Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-13
Updated:
2026-02-13
Words:
2,287
Chapters:
1/9
Hits:
3

[PLACEHOLDER (judul ntar msh mikir)]

Summary:

Bercerita tentang seorang lelaki muda di dunia dystopian pada tahun 1994.

(HEAVILY INSPIRED dari buku karangan George Orwell, 1984. Aku saranin setidaknya tau dulu sinopsis cerita originalnya :3)

Notes:

masih baru mulai di ao3 okay :(((

Chapter 1: Bab 1

Chapter Text

Bab 1

Sore itu terasa lebih padat dari biasanya. Asap dari pabrik memenuhi langit yang abu-abu, membuat udara sekitar menjadi lebih berat juga bau keringat. Jalanan dan halte bus penuh dengan orang-orang mengantri untuk pulang kerja, dan samar-samar terdengar teriakan tawar menawar dan panggilan dari sebuah pasar dekat situ juga deru pabrik-pabrik di kejauhan. Toby berjalan dengan langkah mantap namun lelah, mata hijau pucatnya menatap lurus kedepan dan terselip di jari-jarinya sebuah rokok murahan yang sudah terbakar setengah. Rambut coklat tuanya terlihat agak kusam dan berantakan setelah mengangkut ratusan kiriman stok makanan dan perkakas dari Sektor 2 tadi. Sungguh melelahkan.


“Duh, Wil, lu bakalan terus ngerokok? Ntar paru lu makin item lo.” Cerocos badai disebelahnya, Becky Thompson. Seorang laki-laki yang lebih pendek sedikit dari Toby, dengan wajah tirus kotor yang anehnya selalu memancarkan energi menyilaukan—mungkin efek gosip bonus minggu ini yang ia dengar digudang tadi. Becky tersenyum sambil merapihkan rambut hitam panjangnya yang berantakan, meski sedetik kemudian rontok lagi menutupi mata coklatnya yang berbinar dengan kilat usil. “Kalau lo mati, siapa yang nemenin gue? I’ll be lonely y’know?”


Toby hanya menghela nafas pendek, melirik dengan acuh dan mulai mengusap bekas luka kecil di sudut kanan bawah bibirnya dengan jempol kasarnya yang menghitam akibat debu dari Sektor 2. “Lu bisa diem gak. Like a minute. Gua pusing,” jawabnya datar, pandangannya tanpa sadar mulai melirik setiap VeeScreen-A yang bertengger disetiap sudut bangunan. Kamera-kamera sialan itu berkedip merah dengan sangat pelan. Meskipun udara Ostonia terasa panas menyengat, Toby merinding. Ia merasa lensa-lensa itu menembus kulitnya, membuka dan melihat isi sisa-sisa pikiran tentang meruntuhkan pemerintahan yang dia diam-diam simpan rapat, sesuai dengan slogan Polikiran yang ada di belakang kartu UID (Unit Identification Card) miliknya: “THE ESSENCE IS ALWAYS WATCHING”. Jempolnya mengusap luka sedikit lebih cepat—tanda kalau dia mulai merasa terganggu. Tidak mendapatkan jawaban yang dia harapkan, Becky mendengus kecil, menyilangkan kedua tangan dibelakang kepalanya dengan santai sambil melirik ke luka kecil Toby tapi langsung teralihkan dengan suara bapak-bapak yang sedang berdebat sengit—yang sayangnya Toby tidak dengar karena tak peduli. Belum ada 5 detik kemudian, Becky sudah mengoceh lagi, tangannya melambai-lambai di udara seolah mengusir asap abu-abu dari langit. “Im telling you Wil, gue serius soal bonus mingguan itu,” bisiknya, kali ini suaranya lebih rendah, hampir tenggelam di antara kebisingan pabrik yang menderu di kejauhan. “Katanya, kalau target Stok-prio (istilah dalam bahasa Inlish, yang berarti barang kiriman prioritas tinggi) bulan ini tercapai, kita bakal dapet jatah Nutrifood (sebutan untuk makanan asli yang tidak diproses pabrik Negara) extra! Bayangin, daging asli Wil! Jarang-jarang kita dapet begituan kan?” Mereka lanjut berbelok ke salah satu halte bus yang tidak sepenuh yang dilewati tadi, dan mengantri bersama orang-orang Kementrian lainnya, bau keringat dan rokok murah yang sama kayak yang Toby pakai langsung menusuk hidung mereka. Toby berhenti di sudut halte, membuang dan menginjak rokoknya dengan sepatu botnya. Tiba-tiba dadanya mulai terasa berat seperti ditekan oleh beton berat. Ia mencoba menarik napas, tapi udara Sektor 5 yang penuh jelaga itu menolak masuk ke paru-parunya. Nafasnya mulai bunyi, tubuhnya bergetar, wajahnya merah dan dia terbatuk-batuk hebat hingga membuat beberapa orang menoleh.

