Work Text:
“Mau pulang duluan?”
“Iya,” Alhaitham menjawab singkat pertanyaan Cyno. Ia pun beranjak dari tempat duduknya, berjalan meninggalkan panggung Grand Bazaar setelah mendapat ucapan selamat tinggal dari rekan-rekannya.
Aksi makar telah sukses dilakukan dengan diasingkannya si bajingan Azar beserta antek-anteknya ke hutan Avidya dan Lesser Lord Kusanali yang kini sudah bebas dari kekangan petinggi Akademiya. Cyno pun telah diangkat kembali menjadi Jenderal Mahamatra. Maka dari itu, Nilou, sang gadis periang nan baik hati, mengundang orang yang terlibat untuk merayakan atas kemenangan mereka. Dan di sinilah Alhaitham. Di tengah kerumunan orang yang bersuka ria pada jamuan ini. Alhaitham bukanlah tipe orang yang menghabiskan waktunya dengan berdiri di tengah keramaian. “Lebih baik aku pulang, membaca buku, dan beristrirahat di rumah,” katanya. Tapi perayaan ini sangat disayangkan untuk dilewatkan mengingat seluruh rencananya berjalan dengan mulus.
Ah, ngomong-ngomong tentang rumah, Alhaitham baru menyadari jika ia membawa dua buah kunci rumah di sakunya saat berbicara kepada pengembara. Atau dia memang sengaja membawa kedua kunci itu? Alhaitham terkekeh dalam hati membayangkan sang senior penumpang tinggal dengan gratis itu marah saat tahu dirinya tidak bisa masuk rumah.
Mungkin dengan membelikannya makanan kecil, Kaveh dapat memaafkannya. Lupakan anggur kesukaan sang senior. Dia sudah kebanyakan minum kemarin.
Langkah Alhaitham terhenti di depan kios jajanan. Ia memandangi makanan yang tersaji di hadapannya. Setelah beberapa saat, Alhaitham memutuskan untuk membeli dua buah shawarma dan sebungkus baklava. Ia melanjutkan perjalanan sembari memikirkan reaksi apa yang diberikan Kaveh saat dirinya tiba di rumah.
***
Alhaitham tiba di teras rumah disambut dengan pemandangan pemuda pirang terduduk memeluk kedua lututnya, membuat dirinya terlihat kecil. Bibirnya menekuk ke bawah, alis bertaut, dan manik merahnya menatap bebatuan di depan. Kaveh dengan cepat menundukkan kepalanya ketika ia sadar sang pemilik rumah berdiri di hadapannya.
Alhaitham memandang agak lama seniornya itu. Imajinasinya langsung mengarah pada visualisasi seekor kucing yang terduduk menunggu majikannya pulang.
“Ngapain di situ?”
“Ngga papa,” jawabnya lirih. Kepala pirang masih tertunduk, enggan menatap langsung sang pemilik rumah.
“Yaudah sana masuk. Ngga dingin apa di luar?”
Sontak Kaveh mengangkat kepalanya, menampakkan netra merah yang sembab seperti habis menangis. Atau mungkin dia benar-benar habis menangis?
“Gimana mau masuk?! Kunci aja dibawa kamu semua!” amarah yang sedari tadi ia pendam mendadak meluap begitu saja. Suaranya terdengar seperti orang yang kesal namun di saat bersamaan sedang menahan tangisannya. “‘Ngga dingin apa di luar?’ kepalamu! Ya dingin lah, tolol! Kamu kemana aja sampai pulang lama banget?”
Alhaitham mengangkat satu alisnya. “Loh? Sudah bilang kan jika aku akan pergi ke Grand Bazaar? Kenapa kamu ngga nyusul aku?”
Terlihat kerutan di dahi dan bibir Kaveh bertambah. “Aku ngga mau nyusahin kamu. Aku tahu kamu di Grand Bazaar pasti ada urusan penting,” katanya pelan nyaris berbisik, kontras dengan nadanya semenit yang lalu. Meskipun dengan suara pelan itu, Alhaitham masih mendengarnya dengan jelas di tengah keheningan malam. Alhaitham memang sudah pamit untuk pergi ke Grand Bazaar. Namun ia tidak mengatakan maksud dan tujuannya pergi ke sana.
“Terus kenapa ngga ke tavern dulu? Atau cafe? Bukankah kau lebih senang berada di sana?”
“Kamu pikir aku punya uang?!” Kaveh meninggikan suaranya lagi.
“‘Kan nanti aku yang bayar,” jawab Alhaitham setengah menghela napasnya, kedua jarinya memijat pangkal hidung yang mulai terasa sakit.
