Work Text:
Satu: Toilet Kolam Renang.
Ada yang janggal.
Bertahun-tahun sudah Radja lewati bersekolah di sini, dan dia bisa pastikan sudah seberapa “kenal” dirinya dengan tiap sudut dan tiap pola jadwal penggunaan dari fasilitas kolam renang sini; it’s one hundred percent. Karena bagi Radja dalam mode atletnya, ini sudah seperti rumah kedua baginya.
Maka sewaktu Radja yakin kalau hari ini dirinya sudah dipastikan telat masuk sampai pada jam pelajaran ketiga, ia jelas tidak pikir panjang untuk menghabiskan waktu yang tersisa untuk melipir ke kolam renang. Radja sudah seratus persen hafal kalau di hari itu, pada jam segitu, kolam renang tidak sedang dibersihkan dan tidak pula ada yang menggunakan. Dan semua memang berjalan sesuai dengan apa yang sudah dia rrencanakan; kolam sepi dan Radja bisa manfaatkan untuk latihan teknik, sampai ketika akhirnya hampir selesai dan tinggal membilas tubuhnya, kejanggalan pun dia rasakan.
Ada suara yang sumbernya dari salah satu kubik toilet di sana.
Radja yakin kalau seharusnya hanya ada dirinya sendirian lah yang menggunakan salah satu fasilitas sekolah ini. Jadi kalau sekarang tiba-tiba seperti ada sosok lain yang mengisi satu ruang bilik toilet di sana, maka pertanyaannya adalah; siapa? Karena tidak mungkin ada hantu di pagi yang cerah begini.
Pun Radja tahu kalau seharusnya dirinya tidak perlu menaruh peduli, dan ia memang sudah berencana begitu—awalnya, andai saja kedua rungu Radja tidak cukup tajam untuk menangkap suara yang makin terdengar jelas seperti isak tangis, sewaktu ia hendak masuk ke salah satu bilik khusus bilas dan mandi yang harus melewati bilik toilet itu. Dan sampai di titik itu pun, sebenarnya Radja masih tidak peduli. Tapi kemudian sialnya (atau tidak?) Radja lupa membawa handuknya sehingga ia harus mengambilnya dari tas yang memang sengaja ia simpan di luar; tak jauh dari sisi kolam. Maka di saat itulah ia menemukan seorang siswa perempuan yang entah namanya siapa karena tidak ada name tag tertempel di seragamnya, tapi Radja yakin kalau dia salah satu anggota Student Board karena wajahnya cukup familiar.
Ada selembar map yang dipegang gadis itu, dan ia terlihat cukup kebingungan, seperti mencari sesuatu—atau seseorang? Sampai akhirnya dia melihat Radja, dan berlari kecil menghampiri si atlet yang kondisi badannya masih basah dari ujung kepala sampai kakinya.
“Radja, lo lihat ada Binar masuk ke sini gak ya?”
Binar. Lagi.
Satu nama yang kalau sudah tersebut begini, rasanya seperti Radja tidak bisa punya kontrol atas dirinya sendiri untuk menjadi tidak peduli.
“Siapa?” tanya Radja, untuk memastikan.
Tapi sepertinya, gadis di depannya ini salah menangkap makna. “Eh, lo enggak kenal Binar ya? Yaudah deh, gak jadi.”
“Kenapa?”
“Hah? Kenapa apanya?”
“Kenapa cari dia ke sini?”
“Tadi soalnya gue kayak lihat dia masuk ke sini.”
“Terus?” Radja menuntut penjelasan lebih. “Kenapa lo cari dia?”
“Aduh! Kenapa sih emang? Lagian lo gak kenal Binar juga kan? Yaudah, minggir!” Si gadis terlihat makin gusar karena Radja enggan memberi jalan; setiap kali ia akan bergeser maka Radja ikut bergeser untuk menghalangi. “Radja! Gue lagi buru-buru banget ini.”
“Jawab dulu.”
