Work Text:
唵 嘛 呢 叭 咪 吽. (Ōng màní bémé hóng; Bersihkan karma, bawa kedamaian dan berkah). Nyanyian pagan tersebut berlanjut dalam suara serak Master Wei dari balutan ekspresinya yang makum sepanjang doa senja mereka dimulai. Sejak bahkan matahari senja merah membara di balik pegunungan Yin, lonceng menara Kuil 白马寺; Baima Si atau Kuda Putih berdentang pelan tiga kali, sebagai nada panggilan sunyi untuk doa sore yang dipimpin Master Wei. Empat biksu berkumpul di altar utama mewajahi kain kuning tembaga di depan patung Dewi dengan Master Wei di depan, memimpin melalui serentakan suaranya yang tampak usang tetapi teguh dan keras seperti akar jati tua, kemudian dua biksu senior di sampingnya berusia 50-an; Hui sebelah kanan dan Zhi di bagian kiri menangkupkan dua telapak di depan dada, jubah safron mereka pudar bergoyang ringan perlahan kala angin masuk melalui celah jendela dan pintu terbuka. Bianji sebagai yang termuda di belakang, tubuh kurusnya bersila di tikar anyelir, bahu sempitnya hari ini terasa sedikit tegang menahan kegelisahan sejak fajar yang tak pernah terucap kepada siapapun.
Terlebih saat Master Wei mulai membuka gulungan sutra kuning usang, dan nyanyian dimulai dengan suara mereka rendah yang perlahan bergema seperti gemuruh jauh angin gunung, terikat pada harmoni serak yang naik-turun pelan, disertai denting mangkuk tembaga kecil yang dipukul ritmis, tong...tong...tong, bergaung di ruang kuil tengah yang dingin. Maka tentu saja Bianji harus mengenyampingkan bagaimana pelan alam berteriak ke dalam tubuhnya yang halus terus menerbangkan kegelisahan sedari fajar seolah-olah sesuatu besar mulai akan datang, membuat dia kembali menenangkan pikirannya, bergabung dalam doa senja bersama saudara-saudaranya.
Ajian pertama untuk ketenangan Prajñāpāramitā Hṛdaya Sūtra mulai mengudara, "Sè jí shì kōng, kōng jí shì sè..." dinyanyikan lambat, dengan nada vokal panjang 'kōng' memanjang. Tujuan pembacaannya tak lepas dari perihal melepaskan beban hari, membersihkan pikiran dari nafsu duniawi agar malam tak diganggu keadaan buruk sepanjang berkegiatan siang hari.
Lalu berganti ajian perlindungan malam dari Guanyin, diikuti serentak dalam satu balutan nada yang rendah, "Guānyīn shìyīn púsà, dà cí dà bēi..." kemudian suara naik lebih tinggi pada bait 'dà bēi', selayaknya ratapan lembut berubah haru, terus dinadakan sembari diiringi gesekan kayu mala di tangan mereka yang berbunyi klik-klik-klik, untuk melindungi kuil dan lembah bawah pedesaan dari roh gelap, atau entah hantu angin malam yang haus jiwa. Begitu masuk ke doa terakhir, "Ōng mā ní bēi mèi hōng" yang terus diulang sebanyak 21 kali cepat, dengan alunan nada 'hōng' meledak pelan bagai kembang api kecil, mengudarakan perihal harap kemakmuran yang cukup agar gudang desa penuh, ternak gemuk, dan harmoni menyelimuti tidur penduduk hingga fajar, mereka melanjutkan bait penutup.
Bianji ikut bernyanyi, tutur katanya lembut menyatu di barisan belakang dengan bunyi mangkuk tembaga yang terasa nyaring di rungu. Memusatkan perhatian pada suara serak Master Wei di depan yang menutup doa mereka hari itu selesai di altar ruang tengah kuil, dan mulai kembali pada ruang hangat paviliun masing-masing di belakang kuil. Kendati sore hari itu Bianji menjadi pertama yang datang, dia telah lebih dulu memberikan salam kepada figur Master Wei, Hui, serta Zhi, dan menyertakan dirinya menjadi orang terakhir yang akan kembali ke paviliun setelah merapikan sisa-sisa pekerjaannya kala siang tadi pada perkamen kertas kuning di rak depan. Tungkai kaki panjangnya bergerak halus membawa angin dalam jubah kuning gelapnya, dan ia mulai duduk di kursi pendek yang ia bawa, khusyuk pada sisa-sisa dokumen kertas kuning dengan aroma kayu, merapikan gulungan dari debu tipis yang tersisa kembali ke atas rak di selasar kuil.
Belasan tahun mengabdi pada kuil 白马寺; Baima Si atau banyak orang menyebut Kuil Kuda Putih, terletak tinggi di tepi lereng pegunungan Yin, dan meskipun ia bukanlah datang dari penduduk desa ini, tetapi Bianji perlahan mulai menghafalkan di dalam kepalanya bagaimana bangunan tua megah, dengan atapnya yang melengkung seperti sayap burung phoenix berpelitur merah pudar yang kini retak-retak oleh gigitan waktu telah menjadi rumahnya. Kediaman hangat paling dia kenal sejak masa remaja, berganti-ganti wilayah untuk menemukan pengabdian panjang selanjutnya sesuai ajaran dharmanya dari kegiatan sosial selesai, dan terdampar di sini sejak sepuluh tahun lalu merupakan pilihan yang sangat baik. Ia menyukai dan sering memandang bagaimana pilar-pilar kayu Jinsinanmu; 金丝楠木 setinggi sepuluh pria menjulang itu tampak tetap megah dengan moncong burung dari mata mereka yang seolah menatap cerah dalam plitur coklat terang ke ufuk seolah-olah memandang istana kekaisaran secara langsung di sana yang tertutup awan.
Tapi jelas bahwa kuil ini bukan tempat ziarah. Penduduk desa di lembah bawah justru lebih banyak mencoba menghindarinya apabila keadaan tak terlalu genting untuk meminta doa, sebaliknya mereka telah memalingkan badan untuk banyak bergunjing tentang hantu jadi-jadian di lereng pegunungan Yin, meninggalkan kuil Baima Si rentan dalam kesunyian yang menusuk seperti pisau es. Dan belasan tahun di sana tidak membuat sekalipun Bianji berkecil hati jika kuil Baima Si selalu sepi pengunjung untuk berdoa, ia hanya melaksanakan pekerjaan dan tugas-tugas sebagai biksu hariannya, kemudian membuka pelayanan doa bagi penduduk ibu kota provinsi Jiangnan yang sesekali mampir, sebab berdasar rasa taat terhadap kepercayaan yang dipeluk saat ini.
Begitu perkamen itu selesai digulung dan dirapikan ke dalam rak kayu, Bianji mematikan lilin di dalam kuil, menyingkap sedikit jubah saffron nya saat keluar dari daun pintu yang tulangnya tinggi ke atas dan menutupnya pelan sambil membawa lentera malam di tangan kirinya. Memberikan salam terakhir, dan meninggalkan halaman depan kuil yang cukup luas landai dikelilingi deretan pohon ginkgo tua, dimana daun kuning keemasan berguguran pelan, membentuk permadani mati di bawah langit kelabu beranjak gelap. Lampu-lampu kecil di pedesaan mulai dinyalakan satu persatu membuat efek seperti ia baru saja melihat bintang bertaburan di bawah sana. Sangat mengagumkan, seperti tangannya juga yang mulai meraih korek dan menyalakan obor api di depan kuil layaknya ikut menambahkan ceceran bintang di bawah sana bertambah satu di lereng gunung.
Desau angin musim gugur kian bertambah, menyapu dedaunan di bawah pohon ginkgo yang menguning kala Bianji berjalan di antaranya dalam diam, turun ke bebatuan panjang yang dipenuhi lumut menuju paviliun paling belakang yang harus melewati banyak pepohonan lebih tinggi dari kepala orang dewasa. Melintasi jauh sepuluh langkah kaki sebuah danau kecil yang menggenang diam, airnya hitam pekat seperti tinta raja, pantulannya kabur oleh lumut tebal di dalam. Meskipun begitu sesekali ikan mas muncul mengeluarkan siripnya yang menyayat permukaan, tapi suara cipratannya lenyap seketika, diserap kesunyian yang menyelimuti segalanya.
Hanya segelintir biksu yang tersisa di kuil Baima Si sepanjang Bianji hidup di sana. Bayang-bayang kurus berjubah saffron pudar miliknya bergerak pelan seperti hantu di antara permukaan tanah, turun satu batu lagi ia sudah sampai di paviliun kecil miliknya yang memiliki satu tempat tidur kayu, ruang ganti pakaian merangkap kamar mandi kecil, dan beberapa hal seperti dudukan serta meja kayu tempatnya sering berjibaku dengan kertas sutra kuning kuil yang diberikan oleh biksu Chi lama di Baima Si.
Mudah mengenal para biksu di sini ketika dari yang Bianji kenal sepanjang belasan tahun telah menjadi satu-satunya biksu paling muda di Baima Si, para biksu di kuil Kuda Putih ini sejak lama memang hanya mampu dihitung jari. Yang tertua, Master Wei, telah mendedikasikan hampir seluruh umurnya untuk menjadi biksu sejak usia 10 tahun dan lebih banyak berkeliling menuntaskan dharmanya sepanjang puluhan tahun mengelilingi wilayah kekaisaran, lalu berhenti di sini usai mendapatkan titah dari sang kaisar kerajaan untuk merawat kuil Baima Si di bukit gunung provinsi ibu kota di Jiangnan.
Dua lainnya, Zhi dan Hui adalah penduduk desa di bawah provinsi Jiangnan dimana kuil Baima Si berdiri, yang mengabdi menjadi murid Master Wei sejak tujuh belas tahun lalu, dan paling lama dari keduanya ada biksu Chi yang telah berpulang empat tahun kemudian setelah Bianji datang sendiri berbekal ilmu kecil. Berteman dan menggantikan pekerjaan yang semula dipegang oleh Master Wei karena usianya yang mulai renta, untuk sering menyapu beranda kuil pagi hingga senja dengan sapu rotan panjang yang bergesekan dengan daun ginkgo dalam irama monoton bersama biksu Chi dalam kurun waktu yang terbilang cukup pendek.
Sebagai orang baru, Bianji kala itu dibantu segala keperluannya menjadi biksu di kuil Baima Si oleh biksu Chi. Sehingga tak ayal apabila kadang-kadang Bianji merasa cukup lebih dekat dengan biksu Chi daripada yang lain. Sebab itulah setelah kepergian biksu Chi, Bianji kembali menjadi lebih diam. Ia jarang berbicara sekalipun dengan Master Wei, hanya lonceng kecil di menara yang berdentang setiap tiga kali sehari sebagai penanda panggilan sunyi untuk doa. Sisanya semua akan kembali pada pekerjaan masing-masing, berbicara cukup dan seperlunya tanpa bertukar jaringan emosional yang rapuh.
Namun entah bagaimana kali ini, dalam relung hatinya terasa berbeda sambil memandang keluar jendela paviliun yang terbuka menampakkan bangunan kuil yang masih terlihat megah besar dari jauh, Bianji gelisah dan dia tak bisa berkata apapun kepada siapapun perihal cemasnya yang tak berwujud apapun. Bahkan usai doa senja selesai, dan malam datang, memaksanya berbaring di tempat tidur ketika bulan purnama perlahan sedikit menyusup melalui celah-celah atap, kuil di kejauhan itu seperti bernapas. Daun-daun dari pohon ginkgo berderit pelan, air danau bergoyang seperti mimpi buruk, dan para biksu kemungkinan telah terlelap di paviliun masing-masing dengan mata tertutup, berbeda dari keadaan Bianji yang seperti tengah mendengar bisikan halus roh-roh pegunungan Yin yang haus akan dunia telah datang hendak melihatnya.
Hasilnya dia tak bisa tidur.
Sejak dua jam lalu hanya memandang langit-langit atap tempat istirahatnya kosong, mendengar banyak bunyi kesibukan malam dari para hewan pengerat, percikan obor, dan desau angin musim gugur malam yang menggigit kulit. Membuat tubuh Bianji tak tahan, ia bangkit duduk dengan jubah safronnya yang melilit tubuh, berpegangan dengan tepian ranjang kayunya dan menunduk diam yang justru semakin membuat dia kembali mendengar suara-suara dari belakang pegunungan. Ini benar-benar tidak seperti biasanya. Dia membacakan ajian singkat untuk menenangkan hatinya, sampai waktu terus bergulir ke tengah malam, dan mata Bianji masih tak kunjung tertidur hanya diam mematri cerah cahaya obor di depan kuil seperti memanggilnya.
Bianji turun dari ranjang, dia kembali keluar dari paviliunnya berjalan ke arah kuil, masuk melewati pintu samping yang akan menemukannya dengan ruangan penyimpanan dan di bagian ujung sayap kanan terdapat kompor batu bata yang tersusun di bawah sisa abu kayu. Bianji ganti meraih ketel, mengisi air dari keran bambu yang terus mengalir turun ke kendi besar tak jauh di sampingnya, dan ia menutup sumbatnya kembali di sana. Mendekati perapian, mengaduk bara api yang sekarat di sana untuk menyebabkan api kembali nyala dan berakhir menari lagi, melemparkan bayangan biksu muda itu ke dinding.
Hampir karena naluri dia merasa tertarik pada bentuk-bentuk cerah ini, oleh keyakinan yang tidak berdasar bahwa kecemasan tak berwujud sedari fajar yang mengikuti gerakannya itu tidak berani mendekati api. Dia menunduk di depan jilatan api itu lama, melihat gerakannya yang meliuk-liuk setelah meletakan ketel berisi air di atasnya, lalu kepalanya menoleh teralihkan ke arah pintu kecil dimana tadi dia masuk yang belum sepenuhnya ditutup, pada timbulnya suara nyaring tapal kaki kuda di luar dengan geramannya terdengar.
Waktu terbang demikian sangat larut, siapa yang mengendarai kuda sampai naik ke bukit lereng pegunungan mampir ke kuil selain jika pengendara ingin terjerembab jatuh, terbaik ke jurang sebelah kanan dari sisi masuk yang cukup curam di sana karena penerangan yang minim. Jalannya pula sempit dan licin, membuat siapapun akan berpikir dua kali untuk membawa barang bawaan berat apalagi seekor hewan besar. Dia tak mengira pula akan ada orang pergi ke kuil di malam yang larut.
Bianji bergeser sambil menajamkan pendengaran. Apakah itu hanya kecemasannya yang menggelegak tinggi sedari pagi atau benar-benar sesuatu hal lain? Dengan motif yang sama, biksu itu membisikkan doa-doa yang dapat dia ingat saat ini untuk perlindungan jiwanya dan pribadinya, menuntunnya untuk memulai dengan suara berdecit di daun pintu terbuka itu. Melongokan kepalanya keluar, matanya liar melesat ke sana kemari, melihat halaman kuil yang rupanya masih tetap kosong, dan satu-satunya yang bergerak hanyalah api pada obor di depan yang bergoyang pelan oleh angin.
Namun denyut nadinya tidak bisa ditenangkan. Dia tidak bisa pula menahan jantungnya agar tidak berdebar dan dengan alis berkerut, Bianji berusaha untuk mengabaikan interpretasi fantastis dalam pikirannya sambil membayangkan cara alasannya dari suara yang timbul di telinganya barusan, mungkin hanya; gesekan ranting, jatuhan buah ke permukaan tanah, burung hantu, pohon ginkgo yang daunnya bergesekan ditiup desau angin, atau apapun, dan bangunan lapuk adalah kata-kata yang dia nyanyikan.
Dari samping guci besar, dia melanjutkan untuk meraih ketel lain yang kosong berniat menjerang air lebih banyak untuk membersihkan diri atau bahkan melegakan pori-pori kulitnya yang ketat seharian, dan meletakkannya di atas sisi satunya pada tipis berdebu permukaan perapian untuk dapat mendidihkan airnya, dan secara metodis mengatur peralatan untuk minum teh di tengah malam di atas baki tembaga kuning. Menyiapkan berbagai macam daun yang dia seduh dikumpulkan oleh tangannya sendiri dari toples bambu kuning, dari sejumput mint, chamomile, lavender, dan rosemary yang telah disiangi, dijemur di atas atap paviliunnya dua hari lalu sampai dibiarkan kering, dibungkus dengan kain di atas meja toples bambu di ruang penyimpanan, dan kini meletakkannya di dalam cawan kecil di atas baki.
