tempat Kakak istirahat waktu Kakak mulai lelah. Biarpun nggak bisa bantu banyak, aku…mau nemenin Kak Kaveh berjuang.”
Sepasang mata rubi Kaveh mencelat terbuka, berhias selapis air yang menggenang di pelupuknya.
“Hayiii.”
Kaveh turun dari motornya, meraih pinggang Haitham lalu membenamkan wajah di ceruk leher gadis itu. Haitham sedikit meringis saat merasakan kulit lehernya basah.
“Nggak usah nangis dong, Kak,” gerutu Haitham seraya menepuk-nepuk punggung pemuda itu.
Kaveh malah makin mendusal manja kepadanya. “Ahh, kok bisa sih aku punya pacar semanis kamu? Di kehidupan sebelumnya aku ini martir kali ya, makanya sekarang malaikat bisa jatuh hati sama aku?”
“Lebay!” desis Haitham.
Kaveh tertawa seraya menegakkan tubuhnya. Lengannya masih melingkari pinggang Haitham, matanya masih sedikit berair. “Setelah denger gini, aku jadi makin yakin aku bakal lolos.”
“Mm.” Haitham mengusap pipi Kaveh yang basah. “Kalau Kak Kaveh berhasil, itu semua pure hasil usaha dan kerja keras Kakak, tanpa bantuan siapapun. Kakak patut bangga.”
“Hayi bakal bangga juga nggak sama aku?”
Haitham pura-pura berpikir. “Nggak terlalu, sih, kayaknya.”
“Hayi!” rengek Kaveh.
Haitham tertawa. “Kak Kaveh nanyanya aneh, sih. Pasti aku bangga juga, dong. Malah, aku lagi mikir mau ngasih hadiah kalau Kak Kaveh diterima di Akademiya nanti.”
Mendengar itu, sepasang mata rubi Kaveh berbinar. “Yang bener?”
“Iya, tapi sejujurnya aku belum kepikiran sih. Kakak ada request? ”
“Hmm…”
Pandangan Kaveh turun ke arah dada montok Haitham yang tengah menempel ke dadanya sendiri.
Haitham mendelik ke arahnya lalu mendorongnya menjauh.
“Mesum. Aku panggil Kak Zhongli–”
“ Hayi, jangan dong! Aku cuma bercandaa.”
“Bercandaan Kak Kaveh kayak minta diulek sama Kak Zhongli,” dengus Haitham.
“Maafin aku, Hayii,” rengek Kaveh sembari meraup gadis itu ke dalam pelukannya lagi. Pipinya ia tempelkan di pucuk kepala Haitham. “Sumpah aku cuma bercanda doang. Aku nggak akan berani macem-macem sama kamu sebelum aku halalin kamu.”
“Hmm…masih lama dong.”
Kaveh sedikit menjauh dan menyipitkan matanya ke arah Haitham. “Kok kamu malah kedengeran kecewa gitu?”
“Iya, aku nggak sabar mau jadi istri Kak Kaveh.”
Kaveh mematung.
Tubuhnya membeku, tetapi wajahnya mendidih. Jantungnya berpacu seakan hendak menjebol tulang rusuknya. Seolah belum cukup, Haitham mendongak, mempertemukan bola mata dwi warnanya yang cantik dengan Kaveh.
“Kak?”
Kaveh mengerang dan mengubur wajahnya di ceruk leher Haitham, malu.
“Hayi, lain kali kalau mau ngomong kayak gitu kasih aba-aba dulu, please, ” ujar Kaveh lemas. “Jantungku nggak kuat.”
Haitham mendengus. “Lemah.”
“Hayi tega!” protes Kaveh. Lalu, dengan wajah masih tersembunyi, dia berkata lagi, “Tapi, on a serious note, kamu yakin mau sama aku, Hayi? Aku ini orang yang udah bikin kamu trauma bertahun-tahun gara-gara sembarangan ngomong, loh. Gimana kalau suatu hari kejadian lagi?”
“Ah,” kata Haitham, seolah baru teringat sesuatu. “Soal itu, kayaknya aku yang harus minta maaf ke Kak Kaveh deh.”
Kaveh kembali menjauh dan menatap gadis itu bingung. “Kenapa?”
“Aku baru denger cerita lengkapnya dari Kak Zhongli yang ternyata lihat langsung kejadian itu,” tutur Haitham. “Waktu itu lagi perayaan ulang tahun Kak Kaveh yang kelima. Mamaku belum berani ngelepas aku untuk ikut main lari-larian sama Kak Kaveh dan anak-anak cowok lainnya karena umurku baru tiga tahun. Jadi, Tante Faranak inisiatif ngasih aku kue supaya nggak bosen selama orang dewasa pada ngobrol. Ternyata itu kue Kak Kaveh yang sengaja disimpan supaya Kak Kaveh bisa makan setelah acara selesai. Waktu Kak Kaveh balik dan lihat aku makanin kue itu, Kakak tantrum. ”
Kaveh merasakan wajahnya sedikit memanas mendengar tingkah-polah masa kecilnya. “Terus?”
“Tante Faranak langsung berusaha bujukin Kak Kaveh. Mama papaku juga langsung nyuruh aku minta maaf, tapi ya namanya anak kecil, aku belum ngerti. Aku minta maaf tapi sambil cepet-cepet ngabisin kue Kakak.”
Kaveh terbahak. Dicubitnya pipi Haitham di pelukannya. “Kebayang dulu pipi kamu pasti gembil banget ngomong sambil ngunyah gitu. Gemesin.”
Kendati tak terlihat oleh Kaveh, Haitham memutar bola matanya. “Sekarang aja Kak Kaveh bisa bilang aku gemesin. Dulu mana ada. Yang keluar malah kata-kata sakti itu: Hayi jahat banget! Kalau Hayi jahat gini, nanti nggak akan ada yang sayang sama Hayi!”
Kaveh meringis, “Ah…”
Gadis dalam pelukannya terkekeh. “Yah, begitulah, Kak. Ternyata semuanya hanya salah paham. Maaf ya, cuma karena aku inget sepotong celotehan anak kecil yang lagi tantrum, I made it such a big deal for everyone. ”
Kaveh mengeratkan pelukannya. “Nggak perlu minta maaf, Hayi. Perasaan kamu valid, kok. Lagian, berkat kejadian kemarin, kamu jadi tahu kan kalau kamu tuh sebenernya disayang? Lihat tuh Kak Zhongli, kurang sayang apa dia sama kamu? Bang Ajax juga, meskipun caranya aneh, tapi sebenernya dia ngide kayak kemarin itu kan buat kebaikan kamu juga.”
“Mm, kalau Kak Kaveh gimana?”
Kaveh mengambil jeda sejenak sebelum mendekatkan bibirnya ke telinga Haitham, membisikkan jawabannya di sana.
“Sayang. Sayang banget. Lebih dari apapun. Mulai sekarang aku akan terus ingetin Hayi, setiap hari, betapa sayangnya aku sama Hayi.”
Seulas senyum merekah di bibir Haitham. Matanya memejam kala merasakan bibir Kaveh mengecup dahinya lembut.
“Jangan bosen-bosen ingetin aku ya, Kak.”
