Work Text:
Hidup.
Tetap hidup.
Masih hidup dan bernapas.
Acap bertahan kendati hidup terlampau menyakitkan untuk dijalani.
Luka, hiduplah dengan cinta.
Kalimat itu acap terapal dalam benaknya bagaikan seutas doa dalam setiap helaan napas. Empat puluh tahun hidup layaknya seonggok boneka belum terasa cukup. Kendati ada masa-masa di mana secercah cahaya itu ada dalam gelap gulita semestanya, tatkala eksistensi Hyuna hadir sebagai satu-satunya putih di antara seluruh kungkungan warna hitam; empat puluh tahun belum cukup baginya untuk belajar—kata semesta.
Luka ingat bagaimana rasa sakit yang ia alami sebelum mati. Tentu, seumur hidup ia selalu hidup dengan serangkaian rasa sakit yang ada secara alamiah maupun paksaan. Ia kerap diajarkan bagaimana caranya menghadapi seluruh rasa sakit itu selama puluhan tahun. Rasa sakit seolah-olah telah menjadi bagian dari identitasnya sehingga ia nyaris mati rasa. Kendati begitu, terdapat perbedaan yang cukup signifikan pada rasa sakit sebelum kematian.
Kala itu, Luka hanya mampu mengingat senyum Hyuna. Ia mendambakan sebuah reuni. Ia telah menyiapkan rentetan kata maaf yang tak pernah sampai usai kepergiannya. Ia ingin berkata padanya bahwa ia telah belajar, ia tetap bertahan hidup hingga umurnya habis, dan ia selalu mencintainya tanpa henti. Luka ingin mengatakannya, bahwa ia telah mengabulkan permintaan terakhir wanita itu; bahwa hingga mati pun perasaan cinta itu tidak pernah gugur.
Luka menyambut kematiannya dengan seulas senyum kendati rasa sakit menggerogoti tubuhnya tanpa ampun. Mungkin rasa sakit itu adalah bayaran yang setara untuk reuni panjangnya setelah ini; mungkin Hyuna akan memberinya maaf; mungkin ia akan selamanya berada dalam rengkuh peluk Hyuna yang acap ia rindukan.
Luka ingin memercayai segala probabilitas itu. Bahwa ada surga yang menunggunya di sana, dan surga itu adalah Hyuna.
Namun, surga itu tak pernah diperuntukkan pada para pendosa.
Orang-orang di sekeliling Luka kerap berkata, bahwa sosok yang terlahir lemah seperti dirinya kemungkinan besar akan berumur pendek dan lebih cepat menemui kematian.
Luka berharap bahwa realitasnya benar-benar seperti itu.
Pada kenyataannya, semesta tak mengizinkannya untuk mati. Hanya saja, identitasnya berubah total. Di kehidupan sebelumnya, Luka merupakan sosok Pangeran Panggung yang dicintai di dunia alien. Ketika terlahir kembali, Luka mendapati bahwa ada dunia baru yang menjadi tempat di mana ia akan menyambung umurnya—atau kembali memulainya dari nol.
Tempat itu adalah Bumi, yakni planet yang sejak dulu acap disebut-sebut sebagai tempat tinggal para manusia sebelum diinvasi alien. Planet yang hanya bisa ia lihat dan pelajari melalui lembar halaman buku, planet yang pernah membuat mata Hyuna berbinar penuh harap tatkala mempelajarinya, secara bersamaan menjadi salah satu dari seribu alasan mengapa Hyuna pergi meninggalkannya.
Kali ini, umur Luka telah menginjak enam belas tahun usai terlahir kembali menjadi penduduk Bumi.
Konsep kemanusiaan di muka bumi terlampau asing baginya. Hal yang serupa ialah bagaimana asal-usul bayi yang terlahir. Mereka dihasilkan dari proses pembuahan antar lawan jenis. Di kehidupan Luka yang sebelumnya, sang pemilik sel sperma serta sel telur disebut sebagai provider. Sementara itu, 'ayah' dan 'ibu' ialah sebutan bagi segyein yang memiliki manusia piaraan. Namun, di Bumi, manusia menyebut sepasang manusia yang saling membuahi tersebut sebagai orang tua—ayah dan ibu.