Malam-malam panjang milik Bianji ini adalah kebiasaan yang tidak disukai, namun tangan pria itu menemukan perjuangan untuk berpisah dengan kedamaian secara aneh yang ditemukan dalam rona kesendirian dan tetap terpaksa hari ini terjaga sementara saudara-saudara lainnya yang baik hati tidur. Patuh akan semua hal lain dalam ajaran terhadap kebutuhan ritual dan rutinitas siang hari, dan dari pelanggaran ini, bagaimanapun, dengan sengaja dipertahankan oleh biksu muda itu berniat tidak tidur hingga fajar sebelum suara-suara yang timbul di kepalanya tiba-tiba lenyap. Hanya sekali saja karena tak tahan dan ia butuh ketenangan dari gigitan rasa cemasnya seharian ini.
Derak hujan perlahan jatuh di luar, sebuah suara yang sering memiliki efek cukup menenangkan pada otot-otot wajahnya dengan cara kontras yang dapat diciptakan antara kehangatan di dalam dan kesuraman di luar, ditahan oleh dinding kuil kuno Baima Si yang dikuduskan. Namun malam tenang dengan teh di cawan kecilnya, suara-suara di luar digambarkan dipenuhi dengan sesuatu yang tidak bisa dia katakan, hanya merasakan bahwa perlahan terasa sangat kurang nyaman daripada hidupnya selama bertahun-tahun di sini. Dia seperti baru saja melewati kehidupan yang baru dari titik nol kembali. Sehingga membuatnya kerap bingung sejak beberapa jam lalu bahwa gumaman doa maupun kerja keras biksu muda itu tidak memiliki efek menghilangkan kesuraman dan firasat yang telah menguasai hati nuraninya.
Saat dia menunggu air memanas, Bianji kembali ke jendela yang dia buka, dan mengambil setiap detail taman mawar dan rempah-rempah yang terlihat disinari oleh cahaya bulan, setiap tunas, batang, daun, dan sulur benda-benda perawatannya yang patuh. Saat uap naik lambat, menyatu dengan kabut yang merayap dari danau kecil di halaman, matanya tertarik ke bayangan tinggi di luar dengan benar-benar suara kuda hitam tinggi besar tengah berteduh di moncong kuil, meminum air dari guci besar di luar dengan sisa mangkuk kelapa yang terbuang, dan seorang pria berjubah besar menyentuh tanah setengah basah terkena tampias hujan lebat di sampingnya.
Dia tampak seperti malaikat maut, hampir dua meter tingginya, membuat Bianji sedikit menelan ludah dan mematung di sana sampai pria besar berjubah itu ke pintu depan dan terdengar derit pintu yang ia tutup sore tadi dibuka.
Siapa dia? Ini pertama kalinya sebagai biksu di kuil, dia melihat pengunjung bertandang masuk ke sana tengah malam. Terlebih eksistensinya hadir seperti sang penjemput nyawa, membuat tubuh kurus Bianji perlahan bergeser ke sisi pintu lain yang menghubungkan antara ruangan belakang dan samping patung Dewi di tengah ruangan kuil. Membukanya pelan seolah tak ingin mengganggu, tetapi sulit untuk dapat melihat wajahnya selain dari figur tinggi itu tengah berlutut di depan sana, sendirian, sangat sunyi bahkan dari suara hujan deras di luar yang memekakan. Lalu tak lama setelahnya dia pergi keluar bersama irama sepatu dan langkahnya yang panjang, menutup pintu kuil dalam satu kali gerakan mengulurkan satu tangan besarnya keluar dari jubah.
Kemudian saat Bianji melangkah keluar dari ruang belakang, mereka termasuk kuda hitam besar itu hilang dari sana. Hanya ada hujan yang disertai angin malam dingin nan kosong. Telah pergi begitu saja tanpa jejak meninggalkan Bianji dengan tehnya yang terasa hambar dan dingin sampai pagi, pergi membersihkan diri dengan air hangat, dan kembali berjibaku pada seluruh pekerjaannya. Menganggap hal yang terjadi semalam hanya mimpi yang akan ia simpan tanpa bercerita kepada siapapun termasuk kepada Master Wei. Ia hanya pergi membunyikan lonceng besar menara kuil sebagai tanda bahwa doa pagi akan dimulai.
***
Ketika larut malam kembali datang, sosok bertubuh besar itu hadir lagi di sana. Berlutut seperti malam kemarin di depan patung tembaga emas sang Dewi sambil menundukkan kepala, luruh dengan bahu besarnya yang ditutup jubah turun.
Bianji tak tahan untuk kehilangan lagi seperti malam sebelumnya sehingga ia memberanikan diri kali ini demi keluar sembari membawa satu baki buah persik, apel, lilin dan dupa. Melangkah pelan ke sana tak peduli apabila sosok itu benar-benarlah malaikat maut atau orang jahat. Meski bagaimana pula bisa dia dikatakan orang jahat yang memiliki motif tersembunyi jika kemarin dia hanya datang dan pergi begitu saja. Tak mencuri apapun dari kuil, hanya bertandang ke sana untuk doa yang tak dia dengar sama sekali keluar dari belah bibirnya, dan ia berhasil dilingkupi rasa penasaran siapa orang tersebut.
Langkah tungkainya semakin dekat, tubuh Bianji memberi salam pendek halus yang nyaris tak terdengar. Lalu beralih segera menyalakan lilin untuk menerangi kuil di bawah tatapan itu yang mulai sadar akan kehadirannya di sana, dan Bianji tetap fokus seolah tengah melakukan semua hal ini sebagai pelayanannya sebagai biksu kuil yang seperti biasa tanpa campur rasa aneh dari dalam dirinya.
Bianji berbalik, melihat pria tinggi berjubah hitam itu di sana, “Apakah Anda membutuhkan dupa atau doa sesuatu?" tanyanya lembut.
Dia berwajahan dengan rupa wajah tampan yang keras; dingin seperti es, dikaruniai rahang tajam, hidung bangir tinggi dengan tanda setitik hitam di ujung kanan pada bingkai kedua matanya yang menatap Bianji seperti predator. Ada rambut hitam legam yang masih tertutupi tudung gelap berbahan wol dari jubah kebesaran yang jatuh menyentuh lantai. Dia pastilah bukan orang biasa, Bianji mengambil kesimpulan dari dua hal; kepemilikan kuda hitam kuat itu di halaman depan kuil dan pada pakaian hitam sederhana dengan aksesori pin cemerlang seperti terang bintang yang semakin dapat memancarkan aura jelas berbeda daripada sekadar penduduk desa biasa. Tidak ada keluarga petani di kekaisaran yang bisa membeli satu set tampak mahal pakaian dingin tersebut, aksesorisnya, maupun kuda di luar, meskipun panen tinggi dan pajak yang dibebankan kepada rakyat terbilang rendah.
Keduanya terdiam dalam sunyi yang hening. Cukup lama hingga suara kuda di luar menggeram rendah membuat pria itu menoleh ke arah jendela. Dan Bianji yang kembali bersuara, "Apakah Anda ingin mendoakan seseorang?"
"Tidak ada." Pria itu menjawab, suara kudanya di luar kembali tenang sesaat. Dan ia menoleh ke arah patung di tengah kuil yang perlahan hangat di antara ceceran cahaya lilin, "Aku hanya mampir sebentar." Lanjutnya.
Bianji termenung sesaat. Dia menatap serta patung Dewi Kwan Im yang agung dan berdiri satu langkah kaki orang dewasa di belakang tubuh pria itu masih dengan nampan di tangan. Tidak mengganggu, hanya memegang baki itu diam. Dan pria di sana berbalik sesaat lagi kepadanya, "Apakah dia memang suka dupa?”
“Tidak secara khusus.” Jawab Bianji di sana, tersenyum pendek dan sedikit menambahkan. “Kamu bisa tetap berdoa dengan dupa atau tidak tanpanya, dia akan tetap mendengar doamu.”
Mereka berdua menatap patung emas tembaga Dewi Kwan Im di sana, diam lebih lama mulai merayap di antara kaki-kaki keduanya. Sampai kemudian pria berjubah hitam itu menggeleng samar, memberikan salam terakhir lalu beranjak kepada Bianji untuk sedikit menerapkan sopan santun yang selalu ditelannya sejak kecil tak pernah absen dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada, benar-benar bersewajahan saling memandang mata dan pamit.
Hanya itu saja.
Bianji menerima salam terakhirnya, merasakan sedikit cara yang dingin dari hembusan angin melalui terpaan jubah hitam itu saat melewatinya tanpa menoleh sedikitpun. Lalu tanpa sadar kembali mendengarkan suara tapal kuda di luar bergerak sedangkan mata cokelat terangnya dari cahaya lilin yang meliuk-liuk masih menatap patung Dewi di depannya yang sangat agung. Hatinya sedikit bergetar pelan. Apakah tadi dia tidak salah melihat?
Dia mulai menelusuri ingatannya jika mereka; atau dia, pernah menemukan wajah itu di suatu tempat ramai yang dikenalnya. Bianji berjalan ke depan beberapa langkah, mematikan lilin itu satu persatu, dan ketika lilin terakhir padam, bayangan wajah itu kembali datang di kepalanya saat perayaan tahun baru lunar di kota.
Benar, dia kini mengingatnya.
Biksu memang tidak sering turun dari kuil, tetapi kala itu Bianji mendapatkan tugas bersama biksu Chi untuk turun menyampaikan pesan kala Master Wei sedang sakit, kepada pejabat kota mengenai tanggal ritual pindapata sekedar untuk melaporkan kegiatan yang akan datang. Dan di sana, di tengah-tengah perayaan tahun baru lunar, di seberang yang lebih sejuk dari terpaan sinar mentari dia melihat seorang pria lebih tinggi memakai jubah kebesaran merah dan emas yang menandakan posisinya dalam publik; masyarakat lebih tinggi, dan biasanya hanya seorang pejabat pemerintah kekaisaran yang memakainya atau pula dalam keturunan keluarga kekaisaran seperti yang sering dia lihat pada figur seseorang yang cukup dia kenal. Lalu membandingkannya dengan orang yang memiliki penampilan sederhana tadi, mereka adalah orang yang sama.
Bianji tidak menyangka akan bertemu dengan pejabat kekaisaran di tengah malam dalam balutan yang berbeda karena pengunjung kuil selalu datang pagi hingga sedikit menjelang petang, tidak ada dari mereka yang datang ketika tengah malam atau bulan sedang berada tinggi menyinari langit yang gelap. Apalagi pria itu adalah seorang pejabat kekaisaran yang telah memimpin wilayah provinsi Jiangnan selama beberapa tahun kebelakang hingga sekarang yang kenaikannya secara langsung ditunjuk oleh Kaisar menggantikan mendiang sang Ayah dari pria itu setelah mengetahui akan kecakapannya yang sangat bagus.
Sedikit banyaknya selama ia hidup di tanah ini, Bianji pula cukup merasakan ketentraman dari masa kepemimpinan pria itu dan banyak mendengar rasa syukur dari para penduduk yang sesekali datang meminta doa jodoh ataupun keselamatan untuk anaknya di seberang wilayah mengatakan pajak yang dibebankan kepada mereka kini terasa sangat ringan. Hingga sebagian hasil panen yang makmur dapat dijual atau disimpan untuk keluarga besar di rumah. Atau kala mereka mulai bicara keadaan pertanian dari pupuk mulai dikelola oleh daerah agar semua warga mendapatkan bagian yang sama rata dengan harga murah dan kualitas yang baik, membuat panen bisa terjaga dan pembelajaran mengenai pengusiran hama yang mengganggu bagi tanaman dipelajari dengan baik oleh penduduk secara cuma-cuma dari kebijakan yang diusulkan oleh Gubernur.
Dan terakhir kali, Bianji mendengar bahwa akan ada ekspansi bisnis yang lebih besar untuk para petani dapat menjual hasil panennya hingga keluar dari provinsi ini ke provinsi lain dengan penyediaan kapal, sambil hak-hak para buruh petani yang tidak memiliki lahan dan hanya membajak tanah orang lain diperhatikan. Dia dikenal baik hati akan kebijakannya yang banyak berpihak pada kemajuan rakyat, dan tegas kala menemukan satu saja kejanggalan dalam bisnis untuk segera membungkusnya pergi ke pengadilan, menerbitkan dekrit usai mendapatkan persetujuan Kaisar agar setiap orang yang menyeleweng menilap dana, memalsukan hasil dari panen dan membuat lumbung pupuk yang seharusnya diterima secara rata oleh para penduduk hanya oleh satu orang dan kepentingan kelompok agar dapat dijual dengan harga lebih mahal kepada petani akan segera masuk ke proses pengadilan, atau justru dapat langsung dijebloskan ke bilik penjara bersama keluarganya.
Baik hati, namun tegas dan tak kenal ampun bagi siapapun yang berpikir untuk bersebalik darinya serta rakyat kelas menengah ke bawah. Dan, Bianji baru saja bertemu dengannya barusan.
Apakah ada masalah? Apakah ada yang diinginkan pejabat kekaisaran tersebut untuk kemari di tengah malam buta seperti ini? Kemudian tungkai kakinya mulai melangkah keluar kuil, masih dengan baki persembahan, dupa, dan lilin di atasnya, Bianji melihat sedikit bayangan pria itu turun menuntun kuda yang dia bawa tanpa sedikitpun kesusahan di tangga yang sempit.
Bayangan itu terus bercokol di kepala kecil Bianji yang seharusnya penuh dengan tugas-tugasnya di kuil. Tak henti datang dan menggantikan suara menyebalkan yang sebelumnya terus hadir di setiap langkahnya tertuju. Dia hilang bagai tidak pernah hadir di sisi telinganya saja selama hampir dua hari kemarin. Benar-benar hilang, dan kini justru tergantikan dengan eksistensi motif pejabat kekaisaran itu yang lagi balik berkunjung di tengah malam. Terus berulang-ulang setiap hari, dan membuat Bianji banyak terjaga sambil terus menatapnya diam di belakang tubuh dalam balutan jubah besar itu dapat selesai dengan doanya sambil berlutut di depan patung Dewi Kwan Im selama beberapa menit.
Doa tanpa nyala dupa, hanya satu lilin kecil di depannya yang memberikan cahaya dan siluet tubuhnya. Menekan perasaan penasaran yang hinggap di dada Bianji, dan fokus pula dengan doa yang perlahan diudarakan pada setiap tengah malam tersebut. Untuk pria itu, dirinya, selama doa berlangsung pendek. Dan selama kunjungan itu terjadi hanya Bianji lah seorang diri yang mengetahuinya dan menyimpan kunjungannya kemari rapat-rapat dari bisikan siapapun di lembah ini.
***
Hari ke-8 dari pertemuan keduanya, masih di larut malam seperti sebelumnya, Bianji berdiri di belakang dengan peralatan berdoa. Melihat pejabat kekaisaran itu tertunduk sesaat, lalu bangkit dari posisi berlututnya untuk kemudian membungkuk dalam suara pelan demi berterima kasih kepada biksu yang menemaninya berdoa.
“Aku antar sampai depan.” Kata Bianji berbisik rendah seperti berbicara pada dirinya sendiri, dan mengikuti langkah panjang sang pejabat kekaisaran itu di belakangnya dengan jubah hitam besarnya menyeret di atas permukaan. Tudung kepala itu masih dipakai rapi seperti sebuah keharusan untuk dapat melindunginya dari malapetaka.
Bianji berhenti di luar daun pintu kuil, melihat kali ini dengan cara tak asing bagaimana punggung lebar itu balik menghilang ke bawah kabut lereng pegunungan Yin bersama kuda hitam milik sang pejabat. Dan hanya sedikit bagaimana seluruh doa sunyi yang turut dirapalkan Bianji kepada sang Dewi membawanya berharap selamat dalam perjalanan pulang. Agar hari besoknya dia tetap datang, dalam keadaan sehat dan tampak baik.