“Huff… huff…”

Sialan! pikirnya. Ia membungkuk, mencengkram dadanya yang semakin berat dan berat. Debu dari gudang, udara sampah disekitar, ditambah asap rokoknya tadi membuat saluran paru-paru nya tertutup rapat. Di sampingnya, Becky tersentak pelan dan langsung meraih punggung Toby untuk menggopoh sahabatnya itu. Ia menepuk-nepuk punggung Toby dengan keras tapi lembut, raut wajahnya yang tadi ceria dan usil langsung berubah menjadi sedikit kesal dan khawatir. “Wil!” katanya cemas, lalu melihat kondisi Toby yang tidak kunjung reda, Becky cepat-cepat membuka tas hijau sage tua Toby dan mengeluarkan inhaler birunya yang tinggal sedikit. Tanpa pikir panjang ia memasukkan inhaler ke mulut Toby dan langsung memakaikannya. Seketika, saluran paru-parunya terasa terbuka lebar. Udara yang seolah-olah sebersih padang rumput hijau nan luas—suatu sensasi yang Toby samar-samar ingat dari masa kecilnya— akhirnya masuk. Ia tersentak, meraup oksigen itu dalam tarikan napas panjang yang gemetar sampai ritmenya kembali teratur. “Ma... makasih…” geram Toby parau sambil terus mengambil napas dengan tubuh gemetar. Suaranya terdengar pecah dan jauh lebih serak dan berat. Sambil mengusap luka kecil di bibirnya lagi, ia menatap sekeliling dengan gusar. Ia membenci asma ini. Penyakit sialan yang diturunkan dari ayahnya yang brengsek itu. Benci, karena penyakit ini menghambat aktivitasnya, dan lebih buruknya lagi bisa membuat dirinya di catat tidak berguna oleh mereka. Toby meraih inhaler dari tangan Becky dengan kasar, menghirupnya sisa dosisnya sedikit lagi sebelum mengembuskan napas panjang yang terasa sangat lega. “Sialan penyakit ini…” gumamnya parau, melirik ke Becky yang berdiri dengan cemas lalu balik ke inhaler ditangannya. “Penyakitnya yang sialan, atau otak lu yang macet hah?” Becky menyalak, nada bicaranya naik satu oktav dan bergetar marah tapi juga cemas. Matanya yang coklat tuanya tidak lagi berbinar usil, melainkan menatap Toby yang masih agak bungkuk dengan tatapan tajam. “Udah tau paru-paru kamu kayak kertas kebakar, masih demen aja nyebat. Demi Esensi, kamu ini mau mati apa gimana sih?”