Manik merah memandangnya agak lama, kemudian Kaveh membuang muka. Masih menggerutu. “Aku tidak mau menambah bebanmu lagi…,” ia bergumam. “Lagian kamu masih punya banyak pekerjaan di Akademiya.”
“Hah? Apa katamu?”
“Kubilang, ‘Haitham bodoh!’”
Alhaitham mengernyitkan dahinya. Jelas itu bukanlah kalimat yang tadi ia dengar. “Aku mendengar lebih dari dua kata keluar dari mulutmu yang tidak bisa diam itu. Sementara apa yang barusan kamu ucapkan hanya terdiri dari dua kata.”
“Ya pokoknya kamu bodoh! Dasar orang aneh!” Kaveh mengeratkan pelukannya pada kedua lutut, dahi ia sandarkan pada lutut di depannya.
Kali ini Alhaitham menghela napas panjang. Ia lepas mantel hitamnya dan mulai menyelimuti seniornya yang sedang merajuk itu. Kaveh merasa di pundaknya terdapat suatu beban baru. Diangkatnya kepala dan Kaveh melihat Alhaitham membungkukkan badannya selepas menyelimuti pemuda di hadapannya.
“Apa… ini?” jarinya menarik mantel di pundaknya, membuat gerakan merapatkan kain itu agar dapat memberikan kehangatan lebih.
“Katanya tadi dingin.”
Senyum kecil menggantikan raut masam Kaveh. Dasar Haitham. Walaupun mulut miliknya minta dipukul, terkadang ia memberikan perilaku yang begitu manis padanya. Benar-benar bertolak belakang dengan ucapan sinisnya.
“Ngapain senyum gitu? Eneg lihatnya.”
Mulai.
“Tidak bisakah kamu sekali saja tutup mulutmu itu?”
Namun Alhaitham tidak membalasnya. Malah ia meraih pengelangan tangan seniornya itu. “Ayo masuk. Nanti sakit.”
Kaveh menerima uluran tangan itu dan menggerutu. “Aku di luar kan juga gara-gara kamu.”
Alhaitham menarik tangan Kaveh, membantunya berdiri. Ia menarik hanya dengan satu tangan dan tangan yang lain meraih pinggangnya, tidak menghiraukan pekikan Kaveh ketika tangan lebarnya itu bersentuhan dengan kemeja putih.
***
Pintu kayu ditutup dan dikunci. Di dalam, Alhaitham melepaskan tangannya dari pinggang Kaveh. Kini, ia menyelipkan rambut di belakang telinga Kaveh dan mengusap pipinya, membuat empunya bersandar pada telapak tangan itu.
Seperti kucing.
“Aku bawa makanan. Mandi dulu sana.”
“Ngga mau.”
“Bau.”
“Kalau bau, kenapa tanganmu masih di sini?” Kaveh menyentuh tangan di pipinya, mengusap punggung tangan itu dengan ibu jari. Kelopak mata dibuka, menampilkan manik merah yang menatap Alhaitham penuh arti. “Bilang aja mau mandi bareng.”
“Kamu baru saja pulang. Nanti kamu capek,” sanggah Alhaitham, tapi jarinya masih mengusap pipi yang kemerahan.
“Hmph, terserah,” Kaveh melepaskan sentuhannya dan beranjak menuju kamarnya. Alhaitham yang melihatnya hanya menghela napas panjang. Ia pun melangkahkan kakinya ke dapur dan menghangatkan shawarma yang mulai mendingin di dalam kantong yang dibawanya.
Saat Alhaitham mengeluarkan satu bungkusan berisi baklava, ia merasa ada yang kurang. Bukan, bukan makanan yang tadi ia beli. Namun, sesuatu yang sering ia bawa kemana pun.
Ah, benar juga. Mantel yang selalu disampirkan pada pundaknya dibawa Kaveh masuk ke kamarnya.
***
Kaveh duduk di sofa ruang tengah setelah keluar dari kamar mandi, kedua tangannya masih sibuk mengusap rambut basahnya dengan handuk. Ia menaikkan satu alisnya ketika melihat piring berisi shawarma dan baklava di atas meja. “Hm? Alhaitham? Kamu tadi beli ini?”
Yang ditanya masih sibuk di dapur, entah apa yang ia kerjakan di sana. “Bukan. Kucing milik pak Salem tadi yang beli.”
“Lawak,” Kaveh mendengus sembari terus mengeringkan rambut panjangnya.
“Ya terus siapa lagi yang beli?” Alhaitham duduk di sebelah Kaveh sambil membawa dua cangkir berisi teh hangat.