Meski saja, Bianji sedikit penasaran berpikir di tengah pekerjaannya dari menyalin doa sutra ke kertas kuning lain untuk memperbaiki kertas yang sudah robek, dengan apa doanya? Apa kiranya yang diinginkan pria itu terus kemari sepanjang malam? Apakah doa itu untuk dirinya atau untuk rakyat yang terus dia pikirkan setiap hari dari sela-sela kegiatannya? Apakah pula itu sebuah kemakmuran atau apa?
Tanya itu tak terjawab pasti, dan rasa penasaran itu kembali ditekan lagi.
Hari ke-10, dimana malam larut itu kembali terjadi dan kali tersebut sang pejabat membuka sebuah percakapan lebih dulu kepada Bianji. Desau angin malam berkabut naik dingin perlahan menerbangkan ekor jubah hitam pria itu dengan tudungnya, matanya tajam menatap ceceran cahaya di luar kuil kala ia baru masuk ke dalam. “Terlalu indah tapi belum sempurna bukan?”
Bianji menengadah dari atas nampan di tangannya, berjalan mendekat ke pembatas kayu tulang dari daun pintu kuil untuk ikut melongok keluar. Lalu dia menggeleng, “Itu sudah baik. Apa menurutmu yang belum cukup benar sempurna, Tuan?”
“Aku belum meratakan pendidikan yang pantas bagi mereka. Hanya sedikit, bahkan segelintir yang dapat masuk bersekolah.” Balas sang pejabat, balik menatap Bianji di seberangnya yang ikut terpaku menatap kejauhan. Dan memang seperti magis setelah malam itu terjadi, Bianji banyak mendengar bahwa pejabat itu membuka ruang kesempatan pendidikan seluruh rakyat di provinsi dan membuka secara besar-besaran pembukaan ujian guru untuk dapat mengajar. Mengisinya di setiap kota, distrik, dan mengkomunikasikan perihal gaji serta pembangunan dari pajak rakyat yang sebagian besar sebelumnya hanya untuk menstabilkan sektor ekonomi dan pemberdayaan kemampuan praktis; menanam, lalu memaksimalkan bibit, mengolah hasil, dan dukungan ekspansi bisnis lanjutan yang terpisah harga bagi rakyat kelas menengah ke bawah dan ke atas.
Kemudian kini dengan pendidikan, meski masih mendengar satu dua rasa pesimis dari rakyat. Untuk apa sebuah pendidikan tinggi? Yang mereka perlu selama ini hanyalah bagaimana perut dapat terisi. Itu tantangan yang cukup berat, perlu pula dukungan dari sang Kaisar dari pusat, dan pria itu segera mengantonginya untuk dapat memaksa anak-anak lebih muda daripada usia 17 tahun harus pergi ke sekolah. Sebaliknya jika tidak, maka akan diberikan denda bagi orangtuanya, sampai orang-orang berbondong-bondong agar bisa menyeret anaknya pergi ke sekolah. Berdoa di kuil semoga lulus ujian masuk, dan tak sedikit yang pula menyindir tujuan sang gubernur akan kebijakan satu ini perihal dampaknya.
Hari ke-34, Bianji kembali menyambut di daun pintu. Tersenyum lega dengan kedatangan sang pejabat di waktu seperti biasanya. Usai berdoa bahkan pria itu masih sempat sedikitnya berkata bahwa aroma kuncup mawar dari tepian sayap kanan bangunan kuil Baima Si tercium harum. “Anda pasti merawatnya dengan baik.” Puji pria itu, tanpa melepaskan jubah besar maupun tudung di kepalanya sejak hari pertama mereka bertemu bahkan kala doa-doa sunyi yang pejabat itu utarakan dan ritmenya mulai diikuti oleh sang biksu muda untuk turut dapat mendoakan pria itu tanpa diminta.
“Berniat menjualnya ke pasar?” Tanya pria itu lagi sambil menarik tali kekang kuda hitamnya, bersiap pergi.
Bianji menggelengkan kepalanya sambil tersenyum teduh, “Tidak. Dirawat hanya untuk mengisi waktu luang, aku belum berniat menjualnya dan perlu persetujuan dari Master Wei. Mungkin siapapun yang meminta kelak mawar itu mekar, aku akan langsung segera memberikannya.”
Kemudian sebelum langkah panjang itu turun, Bianji menawarkan tanpa maksud maupun tujuan apapun. “Jika mau, kamu bisa memilikinya. Mungkin dalam beberapa hari ke depan dia akan mekar memesona untuk hiasan di dalam rumah. Aku akan menyimpan mereka untukmu.”
Pria itu hanya mengangguk, berucap terima kasih lalu pergi menuntun kaki kudanya agar dapat seimbang. Turun ke bawah, pada imaji magis cahaya rumah-rumah di bawah berpendar tampak agung. Setelahnya Bianji balik melangkahkan kakinya ke jalur bebatuan yang berlumut, masuk ke dalam paviliun untuk dapat beristirahat lagi sampai waktu fajar tiba dan kemudian naik ke kuil demi dapat membunyikan lonceng doa pagi lantas bergegas bisa bersiap, bergabung dengan barisan saudara-saudaranya Hui dan Zhi di belakang Master Wei.
***
Hari ke 60 di tengah malam yang sama seperti malam-malam sebelumnya dan selayaknya hal normal Bianji tetap datang ke kuil untuk menyempatkan diri melakukan pelayanan kuil kepada pengunjung terakhir yang disembunyikan dirinya selama beberapa pekan terakhir. Membawa lentera di tangan, sedikit terseok oleh batu berlumut dari arah paviliunnya, dia sudah bisa melihat pejabat kekaisaran itu datang seorang diri.
Kali ini datang tanpa kuda hitamnya, atau entah ditaruh di bawah lereng kuil, dan saat sudut matanya melihat cahaya lentera Bianji di kejauhan, pria itu berjalan pelan mulai mendekat untuk bisa menghampiri biksu yang sering menemaninya berdoa. Dengan kedua tangan di belakang tubuhnya, tungkai sang pejabat kekaisaran itu mulai masuk di pertengahan jalur yang bisa menghubungkan daerah bebatuan setapak ke arah tempat istirahat para biksu Baima Si dalam paviliun kecil dan bangunan kuil yang dipisah pula dengan banyak akar-akar dari pohon ginkgo yang mencuat.
Bagi biksu muda itu, ada keindahan sementara yang cukup mulai terasa demikian menawan dalam kerentanan tanggungannya dan dia tahu bahwa setiap pada hari berikutnya, di tengah malam seperti ini, dia akan mengambil kesempatan pertama untuk mengatasi perjumpaan ini sebagai salah satu dharma dari pelayanan sosial terhadap siapapun yang berdoa di kuil akan tetap mendapatkan cara yang sama untuk dilayani dengan baik. Diterima di kuil Baima Si, dan kebutuhan doa yang diinginkan oleh mereka tanpa sedikitpun rasa pamrih. Yang ada hanyalah belas kasih bahwa semua manusia sama, tanpa memandang ia berasal dari latar belakang mana, dan perbuatan atau 因果; yīnguǒ adalah hal yang harus diutamakan.
Sebagaimana selama ini pejabat itu banyak berlaku baik, memupuk karma baik atau 结缘; Jiéyuán dalam awal kehidupannya dengan membangun sikap santun sesuai moralitas dan menjalin banyak hal bermanfaat tinggi bagi sekitarnya. Dan hal ini pula sama seperti yang selalu dilakukan Bianji selama menjadi biksu di Baima Si maupun sebelum dia bisa terdampar di sini, ketika dia mempercayai bahwa 自食其果; Zi Shi Qi Guo adalah hal yang terus terikat pada manusia. Oleh demikian sebabnya perbuatan di masa hidup akan masuk ke dalam retribusi karma, dan hanya melalui perilaku berbakti serta kebajikan selama hidup akan menyelamatkan setiap insan dari malapetaka buah perilaku sebaliknya.
Dan mendapatkan kesempatan seperti itu, untuk terus melayani setiap warga yang datang ke kuil, Bianji akan senang bisa membagi waktunya untuk dapat menemani doa. Lebih dari sekadar pekerjaan atau tanggung jawab akan dhamma yang diajarkan kepadanya, Bianji hanya akan menyebut inilah rasa cinta dari ajaran Buddha untuk setiap saudara yang dapat saling memberi satu sama lain. Dan dia senang berada di antaranya, menebarkan kebaikan di sela-sela kosongnya daripada sekadar tidur yang dia khawatirkan kembali bisa mendengar lagi suara-suara yang menelusup ke bawah kulitnya hingga akhirnya membangunkan sebuah rasa takut yang tak berdasar sebab mereka hadir tanpa wujud. Hanya nyaring berdesis di telinganya bersama hewan pengerat di hutan. Dia enggan bertemu hal seperti itu, dan lebih memilih bangkit dari ranjang alas tidurnya untuk kembali ke kuil dengan satu cahaya jingga emas dari lentera yang dibawanya. Lalu bertemu mata secara akrab seperti saudara saja dengan sang pejabat kekaisaran itu.
“Selamat malam.” Bianji menyapa lebih dulu sebelum dekat, langkahnya pelan dengan sapuan jubah safronnya ke permukaan tanah yang tampak banyak bertebaran daun-daun kering kekuningan pohon ginkgo. Dia menatap ke samping tubuh sang pejabat, “Tidak membawa serta kudamu?”
Tiga langkah lagi, Bianji dapat dengan jelas lumayan menghidu aroma mawar basah yang sedang mekar di sayap kanan bangunan kuil Baima Si, dan aroma segar buah jeruk manis yang mungkin datang dari pria itu. Dan saat langkah selanjutnya semakin dekat, kian memangkas jarak untuk dapat melihat wajah satu sama lain, Bianji tidak sadar kakinya menginjak salah satu akar besar dari pohon ginkgo yang mencuat, membuat tubuhnya oleng ke kiri hilang keseimbangan karena akar yang licin. Membuat pria berjubah hitam seperti malam-malam sebelumnya menangkap lengan Bianji dan menahan tubuhnya agar tidak jatuh terjerembab ke akar-akar keras pohon yang lain.
“Hati-hati. Kamu bisa bicara setelah ada cahaya yang lebih baik dari pada di sini.” Pria itu menggerutu. Melepaskan tangannya dari lengan kurus Bianji yang dapat kembali berdiri setelah tubuh keduanya berhimpitan.
Bianji merasa sedikit bersalah, kikuk pula akan jarak mereka sebelumnya yang tipis karena kecerobohan dirinya untuk memilih jalur. Dia menunduk, lantas berkata, “Maaf, Tuan. Maaf sedikit menyulitkan Anda, dan terima kasih bantuannya.” Kembali menunduk sesaat dan tahu-tahu lentera di tangan kanannya berpindah ke pria itu. Dia menegaskan akan memimpin jalan kali itu menuju ke depan kuil, ke tempat cahaya di sana jauh lebih terang.
“Apakah ada yang sakit?” Pria itu lanjut bertanya menyambungkan kejadian ulah kecerobohan biksu muda itu di sana, tersandung akar pohon hanya karena fokus berbicara.
Lalu meski tidak ada nada mencemooh di dalamnya, hanya ada rasa khawatir, Bianji tetap merasa tidak tenang. Dia merasakan dirinya agak sedikit lengah terhadap keadaan pribadinya tadi saat menemukan pria itu jauh lebih dulu sampai ke kuil dari pada Bianji seperti malam-malam sebelumnya. Dan tidak datang tanpa kuda hitam memukau itu membuat Bianji penasaran sampai diri nya membuahkan tanya lebih dulu. Lagi-lagi, sebab biasanya pria itu akan selalu muncul dengan bunyi tapal kaki kuda kala Bianji tengah menyalakan lilin di dalam kuil, dan kali ini terasa awal dan berbeda.
“Tidak ada, Tuan.” Kata Bianji pendek.
Tetapi pria itu membahas hal lain dari jawaban seriusnya, “Jangan memanggil aku ‘Tuan’ di sini. Aku bukanlah orang penting. Hanya datang kemari sebagai seorang penduduk biasa. Jadi panggil namaku saja.”
Bianji mengangguk, “Tian.” Dan telah mencoba membiasakan nama itu lagi di lidahnya saat mereka berkenalan nama di hari-hari sebelumnya secara baik. Lalu memimpin jalan di depan, membuka pintu kuil yang sedikit berdecit pelan karena engsel tuanya belum kembali diminyaki. Dia pergi ke sisi samping pintu belakang patung sang Dewi dan keluar membawa baki persembahan serta korek, menyalakan satu per satu lilin di depan kaki patung emas Dewi Kwan Im yang menunduk lembut ke bawah, seolah-olah dapat melihat keduanya berada di sana.
Tian melepaskan jubahnya ke lantai di sisinya, menampilkan rambut hitam legam pendek yang berantakan usai ditutup oleh tudung jubah tersebut. Dia mulai menangkupkan tangan di depan dada, berlutut di bawah patung sang Dewi dan memejamkan mata berdoa kembali seperti sebelumnya, diam tanpa sepatah kata di sana dengan Bianji di belakangnya.
Yang sama sekali tidak tahu menahu jika selama beberapa hari ini Tian pula tak tahu mengenai keyakinannya sendiri; ia hanya pejabat kekaisaran yang haus penebusan dari tanda rambutnya telah terpangkas pendek sebagai simbol bahwa ia adalah anak yang ditinggalkan secara malang oleh kedua orangtuanya. Dan dua puluh tahun kepergian itu tetap menyisakan borok yang terus menerus hadir di antara bayang mereka yang terus bergantung dalam mimpi tidurnya yang tak pernah lenyap, membuatnya bingung harus melakukan apa lagi dan mengadukan hidupnya untuk pergi berdoa di hadapan batu suci ini seperti yang banyak dikumandangkan oleh orang-orang. Katanya, mintalah hal apapun, mereka akan menuruti permintaan itu sekalipun terlihat mustahil, dan Tian menginginkannya.
Dia menginginkan bayang kematian kedua orangtuanya lenyap dari kepala itu. Hanya hal demikian, satu saja hal yang dimintanya untuk dapat tidur dengan tenang, bukan dengan tangis terakhir ibunya yang bersimbah darah dan ayahnya yang menggantung tak menapak permukaan.
Dengan cara lidahnya yang menjulur, matanya yang tajam menatap kosong keluar, dan ibunya yang menangis saat perutnya tertusuk pisau. Berteriak seribu maaf kepada dirinya bahwa ia tak sanggup hidup tanpa suaminya yang memutuskan pergi begitu saja, entah tekanan apa yang diterimanya sebagai pejabat kekaisaran dimana teror malam pada warga terjadi dimana-mana, dan desas desus akan terjadi perang terus menghantui jejak para rakyat yang kesulitan akibat banyak lumbung hasil panen rakyat yang terbakar lenyap begitu saja. Bagai bensin yang dituang ke dalam api, harga bahan pokok pula semakin tinggi hingga berimbas pada provinsi lainnya seperti serangkaian petaka.
Tian tidak menginginkan itu. Bukan ini salahnya, dia tidak bersalah atas hilang nyawa mereka dan kesusahan kala waktu itu terjadi yang menimbulkan kesakitan nyata di hatinya. Tentang bagaimana orangtuanya pergi sendiri dan menyerah akan keadaan, meninggalkan anak semata wayang mereka sendirian menanggung malu serta cercaan bertahun-tahun setelahnya hingga dia beranjak remaja di bawah keluarga Kaisar, belajar dengan tekun dan berteman bersama pangeran serta putri ketiga mereka yang lahir sangat cantik; putri Gaoyang. Dan saat upaya pemilihan pejabat kekaisaran kembali diadakan setelah keadaan lebih baik, Tian menjadi salah satu yang ditunjuk secara langsung oleh Kaisar. Menguji kemampuannya di depan publik, dan memberikan kesempatan dua tahun untuk memperbaiki provinsi pusat.
Jika dia tidak berhasil, maka dia akan diturunkan. Dan hasilnya sekarang kini berada di depan wajah semua orang bahwa provinsi di bawah tangannya menjadi perlahan tumbuh makmur, pulih satu persatu termasuk kuil ini yang dulu ikut terbakar dan tidak ada biksu di dalamnya yang bisa mengurus sampai kemudian muncul tiga dan empat di antaranya termasuk Bianji yang terakhir datang. Namun dari seluruh doanya yang sama diulang, dia belum menemukan ujungnya. Meski hatinya tetap menggerakan tubuhnya untuk beranjak ke kuil ini seperti sebuah kebiasaan. Mencoba tekun akan bait-bait doanya sendiri, sebab barangkali siapapun dapat mendengar jeritan hatinya yang nelangsa sendiri.