“Ini disuruh Pak Yos buat ngasih form lomba yang ketinggalan. Puas?” tanyanya sarkas, yang selanjutnya malah ia jadi sekalian menumpahkan kekesalan, “Anaknya langsung cabut gitu aja tadi pas lagi diceramahin Pak Yos. Bayangin! Ini jadinya malah gue jadi ikut kena batunya nih. Padahal gue dispen bukan buat ngejar dia gini, anjir.”
“Enggak ada,” ucap Radja sebagai balasannya. “Binar, atau siapa pun itu. Gak ada orang lain selain gue di sini.”
“Tapi gue jelas lihat Binar masuk ke sini kok tadi,” sanggah si gadis. “Awas. Gue mau cek ke ruang—”
“—dan gue mau mandi. Bentar lagi masuk, sementara gue udah gak bisa telat masuk lagi, apalagi bolos. I have no time, so I can’t let you,” potong Radja cepat. “Gak suka ada orang lain sewaktu gue lagi mandi. Gak nyaman.”
“Ya gue ju—”
“Udah dibilang di sini gak ada siapa pun, kecuali gue. Lo masih butuh apa lagi?” tanya Radja tajam, ia semakin terdengar sangat tidak bersahabat. Air mukanya dingin dan sorotnya tajam, enggan untuk dibantah. Kemudian ia mengusir dengan tegas, “Pergi.”
And the rumour has it—you better not mess up with Radja when he’s in his element, in his territory.
Semua keberanian yang si gadis punya pun seketika menguap, ketidakramahan Radja yang tiba-tiba berkali lipat muncul lebih kuat itu membuatnya kaget. Tidak ada yang sanggup dipikirkan kepalanya selain mengalah dan tidak menambah masalah.
“Fine.” Si gadis sampai mengangkat kedua tangan, tanda menyerah. “Sana mandi! Bau kaporit badan lo!”
Radja hanya mendengus mendengar insult yang coba dilempar padanya itu. Ia sama sekali tidak gentar. “Lo duluan yang keluar sana. Hush!”
Setelah dipastikan kalau sosok itu hilang di balik pintu keluar, barulah Radja kembali ke ruang bilas dengan handuk di tangan yang sempat ia lupakan tadi. Dan sedikit pun tidak ada yang berubah rasanya bagi Radja ketika melewati satu bilik toilet itu lagi, kecuali perasaannya yang jadi dilema karena sekarang pertanyaan siapa-nya kini sudah bisa terjawab; kemungkinan besar kalau itu Binar.
Tapi pada akhirnya tidak ada yang Radja lakukan untuk mengurai semua rasa peduli dan dilema yang berkelumit dalam hatinya. Ada banyak alasan yang bisa disebutkan, tapi satu hal yang paling ia sadari (meski sangat enggan ia akui) adalah memang sejuah ini Radja bisa jadi sebegitu pengecutnya kalau itu soal Binar. Entah kenapa.
Maka yang Radja lakukan selanjutnya adalah kembali ke rencana awal; mandi. Langkah kakinya terasa jadi sedikit lebih berat ketika melewati kubik toilet yang pintunya dikunci rapat; menutup akses dunia luar untuk tahu soal isak tangis dan nafas tersendat. So, the least Radja could do is turn on the shower.
Air jatuh dengan deras, pun bunyinya lebih keras memenuhi seisi ruang, seolah memberi ruang untuk ikut menyamarkan dunia kecil yang sedang bersembunyi di balik bilik toilet sana.
Dua: Toilet UKS.
Sebenarnya Radja bukan tipikal yang light sleeper, tapi ruang UKS di sekolahnya ini selalu terasa sebagai salah satu tempat dengan kesunyian yang nyata dan mampu menyediakan ketenangan yang kadang kala Radja butuhkan untuk sekedar tidur nyenyak selama paling tidak setengah jam lamanya. Kesunyian yang membuat Radja dapat dengan mudah terbangun dari tidurnya, meski hanya karena suara decit sol sepatu yang bergesekan dengan lantai dan diikuti derit ranjang yang menahan beban tubuh di atas permukaannya.