Tidak ada diet ketat, tidak ada eksperimen jantung ataupun segala macam bentuk operasi, dan tidak ada satu pun kamera pengintai di kamarnya. Luka masih tetap terlahir dengan penyakit jantung bawaan, kendati begitu ia hanya perlu rutin melakukan pemeriksaan ke rumah sakit dan minum obat dengan teratur. Kedua orang tuanya tidak pernah menyuruhnya untuk mengontrol denyut jantung—kendati secara tak sadar ia masih kerap melakukannya—ataupun meminta dirinya masuk ke sebuah ruang yang dipenuhi oleh alat-alat medis menyeramkan yang akan menghentikan denyut jantungnya secara paksa. Ia hanya diminta untuk belajar giat dan mempertahankan prestasi dengan nilai yang sempurna. Jika nilai-nilainya turun, besar kemungkinan ia akan mendapat murka dari mereka. Hanya itu saja yang serupa dari kehidupannya di masa lampau. Rasanya masih cukup baik ketimbang apa yang selama ini ia lalui selama puluhan tahun di kehidupan sebelumnya.
Namun, tidak pernah baik kehidupan sebelumnya. Sebab, di dunia itu, ia tidak pernah menemukan sosok seperti Hyuna lagi.
Mungkin sudah seharusnya seperti itu. Ia bukan sosok yang pantas untuknya. Terlalu banyak kebaikan yang pernah ia terima dari Hyuna, dan ia mendustainya dengan kematian Hyunwoo di tangannya, pun membiarkan wanita itu mati hanya untuk melindungi seonggok nyawa tak berharga yang tetap bertahan hidup hanya karena mendambakan pertemuan mereka. Sebab, usai kematian Hyuna, Luka bagaikan seonggok cangkang kosong yang hanya hidup karena masih bernapas—dan hanya untuk mengabulkan permintaan terakhir Hyuna. Ia tidak pernah hidup atas keinginannya sendiri.
Luka sang Pangeran Panggung tak ubahnya dengan Luka yang hidup sebagai penghuni Bumi. Tetap hidup karena masih bernyawa, belajar dengan tekun untuk memenuhi ekspektasi tinggi dari kedua orang tuanya, menjalani segala keseharian itu dengan teratur karena semesta telah menghendakinya demikian.
Seperti sekarang ini, ketika manusia menginjak enam belas tahun, maka jenjang pendidikan akan lanjut ke tahap yang lebih tinggi. Orang-orang menyebutnya sebagai Sekolah Menengah Atas. Hal itu seolah-olah telah menjadi hukum tak tertulis di atas muka bumi; sebuah keharusan yang wajib dilaksanakan oleh setiap manusia yang hidup di sana.
Luka acap membenci keramaian. Tak pernah sekali pun ia mampu mengakrabkan diri pada sosok-sosok asing yang berlalu-lalang di sekitarnya. Ia sudah terlampau penat hidup menjadi tontonan dengan wajahnya yang dipasang di segala tempat; tampil di hadapan mereka semua untuk menghibur mereka. Ia benci mendengar sorak-sorai yang diperuntukkan padanya hanya karena mereka semua mengaku bahwa mereka mencintainya. Di dunianya yang baru, Luka sering melihat hal yang serupa. Ada yang dinamakan selebritas dan juga penggemar. Kerumunan yang bersorak 'penuh cinta' itu bukan lagi para alien, namun para manusia itu sendiri—yang menamai diri mereka sebagai penggemar selebritas.
Sebab itulah, Luka memilih untuk berjalan di lorong kelas yang tidak terlalu ramai. Kendati tidak tepat pula bila disebut sepi, namun setidaknya suara-suara berisik itu hanya sayup-sayup terdengar. Hari pertama di sekolah baru sama sekali tak pernah berkesan baginya. Sebab, yang berganti hanya gedung; perabotan kelas; dan guru-guru yang mengajar. Selebihnya tidak berubah. Ia tetap akan dituntut untuk menjadi nomor satu di antara semua orang. Bila nasibnya kurang beruntung, mungkin ada beberapa orang yang iri hati akan mengganggunya, atau menggosipkan dirinya dengan sebutan 'kutu buku' atau 'pecundang pintar yang pelit ilmu'.
Luka sama sekali tak peduli. Ia telah mengalami terlampau banyak hal yang lebih menyiksa ketimbang perkara remeh-temeh semacam itu.