Tian bangun dari posisinya, kembali memberikan salam terakhir. Lalu balik arah ke Bianji di belakang, melihat baki persembahan yang selalu pria itu bawa kala prosesi berdoanya, lengkap dupa dan korek. Berada satu langkah dari hadapan Bianji yang menatap matanya secara langsung di sana, terpaku pada kemungkinan rambut aslinya. Karena pada masa-masa tertentu seperti dari acara publik, Tian selalu mengenakan tudung jubah yang menyembunyikan rambut kepalanya. Tetapi semua orang tahu diam-diam, dan kabar itu mulai sedikit menipis hasil dari kinerjanya yang baik melayani rakyat. Dan kadang pula para pelayannya selalu memakaikan rambut palsu tambahan yang dipesan dari luar provinsi untuk acara besar lainnya.
Yang meski tetap saja terasa sedikit melanggar, semuanya bungkam secara serempak karena ia pejabat yang telah berhasil dicintai oleh rakyatnya. Dan ini pertama kalinya, Bianji melihat akan bentuk hukuman itu yang harus diterima oleh Tian. Pejabat kekaisaran terbaik masa mereka yang memiliki kisah masa kecil yang kelam pernah sedikit didengarnya dan dilupakan begitu saja dari cerita biksu Chi, nyata.
“Aku tidak menggunakan dupa untuk doa dan kamu tetap membawanya lagi kemari. Apakah sepenting itu dia suka dengan dupa?” Tian bertanya, matanya menoleh ke belakang kembali ke arah patung Dewi Kwan Im yang bersinar dikelilingi lilin di sekitarnya. Dimana cahaya jingga itu memantul pada emas dari patung hingga menyebabkan ilusi magis di ruangan tengah kuil Baima Si. Dan saat menoleh lagi ke arah Bianji, puncak kepalanya dielus lembut.
Mereka terdiam lama. Terutama pada mata Bianji yang menyorot sendu di sana, sedikit membuat Tian tergugu dari tempatnya. Dia menyipitkan mata sedikit, menelaah sikap Bianji, apakah biksu boleh menyentuh orang lain? Dia adalah umat umum, sedangkan Bianji berbeda darinya. Telah bertahun lebih lama berada di sisi kesucian Dewi dan para Dewa yang telah dikuduskan. Apa hal ini tidak masalah terhadap vinaya atau penasbihan akan perilaku monastik untuk dapat menegakkan sangha biksu muda itu? Tian tidak tahu. Dia baru akan semua hal ini dalam masa panjang hidupnya selama 37 tahun.
Apakah boleh mereka demikian?
Meski tidak ada secercah gelombang nafsu mekar di antara mereka. Tetapi semua ini terasa tetap salah, dia bukan pula murid Bianji, yang normal kala menerima sentuhan; pemberkatan, karuna maupun hal lain yang tak banyak Tian ketahui. Di sisi kepalanya yang lain menafikan hal tersebut, mungkin normal terjadi karena mereka adalah dua insan yang memiliki jenis kelamin sama. Dia bukan wanita, dan Bianji tahu batasan lebih darinya sebagai orang awam dalam hal ini.
Maka hati Tian merasa sedikit berdesir pelan, dia tak pernah merasakan lagi rasa dikasihi seperti ini sejak puluhan tahun lalu. Hanya sendiri, di belakang orang lain yang lebih tinggi status dari nya, dan terlihat oleh mata kasihan kala orang-orang bisa melihat rambut pendeknya. Tanda ia ditinggalkan, dan sendirian melalui semua sunyi yang sangat memekakan telinga, hanya ada tangis ibunya yang tak pernah pergi di setiap malam. Bahkan sampai saat dia mendapatkan jodoh dari sang Kaisar untuk dinikahi, dan perempuan itu melarikan diri bahkan sebelum dapat bersewajah dengannya. Tian merasa ia memang pantas; ditinggalkan bahkan oleh orang terdekatnya, apalagi orang baru hanya karena itu perintah dari sang Kaisar untuk anak pungut ketika masa kekacauan itu terjadi.
Dan, tangan halus Bianji menjadi satu -satunya yang pernah dia rasakan lagi bagaimana rasanya dikasihi lagi.
***
Bianji menunduk, lalu bangkit dari posisi berlututnya di tepi danau pagi itu. Telinganya mendengar bunyi gemerincing seperti lonceng kecil, bunyi familiar yang dia ketahui selama bertahun-tahun di Baima Si. Matanya teduh melesat ke arah berlarinya kaki seseorang ikut berjarak dua langkah di sampingnya, menyapa ceria.
“Bagaimana kabarmu Bianji?” Wanita itu menyapa. Pelayannya berdiri satu langkah di belakang mereka, memberi ruang percakapan di antara keduanya berterbangan di udara. “Kamu tahu, aku mempunyai sesuatu spesial yang sangat bagus untuk dapat dikenakan. Ini aku dapatkan di provinsi sebelah untukmu. Maukah kamu menjaganya?”
Bianji ganti menatap gelang di tangan putri Gaoyang. Gelang tembaga hijau emerald yang tampak cantik kilauan warnanya. Dan Bianji menggeleng, dia tidak bisa menerima pemberian sejenis hal perhiasan seperti ini.
“Simpan saja dia untuk dikenakan oleh dirimu, Tuan Putri. Terima kasih sudah memikirkan hadiah untuk saya.” Kata Bianji, memperpanjang jarak pantas di antara mereka. Berjalan kembali ke arah bangunan kuil yang kemudian diikuti oleh putri Gaoyang di belakang, mengejar langkahnya dengan satu pelayan wanita yang dia bawa seperti biasa hari ini.
Putri Gaoyang tidak menyerah, “Apa benar-benar tidak bisa mengambil?”
“Ya.” Ucap Bianji. “Maafkan saya.” lalu melihat saudaranya Hui di depan kuil tengah menyambut dua orang asing, kemungkinan penduduk yang datang dari jauh membawa banyak tas besar di pundak serta keranjang sayur yang sudah kosong; sepertinya sudah habis terjual sebelum datang kemari.
Dia memberikan salam kepada mereka pula, dan berjalan ke samping kuil untuk mengambil keranjang kosong, sarung tangan, dan pisau untuk dapat memetik tangkai mawar ke dalam keranjang. Membuat putri Gaoyang sangat tertarik, ikut berjongkok tiga langkah di belakang Bianji di sana.
“Kamu akan menjualnya?” Pertanyaan itu sama terulang seperti beberapa pekan sebelumnya, Bianji merasa sedikit terlempar ke masa itu meski kali ini dengan mulut berbeda yang menanyakan pertanyaan itu. Membuat Bianji tanpa menoleh menggelengkan kepala dan fokus dengan pekerjaannya.
Putri Gaoyang mengernyit bingung, lalu untuk apa Bianji menyemai bunga itu ke keranjang? Hingga keranjang itu benar-benar penuh. Sebagian bunga mawar mekar yang cantik sudah di dalam keranjang, Bianji menunggu orang yang akan menjemputnya agar dapat dibawa pulang. Sorenya setelah putri Gaoyang pergi lebih dulu, pamit kepada Bianji dan berkata akan terus berkunjung lagi esok dengan ceria, yang hanya dibalas tanpa jawaban oleh Bianji, seorang pengawal muda tampak sehat bugar; mungkin baru berusia dua puluhan awal, datang langsung kepada Bianji di sana.
“Saya datang untuk biksu Bianji dari kediaman gubernur Jiangnan.” Katanya tertunduk dengan kedua tangan di depan dada, menghaturkan salam.
Bianji menerimanya, dan memberikan keranjang itu ke tangan pengawal yang setelahnya langsung pergi usai salam terakhir berpamitan kepada biksu itu di sana. Kembali ke kediaman pejabat provinsi itu, menyerahkan keranjang ke para pelayan untuk kemudian ditata di dalam vas bunga. Membuat Tian kala pulang dari pelabuhan dengan perjalanan panjang sejak dua hari sebelumnya, dan kala pulang dia dapat mencium aroma segar mawar yang baru dipetik di seluruh ruangan.
Tidurnya kala itu terasa nyenyak dan sangat baik sesaat dirinya kembali bangun untuk dapat naik ke lereng pegunungan Yin dengan kudanya yang kali itu ia taruh di bawah. Naik ke anak tangga kuil ke atas, dan bertemu Bianji di dalam kuil tengah berdoa.
***
Tian melepaskan jubahnya, berdiri diam di sekitar ruangan bagian belakang kuil. Berusaha keras untuk tak membuat suara apapun demi melihat setiap inci sekaligus sudut bagaimana Bianji tampak fokus dengan jalinan doanya di sana. Sendirian, tampak kecil dengan jubah safronnya, bersila menangkupkan tangan di depan dada dan menyanyikan ajian, "南无大慈大悲观世音菩萨. 唵嘛呢叭咪吽. (Nā mó dà cí dà bēi Guān shì yīn pú sà Ŏm Ma Nī Bā Mī Hōng; Terpujilah Bodhisattva Avalokiteshvara yang Maha Pengasih dan Penyayang. Hamba memohon keselamatan bagi orang yang sedang melakukan perjalanan jauh.)"
Setiap lilin yang menyala terang di sekitar kaki Dewi Kwan Im berkelebat, dan tak membangunkan Bianji dalam duduk khusyuknya. Dan Tian telah memperhatikan lama dari jarak aman, lalu selesai dari sana, Bianji menoleh kecil ke arahnya dari sudut mata lalu berkata, “Kamu sudah pulang dengan selamat lagi, Tian.”
Tian menganggukkan kepalanya. Ikut bergabung di sisi Bianji, menelungkupkan tangannya di depan dada, lalu berdoa sebentar karena perhatiannya kini teralihkan pada Bianji yang lebih dulu bangun ke arah pintu samping di belakang patung sang Dewi. Dia dari sana membawa baki berisi teh dan mengajaknya keluar dari kuil di bawah pohon ginkgo yang memiliki meja kecil kayu di sana dengan dudukan kayu pendek yang tentunya dibawa Bianji dari paviliunnya hari ini. Untuk dapat menyambut kedatangan Tian yang pulang dengan sehat tanpa kurang satu pun dari tubuhnya.
"Kamu tak perlu repot-repot seperti ini," gumam Tian sejenak dengan suara nya yang rendah halus hampir tertelan angin. Ia melangkah mendekat, ikut duduk bergabung di sana sampai terasa bayangannya memanjang di lantai batu di belakang Bianji. Tetapi hanya ada satu cawan kecil teh dan satu teko di sana, serta camilan kering di satu piring kecil. Membuat Tian bingung, apakah mereka berbagi cangkir? Atau hanya dirinya yang akan minum teh di malam larut seperti ini?
Bianji mengangkat wajah, senyumnya lembut bagai cahaya bulan di danau tenang seolah dapat membaca rasa kebingungan Tian, "Aku tidak makan apapun setelah matahari terbenam. Kalaupun aku menyediakan, aku hanya bisa meminumnya setelah fajar tiba." Ia menyodorkan cawan itu, tangannya yang masih terasa lembut halus meski bertahun-tahun bermeditasi dan melakukan pekerjaan di kuil terasa hampir menyentuh jari Tian.
Sentuhan itu meski hanya sesaat, seperti daun jatuh di permukaan air, tetap membuat dunia berhenti. Tian merasakan semuanya; dari denyut nadi Bianji yang stabil, hangatnya kulit di balik jubah, dan di balik itu, sesuatu yang lebih dalam, yang tak terucap ada degupan jantung Tian berderak kencang, seperti genderang perang di dada. Matanya bertemu mata coklat terang berkilauan Bianji, dan di sana, ia seolah dapat melihat pantulan dirinya sendiri dengan rambut pendek yang berantakan dari jubahnya yang dibuka, hanya dirinya yang memiliki kemalangan tragis ditinggalkan sendirian tanpa siapa-siapa, bukan seorang gubernur yang kini perlahan berjaya memakmurkan rakyatnya dalam jatuh bangun, dan hanya dirinya sebagai pria yang haus akan kehangatan.
Tian merasakannya, mengalihkan lebih dulu pandangannya ke arah lain, dan diam-diam getar itu berlanjut sedikit bergemuruh di dadanya. Terasa lebih nyata daripada gelegar kegaduhan pasukan di perbatasan atau mesin kapal di pelabuhan. Dengan aroma teh hijau melayang, harum seperti rahasia yang perlahan terungkap setengah cerita di antara mereka, dia menunduk untuk meminum bayangannya yang tampak kelabakan di sana. Membaur satu tertelan di dasar perutnya.
Sedangkan di kepala Bianji, badai lain tengah bergolak. Saat jari mereka bersinggungan, sesuatu kecil seperti jarum menyengat hatinya. Dia juga sedikit kebingungan hingga Bianji segera menarik telapak tangannya pelan, senyumnya tak pudar bertanya rasa dari teh yang diracik dan dikeringkan dirinya selama beberapa hari lalu.
Tian mengangguk, kembali menyesap teh itu hingga rasa pahit dan manis menyusuri tenggorokannya. “Sangat baik. Aku belum pernah mencoba satu rasa ini. Kamu membuatnya sendiri?” Tanyanya memperpanjang topik dari percakapan mereka di tengah malam buta itu. Menepis perasaan yang kini terasa perlahan jelas bagai lonceng kuil di saat fajar; keras, nyata, dan tak terbantahkan. Tapi ia diam perihal perasaan itu, dengan kata-kata yang terus dibiarkan menggantung di tepi garis bibirnya seperti kabut yang enggan turun. Hanya makum mendengarkan cerita Bianji soal daun-daun teh yang dia racik sendiri.
Malam terus berlalu, api meredup, dan rahasia perasaan yang telah menggigit kulit Tian tetap terkurung di antaranya. Dia tak berani untuk dapat menamainya secara gamblang, apalagi bisa menanyakannya kepada Bianji. Terlebih entah pada hari ke berapa jauh dari perkiraan yang dapat disangka oleh dirinya. Dia melihat Bianji mendapatkan buah-buah seukuran kepalan tangan dengan pita satin di atas keranjang yang dia kenal selama hidup menumpang dengan keluarga putra mahkota. Membuat dirinya selain ragu, bahwa Bianji terlalu suci untuk dirinya yang penuh kenistaan selama hidup, lalu fakta bahwa ia punya masa kelam akan kedua orang tuanya. Dan tidak ada yang mau berhubungan dengan siapapun yang mana keluarga mereka telah melakukan bunuh diri di saat rakyat sedang sama kesulitan. Dan bisa saja jika memang biksu muda itu jatuh cinta, ada putri ketiga yang jauh lebih baik darinya dari segi apapun.
Hanya membuatnya dongkol dengan segenap kecamuk perasaan cemburu untuk dapat merebut Bianji hanya miliknya, bukan orang lain.
Itu memori yang kotor. Desau angin malam itu, menderu lembut bahkan tak sanggup menerbangkan hal yang tragis dan lama telah terjadi sampai membuatnya menerima simbol hukuman seperti ini. Mereka hanya sedikit mampu menerbangkan kecanggungan dan kembali mencairkan apa yang beku di antara keduanya setelah kejadian elusan rambut, Bianji yang oleng hampir jatuh oleh akar ginkgo yang mencuat, lalu jari itu, dan saat Tian dan Bianji duduk berdampingan di bangku kayu usang.
Hingga udara tebal berganti dengan musim panas yang semakin mempertebal jurang ketegangan yang kian membuat tatapan membara dari jarak berminggu-minggu itu berlalu, tetap ada di sana. Dengan mata Tian yang lapar menelusuri bahu sempit Bianji, jari-jarinya yang hampir menyentuh pinggang halus di balik jubah saffron biksu muda itu kala Bianji tersandung menginjak jubahnya di tepi danau di lain waktu, dan sapu tangan yang ia berikan kepada Bianji ulah sebab kepalanya kejatuhan air dari atas pohon ginkgo.
Khawatir itu kotoran hewan atau apapun, Tian menawarkannya dan menawarkan untuk mengantar pulang ke paviliun. Melihat ruang istirahat Bianji disana yang sederhana, dan aroma lelaki itu ada dimana-mana.
Tian tak tahan lagi.