“Kamu yakin enggak butuh apa pun lagi?” tanya Perawat, di balik tirai yang membatasi ranjang Radja dengan satu ranjang lain tersebut. “Atau ada yang kerasa lagi? Gak apa-apa, enggak usah takut buat bilang.”
“Enggak, Ners. Binar baik-baik aja kok. Di kelas udah minum obat yang biasa dibawa juga.”
Kemudian dunia di sekitar Radja berubah samar dan ia kehilangan fokus. Tubuhnya bahkan sempat membeku untuk beberapa detik, sebab satu nama itu terdengar sangat familiar, terlebih lagi dengan suaranya.
Binar. Lagi.
Pada titik ini Radja mulai meyakini kalau semesta sepertinya sedang suka bersenang-senang dengan jalan hidupnya, dengan melibatkan Binar sebagai mainan utamanya. Dan Radja masih ingat dengan jelas bagaimana kejadian di kolam renang di Senin lalu terjadi. Begitu ia selesai mandi waktu itu, pintu toilet sudah terbuka dan tidak ada siapa pun tersisa selain dirinya. Binar sepertinya pergi duluan, sementara Radja pilih untuk tetap diam dan bermain aman.
Sekarang pun, Radja tidak berpikir ia akan melakukan hal berbeda. Begitu akhirnya ia kembali pada kesadaran realita dan tidak ada hal lain yang menyambutnya selain daripada kesunyian dan ketenangan yang sebelumnya ia dapatkan. Tidak ada lagi perawat yang bertanya, atau Binar yang bersuara. Semua kembali seperti semula. Maka tanpa banyak berpikir dan membuang waktu, Radja pun pilih untuk untuk kembali tidur. Dibukanya jaket yang sedari tadi menggulung dadanya, untuk kemudian ia pakai menutup seluruh wajahnya. He gotta play everything safe again this time. For real.
Tak sampai lima menit kemudian, kantuk berhasil kembali merenggut seluruh kesadaran Radja. Meski akhirnya itu tidak bertahan lama, karena—
“Please, Madam? Is it too much to ask?”
“Bisa gak kali ini mereka yang ngerti? Sekali aja?”
“Egois apa, sih? Ini bukan soal Binar, tapi Embun.”
“Terserah. Binar capek, Madam. Selalu kayak gak pernah didengar.”
“Ya. Binar mau tutup teleponnya duluan. Maaf.”
—Radja terbangun karena samar-samar suara Binar tetap mampu menyelinap membelah sunyi meski sudah dengan volume sekecil bisikan semut sekali pun. Radja tetap bisa menangkap bagaimana suara itu terdengar cukup emosional dan lelah.
Great. Binar dan kemampuannya memunculkan dilema bagi Radja. Padahal sebetulnya Radja pun tahu kalau ini terjadi bukan karena Binar secara sadar dan sengaja buat situasinya, dan Radja juga paham kalau apapun itu yang kini tengah dihadapi Binar juga bukan bagian dari tanggung jawabnya.
Lalu di tengah dilema yang berkecamuk entah sudah berapa lama itu, Radja kemudian harus kembali mendengar suara Binar lagi. Masih dengan cara bicara yang sama.
“Halo, Kak Ran. Maaf ganggu. Tapi bisa Binar bicara sama Ibu gak, ya?”
“Ah… gitu ya…? Sibuk banget? Yaudah deh, gak apa-apa.”
“Enggak kok, Binar is okay. Boleh titip pesan buat Ibu aja gak, Kak?”
“Oke. Tolong cek iMess dari Binar, abis itu please hubungi dan ngobrol terus sama Bapak.”
