Actions

Work Header

The Light That Never Goes Out

Summary:

Cmn cerita karangan sendiri tentang The Beatles yang masuk kompetisi musik yang mematikan:)

(a "pilot" for my bigger AU)

Notes:

AU where The Beatles is a band with little to no fans and they participated in some Squid Games ahh competition where they have to compete against other bands to get to the top. Might expand it, might not.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Kamu siap?" Tanya John, sambil menatap temannya.

"Aku siap kalau kamu siap." Paul senyum pahit.

Dia tau, John tau, dan George dan Ringo tau apa yang akan terjadi. Kalau mereka tidak menang, mereka akan mati.

Lagu "There is a Light that Never Goes Out" ciptaan karya The Smiths adalah lagu yang romantis dan puitis. Tapi di malam ini, makna lagunya akan menjadi lebih sedih daripada romantis.

Empat pria tersebut naik ke atas panggung, memegang alat musik mereka (kecuali Ringo, yang memegang stik drum). Mereka langsung gugup dan tegang melihat bekas darah yang ada pada drum di atas panggung tersebut. "Jangan tegang, rileks aja." Mereka bilang ke diri sendiri. George dan Ringo memulai tampilan mereka, dan Paul melanjutkannya dengan memetik sinar bass. John langsung nyanyi mendengar getaran dari basnya Paul.

"Take me out... Tonight..." John melihat layar di atas panggung, yang menampilkan stats mereka.

Setetes keringat meluncur dari samping dahinya John ketika dia melihat bawa nilai mereka yang dari 100 jadi 97 karena John kecepatan nyanyi. "Aduh, bego..."

"Driving in your car, i never ever want to go home..." John mencoba melihat kepada arah penonton, tapi bagaimana lagi? Karena Ringo tegang, dia main drums nggak benar. Nilai yang tadi dari 97 sekarang jadi 90. Paul melihat nilai tersebut dan langsung memberikan aba-aba ke Ringo untuk rileks dan fokus. Tapi...

CRACK!

Sinarnya ada yang putus satu! Dan sayangnya, nilainya turun  menjadi 86. Para penonton yang hadir dan yang melihat live streamnya dari Dark Web melihat pertunjukkan mereka dan langsung tersenyum sinis.

"And if a double decker bus... Crashes into us.. COUGH COUGH" John batuk karena dia mencoba nyanyi dengan nada yang tinggi. Nilai sekarang menurun jadi 70. "Bangsat, John!" George menggerutu.

Karena John mencoba untuk menyesuaikan diri untuk nyanyi lagi, nilainya jadi 67. Dan tiba-tiba...

SNAP!

Sinarnya George putus! Nilai tersebut sekarang 60. "Aduh, kalau kita di bawah 50, kita langsung ditembak-tembak..." George bisik ke diri sendiri. "Fokus... Fokus, George..."

"And if a double decker bus, crashes into us..." John melihat ke arah muka nya Paul, cahaya dari lampu berwarna membikin struktur wajahnya sangat... Sangat lembut. Hatinya John juga jadi lembut melihat Paul. "To die by your side, is such a heavenly way to die..." 

Paul, tersenyum melihat John senyum. Dia melihat mic di depan dia dan langsung nyanyi tanpa memikirkan konsekuensinya. "And if a ten ton truck, kills the both of us...!" Dia menatap John, "To die by your side, well the pleasure, the previlege is mine...!" Setetes air mata keluar dari matanya sambil tersenyum manis. 

Nilai menurun menjadi 50 karena Paul yang nyanyi. Executor-executor yang memegang pistol lamgsung menembak mereka semua. Pertama Ringo, dia ditempak di kepala dan jatuh kelantai, drumsetnya juga ikut jatuh. Kemudian mereka menembak George di dada, dia juga jatuh ke lantai juga.

John melihat Paul yang sudah pasrah. Dia membeku di tempat, bingung kalau dia mau lanjut main, atau menerima konsekuensinya. John melihat peluru yang terbang ke arah mukanya, tanpa berpikir lama-lama, John mengambil tangannya Paul dan menariknya. Sekarang, jarak antara muka mereka sangat dekat. Jantung mereka berdebar dan pipi mereka mengubah warna jadi merah mudah.

"There is a light that never goes out...!" John nyanyi dengan nada lemah lembut, sebelum dia dan Paul menghindari peluru-peluru yang terbang ke arah mereka. Tanpa mereka sadari, mereka berdansa di malam yang sangat berbahaya. Paul menatap ke mukanya John, dan matanya John menatap ke matanya Paul. Paul blushes and giggles, John blushes and chuckles sambil memegang tangan satu sama lain 

"Paul..

"John..." 

Mereka berdua memanggil nama mereka satu sama lain, mungkin ini momen terakhir mereka, mungkin ini momen bahagia untuk mereka berdua. Mereka adalah cahaya yang tidak pernah padam untuk satu sama lain. 

Hingga... SPLAT! Ada peluru yang kena Paul. "Uhuk!" Paul batuk darah yang muncrat ke jasnya John. 

"Paul!" John exclaimed, "Kamu..." Yes, abdomennya Paul mengeluarkan darah yang banyak banget. "John..." Paul, walaupun sudah ditembak dan akan mati sebentar lagi, tetap bersenyum untuk temannya yang ia sangat sayangi dan ia sangat mencintai. Dia mengangkat tangannya dan meletakkannya di pipinya John.

"The light that never goes out..." Paul bilang sebelum tubuhnya menjadi lemes. John tetap memeluk Paul di pelukannya, darah dari abdomennya sudah berceceran kemana-mana. 

John nangis melihat temannya yang meninggal. Dan dia tau dia berikutnya untuk mati. 

BAM! 

Ada yang menembak peluru ke kepalanya John, dan alhasil John mati dengan teman-temannya. 

Mendingan mati daripada hidup in this shitty place.

Notes:

SHOUTOUT TO MORRISSEY, JOHNNY, ANDY, AND MIKE UNTUK BIKIN LAGU SEBANGER INI🥶🥶🥶🥶✌💥💥💥✌✌😊😊😊😛😛😍😍🥰🥰🥵🥵🥵🥵🙏🙏🙏❤❤❤❤