Dengan gerakan mendadak yang cepat bagai badai pegunungan Yin, ia meraih wajah salju Bianji, jari lebarnya membingkai pipi lembut itu, dan menariknya ke dalam ciuman pertama mereka. Bibir persik Bianji menyatu dengan bibirnya yang kering, hangat dan manis seperti madu terlarang, napas mereka bercampur dalam satu hembusan nafas panas yang singkat tapi membakar. Tubuh kurus Bianji menegang sesaat, merespons dengan getar halus, sebelum akhirnya sadar dan mendorong bahu bidang itu.
Tian yang paham melepaskan, dan merasa bersalah pada kesucian yang dijaga puluhan tahun oleh Bianji kini dihancurkan cepat oleh dirinya yang tak bermoral. Lalu seperti itulah, sesuatu tampak pecah di mata Bianji. Gelombang rasa bersalah membanjiri hati Bianji seperti banjir deras; belasan tahun bersujud di telapak kaki Dewi yang dikuduskan, sumpah selibat dan kesucian, kini dikhianati oleh satu sentuhan duniawi. Dadanya terasa sakit menusuk, air mata tak terucap menggenang di pelupuk kecil tatapan almondnya. Ia mundur pelan, bahu sempitnya meringkuk defensif dan seperti lebih ketakutan, menghindar dari panas yang masih terasa membekas di belah ranum bibirnya.
Semuanya terasa mengejutkan.
Dan Tian menyadari perubahan itu seketika, dari gerak tubuh Bianji yang kaku, lalu mundur seperti rusa yang terluka, tatapan almond cerahnya yang selalu berpantulan cantik dengan cahaya obor kini terasa sangat jauh dan penuh konflik. Frustasi pula kian menggelegak dalam dirinya sendiri yang menyalahkan sikap pertahanan mudah jebol dan cara kotor bagai muntahan lahar gunung api, panas, dan tak terkendali itu dilakukannya kepada kesucian Bianji.
Bagaimana bisa pula satu ciuman kecil membawa surga lalu neraka?
"Jangan mundur," desah Tian serak, tangannya masih serakah ingin meraih pergelangan tangan halus Bianji di sana. Paviliun itu sunyi, hanya angin yang menyaksikan retaknya sumpah mereka di bawah bayang Dewi Kwan Im yang jauh. Dan Bianji mengusirnya dari sana, menutup pintu.
Tak memberikan kesempatan apapun bagi Tian untuk berbicara, maupun kepalanya agar dapat menerka. Dia tak ingin mendengarkan apapun. Pergi membasuh wajahnya dan lalu bibirnya kasar, berharap seolah bayangan itu cepat hilang, berharap seolah sebagian dirinya yang menerima ikut berdegup kabur dari hadapan wajahnya yang pias. Dia memejamkan mata, dan justru muncul bayangan biksu Chi yang terduduk di sudut ruangannya sambil tersenyum teduh. Membuat Bianji seketika terbangun berkeringat. Tapi fakta tak berubah bahwa Tian malam itu menciumnya, dan ia merasa sangat diinginkan begitu dalam hingga lagi membayangkan sentuhan halus itu di permukaan bibirnya sangat nyaman.
***
Lonceng menara berdentang tiga kali, memanggil doa pagi di altar utama. Master Wei seperti biasa memimpin, suaranya bergema membaca sutra dari gulungan sutra kuning. Selesai dari itu dua biksu lain pergi menyapu daun ginkgo yang berguguran di halaman luas, sapu rotan mereka bergesek pelan dengan batu licin yang berlumut. Bianji biasanya paling tekun; ia pergi ke pintu belakang kuil untuk menjerang air agar dapat menyediakan teh herbal, menuangkan ke cangkir saudara-saudaranya, lalu ikut duduk di samping Master Wei yang tengah bersila meditasi di tepi danau kecil, napasnya selaras dengan riak air hitam di sana dan Bianji yang ragu.
Dia ragu, apakah harus mengatakan dosanya kepada Master Wei untuk mendapatkan hukuman? Apakah dia harus keluar dari kuil setelah belasan tahun berjuang untuk berada di sini? Kontemplasi hatinya tak berhenti, dia baru hendak mengatakan kejadiannya kepada Master Wei namun dipotong lebih dulu oleh Hui yang datang, dia menginformasikan mengenai tamu dari provinsi lain. Siang hari, ia menyalin ajian suci di kamar kecil, kuas tinta menari rapi di kertas kuning, diikuti tugas menyiram lumut di patung Dewa lain di depan kuil, dan telah membersihkan paviliun belakang dari sarang laba-laba. Tapi seminggu ini, ritme itu terasa retak bagai atap kuil yang bocor. Saat lonceng pagi kembali berdering, Bianji yang kali itu dia terlambat bangun, matanya kosong saat bergabung dalam bait doa, dan ia disuruh mencoba memimpin oleh Master Wei. Membuat degup dadanya bergetar, dan tiba-tiba kata sutra terputus di antara bibirnya, pikirannya melayang diam-diam ke bayang tinggi di bawah sana, di antara lembah lereng pegunungan yang tak disebut, tapi menghantui. Lalu mendapat tatapan dari Master Wei yang heran menatap Bianji tampak asing, tidak seperti biasanya, “Bianji, ada apa denganmu, Nak?” Bianji menunduk, “Maaf, Guru.” Dia merasa bersalah. Kembali melanjutkan ajiannya di depan saudara-saudaranya dan setelah itu pergi menyapu halaman, sapunya tersangkut batu, dan daun ginkgo beterbangan jauh terasa sia-sia karena tangan rampingnya gemetar, bahu sempitnya menegang menahan getar aneh. Teh yang bahkan ia jerang tumpah sedikit saat menuang untuk Master Wei di bangku sayap kiri kuil, "Maaf, Guru," gumamnya lembut, tapi isi kepalanya sudah terbang jauh, terperangkap di tepi danau imajiner dengan aroma embun yang familiar.
Kala menyalin ajian, kuasnya berhenti di tengah mantra kesucian, goresan miring seperti lukisan gagal. Mata almondnya menatap kosong ke luar jendela, menuju kabut malam dimana sesuatu hilang. Bahkan meditasi di danau, napasnya tak lagi tenang; riak air seolah berbisik nama yang tak ia akui, meninggalkan ia yang terasa hilang dalam ritme kuil yang dulu dia hafal betul tiap kisi-kisinya, dan kini pikirannya pergi diam-diam ke tempat yang hatinya tolak disebutkan.
Sore hari, para biksu menyelesaikan doa senja, menyimpan gulungan sutra, dan kembali ke kamar-kamar kecil mereka. Bagi Bianji, setiap malam kini menjadi sebuah musuh lama yang datang, membuat tidurnya tak lagi nyaman, bahkan selimut tipis safron yang biasanya menghalau dingin lereng pegunungan Yin meski musim panas perlahan tiba, terasa mencekik seperti tali pengkhianat. Ia berbaring di tikar jerami di atas ranjang kayu, tubuh kurusnya meringkuk, tapi mata almondnya terbuka lebar memandang kegelapan kamar yang pekat, dan cahaya obor di depan kuil yang bergerak dari kejauhaan menciptakan sebuah bayang-bayang dinding batu bergoyang seperti hantu ajaran lama dari cerita penduduk yang menuduh.
Rasa ingin menangis begitu kian membuncah pelan, panas di balik kelopak matanya, tapi ia tahan dengan satu tarikan nafasnya yang tersengal, jari rampingnya mencengkeram jubah hingga buku-buku jarinya memutih. Ini tak sesuai, bisik suara dalam dirinya, belasan tahun taat di bawah telapak kaki Dewi Kwan Im; melakukan berbagai meditasi pagi hingga malam, membersihkan kuil tanpa mengeluh, menyalin ajian dengan hati suci dan semua itu; kerja kerasnya, perlahan runtuh hanya karena kenikmatan duniawi yang singkat.
Ciuman panas di paviliun, rasa manis bibir Tian yang kini menghantui seperti racun, membuat tidurnya terasa gelisah, kegelapan kamar terasa hidup bagaikan ancaman seperti dosa yang merusak kesuciannya, lalu menghidupkan roh-roh halus di bawah pohon ginkgo di luar jendela berbisik menuduhnya keluar dari jalan ketaatan. Bianji menutup mata, tapi air mata lolos satu tetes, mengalir pelan ke bantal, mengutarakan rindu yang tak diakui dan ketakutan akan jatuh dari jalan dharma yang dulu jadi pegangannya selama seminggu ini benar-benar berantakan.
Keesokan harinya, kabut tipis masih menyelimuti halaman kuil Baima Si saat sekelompok penduduk desa dari lembah bawah naik dengan keranjang sesajen sederhana dan permohonan panen melimpah seperti tahun-tahun sebelumnya karena bibit baru akan ditanam. Mereka sudah mendapatkan pupuk terbaik dari kebijakan gubernur. Dan Bianji, meski pikirannya masih bergoyang gelisah dari malam-malam tak nyenyak, ia tetap pergi mempersiapkan doa seperti biasa. Menata dupa harum di altar utama, jari rampingnya menyalakan dupa satu per satu, aroma kayu cendana menyebar pelan sambil Master Wei memimpin nyanyian sutra. "观世音菩萨,大慈大悲,赐福人间,五谷丰登,家宅平安. (Guānyīn shìyīn púsà, dà cí dà bēi, cì fú rénjiān, wǔgǔ fēngdēng, jiāzhái píng'ān.)"
Penduduk berlutut, suara mereka bergumam syukur, tapi telinga Bianji menangkap bisik-bisik yang terjadi di antara mereka: "Sayang sekali aku dengar Gubernur Tian jatuh sakit parah... demam tinggi di kediamannya, dan dokter istana masih tak kunjung bisa menyembuhkan."
Kata-kata itu menusuk seperti angin tajam yang menyapu guguran daun ginkgo. Usai doa, saat penduduk pulang dengan berkah air suci dari sumur kecil di samping kuil, Bianji tak ikut membersihkan altar seperti biasa. Ia melangkah pelan ke balkon batu di tepi kuil, memandang ke bawah lereng curam dimana pedesaan membentang dengan cahaya hijau samar, sawah terasering mengkilap oleh embun, tapi matanya tertarik pada bangunan mencolok dari bendera merah simbol provinsi Jingnan di kejauhan; istana gubernur, atap merah jingganya terlihat menjulang gagah dengan bendera kekaisaran Yin yang berkibar lemah. Langsung terlihat dari ketinggian kuil seperti lukisan. Pikirannya terpaku di sana, bayang Tian terbaring lemah, dan demam menggerogoti tubuh bidang itu muncul dengan getar aneh menyergap dadanya kembali, sebagai sebuah campuran khawatir yang tak pantas dan rindu yang ia tolak.
Angin berhembus pelan, membawa aroma pahit tanah basah dari lembah, seolah lereng itu sendiri menghubungkan hatinya yang gelisah dengan pria yang kini sakit di balik tembok istana kediamannya yang agung.
Dia pernah pergi ke sana sekali, dan tak pernah setelahnya karena banyak pekerjaan di kuil. Dan di atas air mengapung di dalam baskom tembaga kuning dengan isian dari berbagai macam herbal dan bunga, memberikan aroma manis, seolah-olah itu hanyalah alat mandi wangi seorang wanita untuk hari pernikahannya. Bianji di sana hanya diam-diam tampak patuh, seperti tak ada masalah yang bercokol di kepalanya, melepaskan ikat tali di pinggangnya dan membiarkan jubah saffronnya jatuh ke tanah. Berendam sambil mendinginkan isi otaknya dari seluruh ceceran dan keinginan untuk turun ke bawah, keluar dari kuil demi membesuk orang yang terus menerus berkeliaran di kepalanya.
Bianji menenggelamkan kepalanya ke dasar bak itu, muncul kembali ke darat sambil terbatuk. Meski dia mencoba membiarkan dirinya dihibur oleh kehangatan air dia tetap tidak bisa menaruh pikiran mengenai Tian begitu saja yang menciumnya di ruang istirahat ini. Sementara itu, Kepala Biara menggumamkan ayat-ayat kuno yang ditulis dengan hati-hati oleh tangannya sendiri dalam volume yang terikat kulit yang selalu disimpan di dekat orangnya, selalu berhati-hati dalam menjaga diri dari pandangan instrumen dan dokumen apa pun yang mungkin memberatkan salah satu posisinya, dengan kunci dan kunci, dengan peti yang dibangun cerdik, rak buku, dan lorong tersembunyi.
Ganti mengirimkan balasan kepada sang Kaisar melalui pengawalnya yang berdiri di daun pintu tengah sabar menunggu surat balasan seolah hari esok tak akan bisa datang kembali dengannya. Ia juga cukup bingung, mengapa Yang Mulia Kaisar sendiri pula membutuhkan informasi soal kedatangan dan hubungan putri ketiga mereka dengan salah satu saudara di sini pada biksunya? Apa yang telah terjadi di belakang punggungnya?
Muak akan perasaan terkurung akan kekhawatiran, Bianji ganti memakai jubahnya. Keluar dari bilik paviliunnya saat bulan bersinar di atas kepala, tidak membawa lentera apapun di tangan dan hanya berbekal keberanian untuk turun ke bawah. Menelusuri anak tangga kecil panjang yang telah menghubungkan kuil dan pedesaan. Dia mengeluarkan nafas beratnya, berjalan dengan hati yang menuntun kalau dia pergi ke sana hanya untuk mendoakan pria itu, melihat dia baik-baik saja, lalu pergi.
Hanya itu.
Bianji menekankan lagi, hanya itu. Tak akan ada lebih dan kelengahan.
***
Tangan mereka masih bertaut erat, terutama Tian yang tidak ingin melepas genggaman keduanya karena merasa jika sekali saja tautan tersebut dilepas dia akan kehilangan Bianji selamanya. Rasa rindu Tian terasa memuncak hebat mengalahkan panas dan sakit tubuhnya, laksana keran bocor atau bahkan air terjun pegunungan Putuo dimana kabarnya menjadi salah satu pemandian tempat suci Bodhisattva Avalokitesvara ketika merasakan tangan lembut hangat Bianji berada di dalam genggamannya.
Biksu muda itu datang ke tempat kediamannya sendirian. Membesuk tanpa membawa apa-apa selain dirinya, duduk sopan setelah Tian mempersilahkan masuk. Meski dia sempat dihadang masuk di pintu utama, dan dari ribut-ribut itu kepala pengawal segera melaporkannya karena Tian sudah berpesan jika ada biksu dari kuil Baima Si yang datang, informasikan perihal itu kepadanya.
Mereka duduk berdua saling berhadapan. Bianji tak tahan dengan sunyi, hanya mengatakan, “Kamu terlihat sudah jauh lebih baik. Aku akan pergi.”
Tian langsung menarik tangan serta bawah lengan halus Bianji yang ditutup jubah besar biksu berwarna tembaga jatuh ke arahnya. Membuat empunya limbung dan menabrak dada keras Tian. Ketika kepala Bianji mendongak, baru hendak bertanya, mengapa? Dan bibirnya baru saja setengah sadar membuka untuk mengeluarkan suara langsung diserang dengan bilah bibir Tian.
Tian mencium Bianji seolah tidak akan pernah ada matahari terbit hari esok. Membuat Bianji bungkam dan pasif dalam gerakan intens yang terhubung di antara mulutnya dengan milik Tian, mata berkilauan seperti danau di bukit Xi Hu yang senantiasa memantulkan langit cerah bergetar sedikit kehabisan akal, carut marut perlahan gugur berantakan layaknya ceceran dari ledakan jatuh daun kering pohon ginkgo yang berwarna emas kala merasakan cairan saliva Tian masuk ke dalam mulutnya.
Tangan besar oleh urat-urat yang menonjol Tian mengangkat dagu Bianji keatas, mempertemukan sepasang mata berkilau besar tersebut kini yang ditutupi kabut, tubuh Bianji yang lemas pun mulai pasrah bersandar separuhnya ke tubuh Tian. Berhasil meloloskan suara erangan kecil dan desahan keluar dari bilah bibir Bianji ketika Tian tidak hanya menyesap tetapi juga memasukkan lidahnya keras ke dalam mulut Bianji.
