Work Text:
“Lagu itu lagi? Pathetic!” katanya.
Ah! Bibirku … Disentil. Oke, maaf—aku tidak tahu dia melihatku membuat mimik mengejek ucapannya. Lagipula, sudah bukan hal asing, kelakuannya itu. Tangannya memang sedikit ringan, tapi aku tidak peduli. Lakukan lagi! Aku tidak keberatan.
Meski masih terasa nyeri sedikit, kupaksakan mengucap tanya sebelum kenampakannya lenyap dari pandang, “pergi kemana?”
Katanya, dia akan berangkat ke suatu tempat yang gelap dan kedap suara. Aku hanya menautkan kedua alisku sebagai respon. Katanya lagi, dia pergi dengan seorang teman. Iya, TEMAN.
Ketika aku berpesan untuk tidak terlalu lelah, dia mengernyit dan mengucapkan: “Lee Leo, all I have to do is lay my ass down and enjoy the movie.”
Tidak menunggu apapun lagi, presensinya betulan hilang dari pandanganku. Bagus. Sekarang rasa nyeri itu turun ke sesuatu yang lain di balik tulang rusukku.
Lalu apa yang harus aku lakukan selagi menunggu kepulangan pujaan hati yang bersenang-senang dengan pria lain? Aku tidak bisa membiarkan kepalaku menayangkan bagaimana dirinya terhibur oleh film romansa komedi sembari bertemu pandang dengan pria itu. Atau … bagaimana jika dia dikejutkan oleh adegan di film horor dan spontan memeluk pria itu? AAAAH, aku frustasi! Aku juga ingin menonton bioskop dengan Sangwon!
♪ Dengarkanlah diriku, wahai kekasihku! Kau sangka aku cemburu, tapi itu memang hakku … ♪
Bukan. Bukan! Astaga, kalian tidak mengerti betapa aku berharap lagu itu bercerita tentangku! Mau berapa kali pun kata pathetic terucap dari mulutnya, aku tidak peduli. I’m even worse than that.
♪ … Karena kau adalah kekasihk– ♪
Cukup.
Tidak mau dengar lagi. Lagu itu bukan tentang aku. Sangwon bukan kekasihku! Tidak mau dengar lagi. Lagu itu bukan tentang aku. Sangwon bukan kekasihku! Tidak mau dengar lagi. Lagu itu bukan tentang aku. Sangwon bukan kekasihku!
Per hari ini, sudah ratusan kali kudengar nama teman Sangwon keluar dari bibir manis—kelihatannya—itu. “Hari ini ke mall dengan Geonwoo!” “Besok Geonwoo mampir!” “Lusa membeli hadiah untuk keponakan Geonwoo!”
Geonwoo, Geonwoo, Geon–
Oke, stop. Aku ngeri sosoknya muncul di bayangan cermin. Atau … aku perlu kenakan lilin juga? Bercanda. Aku hanya membuka nakas untuk mengambil pisau cukur. Aku tidak mencari lilin.
Sepertinya mata pisau cukur milikku—dan Sangwon—sudah tumpul. Bagaimana kalau aku agendakan sesi “Belanja Bersama Sangwon” untuk mengganti pisau cukur? Apakah temanmu mengajakmu pergi kemana pun satu minggu dua kali? Waktu luang Sangwon habis dibabat temannya itu. Oh, iya! Sejauh yang kuingat, persediaan tisu toilet sudah menipis. Apakah temanmu menelepon setiap malam? Kualitas tidurku mulai turun akibat terlalu banyak mengonsumsi dialog mereka. Kalau begitu, bukankah “Belanja Bersama Sangwon” merupakan ide cemerlang?
Tahu, tidak? Sangwon tidak pernah absen membagikan ceritanya begitu ia kembali dari agendanya bersama orang itu. Setiap kali dia melakukannya, isi perutku seperti memberontak, mungkin ingin dibebaskan. Jangan salah paham, aku suka Sangwon, pun dengan cerita-ceritanya—tapi tidak untuk yang berbau temannya itu.
Apa boleh buat? Setidaknya aku menjalankan peran sebagai teman sekamarnya dengan baik.
Tunggu, dipikir-pikir, aku jadi tidak nyaman dengan kata itu.
Oh, iya! Sangwon senang mengingat hal-hal unik yang ia temui dalam agendanya, mulai dari hal tidak berkesan hingga dosa orang asing yang kurasa tidak akan enyah dari sudut otaknya. Soal ini, aku sedikit banyak bersyukur. Sangwon punya banyak ekspresi ketika berbagi cerita, dan aku rajin berdoa supaya Geonwoo terhindar dari pengalaman untuk menyaksikannya.
Ngomong-ngomong, berapa jam yang sudah kuhabiskan untuk bernarasi? Sebentar lagi, bencana rutin akan melanda. Biasanya, Sangwon akan menceritakan dongengnya dengan antusias, kemudian merajuk ketika aku iseng melempar tanya: “Apakah Geonwoo menyatakan cinta hari ini?”
Tapi tidak dengan kali ini. Lee Sangwon mogok bicara.
Terlalu banyak kemungkinan bermunculan di kepalaku. Apakah filmnya tidak menarik? Apakah cemilan yang dia makan tidak sedap? Atau Geonwoo membuatnya kesal? Jangan-jangan, Geonwoo meninggalkannya di bioskop?! Hold up, yang satu itu gila.
“Geonwoo bilang dia suka padaku,” ucapnya, seolah dia bisa membaca pikiranku.
Sebentar, apa katanya?
… Oh.
Sudah ribuan kali aku mengatakan hal yang sama: “Geonwoo suka padamu” tapi Sangwon tidak pernah percaya—dan tentu saja, kata “aku suka padamu” yang hanya muncul satu kali dari mulut Kim Geonwoo langsung membuat Sangwon percaya.
Ck, tapi bukan itu masalah utamanya, sialan. Aku yang seharusnya menyatakan perasaanku lebih dulu!