Kaveh menghentikan kegiatan mengeringkan rambutnya, raut kesal kembali terlukis di wajahnya. Namun rasa kesalnya menghilang begitu saja saat ia melihat Alhaitham menyodorkan satu cangkir untuknya. Dengan senang hati sang arsitek menerima cangkir berisi teh itu. Kaveh menjulurkan lidahnya sedikit untuk mencecap permukaan teh. Terlihat Kaveh dengan cepat menarik kembali lidahnya di kala indera perasanya bersentuhan dengan cairan kecoklatan itu. Kedua matanya sontak tertutup rapat.
Alhaitham dengan diam meresapi teh miliknya, namun pandangannya memperhatikan setiap gerakan yang dibuat teman sekamarnya itu. “Kucing, ya?”
“Panas!” keluh Kaveh. Lidahnya masih sedikit terjulur keluar dan kali ini ia kipasi dengan sebelah tangan.
“Mana ada,” Alhaitham meletakkan cangkir miliknya. “Milikku tidak sepanas yang kau kira.”
“Pasti kau menuang ke dalam cangkirmu dulu!” sang arsitek mulai mengomel. “Lalu milikku terus kau didihkan sampai titik tertinggi! Benar, ‘kan? Setelah berani mengunci seniormu ini sekarang kamu memberinya teh panas-”
Omelan Kaveh terpotong saat ia merasakan sesuatu masuk ke dalam mulutnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Alhaitham?
Jari Alhaitham terus mendorong masuk ke dalam mulut seniornya. Kaveh dengan perlahan mengunyah sesuatu di dalam mulutnya. Rasanya manis. “Baklava?” katanya.
Alhaitham menarik jarinya keluar. “Iya.”
Kaveh mengangguk paham. Ia kembali membuka mulutnya, bermaksud untuk meminta lagi. Alhaitham dengan diam kembali menyuapinya sepotong baklava.
“Begini dong, sekali-kali kau berbuat manis kepadaku,” gumam Kaveh. Mulutnya masih mengunyah baklava di dalam.
Helaan napas dikeluarkan Alhaitham. “Sepertinya segala tindakanku akan selalu salah di matamu.”
Kaveh mendengus, kedua lengan dilipat di depan dada, membuang muka ke arah manapun asal tidak menatap pria di depannya. “Huh? Salah siapa kamu-”
Omongan sang arsitek kembali terpotong di kala sebuah tangan meraih dagunya secara tiba-tiba. Di detik berikutnya, Kaveh merasa ada sesuatu yang menempel di bibirnya. Manik merah terbelalak. Alhaitham menciumnya.
Beberapa detik bibir mereka menempel dan Alhaitham mulai menggigit kecil bibir bawah Kaveh, membuat empunya membalas perlakuan itu dengan senang hati. Tautan bibir keduanya terlepas saat paru-paru meminta asupan oksigen. Semburat merah menghiasi kedua pipi Kaveh. Ia menutupi bibirnya dengan punggung tangan. “Apa sih!?”
Alhaitham tersenyum kecil melihatnya. “Supaya kamu diam.”
Dahi sang arsitek berkerut. Ia memukul pelan dada bidang pria di depannya. “Ngga ada cara lain apa!?” katanya setengah marah.
Alhaitham menarik tangan yang ada di dadanya, membuat dirinya terbaring di sofa dengan Kaveh di atas tubuhnya. Kaveh memekik terkejut karenanya.
“Kaget, tahu!”
Yang dimarahi hanya terkekeh pelan. Alhaitham melingkarkan lengannya di pinggang Kaveh dan mengeratkan pelukannya. Kaveh sedikit tersentak namun kemudian tersenyum saat dirasanya pelukan Alhaitham semakin mengerat.
“Dasar, kalau kangen bilang aja,” Kaveh menyandarkan kepalanya di dada Alhaitham, mendengarkan detak jantung yang membuatnya mengantuk.
“Hmm.”
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Hanya ada bunyi detak jantung masing-masing yang hadir di antara mereka. Tak lama Kaveh merasakan kelopak matanya terasa berat sekali. Sudah lama dirinya tidak merasakan kehangatan dan kelembutan seperti ini. Saat ia pergi ke gurun pasir pun dirinya sulit untuk tidur dan beristirahat. Tenggat waktu proyek dan omongan klien terus menghantuinya selama perjalanan. Namun sekarang, Kaveh telah kembali. Kembali pada pelukan Alhaitham. Perlahan, ia menutup mata dan mulai tenggelam dalam lautan mimpi, bersama dengan kekasih menyebalkannya itu.
***
Alhaitham menatap Kaveh yang tertidur di dadanya. Ia sekali lagi menghela napas dan mulai mengelus helaian pirang yang masih setengah basah. Kedua tangan Kaveh menempel pada pipinya sendiri, seakan membuat bantalan untuk kepalanya. “Benar-benar seperti kucing.”