"Aannh... Tian.." Mendengar rintihan erotis halus tak tertahankan yang lolos dari bilah bibir milik Bianji membuat Tian melepas ciuman dalam mereka sesaat, ia ingin melihat ekspresi Bianji sekarang.
Sepertinya keputusan yang buruk, karena bagian selatan Tian sekarang berkedut melihat ekspresi Bianji yang menggairahkan. Mata biksu muda itu tampak sayu dan kelopaknya sedikit basah, kedua pipi seperti bantalan serpihan saljunya memerah dan bibirnya membengkak. Tian ingin menyantap Bianji seluruhnya sampai tak tersisa untuk dunia bahkan Buddha sekarang juga.
Sial! Bianji sangat agung!
Dengan tergesa-gesa Tian segera saja menidurkan tubuh Bianji di kasur ruang istirahatnya yang remang-remang. Satu-satunya cahaya tengah malam itu hanya berasal dari bulan dan lampu-lampu api di luar yang dinyalakan oleh para pelayan di sekitar kamarnya, berkelebatan disapu angin sehingga tampak meliuk-liuk cantik berwarna jingga. Menindih tubuh yang lebih mungil perlahan dengan tangan besarnya di belakang kulit kepala Bianji, dan lanjut melumat bibir merah itu lagi.
Suara sesapan dan kecapan sensual menggema di dalam ruang istirahat Tian yang luas. Figur keduanya dalam posisi Tian yang menindih Bianji di atas ranjang hanya dihalangi oleh birai kelambu tipis bergelombang dalam motif bordir burung Pheonix melingkar di sepanjang gelombang yang membentuk air sebagai tanda kemakmuran wilayah kekaisaran di bawah kuasanya. Air liur entah milik siapa sudah merembes panjang jauh ke tulang selangka Bianji bersama desahan dan tarikan nafas berat keduanya terasa saling beriringan seperti melodi alam paling normal. Dengan tidak sabaran pun Tian melepas jubah kebesaran berat miliknya turun ke lantai yang mengganggu acara berciuman yang kini hanya menyisakan jubah putih tipis pas memeluk tubuh.
Ketika ciuman terlepas, nyawa dan kesadaran Bianji sebagai biksu muda yang taat kembali masuk ke bawah kulitnya. Dilihat dari manapun posisi keduanya bukanlah hal baik yang dilakukan oleh seorang biksu sepertinya. Ini akan menimbulkan banyak kesalahan di masa depan yang kemungkinan dapat merugikan kedua nya. Maka dia mengelus rambut legam Tian yang selalu rapi dan kini tampak terlihat berantakan di sana, ia menyingkirkan poninya dari mata, agar dapat melihat keseluruhan inci wajah Tian dengan jelas. Lalu dalam bisikan halus yang hanya mampu didengar keduanya, Bianji tersedak sambil berkata, "Tian, aku mohon, jangan ..."
Di sana Tian mematung. Menatap wajah halus putih secerah salju yang pernah turun di wilayah kekaisaran mereka, tampak sangat cantik dan agung namun tak dapat disentuh sebab dinginnya akan membuat siapapun membeku. Dan dalam kepala nya yang tak kenal takut hasil bertahun-tahun turun terjal ikut dalam medan perang bersama pangeran tak kenal panas, hujan, maupun dingin, Tian lebih tidak suka jika apa yang dia pegang hilang lalu pergi mencair bersama sekelompok angin.
"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa, ini menyakitkan sekali karena aku sudah sering memimpikan malam ini terjadi setelah malam itu. Maaf, aku tidak bisa menahannya. Maafkan aku. Maafkan aku." Tian terus menggumamkan kata maaf tersebut, mencium punggung tangan halus Bianji lalu menempelkan telapak tangan lembut suci itu dengan sayang ke pipinya.
Bianji yang melihat pemandangan tersebut dari bawah dengan manik matanya yang berkilauan cahaya jingga api meliuk-liuk di luar kamar bergetar. Ajian pagan-pagan yang sering terlantun dari belah bibirnya, dinyanyikan dengan rasa taat dan cinta di atas hangat lantai kuil yang selalu dibersihkan setiap hari ber serbuan dalam jalinan panjang untuk berbondong-bondong masuk. Semakin menyebabkan hal-hal itu saling bertabrakan dengan getar senyar di bawah jaringan kulitnya yang bersentuhan telanjang dari milik Tian untuk dapat mencoba berteriak, bahwa sekali lagi saja jika dia hilang kendali terhadap dirinya sendiri Bianji yang dahulu taat —tahu mana hal yang harus dihindari dan dilakukan, tak akan pernah bisa pulang ke kuilnya seperti sedia kala.
Tetapi, apakah semua rasa yang berbarengan masuk ke dalam tubuhnya terdapat sebagian yang harus ia usir? Jawabannya akan selalu datang dari, iya. Ada yang patut masuk dan ada yang tidak demi mempertahankan dhamma dan sangha akan Brahmacari dalam tubuhnya selama belasan tahun. Semua ini hanyalah fana, kesenangan sesaat yang akan hatinya sesali jika semuanya selesai. Dan ini hanyalah ujian lagi untuk hatinya apakah dirinya yang taat tak terusir keluar dari bilik peperangan isi kepalanya saat ini? Sebab Tian mungkin hanya larut dalam kesedihannya mengenai kematian kedua orangtua di depan matanya saat kecil, yang kini terus berjalan terombang-ambing mengapung di permukaan laut dalam samudra sana.
Bianji harus dapat memberikan pengertian lagi kepada Tian yang merasa dirinya tersesat karena kehilangan itu. Bukan ikut berkapal tanpa arah di atasnya terombang-ambing.
Tetapi, oh, Buddha mengapa rasanya sakit? Hatinya tercubit keras melihat air mata itu turun dan tangan besarnya terus mengelus punggung tangan Bianji dengan sayang di sana sambil menggumam maaf yang tak ada habisnya seperti air satu benua disatukan dalam satu tampuk. Lalu pada fakta bahwa ia meminta maaf bukan karena rasa kehilangannya terhadap masalah yang lalu, Tian meminta maaf pada dirinya oleh rasa frustasi yang mengendap berat di dalam tubuh karena tak dapat menahan lagi perasaan itu.
Dan itu sama seperti yang diam-diam dikubur Bianji di bawah air wajah tenangnya. Sebab apabila ia membalas, bukankah keduanya akan menggila? Bukankah keduanya akan tak selamat? Dia mau mengenyampingkan dirinya saat ini, dan bagaimana dengan Tian? Bagaimana pria itu mengalami kesakitan yang tak terkira kelak ketika lahir di kehidupan selanjutnya?
Semua ini harus dipilih seperti jalinan kehidupan yang pendek tak akan bertahan lama di antaranya dan hal baik yang seharusnya tersisa. Bukan hal buruk yang terus memenuhi inci kepalanya, berterbangan di sana seolah sarang baru telah dibuat, dan bagaimana Tian di atasnya sangat ingin dia peluk lalu menyatu dengan tubuhnya yang lebih banyak melakukan perbuatan suci daripada kotor sebab tak ada jalinan merah di antara keduanya.
Bianji tersenyum pendek sebelum menarik tangannya dan mendorong tubuh Tian dari atas tubuhnya sedikit menjauh. Bianji berdiri lalu membuka perlahan satu persatu helai jubah kuning tembaganya seperti daun ginkgo di musik gugur di hadapan Tian. Semuanya, sampai tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh bak porselennya seperti salju dan air bersih di pegunungan. Tian yang terduduk di sisi ranjang, disuguhkan pada pemandangan itu pun meneguk ludahnya bersamaan rasa penuh di dadanya yang mencekik, penisnya dengan tak sopan berkedut kembali dibalik celana kain panjangnya melihat kulit memesona Bianji.
Tidak tahu menahu kontemplasi riuh rendah di kepala Bianji terus berputar keras. Terutama sisi taatnya untuk menjadi milik Buddha selama sisa hidupnya seperti takdir belasan tahun yang dipeluk Bianji kini tercerai berai di lantai yang dingin. Hatinya resmi memilih inilah hal yang dia inginkan saat ini, dia ingin Tian, dia ingin mencintai Tian juga dengan bebas seperti bagaimana dia bisa bernafas bersama ketaatan dirinya pada ajaran Buddha selama ini.
"Tian, semua ini punyamu mulai sekarang. Jadi jangan terburu-buru, dan lakukan ini dengan pelan-pelan. Aku mau kita dapat menikmatinya, melakukannya, dan bisa mengingatnya kelak dengan penuh cinta." Bianji tersenyum lalu berjalan perlahan dengan agung seperti angsa tercantik di danau yang luas menuju Tian untuk membantu sang gubernur provinsi kekaisaran tanah makmur ini yang masih mematung, dapat menanggalkan busananya.
Satu per satu, mulai dari aksesoris mahal di tangannya, kalung panji-panji nya, lalu jubah tipis penutup terakhir yang memeluk tubuh secara ketat sesuai massa otot kekar Tian dilepas oleh Bianji perlahan. Seperti menanggalkan baju zirah usai peperangan suci demi kota dan rakyat.
Selama membuka satu per satu kancing kain dengan kaitan besi tipis di jubah putih Tian, Bianji tidak sekalipun memutus kontak mata mereka yang penuh dambaan terhadap satu sama lain. Yang kali ini terasa lantang dan tanpa beban, berani disuarakan mereka melalui kulit ke kulit telanjang. Tian pun hanya bisa membisu dan tidak dapat bergerak selama Bianji bekerja pada tangan-tangan halusnya yang selalu dia pakai untuk menulis bait-bait ajian di kuil dan membersih -kan tempat suci itu kini berbuat sebaliknya pada tubuh Tian. Tangan nya bahkan turun sejenak ke permukaan panas kekar tubuh kuat itu yang memesona, mengirimkan rintik hujan perlahan yang mulai membasahi bumi.
Ketika hanya celana kain Tian yang tertinggal, tangan Bianji naik semula dari bahunya ke atas untuk menangkup kedua pipi milik Tian di sana lembut. Bianji mendekat dan mulai mengecupi seluruh permukaan wajah Tian, terlebih pada letak-letak tanda yang dibawa saat lahir maupun beranjak dewasa membuat wajahnya kian tampan. Dari atas alisnya yang tebal, sudut kelopak matanya, hidungnya yang tinggi, kedua belah pipinya, setiap inci rahangnya yang tajam, bagian bawah belah bibirnya yang menyisakan belah ranum bibir lembut basah terbuka kecil itu akan ia nikmati sebagai pembuka, maka kedua tangannya mendorong tubuh itu agar Tian berbaring diatas ranjang dengan Bianji yang naik duduk di atas perut kerasnya.
Keduanya melanjutkan sesi ciuman panas mereka, tangan Tian perlahan mengelus sisi tubuh Bianji sebelum mencengkram pinggang sempit itu dengan genggaman yang kuat. Meninggalkan jejak jari yang pasti akan memerah panas seperti bara api besok. Berpagutan intim saling menjulurkan lidah dan menghisap daging itu hewan hutan yang kelaparan sambil mendesah bersama nafas memberat panas di sekujur tubuh. Bianji bahkan berani menanggalkan seluruh ketaatan yang telah menjaga kewarasannya selama ini di atas ranjang Tian untuk menjilat bibir bawah sang mantan panglima besar, terus menciumnya rakus, dan menelan cairan mulut mereka dari posisinya yang tak lepas merangkum wajah itu dengan tangannya yang kemudian turun ke bahu kekarnya lagi untuk bersemayam lama di sana seperti penjaga gunung.
Tian yang tak lagi merasa sabar akan tekanan keras penisnya dan ciuman Bianji dari pertukaran cairan mulut mereka mulai membalikkan tubuh, mendorong Bianji di bawah bantal lembut, mengganti posisi sambil membuka kaki biksu muda itu lebar-lebar untuk ia dapat berada di antaranya dan menekan ciuman panjang lagi yang tak akan bosan dia lakukan kepada Bianji. Meneroboskan lidahnya agar dapat menyentuh daging manis seperti apel matang merah dan tak sengaja menjilat gigi taring Bianji di sana.
Sekarang Bianji terbaring di bawah kuasanya yang mulai merintih halus dan bergetar dengan jari kaki menekuk di atas kain satin ranjang luas Tian. "Aannhh... mmh.. Tian."
Dengan cepat Tian memutus ciuman di bibir bengkak itu, turun seperti pengelana yang hafal jalur demi mengecup rahang dan leher jenjang putih Bianji. Lupa sepenuhnya terhadap demam yang dideritanya, atau rasa pusing yang semula berkelindan masuk di dalam rongga kepalanya. Memberikan tanda kemerahan untuk bukti kepemilikan nya terhadap raga cantik nan agung biksu muda itu, serta menekankan kepada Bianji bahwa ia tak dapat mundur sekarang maupun nanti. Sebab sisi Tian liar yang menggelap kini telah bangkit dan dia tidak akan pernah melepaskan lelaki itu untuk pergi kemanapun termasuk kepada Buddha, yang terkecuali tetap berada di sisinya.
Dia turun lagi, menyesap seluruh permukaan kulit halus layaknya bulu angsa Bianji yang bibirnya dapat jangkau. Bianji terasa sangat manis, manis sekali di indra pengecapnya membuat seluruh isi kepala Tian hanya dapat menerjemahkan sengatan dan desahan itu sebagai tanda terus melanjutkan tanpa henti. Tian juga meninggalkan jejak ciuman di dada, di antara puting keras kemerahan Bianji yang aerolanya sedikit menggelap, menghisapnya di sana secara bergantian dan menggigit karena tampak indah yang berhasil membuahkan rengekan lain dari mulut Bianji di atas. Tangan lelaki itu menarik surainya dan menekan lagi ke dadanya, mencari friksi dan kenikmatan tadi yang dengan senang hati kembali diberikan Tian, lalu turun sampai perut Bianji, terutama di dekat pusar dan tulang ilium turut diberikan akan tanda kemerahan yang tercetak jelas di sana menyala bagai lahar panas.
"Ahhhnn… Tiaan..." Suara desahan Bianji membuat Tian semakin berani.
Darah yang berdesir naik cepat merambat ke telinga dan seluruh tubuh keduanya terutama Bianji membuat permukaan kulit biksu muda itu memerah seperti tomat matang di musim panas. Terlebih pada lekuk sintal pantatnya yang menggoda, atau pada ujung penis Bianji yang kemerahan mengacung melawan gravitasi bumi tampak keras dikelilingi oleh cairan precum yang basah. Tian mensejajarkan wajahnya di sana, pada penis Bianji yang sudah terangsang berdiri tegak menabrak perutnya yang penuh tanda ciuman kasih sayang dari Tian. Terlihat lucu dengan kepalanya yang seperti jamur, ujungnya memerah cantik menggoda dan banyak mengeluarkan cairan putih bening.
Tian meninggalkan jejak kecupan dari punggung kaki, ujung jari kaki Bianji, pergelangan kaki sampai ke paha dalam Bianji yang semakin ia tahan untuk dibuka lebar. Bahkan naik ke atas bahu di sepanjang punggungnya memberikan serta Tian pemandangan pada lubang senggama belakang Bianji yang bersih memerah seperti buah persik. Semua yang ada di tubuh Bianji terlihat cantik di mata Tian, benar- benar agung layaknya malaikat yang turun ke bumi. Tian menggigit pelan bagian paha dalam Bianji yang menggodanya merapatkan paha dan tangannya yang masih setia bertengger lemas di surai legam Tian. Dia memandang warna kulit itu berubah dari yang putih bersih seolah-olah boneka salju menjadi kian memerah panas.
"Aahnn ahh Tiaan, tidak, jangan —mmn jangan gigit hnggh..." Bianji mengelus dan menarik surai halus Tian di jarinya.
Menerima afeksi dari Bianji membuat tombol kesenangan Tian seperti terpompa keras sehingga ia menjadi berani untuk meneruskan ciumannya menuju bagian selatan Bianji yang sudah menggeliat dari urat kecil menonjol ingin dituntaskan. Tian mengabulkan dalam sesaat, hidungnya yang tinggi menyentuh kulup kepala penis itu, mengecup dari kepala sampai pangkal penis Bianji yang semakin mengeluarkan banyak cairan. Mengulumnya, lalu ganti menghisapnya kuat membuat Bianji mendesah dan berteriak dalam kenikmatan. Tangan Bianji semakin meremas dan menarik-narik surai Tian sebagai pelampiasan akan rasa kenikmatan yang ia dapatkan.