Sebelum menemukan ruang kelasnya, Luka sejenak mengedarkan tatapan pada pemandangan di sekitarnya. Dinding sekolah barunya berwarna putih berubin kayu mahoni. Siswa-siswi sepantarannya mengenakan pakaian seragam bertemakan musim panas.
Sosok lelaki berambut hitam di hadapannya berjalan seraya memainkan ponsel, kemudian gadis berambut hitam sebahu serta gadis berambut merah muda saling berpegangan tangan di depannya—ketiganya agak familier, namun Luka tak mampu mengingat jelas siapa mereka. Luka mengerling sejenak ke arah kiri; secara bersamaan jantungnya berdebar tatkala mendapati lelaki berambut kelabu yang wajahnya menyerupai lawan finalnya di Alien Stage musim ke-50.
Mungkin hanya kebetulan.
Luka kembali menggenggam tali ranselnya; mengatur napas. Kendati begitu, sebelum ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain, sosok gadis jangkung berambut cokelat muncul dari sisi kiri lelaki berambut kelabu tersebut. Kepalanya menoleh ke belakang; tersenyum lebar pada sosok lain yang berada di belakang sana—Luka tidak peduli pada siapa gadis itu melempar senyum—kemudian membenahi tali ranselnya yang nyaris turun dari bahu.
Roman itu terlampau familier; wajah yang selalu menghantuinya di setiap mimpi dan kontemplasi; senyum yang serupa seperti milik sosok yang selalu hadir dalam benak Luka.
Hyuna.
Sosok yang di kehidupan sebelumnya pernah menjadi sosok malaikat penyelamat dari serangkaian derita yang acap ia lalui; sosok yang selalu ia cintai tanpa kenal lelah. Suaranya bahkan benar-benar persis seperti malaikatnya itu. Luka tidak mungkin salah, wujudnya terlampau nyata untuk disebut sebagai fatamorgana.
Dia benar-benar Hyuna.
Luka sang Pangeran Panggung—sang pangeran bodoh yang menyebabkan sosok yang paling ia cintai itu kehilangan nyawa—mungkin tidak akan berpikir panjang untuk berlari dan menghambur ke dalam dekapannya bila melihat kehadiran sosok itu. Luka telah berjanji padanya untuk tetap hidup, bertahan walau menyakitkan, bernapas kendati terlampau menyesakkan.
Mungkin Hyuna tak mengenalinya. Bisa saja, ini adalah kesempatan kedua yang diberikan semesta padanya untuk menebus dosa. Namun, Luka memilih untuk tak melakukan kontak apa pun—mengalihkan tatapan; berpura-pura bodoh; menyembunyikan wajahnya di balik tudung jaket yang segera ia naikkan ke kepalanya.
Ia bukan orang yang pantas untuk bersanding dengan Hyuna. Sebab, bagi Luka, eksistensi dirinya sama sekali tak berarti. Di kehidupan masa lalu, ia menjadi penyebab kematian Hyuna. Di kehidupan masa kini, barangkali akan lebih baik bagi Hyuna untuk sama sekali tak mengenal dan menyadari eksistensi Luka.
Seharusnya seperti itu; agar Hyuna-nya hidup dengan baik, agar Hyuna selalu berumur panjang, agar tiada sosok parasit yang akan membuat Hyuna menderita. Luka telah belajar usai kepergiannya, pun usai mempelajari segala hukum dan aturan yang berlaku di muka bumi. Tentu ia memahami apa makna dari eksistensinya dalam hidup Hyuna.
Tidak berguna, pembawa sial, pembunuh.
Tanpa sadar, sebulir bening air mata jatuh membasahi wajah Luka. Ia pernah diajarkan untuk mengontrol emosi dan tentu ia lebih dari sanggup untuk melakukannya. Namun, pengecualian bila emosi itu berkaitan dengan Hyuna. Ia hanya akan menjadi sosok pecundang yang lemah di hadapan cinta. Sebab, hanya di hadapan cinta, segala bentuk sempurna yang acap ditemukan oleh semua orang dalam dirinya akan luruh dan menelanjanginya, hingga hanya sosok Luka yang lemah dan tak berdaya yang mampu terlihat.