Toby melirik wajah Becky yang memerah seperti tomat dengan malas, lalu kembali sekeliling dengan kesal. Ia membenci fakta bahwa penyakit ini menghambatnya—dan lebih benci lagi karena Becky benar. Ia mengusap bekas luka bibirnya, mencoba mencari alasan untuk membela diri tapi keluar hanya suara napasnya yang masih sedikit berat yang terdengar. “Aku… aku nggak butuh ceramah, Beck,” gumam Toby pelan, sambil melempar inhaler nya kedalam tas. Tak lama kemudian, suara derungan mesin bus yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Bus tua bermesin diesel itu, berwarna biru navy dengan cat yang sudah mengelupas dibeberapa bagian, lampu depannya menyala dengan redup. Bus tua itu berhenti di depan mereka dengan suara decit logam yang memilukan. Pintu terbuka, menyemburkan hawa panas dan bau keringat manusia yang berhamburan keluar dari bus seperti sarang semut yang kebakaran. “Ayo Wil buruan masuk sebelum kehabisan tempat.” gerutu Becky sambil mendorong bahu Toby. Meskipun masih kesal, tangannya tetap siaga di dekat punggung Toby, jaga-jaga jika sahabatnya butuh inhaler lagi. Suasana di dalam bus sangat sesak. Orang-orang dengan seragam Kementrian kusam berdiri berhimpitan seperti sarden. Toby dan Becky mendapat posisi di tengah-tengah bus akibat terdorong oleh arus—spot yang lebih buruk daripada dipinggir. Mereka terjepit di antara tubuh-tubuh lengket, bahu dan tubuh mereka menempel dengan orang lain. Bahkan kepala Becky hanya berjarak beberapa inci dari dada seorang laki-laki tinggi kurus yang mengeluarkan bau menyengat sedang berpegangan erat pada tas kantornya. Toby mencengkram railing besi di atas kepalanya, membuat otot lengannya yang kekar menegang. Pintu bus mulai menutup, dan bus pun jalan. Tidak ada yang bicara selama perjalanan, sunyi selain suara orang batuk yang teredam sesekali dan suara roda bus yang berjalan dengan kecepatan konsisten. Halte pemberhentian Toby masih sekitar 5 halte lagi, dan percayalah, Toby juga membenci ini. Ia melirik kearah VeeScreen-A yang terpasang di langit-langit bus. Lensa itu berputar pelan, memindai setiap wajah dengan tajam. Toby cepat-cepat mengalihkan mata hijau pucatnya ke luar jendela bus, kearah gedung-gedung beton yang lewat dengan cepat. Ia melihat poster-poster propaganda berkibar yang ditempel di tembok abu-abu itu, menampilkan kata-kata yang terkesan nasionalisme—tapi bagi Toby tidak. Menurutnya, kata-kata itu justru terasa seperti mencoba menghapus seluruh kepercayaan dan ingatannya tentang suatu masa jauh sebelum semua ini, yang ia berpegangan teguh jauh di dalam kesadarannya. Meskipun begitu, ia merasa ingatan-ingatan itu mulai kabur dan hilang perlahan-lahan, digantikan oleh slogan, aturan, dan wajah kejam namun cantik menyeramkan itu. Ada sesuatu yang charming dengan tatapan matanya yang terus memburumu setiap saat dengan tajam itu. Seperti ada tarikan supernatural yang membuatmu ingin terus menatapnya dan memujanya seperti seorang fanatik.