Kedua tangan Tian mencengkram belah paha Bianji, menahan mereka agar tidak menjepit kepalanya lebih dalam. Fokus menelan penis kemerahan itu hingga ujung mulutnya, menghisap dan menjilat di dalam mulut penis itu sampai tidak lama setelahnya Bianji keluar dengan teriakannya yang sedikit melengking.
Jari-jari kakinya di atas punggung lebar keras Tian ikut menekuk di udara. Dan Tian melepas hisapannya dengan bunyi Pop! keras, memperhatikan penis Bianji yang mengeluarkan cairan putih spermanya secara terputus-putus sambil bergetar.
Tian menjilat sisi bibirnya yang terdapat bekas cairan Bianji dan salivanya bersatu, mata gelapnya di malam kediamannya yang dingin masih fokus menatap Bianji di atas yang terengah-engah. Keluar dari euforia pelepasan.
Ketika melihat Bianji sudah sedikit tenang, Tian mengarahkan tiga jarinya ke mulut Bianji yang basah dengan ceceran liur ke samping pipi merahnya saat dia masih terbuka. Ketiga jari itu masuk dan menekan-nekan lidah Bianji membuat empunya mendesah pasrah. Air liur milik Bianji kembali keluar menuruni dagu dan sisi kiri pipinya dengan mata cerah yang bergelimangan rasi bintang menatap penuh nafsu yang sama besarnya ke arah Tian. Membuat penampilan si malaikat terlihat sangat cantik nan agung namun berantakan di waktu bersamaan.
Melihat Bianji yang kewalahan terus mengeluarkan rengekan dan desahan membuat gairah milik Tian semakin naik ke puncak kepala dirinya secara harfiah maupun sebaliknya, pada kepala penisnya yang telah mengeras di dalam kain panjang. Namun dia masih memiliki misi sebelum masuk ke intinya, sehingga setelah merasa jari-jarinya cukup basah sebagai pengganti pelumas, jari telunjuk Tian berputar di sekitar cincin anal dan jempolnya menekan perineum Bianji. Menggoda bagian paling sensitif, mengundang erangan halus selanjutnya Bianji.
"Aaahnn.. ahh." Bianji melempar kepalanya ke samping.
Satu jari masuk. Jari telunjuk itu berputar sebentar lalu bergerak menggeliat di dalam anal Bianji beriringan dengan tangan Tian lainnya yang naik ke puncak puting Bianji. Terasa berbeda dari kondisi di bawah yang lembut, satu ini keras naik selaras akan dadanya yang mulai membusung mengejar jari tangan Tian yang tak lepas dari sana, mencubitnya, memutar dengan telunjuk besar Tian, dan meremasnya kasar.
Bianji meskipun dirinya merasa telah menahan seluruh erangan memalukan yang keluar, dia rupanya tetap tak dapat menahan satu dua cara apik yang membuatnya ingin berteriak. Tak kuasa dengan serangan rangsangan bertubi-tubi dari Tian di dadanya dan di lubang senggamanya secara bersamaan. Dan setelah dirasa cukup, Tian menambahkan jari tengahnya ke dalam. Kedua jari itu bergerak menggunting untuk dapat melebarkan liang hangat Bianji. Mempersiapkan lubang itu untuk penetrasi lebih lanjut yang membuat tubuh molek biksu muda itu tampak sedikit bergetar kewalahan ke bawah.
Sembari menyiapkan lubang senggama untuk penisnya dapat bersarang di dalam tubuh Bianji, bibir Tian tentu tidak hanya diam. Bibirnya menciumi perut dan paha dalam Bianji yang semakin membuat lelaki muda di bawah Tian terus meloloskan desahan serta erangan frustasi, sembari Tian terus tak meninggalkan kesempatan untuk memberikan tanda. Paha mulus itu bahkan terasa kenyal dan halus seperti puding roti yang sering disajikan pelayan kala hari raya lunar datang yang sangat Tian suka.
"Hnngh.. ahhn ahh.." Bianji bergetar dan menggelinjang. "Ya, disana!.. aannh ah!"
Ketika Tian menemukan titik kenikmatan Bianji yang membuat tubuh malaikatnya bergerak menyusul dalam ekstasi, Tian kemudian menambahkan jari ketiga tanpa jeda. Dengan pelan dan penuh perhitungan mengocok lubang hangat itu, lalu menusuknya dan menekan dengan jempolnya di antara perineum membuat Bianji semakin mendesah hebat dan melengkungkan punggungnya.
Teriakan dan desahan Bianji semakin meninggi ketika dirasa ia akan segera orgasme. Tapi sebelum Tian membawa nya ke puncak kenikmatan duniawi yang dia tawarkan dan sebagaimana kini tubuh Bianji berserah padanya seperti hidangan malam yang lezat, sang gubernur kekaisaran ingin merasakan Bianji dapat melingkupi dirinya. Maka Tian mengeluarkan ketiga jarinya dari lubang Bianji yang sudah sedikit melebar sekarang
meski belum cukup dengan ukurannya. Bianji merasa kehilangan di antara lubang sempit hangatnya dan seperti menunda pelepasannya datang. Hingga ia lesu menatap Tian merasa kebingungan, menanyakan dalam bisu nya serta nafas berat yang belum sepenuhnya reda, tengah tinggi-tingginya, apa yang terjadi? Mengapa Tian berhenti?
Di sana Tian mengelus dahi berkeringat Bianji, mengecupnya pelan dengan sorot mata penuh kasih sayang. "Tidak apa-apa, kamu akan mendapatkannya. Kalau sakit cakar aku saja."
Tian meletakkan bantal dibawah perut Bianji, menanggalkan material kainnya lalu berlutut di depan kaki Bianji yang terbuka lebar, mengocok kejantanannya sedikit dan menggunakan minyak kasturi sebagai pelumas. Tian membalurkan ke telapak tangannya dan ke dalam lubang Bianji yang sedikit membuka. Membuat sensasi dingin, harum dari minyak yang digunakan bertebaran di udara ruang istirahat itu, dan Bianji mendesis karenanya. Setelah dirasa cukup ia meluruskan kepala kejantanannya dengan lubang Bianji yang telah dalam posisi siap, membuka-menutup seakan-akan mengundang Tian untuk segera memasukinya, maka Tian menjebloskannya masuk dalam satu kali hentakan sambil mencium bibir bengkak Bianji di atas.
Teriakan tertahan Bianji dan kerutan di dahinya, mengalun di dalam mulut Tian. Mereka berciuman terus secara intens, saling menghisap, berpagutan lidah, dan menelan masing-masing panas yang tak henti datang. Mengalihkan rasa sakit yang dirasakan Bianji di bawah hilang perlahan digantikan rasa nikmat kembali yang perlahan muncul. Tian berhasil memasuki Bianji seluruhnya. Ia mendiamkan sebentar penisnya di dalam untuk merasakan dinding rektum ketat Bianji memijat kejantanannya.
Rasanya benar-benar nikmat, seperti menekan dan melahapnya masuk makin ke dalam. Tian sangat suka perasaan ini hingga ia terus memperdalam ciuman mereka.
Merasa anal Bianji lebih rileks, Tian mulai bergerak maju ke dalam dan mengendurkan pinggulnya ke luar secara berulang-ulang, pelan penuh kasih sayang sambil menjilat daun telinga sensitif Bianji yang kembali mendesah, melemparkan kepalanya ke sisi lain yang justru memberikan Tian untuk lebih leluasa menggigit telinga nya dan mencumbu di sana, "Aahnn... Tiaan. Emmghhn... Jangan. Ahh.. Ah!"
"Kamu sangat cantik. Hanya milikku, seluruhnya punyaku seorang. Aku tidak ingin membagi dirimu dengan hal-hal lain selain aku sendiri. Bianji, oh sayang. Kamu hanya milikku." Bagai rapalan mantra Tian segera menambah tempo gerakannya mengocok lubang senggama Bianji dengan penis panjangnya yang dipijat rektum.
Membuat tubuh telanjang tanpa busana Bianji semakin menggelinjang di atas kain ranjang satinnya, bergetar dan memantul selaras nada tusukan nya. Mulutnya pula kini digunakan untuk menyumpal dan meredam semua desahan Bianji, kembali mencium dan bersilat lidah. Tangan kanan nya yang semula kosong bergerak untuk mengurut penis Bianji, membantunya keluar terlebih dahulu.
Merasa stimulasi terus berdatangan tak henti dari berbagai bagian tubuhnya, terutama kala tangan Tian yang lainnya mencubit putingnya lagi, Bianji tidak lama berteriak keluar. Menggigit bibir bawah Tian cukup keras, cairannya mengotori perut dan tangan kanan Tian. Dari sana Tian memelankan sedikit tempo tusukannya, membiarkan Bianji menikmati masa orgasmenya yang tinggi dengan getaran halus.
Namun seolah tak lagi dapat menunggu, Bianji merengkuh bahu besar Tian mendekat ke arahnya dan berbisik, "Emmnh... lebih cepat... Tian ah! Ini sangat keras."
Tian tersenyum lebar, lebih ke seringaian dibanding senyum melihat Bianji di bawahnya luruh dalam penyatuan kotor mereka. "Seperti yang kamu inginkan, sayangku." Kata Tian sambil segera membalik tubuh Bianji untuk menungging, memosisikan pantatnya naik ke arah nya dan ia berlutut di sana, dan selama itu penisnya masih terbenam diremat ketat dalam lubang Bianji.
Setelah membenarkan posisi bantal di bawah perut Bianji, ia mulai mendorong lebih cepat, keras, dan lebih dalam. Temponya juga lebih acak bertubi-tubi membuat derit kayu ranjang dengan pohon terbaik milik nya bergesekan dengan lantai pualam yang dingin, dibanding sebelumnya membuat Bianji terus meloloskan teriakan kencang sebagai bahan bakar kepuasan untuk memporak-poranda liang senggama itu. Dengan posisi ini Tian juga jadi lebih mudah untuk menusuk tepat di gumpalan daging yang menarik semua kesadaran Bianji dengan mata cerah berkilauannya penuh cairan tangis memerah. Tangan kanan Tian meraba bagian perut Bianji yang muncul tonjolan keras miliknya di sana, membuat gairahnya benar-benar naik.
Tian paham Bianji mungkin tampak halus dan lebih kecil darinya kala jubah kebesaran biksunya lepas, tetapi tonjolan di perut itu benar-benar menggairahkan. Memompa seluruh energi Tian untuk tak kenal lelah mempercepat temponya hingga bunyi kulit ke kulit telanjang dengan plak-plak keras mengudara terus di ruangan kosong selain mereka.
"Berteriaklah, jangan ditahan lagi sekarang. Aku suka suaramu, sangat merdu, keluarkan itu terus di telingaku menjadi nyanyian malam ini sayang." Tian berbisik ke bawah, menekan penisnya semakin masuk dalam ke rongga hangat Bianji di sana. Tangan kanan Tian gunakan untuk meraba dan menekan perut bagian bawah Bianji sedangkan jemari di tangan kirinya ia masukkan ke mulut Bianji untuk dikulum.
Bianji yang sedari tadi mulai menahan karena khawatir seseorang akan mendengar di luaran sana kini kembali mendesah dan berteriak kencang membuat Tian tersenyum puas. Ia menunduk menekan dan masuk sambil terus panjang membubuhkan ciuman di bahu sempit Bianji dan daun telinganya, menjilat dengan tekanan intens yang memabukkan di sana seperti seseorang baru saja mencampurkan sebuah ekstasi di dalam tubuh berkeringat Bianji di bawahnya yang tampak mengenaskan, berantakan, sangat cantik dari liurnya yang menetes.
Tian tak kuasa mendesah berat di sana, mencium aroma manis apel musim panas yang matang di perpotongan bahu Bianji, "Bianji! Ahh! Aku mau keluar di dalam tubuhmu, sedikit lagi.."
Bianji tidak mampu memberikan jawaban yang koheren, ia hanya mampu mendesah, merintih dalam danau kenikmatan yang dia peroleh membuat kakinya kian bergetar tak dapat lagi menahan bokongnya untuk terus teracung di bawah dominasi Tian. Tahu keadaan itu terjadi pada Bianji di ujung pelepasan mereka sedikit lagi, Tian memegang pinggang sempit Bianji yang meliuk seperti tubuh perempuan dengan jalur panjang di antaranya. Lalu penyatuan intim mereka yang bergerak brutal dan keras dari Tian yang terus mendorong ke dalam.
Sampai tak lama kemudian Tian mengerang dan mendesah panjang, cairan putihnya mulai berlomba lomba keluar dari kulup kepala penisnya di dalam liang hangat Bianji yang masih mengetat, seolah memijatnya hingga tetes terakhir dan perlahan-lahan turun di antara paha dalam Bianji yang dipenuhi tanda memerah dari Tian. Bantal di bawah perut Bianji pula sudah basah tampak menggelap dari cahaya bulan di luar terkena semprotan cairan ejakulasi.
Setelah tenaganya mulai habis, Tian menarik keluar kejantanannya dari sana dengan bunyi plop! mengiringi, dan tidur menyamping di sebelah Bianji. Menarik tubuh lengket biksu muda lebih kecil darinya itu untuk didekap. Bianji yang masih agak sensitif hanya merengek ketika penisnya tergesek dengan bantal yang masih berada di bawah tubuhnya dan berusaha menyingkirkan dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Tangan besar menonjol Tian halus lembut penuh kasih sayang dari rasa cintanya, mengelus sisi kepala ke bawah pundak Bianji, membingkai wajahnya yang matanya masih tertutup, sibuk mengatur nafasnya yang tercerai-berai.
Keesokan harinya, biksu itu hilang dari sisi ranjang besar Tian. Telah meninggalkan pemiliknya dan sisa-sisa bekas penyatuan mereka menjadi saksi kosong bagai mimpi indah yang tak berwujud manusia bagi Tian, terutama kala selubung perasaan tergigit hinggap di bawah pori-pori kulitnya. Membuat sang pejabat kekaisaran itu bungkam menyandarkan kepalanya ke tepian kepala ranjang sambil melihat keluar. Pada kisi-kisi bangunan ruang istirahatnya yang dibanjiri cahaya hangat matahari.
Isi kepalanya kembali terbelah dua di sana, apakah biksu taat itu mulai menyesali kejadian semalam dan pergi meninggalkannya di pagi hari? Sebab tak ada pesan maupun tanda yang dapat memberitahukan mereka atau Bianji menginginkan hubungan dari sekadar penyatuan semalam itu berlanjut menjadi sesuatu hal serius. Seperti mimpinya, atau bahkan apakah kejadian semalam benar-benar hanya untaian mimpi teman tidur yang sering datang dan kali ini dia harap semua itu betulan terjadi?
Tetapi sisa cairan mereka yang kering di atas seprai satinnya nyata, atau entahlah apakah itu hanya milik dirinya? Kedua tangan besar Tian mengepal, dia merasa seperti berada di ambang kegilaan dan kewarasan yang menempel tak kuat di permukaan dindingnya. Sekali sapuan angin di atasnya, dia akan terbang jauh pergi. Dan ini telah menjadi mungkin salah satu pemicunya jika dia gila kelak.
Hingga air hangat untuk membersihkan diri, dan makanan terhidang usai dicicipi oleh kepala pengawal utama nya, tinggal dia menyentuh sumpit dan menyantap lelehan aroma masakan berbagai hidangan itu di depannya yang masuk ke saraf-saraf olfaktorinya menunggu. Namun, Tian lebih dulu beralih kepada kepala pengawal utama nya untuk bertanya sesuatu.
"Apakah ada seseorang yang keluar dari ruang istirahatku semalam?"
Kepala pengawal itu menunduk, dia menjawab dengan tenang. "Tidak ada, Tuan." Lalu menginformasikan bahwa tabib untuk memeriksa demamnya yang sebelumnya tinggi kini kembali normal akan datang segera di kediaman ini setelah kira-kira ia selesai menyantap makanannya.
Ketika dia sedang makan, atau melakukan kegiatan di muka umum sendirian tanpa tamu maupun keluarga dari pandangan patuh para pelayannya, Tian selalu memperbolehkan segala informasi kedaruratan yang datang untuk segera dicernanya tanpa harus menunggu ia selesai di luar. Sama seperti sekarang, ketika pengawal lain masuk di ujung pembatas daun pintu berlutut, memberikan salam kehormatan dari tangannya yang teracung di atas kepala lalu menunduk, "Ada informasi penting dari Yang Mulia Kaisar, Tuan."