Maka itulah, untuk pertama kali dalam hidup Luka, ia memilih untuk menjadi tak terlihat di hadapan Hyuna.
Tidak banyak yang berubah dari Hyuna.
Ia masih menjadi sosok yang dicintai oleh banyak orang. Acap tersenyum lebar acapkali menanggapi siapa pun yang tengah berbicara padanya. Adik kembarnya—Hyunwoo—masih hidup dengan baik. Luka diam-diam acap mengamati mereka kendati hal yang ia lakukan hanya melirik dan menjadi pengamat dari kejauhan.
Tawa dan senyum itu tak pernah sirna dari wajah Hyuna. Tak seperti ketika Hyuna mengenalnya, ia akan menampilkan wajah sendu bercampur benci—kendati raut apa pun yang terukir di wajah Hyuna tetap cantik di mata Luka. Bersamanya, ia lebih banyak menangis ketimbang tertawa lebar seperti sekarang ini.
Mungkin cukup seperti itu saja.
Biarlah Luka yang mengingat kenangan pahit itu seorang diri. Biarkan Hyuna tersenyum dan tetap bahagia dengan kehidupannya yang penuh warna warni tanpa dijamahi Luka sama sekali. Sebab, Luka hanya memiliki warna hitam dalam hidupnya. Ia tak ingin mencemari segala pancarona itu dengan warna hitam yang ia miliki.
Sampai ketika, salah seorang teman sekelasnya—Luka tak ingin menyebutnya sebagai seorang teman—menyadari bagaimana cara Luka menatap.
"Kamu mengenalnya?" Begitu tanyanya tatkala Luka tengah terpaku memandangi Hyuna dari balik kaca jendela kelas. Ia tengah meniup balon dari permen karet yang ia kunyah, kemudian salah seorang teman lelakinya menusuk balon permen karet tersebut hingga Hyuna balas memukul pantatnya.
"Atau ... kamu suka padanya?"
Luka dengan cepat menggeleng; pura-pura kembali menyibukkan diri dengan kegiatannya; dan tak ingin membahas apa pun mengenai Hyuna lebih lanjut. Ia tidak pernah tahu tatapan semacam apa yang bisa dilihat oleh orang lain tatkala ia menatap Hyuna. Luka hanya berharap ia tidak memperkarakan hal itu hingga terdengar sampai ke telinga Hyuna.
Sebab, Luka tak ingin lagi terlihat olehnya.
Mungkin Luka telah bersembunyi dengan cukup baik. Namun, bukan tanpa alasan yang jelas bila Luka kerap membenci eksistensi manusia.
Hyuna adalah pengecualian. Ia bukan hanya sekadar manusia belaka, namun seorang malaikat.
Luka selalu menjadi sosok yang tak disukai oleh siswa-siswi sepantarannya. Pada awalnya, mereka mencari perhatian Luka karena tertarik pada paras wajahnya yang lugu dan menggemaskan. Namun, hal itu tak berangsur lama. Luka sengaja untuk tak memberikan imbal balik yang setara dan hanya fokus pada apa yang diharapkan kedua orang tuanya selagi ia masih menyandang status sebagai seorang pelajar—menimba ilmu; menjadi nomor satu; memperoleh prestasi yang sempurna.
Lagi-lagi, keberuntungan tak berpihak padanya.
Luka memiliki buku catatan yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Namun, seusai jam makan siang, ia tidak menemukan buku catatannya di mana pun. Buku itu lebih penting daripada nyawanya sendiri. Sebab, itu adalah satu-satunya media di mana ia mengingat setiap detail acapkali ia memperhatikan Hyuna dari kejauhan. Ia akan menuliskan apa pun yang ia lihat kala itu; dari warna ransel yang ia kenakan, bentuk ikat rambut yang ia pakai, hingga dengan siapa saja Hyuna berbicara. Bila ditimbang melalui hukum dan aturan tak tertulis sebagai penghuni planet Bumi, sikap seperti itu nyaris atau bahkan mampu ditindak dalam ruang pengadilan sebagai kasus penguntitan. Namun, Luka tidak berniat apa pun selain hanya ingin merekam segalanya bila berbekalkan memori saja tidak cukup untuk mengingat semua hal itu. Tidak akan ada yang bisa memahami hal itu dan oleh sebabnya buku itu amat penting daripada nyawanya sendiri.