“Sip. Makasih banyak ya, Kak. Dadah…”
Setelahnya hanya ada sunyi yang memenuhi seisi ruang, selama tujuh detik. Radja tahu, karena ia tanpa sadar telah menahan nafas tapi secara sadar menghitung di dalam hatinya. Kemudian disusul dengan sebuah hembusan nafas keras, yang di sana begitu kentara seberapa banyak lelah yang sepertinya coba Binar lepaskan dari rongga dadanya.
Radja masih diam, kembali tenggelam dalam dilema yang telah melebur bersama hening yang mencekik, bagai terus mengikis pasokan oksigen di sana. Hening yang kemudian dipecah dengan suara lirih Binar, dimana dirinya seperti tengah merapal mantra seolah itu adalah satu-satunya tali pengikat kekuatan yang bisa dipegang sekarang.
“Ok, Binar. It’s nothing. So, don't cry. Don’t cry. It’s nothing. Don’t cr—ahhh. Shit.”
Lalu terdengar bunyi derit ranjang lagi, dan decit sol sepatu yang terburu sampai akhirnya ditutup dengan sebuah bantingan pintu. Tidak cukup keras untuk dibilang kasar, tapi juga cukup keras untuk Radja rasakan seberapa kuat emosi yang tersalur di sana. Sampai kemudian Radja menyadari bantingan itu bukan berasal pintu keluar UKS, melainkan pintu toilet yang ada dalam UKS.
Toilet. Lagi.
Radja akhirnya bangkit, lalu menyibak tirai yang sedari tadi membatasi ranjang keduanya. Kusut, dan kosong. Tentu saja. Pandangannya kemudian beredar menelusuri setiap sudut ruang, dan kosong juga. Perawat tidak terlihat ada di tempatnya, dan Radja akhirnya menyimpulkan kalau sepertinya Binar pikir ia sendirian di sana sehingga ia merasa cukup aman untuk mengambil tindakan-tindakan tadi.
Tapi bahkan sunyi yang biasa melingkupi seisi ruang untuk memberi tenang bagi siapapun yang memutuskan untuk beristirahat sejenak itu justru terasa begitu terbuka bagi Binar—it’s too exposing, dan membuatnya jadi merasa rapuh sehingga pada akhirnya tetap pilih untuk kembali pada ruang lebih sempit yang tersembunyi.
Lantas Radja melangkahkan kedua kakinya menuju toilet dimana Binar tadi berlari masuk ke dalamnya lalu berhenti tepat di depan pintunya, untuk kemudian tetap diam di sana. Tidak mengetuk, tidak memaksa untuk ikut masuk.
Ada suara air mengalir terdengar, sepertinya dari wastafel. Rasanya seperti Binar tengah berusaha untuk menyamarkan emosinya dengan itu. Tapi kali ini tidak ada keran shower yang bisa Radja nyalakan untuk membantu kamuflase Binar itu, yang ada hanya sunyi yang mampu ciptakan dingin di dalam hati. Tidak pula ada bau kaporit yang bisa jadi distraksi untuk Radja bersihkan, yang ada hanya bau tipis antiseptik yang lewati indra penciuman tanpa permisi dan seolah mengingatkan Radja bahwa tidak semua luka terwujud dalam bentuk fisik yang nyata dan bisa diobati saat itu juga..
Maka cukup lama Radja bertahan pada posisi yang sama, sebelum akhirnya melangkah mundur untuk memberi ruang bagi Binar untuk sembuhkan lukanya dengan caranya sendiri.
Meski sebenarnya Radja tidak juga benar-benar pergi, sebab ia tinggalkan tiga bungkus permen yang kebetulan ia bawa di saku jaketnya itu atas ranjang yang tadi Binar tempati. Pun ia tinggalkan beberapa lembar uang dan sebuah catatan kecil yang di simpan di meja Perawat:
ners, tolong kasih binar obat atau beli
apapun that can makes him feels better.
maaf ngerepotin. tp tolong bantu dia ya.
kasih semua aja yg dia mau. makasih.
p.s. jgn banyak kasih tau dia soal ini.
Tiga: Toilet Sekolah Biasa.