Tian mengangguk, mempersilahkan informasi itu dilanjutkan.
"Perayaan tahun baru lunar kali ini dipindahkan ke provinsi di luar jantung kekaisaran. Berdasarkan pemilihan cermat dan pembukaan kesempatan bagi tiap-tiap daerah untuk berkembang lebih maju, maka perayaan tahun baru lunar akan diadakan di provinsi berbeda setiap tahunnya. Tahun kali ini provinsi Hainan sebagai tempat lahirnya keberkahan Tuan Putri Gaoyang mendapat kesempatan untuk perayaan lunar dengan keluarga kerajaan—," informasi itu terputus di kepala Tian dalam sesaat meski dia masih melihat pengawal di sana masih membacakan informasi yang didapatnya. Dia tak lagi mendengar bunyi-bunyi lain di ruangan itu selain keheningan dalam kepalanya mengenai nama yang disebut-sebut dalam pemberitahuan. Tuan Putri Gaoyang perempuan yang disadari; maupun oleh biksu muda itu, bahwa mereka telah mencintai orang yang sama.
Dan terbersit ingatan selanjutnya yang semakin membuat kulit Tian merasa terhimpit, kalau Bianji pernah bercerita dari malam kedua pertemuannya tentang sungai di provinsi Hainan. Serta bagaimana perayaan lunar tahun lalu di sana saat biksu itu melakukan kegiatan sosialnya begitu tak kalah meriah dengan provinsi mereka sebagai jantung besar wilayah kekaisaran yang selalu diperintahkan mengadakan perayaan-perayaan dan kepengurusan daerah terhadap seluruh kebutuhan rakyat.
Sesaat pemberitahuan selesai dikumandangkan, pengawal yang membawa informasi kembali undur diri. Tian memandang makananya semakin tak berselera, ia ganti meneguk air putih di gelasnya lalu beralih kembali ke kepala pengawal di sisi kirinya. "Apakah ada kegiatanku yang hari ini memerlukan perjalanan di luar?"
"Tidak ada, Tuan." Kata si Kepala pengawal itu menggeleng.
Tian segera bangkit dari posisi duduk nya dan mengeluarkan titah kepada kepala pengawal untuk memanggil tabib datang segera. Supaya pemeriksaan cepat dilakukan, dan ia bisa pergi ke kuil tanpa menunggu malam tiba.
***
Sedangkan jauh dari itu di paviliun Bianji mengalami awal rasa sakit yang berdenyut di daerah selangkangannya, dan terus meningkat seiring berjalan nya hari itu dari fajar hingga siang, namun tidak ada tanda-tanda darah atau cedera dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia berusaha menyembunyikan apa yang telah terjadi dari semua orang yang dia temui, sambil takut bahwa dengan beberapa tanda di tubuhnya, mereka akan mengenali seseorang bukan lagi jadi bagian kelompoknya. Dia sudah melakukan pelanggaran berat, yaitu berhubungan seksual tanpa ikatan pernikahan dan hancur dari janji akan hidup selibat selama menjadi biksu.
Tetapi sesungguhnya, dia akan jujur perihal ini kepada Master Wei dengan segera. Hanya saja, waktu benar-benar membuatnya mondar-mandir di dalam kamarnya sehabis mendengar bahwa Master Wei sedang sakit dan istirahat, dan dia kini merasa frustasi sehingga mengalihkannya dengan mencoba mengatur buku-buku dan menyingkirkan lilin yang tergeletak di lantai, sambil mengetahui bahwa selanjutnya lonceng kuil berbunyi tanda doa petang tiba. Dan Bianji merasa dia tidak dapat bergabung kembali kali ini sehingga dia diam paviliun ruang kamarnya sendirian, sampai doa itu selesai dan dupa yang dinyalakan di kamar juga perlahan habis.
Ketidakhadiran Bianji rupanya sampai di telinga Master Wei hari itu, dan entah mengapa, dia diperintahkan untuk menemui Master Wei di paviliunnya sendirian. Kaku bergelut dengan pikirannya sendiri, Bianji mengetuk pintu ruang istirahat Master Wei, dia lantas dipersilahkan masuk. Duduk di alas tikar anyelir sambil menundukkan kepala usai memberi salam.
“Ada apa denganmu, Nak?” Master Wei bertanya membuka suara, sesekali agak tersengal batuk. Wajahnya pucat seperti tidak ada aliran darah sama sekali ke sana, tubuhnya hanya rebah di atas tikar ranjang menoleh ke arah Bianji yang duduk di seberangnya.
“Master Wei,” Bianji akan memilih jujur dan menerima konsekuensinya, “aku melakukan pelanggaran berat.” Dia menceritakan secara singkat hal yang telah diperbuatnya kepada Master Wei kalau dia telah melanggar empat parajika karena melakukan hubungan seksual dan wajib dihukum dengan segera dikeluarkan dari kuil. Dia sudah tidak sesuai dengan ajaran lima sila para bikkhu emban di Baima Si, dan atas kesadarannya yang matang, dia merasa benar-benar tidak masalah untuk dikeluarkan. Sebab dia sudah mengotori dirinya sendiri meskipun semua itu terjadi secara implusif. Tetapi fakta bahwa dia pula sangat menyukai Tian, jauh dari dhamma maka lebih baik dia keluar segera. Ia akan pergi dari Baima Si, atau bahkan keluar dari provinsi Jiangnan. Kembali mengembara sebagai ummat biasa yang masih memeluk Buddha di relung hatinya, dia akan hidup seperti orang yang membutuhkan uang sebagai kebutuhan hidup sehari-hari makan serta tempat istirahat; dari bermalam dan hal-hal duniawi. Dia akan memulai hidupnya kembali dari titik yang tak pernah ada dalam bayangannya.
Master Wei kembali terbatuk, “Baiklah, besok dengan Hui dan Zhi kita akan—“
“Aku tidak bisa, Master Wei.” Bianji meminta maaf memotongnya. Dia menggelengkan kepala kalau tidak sanggup dapat bersewajahan dengan orang lain lagi kali ini, dan oleh sebab itulah dia hilang dalam doa petang yang biasa nya didatangi Bianji secara rajin.
Dengan demikian, Master Wei mengangguki permintaan Bianji yang sudah seperti salah satu putranya sendiri selama di kuil Baima Si. Dia mengenal Bianji sebagai anak yang hangat, taat, dan tak pernah berlaku hal-hal buruk kepada orang lain. Dia selalu sopan, sebagaimana kala dia pertama kali bertemu anak itu dan Bianji meminta menjadi muridnya. Dia sudah seperti biksu Chi yang baik hati. Dan meski dengan kejujurannya satu ini sedikit memberatkan hati Master Wei, dia bertanya pelan sebelum Bianji keluar dari ruang istirahatnya, “Lalu apakah orang itu adalah putri Gaoyang?”
Bianji menggeleng, tidak tahu bagaimana bisa Master Wei membuat kesimpulan seperti itu. “Bukan. Dia laki-laki dan sangat baik kepadaku selama ini. Sehingga aku benar-benar jatuh hati padanya, Master Wei.”
“Kalian akan hidup bersama?”
“Aku belum tahu.” Bianji menggeleng, lalu melanjutkan sebelum memberi salam pamit, “Mungkin kami akan hidup dan bahagia bersama di jalur kehidupan selanjutnya. Aku berharap bahwa kelak aku lahir terus untuk menjadi takdirnya yang tak terpisahkan.” Pintu ditutup pelan.
Dan Master Wei mengelus dadanya, ia terbatuk lagi keras, kepalanya terasa terguncang bagaimana muridnya telah mengorbankan dirinya sendiri dalam lubang tak bermuara ini. Terombang ambing di tengah lautan sendirian tanpa penunjuk arah, dan itu membuat hati Master Wei sedikit sakit. Akan tetapi, dia meraih gelasnya dan minum sedikit air di sana, bagaimana dengan putri Gaoyang yang sering datang dan terakhir kali surat dari Kaisar membutuhkan berapa kali putri ketiga mereka datang kemari dan siapa saja yang berbicara dengannya, bahkan meminta informasi mengenai Bianji lebih jauh.
Apa yang akan terjadi pada lelaki malang itu? Master Wei berdoa, semoga keselamatan terus berada disisinya sebab bagaimanapun Bianji adalah putra, murid, dan keluarga yang dibesarkannya dengan rasa tanggung jawab besar selama ini. Dia menginginkan anak itu tetap tidak kesulitan dalam menjalani hidup sebagai umat biasa.
Desau angin panas terbang ke permukaan kulit. Bianji bergegas merapikan barang-barangnya di paviliun, dan mengemasnya secara cukup di satu buntalan tas kain berukuran sedang. Dan keluar dari sana, berdiri di depan kuil untuk penghormatan terakhirnya kepada kuil Baima Si. Namun belum selesai doanya dihaturkan. Bianji mulai mendengar suara putri Gaoyang yang menangis dari dalam kuil, membuat Bianji bingung mengapa dia ada di sana dan menangis? Kakinya segera melangkah ke dalam, membuka pintu kuil untuk mengecek, dan benar, ada putri Gaoyang di sana yang terikat tampak berantakan di bawah patung Dewi Kwan Im menggeleng keras dengan mata sembab kala Bianji tergopoh masuk. Berniat hendak membantu sang putri lepas dari ikatan di tubuhnya.
Hanya saja baru langkahnya mendekat masuk ke dalam, pintu di belakangnya tertutup, lalu putri Gaoyang sudah ditarik oleh dua orang lain yang telah datang dari pintu belakang. Bianji masih bingung dengan semua ini, dan dia melihat putri kedua kerajaan di belakang beberapa langkah dari adik nya yang terkulai lemas menangis.
“Sangat naif. Benar-benar pasangan yang cocok untuk adikku.” Kata Gao Mei Lan, bibirnya menyeringai, “Bianji dengar ini, dia tidak mau menikah dengan orang lain selain dirimu. Ini membuat posisi kami sulit karena pernikahan dan perjodohan antar keluarga yang pantas tetap harus ada, dan si bodoh Gaoyang sangat amat hanya menginginkan dirimu.” Dia melempar gelang emerald ke arah kaki Bianji, menatap biksu itu tajam.
“Mungkin, jika kamu telah tiada, dia mau lebih menurut dan tidak lagi berpikir untuk dapat membangkang, berpikir bahwa semua orang dapat menuruti kemauannya begitu saja.” Lanjut Mei Lan sambil sedikit tertawa, dan tanpa banyak kata lagi darinya dia menyuruh pelayannya menyeret sang adik keluar melalui pintu belakang, dan orang di belakang Bianji sedari tadi mulai menjatuhkan obor ke kain di bawah patung Dewi Kwan Im yang kemudian merambat cepat ke seluruh ruangan dengan bau minyak yang semakin kental. Lalu asap mulai bertebaran membuat pandangan Bianji kabur.
Dia berlari ke pintu depan kuil, berteriak meminta tolong, memukulnya keras-keras hingga kulitnya terasa nyeri dan terbatuk-batuk.
Tidak tahu kalau Master Wei sudah sekarat di ranjangnya, dan Hui serta Zhi atas panggilan khusus dari sang kaisar sedari doa petang selesai mereka diundang ke sana berdua. Dan tidak tahu bahwa sedari pagi kala Tian ingin melakukan kunjungannya ke kuil, menemui Bianji dan membahas tentang masa depan mereka, dia punya pekerjaan dari masyarakat di ujung dekat pelabuhan sedang sama-sama terbakar sedari siang oleh api pada gudang-gudang hasil panen mereka selama sepanjang tahun ini, dan dia harus segera ke sana.
Kala api semakin besar dan membumbung tinggi di kuil Baima Si, hujan turun tiba-tiba dengan sangat deras dari awan hitam yang berderak di atas wadah pegunungan Yin. Mencurahkan air sebanyak-banyaknya, tanpa angin, seolah pertolongan hadir untuk siapapun yang berdoa dimana saja. Dan Bianji meringkuk di bawah meja merasa takut, dia menangis, menyebut nama Tian sambil matanya melihat seluruh tanda-tanda kengerian dari lalapan api yang membakar kayu terbaik kuil ini perlahan-lahan runtuh.
Bahaya yang jelas dan diketahui di depan matanya tampak menjadi akhir dari hidupnya yang dieksekusi hanya karena cinta seseorang kepadanya. Hati Bianji terasa nyeri. Banyak menggumamkan doa yang berharap masih didengar oleh langit dan suara pintu didobrak keras, seseorang masuk, dan berteriak nama nya serak hingga menemukan suara terbatuk-batuk dari Bianji. Lalu dia segera menyelamatkan biksu muda itu dari kepungan api di sana.
Tamat.
***
“Kamu tidak membalasku.”
“Sebentar sayang, aku kehilangan fokus sesaat. Apa tadi katamu?” Tian meminta pasangannya untuk mengulang perkataannya lagi. Dia meminta maaf pada kekasihnya yang mulai membuat mata kesal, bibirnya sudah maju beberapa senti dan itu sangat lucu, alih-alih membuat takut dia justru datang memeluknya erat. Lalu sedikit nakal mengecup perpotongan leher belakangnya pelan yang kian menimbulkan gerutuan panjang lain.
Dia baru saja membelikan satu set pakaian musim panas untuk kekasihnya, berada di provinsi lain di distrik Liangyuan benar-benar membuat mereka terasa gosong karena matahari seperti beranak-pinak di atas kepala mereka setiap musim panas. Dan demi kenyamanan pasangannya, Tian membelikan dia satu set untuk kemudian dapat mencobanya di depan Tian yang tengah bersantai memakan melon.
Airnya bahkan jatuh ke dagu pria itu sesaat melihat pasangannya berganti di depan wajahnya tanpa malu. Lalu memakai set pakaian lebih halus dan dapat menyerap keringat lebih banyak yang pria itu dapatkan untuknya, dan dia hanya bertanya apa memang cocok jenis pakaian lebih tipis itu padanya?
Namun Tian tidak mendengarkan. Dia sibuk dengan tatapan nakalnya ke arah pasangannya. Kemudian dimarahi, dan sekarang ia berusaha membujuknya lagi sambil meminta maaf, dia akan berusaha fokus mendengarkan kekasih nya dengan benar. Mengecup lagi puncak kepala lelaki lebih muda dari nya itu yang memiliki rambut halus wangi karamel, dan mencium bibirnya di sana yang kemudian dibalas dengan erangan halus. Aroma wewangian dan dupa yang baru dinyalakan tampak seperti latar belakang yang konstan di sana, mengiringi ciuman mereka agak sedikit berani hingga Tian menjilat ceceran saliva di bibir dan dagu lelaki yang lebih muda. Tersenyum dalam kecupan terakhir seperti segel untuk menutup sesi intimasi mereka, “Kamu selalu tampak cantik dengan apapun atau tanpa apapun, Bianji.”
Kemudian bahunya dipukul keras, membuat Tian mengaduh tertawa sampai mereka berlarian keluar di halaman luas rumah tempat keduanya beris tirahat dalam kesibukan panjang sehari-hari. Dengan Tian yang bekerja sebagai penjual bibit dan banyak mengekspornya hingga keluar wilayah kekaisaran usai selesai dengan urusan di provinsi Jiangnan sebagai seorang gubernur. Dan Bianji yang bekerja sebagai akuntan di bisnis lain yang mereka sama-sama bangun.
Dia menemukan kepintarannya dalam menghitung selama ini untuk bertahan hidup di segala terpaan dan cobaan. Namun karena mereka melaluinya bersama, semua hal itu dapat teratasi dengan baik. Dan Bianji tak perlu menunggu kehidupan selanjutnya untuk mereka dapat bersatu, karena Tian selalu datang di waktu yang tepat menyelamatkan dirinya. Sehingga dia balik balas mencium pasangannya lagi di sana kala Tian jatuh di atas rumput, dan Bianji bergabung di sisinya, satu kecupan dan susulan kecupan lainnya. Mereka sama-sama meledakkan tawa, saling tergelitik oleh panasnya musim dan kehidupan yang mengantarkan keduanya sampai di tahap ini.
Selesai.