Ia tahu, komplotan yang biasa mengganggunya diam-diam tertawa menyaksikan dirinya mondar-mandir di kelas karena kehilangan barang. Akan lebih mudah bila Luka menanyakan lokasi buku catatannya pada mereka, kendati bayarannya ialah tonjokan di pipi atau dikurung di dalam toilet. Sebab, terlalu jelas bahwa pelakunya adalah mereka.
Namun, Luka adalah tipikal yang lebih memilih untuk mengambil jalan berkelok-kelok ketimbang mengambil jalan pintas.
Sampai ketika, pintu kelas pun terbuka. Ketika atensi Luka terpusat ke arahnya, ia menemukan sosok Hyuna yang tengah menggenggam buku itu seraya bertanya, "Apa di sini ada yang bernama Luka?"
Sungguh, Luka berharap agar Tuhan segera mencabut nyawanya detik ini juga.
Atap sekolah seumpama tempat di mana Luka pertama kali mengenal Hyuna di masa lampau. Setiap sudutnya ditemboki dinding putih; cukup menengadahkan kepala saja maka mata akan langsung bersitatap dengan antariksa. Bedanya, tidak ada hamparan rerumputan dan pepohonan palsu, dan pemandangan di luar sekolah lebih tampak sebab tembok-tembok tersebut hanya setinggi dada. Dari atas sana, kesibukan di jalan raya tampak begitu kentara dari padatnya lalu lalang kendaraan, dari sudut lain tampak para pejalan kaki yang keluar masuk dari restoran, juga sang pengantar paket bertopi merah yang mengendarai motor di pinggir jalan.
Sementara Anakt Garden tidak pernah menampilkan pemandangan di dunia luar, hanya ada hamparan rumput palsu, bunga palsu, kolam dan ikan buatan, dan langit palsu. Kendati begitu, mereka akan sesekali melihat langit yang nyata tatkala salju-salju berjatuhan dari atas sana. Gemerlap bintang tampak indah acapkali salju berjatuhan. Luka ingat bahwa sejak kematian Hyunwoo, Hyuna acap membenci butiran salju. Ia akan meringkuk dan diam-diam menangis acapkali salju turun. Waktu demi waktu acap berlalu, dan Luka belajar bahwa salju itu juga palsu. Realitasnya, salju-salju itu ialah kepingan abu sisa pembakaran jasad manusia yang telah mati.
Siang itu, Hyuna meraih dan menggenggam tangannya erat; mengajaknya berlari mendaki rentetan anak tangga; tak mengindahkan bagaimana ritme napas Luka yang mulai terputus-putus sebab jantungnya yang lemah dipaksa untuk bekerja lebih keras untuk mendaki anak tangga dari lantai satu hingga lantai keenam. Luka tidak protes ataupun meminta Hyuna untuk memperlambat lari. Sebab, bila orang itu adalah Hyuna, maka Luka akan selalu siap mati kapan saja untuknya.
Luka melihat nyala api yang berkobar dari cara Hyuna menatap. Namun, Luka tidak tahu harus menuturkan alasan apa agar gadis itu tidak menganggapnya sebagai penguntit menyeramkan. Sudah cukup ia dikatakan gila dan sakit tatkala berkata pada kedua orang tuanya bahwa ia berasal dari planet lain dan hidup sebagai piaraan alien.
Atap gedung sekolah menjadi tempat di mana Hyuna mengajaknya bicara untuk pertama kali. Kendati Luka telah berjanji pada diri sendiri untuk menjadi tak terlihat di hadapan Hyuna, namun jauh di lubuk hati Luka ia amat mendambakan pertemuan seperti ini—berdua saja, tanpa seorang pun yang datang mengganggu.
Gadis itu memojokkan tubuhnya ke dinding; mulai berbicara padanya kendati yang terdengar di telinga Luka hanya sayup-sayup. Luka hanya mampu menatap Hyuna yang komat-kamit di depannya, sebab gendang telinganya hanya mampu mendengar degup jantungnya yang berdebar-debar serta deru napasnya yang berat dan terengah-engah. Kendati pandangannya tak konsisten antara fokus dan mengabur, Luka ingin berkata bahwa Hyuna tampak cantik di matanya. Acapkali pandangannya mengabur, Luka segera mengerjap seraya menarik napas panjang. Ia tak ingin momentum itu terlampau cepat ditelan kegelapan.