Tidak ada yang spesial. Saat itu waktu sudah memasuki jam pulang sekolah, dan Radja hanya ingin ikut membasuh tangannya di toilet terdekat yang satu arah dengan jalan keluar pulang.
Suasana saat itu begitu sepi, seolah pintunya sungguhan jadi sebuah pembatas ruang itu dengan riuhnya dunia luar dimana seluruh penghuni sekolah yang berhamburan keluar kelas dan berlalu lalang di koridor.
“Ok, Binar. Udah, cukup. You got this.”
Radja membeku. Ia bahkan bisa melihat seberapa kaku posisinya sekarang lewat pantulan cermin di hadapannya; tangannya yang hendak membuka keran air itu kini menggantung di udara, sementara air mukanya terlihat tegang dengan kedua netra yang membola sempurna.
Binar. Lagi.
Juga untuk ketiga kalinya di minggu ini, Binar dan toilet lagi. It’s not even funny at this point. Kepala Radja sudah membangun sebuah prasangka negatif, karena sejauh yang bisa ia ingat, tidak ada satu pun kesan baik yang terasosiasi antara Binar dan toilet di sekolah. Tapi kemudian sebelum Radja sempat memproses segala informasi dalam kepalanya sampai selesai, ia dapat kembali mendengar Binar yang dengan mudahnya membelah sepinya toilet itu dengan kalimat susulan meskipun ia terdengar seperti bermonolog dengan suara pelan seperti berbisik.
“It’s just a bad week, not a bad life. It’s okay.” Lalu terdengar bunyi seperti… tepukan ringan di kedua sisi pipi? Radja tidak begitu yakin, tapi instingnya mengatakan hal demikian. “Semangat, Binar! Jangan nangis lagi! Kan mau pulang… jangan bawa sedih ke rumah…”
Radja diam. Tidak ada lagi dilema yang muncul tentang apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi situasi tiba-tiba begini? Yang ada hanya sebuah kesadaran kalau kali ini dirinya ingin tinggal sedikit lebih lama. Enggan beranjak, enggan membiarkan Binar sendirian.
“Ah, tapi…” Binar berucap lagi, dan Radja tanpa sadar menahan nafasnya sendiri. “Binar tetep sedih…”
Oh… he’s about to cry, insting Radja bicara. Lalu tanpa membuang banyak waktu ia segera bergegas keluar, kemudian berhenti di pintu masuk dan menempelkan selembar sign bertuliskan “Dalam perbaikan. Toilet Rusak!” di sana. Kemudian berjalan sejauh beberapa meter hanya untuk kembali diam dan membiarkan dunia kecil yang tengah melepas lelah dan meluruhkan semua sedihnya itu supaya tetap terjaga.
Radja tetap bertahan dalam diamnya selama hampir sepuluh menit, menyaksikan banyak siswa seperti dirinya berakhir mengurungkan niat untuk masuk ke dalam toilet sana. Juga menghampiri setiap Petugas Cleaning Service yang hendak menunaikan pekerjaannya, membawanya menjauh dari toilet untuk kemudian diajak bicara dan dimintai sedikit pengertiannya.
(“Itu saya yang pasang, Pak. Ada temen di dalem lagi—muntah? Iya, muntah. Sakit dia.. Sebentar aja kok.”
“Oh… tapi berarti toiletnya aman ‘kan?”
“Aman. Cuma temen saya gak nyaman kalau banyak orang masuk. Jadi saya pakai sign itu aja tadi.”
“Tapi itu dapat dari mana sign-nya? Kok bisa?”
“Punya pribadi, Pak. Kalau bilas habis latihan, saya juga gak nyaman kalau ada orang lain. Jadi suka pake itu biar gak ada orang masuk.”)
Sampai di beberapa menit kemudian Radja akhirnya melihat Binar keluar. Ia berjalan acuh seolah tengah tidak merasakan apa-apa; melewati sign toilet rusak seolah tulisan yang sejak tadi melindunginya dari dunia luar itu tidak pernah ada di sana, apalagi menyadari eksistensi Radja yang tidak pernah beranjak jauh dari sana untuk memastikan dunia kecil Binar tetap tersembunyi rapat bersama rahasianya.