Bus berguncang saat ban melewati jalan penuh kerikil, memaksa Toby untuk mengencangkan pegangan lengannya dan mencengkramkan sepatu bot nya di lantai bus agar tidak jatuh dan menabrak orang lain. Bus memasuki area yang mulai terlihat kumuh dan tak terawat, dengan cat tembok yang berlumut atau mengelupas serta udara lebih kotor. Bus akhirnya berhenti di halte dekat sebuah apartemen, dan setelah pintu terbuka lautan manusia di bus langsung berkurang setengah. Dari jendela, terlihat sebagian besar dari mereka berjalan memasuki apartemen yang kumuh itu. Ia teringat, meskipun mereka bekerja di Kementrian, yang berjasa agar pondasi Negara sampah ini terus berjalan dan stabil, gaji mereka perminggu bisa dibilang kecil—hanya cukup untuk kebutuhan dasar sehari-hari. Berbeda dengan Toby yang bekerja di Logistik, yang masih dilihat dan diakui oleh mereka karena dianggap berjasa untuk menyalurkan dan menyimpan pasokan-pasokan milik Negara, sehingga gajinya perminggu lebih banyak sedikit. Yah, dihitung-hitung cukup untuk membeli satu porsi Nutrifood kecil jika ia mau. Tapi lebih baik menabung pikir Toby. Dia bisa membeli obat untuk asma sialannya, atau beli pisau cukur yang sudah mulai tumpul di wastafel apartemennya. Bus tersentak maju lagi, membuat Toby sedikit terhuyung mundur tapi setidaknya ia bisa bernapas. Dari sudut matanya, terlihat Becky mendekat dengan wajahnya mengeryit karena terlalu lama terekspos bau dada yang sangat harum itu. “Eugh… rasanya mau—” ia berbisik, sebelum berusaha menahan mulutnya agar tidak muntah, membuat bibir Toby melengkung sedikit ke atas. Becky menarik napas dalam-dalam, sambil melirik ke kamera di langit-langit bus sekali sebelum menghela napas pendek. Tak lama kemudian, bus sudah mau sampai di halte nomor 57, halte pemberhentian Toby. Becky yang melihat itu, langsung menepuk bahu Toby dengan senyumnya yang kecil cerah sekaligus lirih. Bus berhenti, pintu berdesis terbuka, dan Toby membalas Becky dengan anggukan sambil memakai topi biru khas pekerja Logistik dan keluar.