"Kamu ... mirip seperti seseorang yang pernah kukenal," tutur Luka lirih, seolah-olah mampu menebak kalimat apa yang baru saja diutarakan Hyuna padanya kendati ia tak mendengar barang satu kata pun. "Terlalu mirip ... hingga kupikir ia hidup kembali."
"... apa?"
Luka kembali menarik napas dalam-dalam, ia mulai mampu menemukan ritme yang teratur untuk mengatur napas kendati peluh nyaris sepenuhnya mengguyur tubuh.
"Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud buruk."
Pelan-pelan, pandangannya kembali fokus. Bersamaan dengan hal itu pula, air mata Luka lantas terjatuh. Luka segera mengusapnya, namun ia mulai terisak hingga air mata itu mengalir dengan lebih deras.
"Hei—" Hyuna segera mencengkeram kedua pundak Luka; menatap dwimanik keemasan itu lekat-lekat, "aku hanya bertanya mengapa kamu diam-diam menguntitku. Mengapa sekarang kamu menangis seolah-olah aku yang telah bersikap jahat?"
Lantas Luka menggeleng keras, kepalanya tertunduk lesu kendati air mata tak kunjung berhenti mengalir dari kedua pelupuknya.
"Bukan—bukan begitu ...," tutur Luka dengan suara bergetar, pundaknya naik turun tak teratur acapkali terisak. "Aku ... hanya rindu padanya. Ia bagaikan keseluruhan dari diriku, dan kamu ... terlalu mirip dengannya, bahkan namamu pun sama persis."
Tidak ada satu pun alasan yang terdengar masuk akal. Namun, hanya itu yang mampu Luka katakan sejujurnya tanpa kebohongan. Sementara itu, Hyuna tergugu, terlampau bingung untuk merespons penjelasan yang tak berlogika itu.
"Kurasa ada yang salah dengan kepalamu," tukas Hyuna kemudian, "buku ini tidak akan kukembalikan, dan jangan lakukan hal seperti ini lagi."
Luka mengangguk lemah, bibirnya membentuk seulas senyum getir.
"Maaf ... maaf karena di kehidupan mana pun aku berada, aku selalu gagal menjadi manusia. Maafkan aku ...."
Luka kerap membenci eksistensi manusia, dan sosok manusia yang paling ia benci ialah dirinya sendiri. Cukup sekali ini saja, mungkin memang sudah seharusnya Hyuna membencinya.
Aku membutuhkanmu.
Tolong, peluk aku seperti bagaimana yang selalu kamu lakukan saat dulu.
Belai wajahku dan katakan bahwa aku berarti untukmu.
Kalimat-kalimat itu tersangkut di kerongkongannya tanpa sanggup terucap. Memori masa lampau tidak ada dalam ingatan Hyuna, dan itu adalah hukuman yang pantas untuk ia terima.
"Luka."
Hyuna mencengkeram bahunya pelan. Ia menyesap bibirnya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Kamu ... apa kata-kataku barusan sangat menyakiti hatimu? Apa benar ... bahwa aku mirip dengan seseorang yang sangat penting bagimu?"
Hyuna melihat dengan jelas bagaimana cara Luka menatap. Matanya dipenuhi duka, rasa rindu, dan penyesalan. Sorot matanya terlampau dipenuhi oleh serangkaian kesedihan untuk ukuran remaja sebayanya. Kemudian, dari cara Luka berbicara, suaranya terlampau lirih. Seolah-olah ada begitu banyak rasa takut yang dipendamnya seorang diri.
Hyuna menuduhnya sebagai seorang penguntit, dan Luka sama sekali tak membantah tuduhan tersebut. Namun, seolah-olah ia melakukannya bukan karena ingin, namun karena butuh.
Luka menggeleng sebagai jawaban atas ucapan Hyuna. Ada dua kalimat tanya yang Hyuna ajukan padanya, entah isyarat 'tidak' itu untuk menjawab pertanyaan yang mana.
"Kamu tidak pernah menyakitiku, sama sekali tidak," lirihnya pelan, "kalau kamu tidak suka, aku tidak akan pernah mengulanginya. Kamu ... boleh meminta apa pun. Kalau setelah ini kamu tidak mau melihatku lagi untuk selamanya, aku akan mengabulkannya. Apa pun ... asal kamu tidak membenciku."