(Plus) Satu: Bukan Toilet.
Tidak ada yang spesial di hari itu, pun sebelumnya Radja tidak punya ekspektasi kecuali ia dapat mendapatkan wired earphone baru sewaktu dia memutuskan untuk melipir ke Mall begitu ia selesaikan latihan fisiknya. Tapi, wow, bertemu dengan Binar? It was definitely the last thing he expected.
Panas di tubuh karena suhu yang meningkat serta pegal di kaki bahkan sama sekali tidak Radja pedulikan lagi begitu pandangannya tanpa sengaja jatuh pada sosok yang kini tengah duduk sendirian pada sisi dekat kaca di dalam salah satu restoran. Dan Radja sepenuhnya yakin, kalau hal pertama yang terbersit di dalam kepalanya adalah dia tidak merasa perlu untuk mendekat apalagi menemui Binar meski hanya untuk sekedar menyapa. Nope. He still is a coward.
Tapi kemudian rasa penasarannya bergerak di luar kontrol dan mendorong Radja untuk memperhatikan sedikit lebih lama lagi, sehingga mengantarkannya pada satu kesimpulan; di tengah keramaian Mall yang bagai tanpa hentinya bergerak, presesi Binar justru seperti diam dan tidak memancar. Maka yang selanjutnya terjadi adalah Radja justru jadi masuk ke dalam restoran itu juga. Ia pesan minuman, kemudian duduk di kursi yang masih dalam radius yang cukup dekat untuk mengamati Binar tanpa si empunya bisa dengan mudah menyadari presensinya.
Mungkin masih karena rasa penasarannya, atau rasa lain yang baru muncul (khawatir, misalnya?) sehingga Radja jadi semakin memperhatikan setiap detail dari Binar sekarang. Seperti makanan dan minuman yang tersaji di hadapan Binar tapi nampak tak tersentuh sama sekali, atau bagaimana fokus kedua mata Binar jatuh pada keramaian di balik kaca namun sorotnya seperti pancarkan kesepian, atau sudah berapa kali ia menghembus nafas lelah.
Ada sesuatu dalam diri Radja yang seperti memunculkan keinginan untuk meraih Binar saat itu juga, tapi ada pula sisi lain yang masih menahannya karena, memangnya mau apa? Terus nanti gimana? Lo siapa sih, Radja?
Sampai akhirnya pandangan BInar beralih dan jatuh pada makanannya, lalu ia terlihat sedikit berkontemplasi selama sepersekian detik untuk kemudian menyuap satu sendok ke mulutnya. Lalu dua sendok, tiga sendok, empat sendok, dan berhenti. Fokusnya kemudian beralih pada layar ponsel, yang air mukanya nampak seperti gelisah sementara kedua ibu jarinya seperti tengah mengetik sesuatu di sana. Kemudian ada satu hela nafas berat yang dihembuskan sebelum ia masukkan ponselnya ke dalam saku celaka, lalu berdiri dan melangkah menuju sisi lain dalam restoran itu yang kalau menurut sign yang tertulis menunjuk arah toilet.
Radja seketika panik. For real. Tapi ia tidak lantas bertindak atas dasar asumsi negatif yang spontan muncul dalam kepalanya. Radja pikir, paling tidak ia akan beri waktu selama sepuluh menit dulu, dan kalau setelahnya Binar tak kunjung kembali maka ia baru akan nekat menghampiri. Radja bahkan sampai menyalakan stopwatch di pergelangan tangannya.
Beruntungnya di menit ketiga, Binar sudah kembali. Kemudian dilihatnya ia seperti memutuskan untuk tidak melanjutkan makannya dan memilih untuk bayar bill lalu keluar dari restoran.