Toby menghirup udara luar yang kotor tapi menyegarkan dengan perlahan, merasakan bau keringat dari bus tadi mulai hilang dan di ganti oleh udara kotor familiar disekitar sambil melirik ke arah bus yang sudah berjalan. Ia batuk-batuk ringan, nafasnya masih memburu sedikit. Tangannya secara refleks merogoh tas hijaunya dan mengeluarkan inhaler biru yang masih ada sisa untuk sekali pakai lagi. Dia memandangi tulisan namanya—Toby Wilcox—yang jelek kecil di ujung inhaler itu, sebelum menghirup sisa dosis untuk membersihkan paru-parunya yang rapuh itu. Setelah sudah segar, ia memasukkan inhaler itu kembali ke tas dan mulai berjalan menyusuri jalanan yang sepi disekitar. Toby berjalan melewati toko-toko dengan etalase depan penuh dengan poster-poster propaganda yang ditempel acak. Dia melirik ke jam tangan, sudah jam 16.50 sore tapi matahari masih bersinar oranye lembut. Ia baru sadar hari ini cukup cerah, karena biasanya jam segini sudah lumayan gelap. Setelah sampai di sebuah pertigaan, Toby menyebrang jalan dan belok kanan, melewati sebuah bar yang sudah mulai penuh. Perlu diakui, mespikun Toby termasuk peminum, ia tidak pernah senang kalau di ajak ke bar. Menurutnya, bar itu terlalu terbuka dan berisik, jadi dia lebih memilih minum di apartemennya. Omong-omong soal apartemen, setelah melewati 4 bangunan lagi Toby sudah sampai di apartemennya. Bangunannya tinggi 15 lantai, cat luar gedung berwarna krem dan coklat agak pucat, dan ada area parkir yang cukup luas. Dia masuk, merasakan suasana apartemen yang pengap dan mencium bau gas dari pipa bocor di langit-langit yang familiar. Di pintu masuk, terdapat sebuah mesin Automatic Check In-Gate atau yang disingkat ACIG, dan Toby harus mengeluarkan UID nya untuk scan strip hitam panjang dibalik kartu di layar kecil mesin agar palang besi mesin itu terbuka dan bisa masuk—protokol pemerintah agar mereka bisa terus melacak keberadaanmu secara langsung. Setelah beberapa detik, layar mesin mengkonfirmasi UID Toby, menampilkan data diri standar Toby dan sebuah gambar centang putih besar. Mesin mendengung, Toby mendorong palang dan berjalan kearah 2 lift di tengah-tengah. Ia menekan tombol naik, dan sambil menunggu Toby membaca tulisan kamar di samping kanan kiri lift dengan bosan. Yang kiri, itu tempat kamar nomor 1-25, sedangkan di kanan 26-50. Ia melirik ke layar lift. Masih dilantai 10. Toby mengusap luka di bibir, dia tau lift ini sering macet. Kalau naik tangga, nanti kakinya yang pegal. 9… 8… 7. Ini terlalu lama. 7… 7… 7…. 6...
Dari belakang, seorang laki-laki baru selesai scan dengan tatapan wajah kosong. Dia berjalan melewati Toby kearah tangga tanpa menoleh ke Toby dan menghilang ke atas. Toby tau orang itu—sepertinya dia tinggal di lantai 3. Tapi dia tidak pernah tau namanya. Ia melirik kearah lift lagi. Ya ampun, masih di 6? Toby mengumpat pelan, sekarang menggaruk bekas lukanya dengan ujung kuku jempolnya. Ia terus menatap lift dengan tajam, mengetuk-ngetuk bot nya di lantai dengan tidak sabar. 6… 6… 5… 4… ugh akhirnya jalan. Sabar, sabar, pikirnya sambil mendengus. 2 menit kemudian, pintu lift terbuka dan Toby segera masuk. Dia menekan nomor 11, pintu lift mendecit menutup, dan perlahan naik. Di pantulan pintu lift, terpampang bayangan dirinya—seorang lelaki muda berusia 34 tahun dengan mata hijau pucat lelah, rambut berwarna coklat tua dan jenggot tipis berantakan. Seragam dan topi Logistik berwarna birunya yang kotor dan sedikit kusam. Badannya kekar dari bertahun-tahun mengangkat barang, dengan bekas luka dibawah kanan bibirnya yang memerah karena dia garuk terus. Luka itu didapat dari suatu insiden dulu pas pertama kali kerja di gudang—dia sudah lupa seperti apa persisnya. Toby menghela napas, melirik ke layar lift. Seperti tadi, lift macet di lantai enam dan tujuh. Toby hanya bisa mengumpat-ngumpat dalam hati karena ada 2 kamera VeeScreen-A (V.S-A) di langit-langit lift. Setelah mungkin 5 menit, lift sampai di lantai 11 dan ada bunyi "Ting!" saat pintu terbuka dengan suara decit yang sama—Toby langsung keluar. Di ujung lorong, dia berbelok kanan ke deretan kamar 526-550. Toby jalan di lorong panjang dengan cepat, ingin segera mandi karena ya tuhan, udara pengap sekali. Akhirnya ia sampai di kamar nomor 531. Dia merogoh saku celana, mengeluarkan kunci. Namun sebelum bisa memasukkan kunci itu, pintu kamar 532 disebelah kanannya terbuka. Dari situ, keluarlah seorang wanita paruh baya yang langsung menyapanya saat melihat Toby. "Oh Toby! Syukurlah kau sudah pulang. Bisa minta—" bantuan. Lagi. "Pipa wastafel bocor lagi bu?" Toby langsung memotong. Mrs. Hazel tampak terkejut sedikit, wajahnya memerah malu. "E-eh iya, bocor lagi. Kok langsung tau sih? Maaf ya ngerepotin..." Suaranya semakin kecil saat Toby menerobos masuk ke kamarnya. Kamar Mrs Hazel berantakan, mainan disana-sini dan bau makanan minimarket yang sedang dihangatkan tercium [TO BE CONTINUED]