Kedua mata keemasan Luka berlinang lagi. Kendati begitu, ia tetap memaksakan seulas senyum kala menatap Hyuna.
"Luka—"
Di waktu yang bersamaan, Luka kembali membuka suara hingga ucapan Hyuna terputus.
"Atau ...." Luka menarik napas panjang, kemudian berkata, "... memang sudah seharusnya ... aku tidak perlu muncul di kehidupanmu."
Luka kembali tersenyum, kali ini senyumnya lebih manis kendati ada banyak rasa sakit yang ia pikul di baliknya.
"Luka, aku ... bukan seperti itu maksudku. Jika kamu memang ingin berteman denganku, aku tidak akan menolak. Maaf karena telah membuatmu berpikir demikian. Aku sama sekali tidak membencimu."
Lantas, Luka sejenak membisu. Lekuk senyum di bibirnya memudar. Namun, diam-diam ia mengembuskan napas lega. Hanya dengan mendengar Hyuna berkata bahwa ia tidak membencinya cukup membuat sebagian kecil perasaan berat di dadanya berangsur luruh.
"Di kehidupan masa laluku, kamu mati dalam pelukanku," ucap Luka lirih. "Kamu bukan hanya sekadar mirip ... tapi seolah-olah, aku melihat kamu bangkit dari kematian."
Lagi-lagi, Luka membicarakan hal-hal yang tak mampu Hyuna tafsirkan dengan logika. Bagi Hyuna, reinkarnasi adalah sebuah konsep yang hanya bisa terjadi di dunia fiksi belaka. Namun, raut wajah itu terlampau sendu dan tersiksa kala mengatakannya. Seolah-olah, ia benar-benar telah mengalami dan menyaksikan sendiri hal itu.
"Karena itu, aku berpikir bahwa seharusnya aku tidak muncul lagi dalam kehidupanmu. Namun, hari ini kamu telanjur menangkap keberadaanku; tahu siapa namaku; dan bagaimana rupa wajahku. Keberadaanku ... tidak akan pernah memberikanmu takdir yang baik. Oleh karena itulah, biarkan aku sepenuhnya menghilang dari kehidupanmu, Hyuna."
Luka mulai berpikir tentang pindah sekolah kendati ia tidak tahu apakah kedua orang tuanya mengizinkan. Bila ia tidak mendapat izin, mungkin Luka akan menggunakan cara lain agar ia tak perlu mengontaminasi jalan kehidupan Hyuna ke depannya. Mungkin dengan benar-benar menghilang untuk selamanya, dan ia akan dipertemukan dengan sosok Hyuna yang acap ia rindukan dalam setiap helaan napas.
Untuk pertama kalinya, Luka beranjak meninggalkan Hyuna. Bukan karena dipaksa seperti bagaimana semasa itu waktu cukup terbatas untuknya. Beragam eksperimen harus ia jalani, dan waktu-waktu yang hendak ia habiskan bersama Hyuna selalu berakhir dengan dirinya digeret paksa oleh bawahan-bawahan Heperu. Kali ini, Luka pergi atas keinginannya sendiri—keinginan untuk melindungi Hyuna dari takdir buruk bila Luka ada dan masuk ke ruang lingkup kehidupan Hyuna.
Luka tak mengatakan rentetan kalimat yang amat ingin ia sampaikan untuknya. Ia memang Hyuna. Dari caranya tersenyum, caranya berbicara, dan juga caranya hadir—Luka mengenali segala hal tentangnya. Namun, ia sepenuhnya merupakan penduduk Bumi seperti mimpinya di kehidupan masa lalu—bukan lagi sebagai piaraan alien, namun benar-benar penduduk Bumi yang berjiwa bebas.
Aku mencintaimu sejauh Neptunus mengorbit mentari; aku mencintaimu sebesar jutaan tahun cahaya; dan bentuk cinta itu seluas galaksi yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa. Sebab, di kehidupan mana pun ... aku akan selalu mencintaimu tanpa syarat, tanpa henti, bahkan hingga kehidupanku berakhir ... cinta itu akan selalu abadi sepanjang masa.