Di sisi lain, Radja sebenarnya juga tahu kalau tidak seharusnya ia bersikap seperti penguntit begini, tapi ia juga tidak bisa bohong pada dirinya sendiri dengan bersikap tidak peduli.
Gak bisa, pikirnya. Gue gak ngerasa bisa biarin dia sendirian gitu aja sekarang.
Nyatanya, firasat Radja cenderung terbukti benar adanya. Binar tidak bisa dibiarkan sendiri karena bahkan setelah hampir sepuluh menit berlalu pun kini dia hanya berjalan bagai orang hilang arah di antara keramaian. Sesekali bahkan ia sampai sempat bertabrakan dengan orang lain. Tapi kemudian setelah meminta maaf, Binar lantas kembali melanjutkan langkah tanpa arah tujuannya. Sementara Radja tetap mengamati dan mengekori di belakang dengan radius yang menurutnya masih cukup aman.
Sampai di satu titik, Binar berhenti. Ia diam selama beberapa detik, lalu duduk di salah satu bangku panjang yang memang jadi bagian dari salah satu fasilitas yang disediakan Mall di sana..
Satu langkah, dua langkah, lalu terus sampai langkah ketujuh. Radja masih bertahan pada keyakinannya untuk tetap mengamati Binar dalam jarak aman. Tapi kemudian dilihatnya kedua bahu Binar seperti merosot, disusul dengan kepalanya yang menunduk lesu. Lantas Radja tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu, sampai akhirnya diriya baru sadar kalau ia sudah ada dalam posisi berdiri tepat di hadapan Binar begitu namanya dipanggil dengan nada bingung bercampur kaget dari mulut Binar langsung.
“Radja…?”
Si empunya nama menunduk, membalas pandangan Binar yang kini tengah memandangnya sambil mendongakkan kepala. Perbedaan posisi tubuh mereka membuatnya jadi jauh lebih tinggi dibanding Binar yang duduk di depannya.
“Iya, ini Radja,” jawabnya sedikit canggung. Ada sederet pertanyaan berputar di dalam kepala yang tentu perlu untuk disuarakan isinya, tapi dari sekian banyak pertanyaan itu hanya dua pertanyaan yang mampu Radja ungkapkan. “Apa kabar, Binar? You ok?”
Tapi mungkin perkiraan Radja jauh meleset kali ini—ia gagal membaca dan menafsirkan situasi yang sebenarnya; jika bagi Radja dua pertanyaan itu adalah yang paling biasa dan mudah untuk dijawab, tapi ternyata justru bagi Binar itu adalah sebuah trigger yang menjadi titik lemah dari benteng yang sudah selama ini dipertahankan dengan mati-matian.
Maka Binar tidak merasa sanggup menjawab. Lidahnya kelu, dan satu-satunya hal yang dirinya tahu adalah ia hanya ingin menangis sekarang juga.
Radja melihatnya dan langsung menyadari kesalhahannya, maka selanjutnya dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama; salah membaca situasinya. Sorot mata Binar terlihat berkaca-kaca, dengan sudut bibir yang digigit gelisah dan tangan yang mulai terkepal kuat.
He’s on the verge of crying.
Di saat itu juga lah Radja menarik kacamata hitam yang sejak awal tersampir di kerah kaosnya, lalu memakaikannya pada Binar.
“Pake. Silau,” ucapnya santai. “Biar enggak sakit matanya.”
Tidak ada terik matahari yang begitu menusuk sampai bisa membuat silau pengelihatan.
Tidak ada pertanyaan tambahan yang menuntut sebuah jawaban.
Tidak ada desakan. Tidak ada penghakiman.
Hanya ada Binar yang diam di ambang batas menahan, karena ia sadar tengah berada dalam keramaian.
Hanya ada Radja yang juga diam namun berdiri kokoh mengulurkan bantuan, berusaha kasih ketenangan dan perlindungan.
You’re safe with me. No one is gonna see your tears.
