Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-12
Completed:
2026-01-15
Words:
10,833
Chapters:
5/5
Comments:
37
Kudos:
47
Bookmarks:
8
Hits:
405

quantum entanglement

Summary:

jeonghan terlempar ke masa dimana calon suami yang ia hindari lebih muda sepuluh tahun.

Notes:

BIIIIIGGG DISCLAIMER: aku anak soshum mentok yang nggak paham fisika. please treat it as a fiction!!

Chapter 1: the anomaly

Chapter Text

 

“tunangan?!”

 

“iya, tunangan aja dulu. seenggaknya ada kepastian biar kamu nggak pacaran-pacaran terus.”

 

“ma, jeonghan tuh 32 tahun lho?”

 

“makanya! udah 32 tahun terus kamu ngga juga serius. ganti terus pacarnya sekali berapa bulan! ini tuh bukan umur cinta-cinta monyet lagi lho, jeonghan!”

 

“ya belum ketemu aja yang sreg.”

 

“semua aja nggak sreg!”

 

wanita itu mendengus lalu kembali ke adonan yang sempat ia abaikan karena putranya yang tahu-tahu muncul untuk protes. sepertinya suaminya sudah memberi kabar soal rencana pertunangannya dengan putra rekan bisnisnya yang sudah kenal baik dengan keluarga sang ayah sejak muda. 

 

“…kenapa tiba-tiba, sih, ma?”

 

“nggak tiba-tiba. kakek kamu sama kakek dia tuh temen main golf dari muda. mereka juga yang punya ide buat menikahkan cucu-cucunya kalau misalnya kalian belum ketemu jodohnya sampai rentang usia tertentu.”

 

“32?”

 

“aslinya 25. cuma mama masih ngelindungin kamu bilang kamu punya pasangan. taunya nggak jelas! sekali berapa bulan ganti udah kayak filter air!”

 

“ma, aneh banget tahun segini masih jodoh-jodohan. nggak usah lah, ma! bilangin papa—“

 

“mama udah kasih batas toleransi tujuh tahun dan kamu masih gini-gini aja. umur mama sama papa nggak makin muda dan—“

 

jeonghan meringis masam. dia sama sekali nggak nyangka kalau umur kepala tiga malah jadi umur dimana kebebasannya direnggut. jeonghan bahkan mulai pacaran dari kelas 4 SD dan nggak sekali pun orangtuanya komentar. bisa dibilang jeonghan tuh hampir nggak punya jeda dimana dia single cukup lama. makanya fakta kalau dia bakalan dijodohin gini bikin dia sakit kepala. bayangin, lelaki yang paling laku kayak dia tiba-tiba berakhir kayak orang yang nggak punya pilihan lain selain dijodohin. 

 

“mama nggak mau tahu. pokoknya minggu ini kamu ketemu dulu sama wonwoo.”

 

“…siapa?”

 

“calon tunangan kamu!”

 

“oh, itu namanya…”

 

“memang papa kamu nggak bilang?”

 

“kayaknya ada cuma keburu males bacanya.”

 

“kamu jangan kayak anak kecil gitu!”

 

jeonghan meggerutu terus iya-iya aja setelahnya. ibunya bilang si wonwoo-wonwoo itu anak baik soalnya belum pernah pacaran sekali pun. hal yang baik itu dianggap horor oleh jeonghan. dari informasi cerocosan ibunya barusan, wonwoo setahun lebih muda dari jeonghan. yang berarti … itu anak ngapain aja 31 tahun nggak mengenal cinta?

 

makanya segera setelah balik ke kamar, jeonghan langsung nyari ide gimana caranya biar acara perjodohan sepihak ini bisa batal. jelas dia nggak bisa pake alasan kerjaan karena atasannya adalah ayahnya sendiri. mengubah jadwal bukan perkara sulit untuk dilakukan di perusahaan sendiri. jeonghan yakin dia nggak bakalan cocok sama si wonwoo-wonwoo ini. dia si petualang cinta? sama orang yang nol besar pengalaman? gimana cara nyatuinnya?

 

kabur kemana, ya?

 

sahabat-sahabatnya selalu tersedia tapi keluarga mereka sama-sama kenal akrab. menemukan jeonghan bukan hal sulit kalau dia kabur ke rumah salah satu dari mereka. jeonghan jadi bete sendiri. nyadar kalau dia beneran terjebak di perjodohan yang bahkan baru dia dengar hari ini, lewat imessage.

 

kesal bikin otaknya buntu. nyadar kalau dia nggak bakal bisa mikir lebih jauh, jeonghan putuskan buat tidur. ini emang masih terlalu sore buat tidur malem tapi jeonghan beneran butuh ngeredain keselnya. apalagi obat paling mujarab dan tempat paling aman buat kabur kalau bukan alam mimpi?

 

jeonghan ganti pakaiannya lalu merangkak ke atas tempat tidurnya. saatnya lari dari dunia yang makin lama makin nggak adil padanya!

 

*

 

jeonghan bangun dalam keadaan gerah luar biasa. 

 

ia kucek-kucek matanya terus berusaha buat ngumpulin kesadaran di tengah kegelapan. punggungnya kerasa agak pegel karena nggak tahu kenapa kasurnya nggak seempuk biasanya. waktu jeonghan ngegoler ke kanan, dia teriak begitu nyadar dia udah di pinggir kasur dan tubuhnya limbung. 

 

jeonghan mengaduh sampai ke lantai. terbengong-bengong begitu sadar kasurnya jadi cuma setengah ukuran biasa. 

 

hah?

 

jeonghan langsung ngelihat sekeliling dan bingung begitu sadar dia nggak berada di kamarnya. tempat ini begitu asing dan jeonghan sama sekali belum pernah ke sini. pendingin ruangan menyala dan dia melotot begitu sadar nggak ada gunanya itu menyala karena ketika ia sudah diprotes sahabat-sahabatnya karena temperatur kamar di 25, si empunya ruangan asing ini meletakkannya di 27. 

 

alias gerah banget!

 

jeonghan coba nginget baik-baik kenapa dia sampai di sini tapi hasilnya ingatan terakhirnya adalah dia yang tidur cepet karena kesel. nyerah, jeonghan putuskan buat menginvestigasi kejadian ini. dia bangun terus nyalain lampu. saat akhirnya kamar itu terang, barulah jeonghan mengernyit waktu sadar betapa berantakannya lantai kamar ini. 

 

ada kertas-kertas hasil print dan printer yang tergeletak masih dalam keadaan kecolok di lantai. pas nengok ke kiri, jeonghan bisa lihat betapa kacaunya meja belajar tersebut dan ada mangkok bekas mie rebus yang belum dicuci di sana. di balik pintu ada baju-baju tergantung bersama jaket almamater. bikin jeonghan jadi punya clue pertama: si empunya kamar adalah seorang mahasiswa. 

 

jeonghan berjengit waktu nyadar seberapa berantakan kamar ini. pilihannya antara si empunya kamar ini orangnya emang berantakan atau kuliahnya luar biasa sibuk. yang dia nggak paham adalah kenapa kamar ini dibiarin pendingin ruangannya nyala sementara yang punya nggak ada di sini. jeonghan coba peruntungannya dengan ngebuka pintu. nihil, pintu itu terkunci dan jeonghan beneran terkurung di dalam sini.

 

“tenang dulu. tenang.” jeonghan berusaha menenangkan dirinya sendiri. ia pikir bakalan lebih mudah kalau nganggap sekarang dia lagi terjebak di escape room dan harus nyari sebanyak mungkin petunjuk buat segera kabur dari sini. dengan kesadaran baru itu, jeonghan kembali menyisir kamar anonim tersebut untuk mencari petunjuk lain.

 

“maaf, gue nggak maksud ngelanggar privasi.” bisik jeonghan waktu dia ngebuka lemari. nggak ada banyak baju di sana tapi di bagian lemari gantung, ada begitu banyak lanyard yang pas jeonghan ambil satu ternyata ada bekas identitas panitia acara kampus. jeonghan baca nama yang tertera di sana terus tertegun.

 

jeon wonwoo.

 

jeonghan mencoba mencerna informasi baru itu dengan susah payah. dia nggak ngerti kenapa mahasiswa pemilik kamar ini benar-benar sama dengan nama orang yang bakal jadi calon suaminya. bahkan ketika jeonghan ngeliat lebih banyak lagi, semuanya tertera nama yang sama.

kebetulan macam apa ini? jeonghan jadi bergidik ngeri. dia coba cari identitas lain dan ketemu satu map di tumpukan pakaian paling bawah. waktu jeonghan buka isinya ternyata dokumen-dokumen penting milik jeon wonwoo. ada pun ijazah paling tinggi adalah ijazah SMA yang berarti si pemilik kamar memang masih kuliah s1.

 

jeonghan udah dapat nama, universitas, dan dari salah satu tanda pengenal ada penunjuk bahwa wonwoo adalah mahasiswa jurusan fisika. satu hal yang bikin jeonghan bingung adalah nomor induk mahasiswanya. seinget jeonghan, empat digit pertama adalah tahun masuk mahasiswa tapi yang tertera adalah 2012 yang berarti itu sekitar 13 tahun lalu. sebangkot-bangkotnya mahasiswa, harusnya mereka sudah ditendang di semester 13, bukan tahun ke-13!

 

mungkin beda aturan kampus. jeonghan balikin map itu ke tempat asalnya. dia tutup lemari pakaian itu dan mulai beranjak ke meja belajar. jeonghan baru sadar ada kalender meja di sana jadi dia cek siapa tahu ada penanda atau catatan kecil yang bisa jadi petunjuk–sebentar.

 

“kenapa kalendernya tahun 2015?” jeonghan angkat kalender itu dengan bingung. sekarang udah tahun 2025 terus orang ini masih bertahan dengan kalender yang harusnya udah nggak kepake lagi.

 

jeonghan terlalu sibuk dengan penemuan barunya sampai nggak sadar kalau pintu kamar itu terbuka kuncinya lalu daun pintunya mengayun terbuka. ia langsung ngangkat kepala dan bertemu mata dengan seseorang bertubuh tinggi, berkacamata bingkai hitam, rambut acak-acakan dan wajah luar biasa lelah.

 

“...kamu siapa?”

 

jeonghan yang masih megangin kalender bukannya ngejawab malah nanya balik. “sekarang tahun berapa?”

 

“hah?”

 

“jawab aja sekarang tahun berapa!”

 

“...2015.”

 

jeonghan melotot horor. pegangan di kalender terlepas dan ia terduduk. darahnya berdesir begitu dia menyadari kalau dia baru aja terlempar ke sepuluh tahun lalu di kamar seseorang yang begitu ingin ia hindari di masa depan.

 

di depannya, ada jeon wonwoo yang lebih muda sepuluh tahun.