Sehingga yang selanjutnya terjadi adalah Binar yang pilih untuk menyerah, ia menunduk pasrah. Tak lama setelahnya disusul dengan bahu yang mulai bergetar, dan deru nafas yang tidak beraturan. Merah matanya yang basah, terlindung gelap kacamata. Riuh berbagai macam manusia berlalu-lalang dengan aktivitas dan dunianya, meredam isak yang seolah juga mengerti kalau baiknya ia tidak perlu banyak bersuara.
Kesedihan Binar pecah dalam isak kesunyian. Sebuah jeda bagi dirinya, di tengah keramaian dunia yang seperti enggan memberinya ruang istirahat dengan terus berjalan.
Tangan yang terkepal lantas bergerak, memukul-mukul pelan paha dan lutut. “Pegel…” keluhnya dengan lirih. “Sakit… kakinya….”
Alibi.
Radja diam, tapi ia mengerti.
“Abis jalan… gak berhenti… capek…”
Ini bukan soal berjalan kaki.
Radja berlutut, tanpa banyak bicara dirinya hanya menurut pada apapun itu skenario yang Binar coba bangun demi mengemas luka emosi yang masih ia usahakan untuk ditutupi.
“Sini. Sorry gue pegang kaki lo.” Tangannya bergerak memberikan tekanan-tekanan ringan. “Izin gue pijit ya. Mana aja yang sakit?”
Binar tidak bisa menjawab spesifiknya, karena bukan pada kaki letak masalah yang ia rasa sesungguhnya. Maka pada akhirnya Binar jawab sekenanya, “Semua….”
Sekali lagi, Radja mengerti. Ia hanya mengangguk kecil, lalu sepenuhnya menunduk demi memusatkan seluruh fokusnya pada kegiatan memijitnya.
“Udah jauh banget ya jalannya? Capek banget pasti,” ucap Radja tiba-tiba. Masih fokus menunduk. “Sakit banget juga, ya?”
Refleks Binar mengangguk kecil. Merasa aman menjawab dalam diam, terlebih Radja juga tidak sedang memandangnya langsung.
Tapi Radja juga sepertinya sudah tahu Binar akan meberi jawaban seperti apa, maka ia berkata lagi. “It’s okay. Coach gue selalu bilang, just feel it… and let it be.” Ada jeda sepersekian detik, sebelum akhirnya Radja mengungkapkan dengan tulus, “Give yourself a break.”
Kacamatanya Binar lepas. “Itu kata siapa?”
“Apanya?”
Lalu binar menghapus jejak basah dengan ujung lengan baju panjangnya. “Give yourself a break, dari Coach juga?”
Radja menggeleng. “Enggak, itu dari gue. Khusus buat lo.” Kali ini dia mendongak, menatap Binar tepat di kedua matanya yang kini seperti terlihat sudah lebih hidup lagi dari yang terakhir kali Radja ingat tadi. “Give yourself a break, Binar. It’s okay.”
“Makasih…” Lalu Binar mengembalikan lagi kacamata itu pada si empunya, dengan cara yang sama; dipakaikan langsung pada Radja. “Kacamatanya… it helps Binar. A lot.”
Radja hanya tersenyum kecil, lalu mendorong kacamatanya ke atas sampai tersangkut di antara sela rambut kepala atasnya. Lantas keduanya saling berpandangan tanpa ada halangan.
“Sama-sama,” balas Radja tulus. “Kalau mau pake lagi, lo tinggal bilang aja ya.”
Binar tersenyum kikuk. “Hopefully not sih ya…”
“Iya, gue juga maunya gitu kok,” angguk Radja. “But still, just in case.”
“Thank you, Radja.”
“You’ll always be welcome, Binar.”
Di antara ramainya dunia yang terus berputar dengan berbagai kesibukannya, hari itu ada tersimpan ruang khusus bagi dua remaja untuk saling bertemu dan menemukan jeda. Binar tanpa sadar telah meletakkan fondasi awalnya, sementara Radja dengan suka rela membangun dinding untuknya.
