Work Text:
Sewaktu Sherlock mulai merengek tidak jelas kalau dia perlu memanggil pengacara keluarga Holmes untuk segera menulis surat wasiat, John mengatainya dramatis. Amat sangat dramatis.
“Ini cuma flu, Sherlock. Kau tidak akan mati gara-gara flu biasa.”
Setengah sadar, bibir Sherlock makin meracau; influenza, bronkitis, tuberkulosis, pneumonia—John, bilang pada kakakku yang arogan itu untuk mengganti alih waris—baiklah, yang terakhir itu cukup mengkhawatirkan. Sang dokter menahan kembali canda tentang betapa dramatisnya pria yang saat ini tengah bergelung selimut tebal di atas ranjang, kening banjir keringat menebar bau orang sakit, dan isi otaknya mulai berdelusi. Terakhir kali John mengecek suhu Sherlock, angkanya nyaris menyentuh tiga puluh sembilan derajat.
Begitu William tahu, dia segera bergegas mengambil air hangat dan kompres, kemudian samar-samar John bisa mendengar bagaimana William mengintruksikan Jack—si tua butler—untuk membuatkan sup hangat sekaligus kudapan ringan, meminta resep teh pereda radang pada Louis, bahkan Fred berinisiatif memetik apel segar di kebun rumah kaca. Di lain situasi, John mungkin akan terkikik geli melihat bagaimana bilur cemas melintas di sepasang mata sekaligus gerak gesit pada diri William, kalau ia sendiri pun rupanya ikut cemas dengan kondisi Sherlock saat ini.
Padahal itu cuma flu.
Dan momennya muncul di waktu yang tidak tepat.
Keluarga Moriarty mengundang Holmes bersaudara beserta John (Miss Hudson sudah punya jadwal dengan keluarga, sementara Mary dipanggil tugas mendadak, sangat disayangkan) untuk menghabiskan malam tahun baru di sebuah vila sewaan daerah pedesaan Lake District. Lucunya, dua belas jam sebelum tahun berganti, Sherlock demam. Suhunya meroket tanpa tedeng aling-aling. Spekulasi penyebab: basah-basahan di danau bersama Moran dan James, bergelantungan di hammock patio taman belakang hingga ketiduran, dan—barangkali—stres yang sebelumnya tidak Sherlock rasakan karena tuntutan berbagai macam kasus mulai menggerogoti sistem imunnya.
Kalau kata Mycroft, seperti bocah yang terlalu kesenangan karena besok mau pergi wisata.
Niat ingin menikmati kembang api di sepuluh detik akhir tahun, kini berbalik menjadi mengurusi si demam Sherlock.
“Silly Sherly.”
Suara berat Mycroft membuat John tersentak kecil, tetapi tidak menghentikan kedua tangannya untuk merapikan selimut hingga batas bawah dagu Sherlock. John diam-diam berusaha tidak terkejut dengan penampilan si sulung Holmes yang terlihat jauh lebih kasual. Bukan jas dan dasi yang terkadang mencekik leher, tetapi kaus polo berbalut kardigan sewarna indigo berpadu celana katun beige.
“Kau bisa istirahat, John.” Mycroft menempati kursi kayu kosong di samping ranjang, kaki bersilang, buku bersampul tebal di tangan—A Study in Scarlet edisi spesial. Oh, mendadak John tersipu malu. “Aku akan di sini.” Menjaganya.
Walau tidak terucap secara gamblang, John mengerti makna di balik ucapan Mycroft. Jangan ragukan kemahiran seorang penulis dalam berpragmatik.
Jadi John menurut tanpa protes, sejenak memberi sedikit intruksi agar jangan ragu memanggilnya bila ada situasi genting, kemudian berlalu meninggalkan Mycroft. Saat ia berpapasan dengan William sembari membawa nampan berisi bejana, kompres, juga secangkir teh madu yang masih mengepul, John tahu Sherlock berada di tangan orang yang tepat.
***
“Dia bisa pulih dengan cepat waktu kami di New York, tapi sekarang kewalahan karena demam.”
“Bukan Sherly namanya kalau tidak anomali,” sahut Mycroft ringan, fokus pada aksara lembaran buku tidak terusik sama sekali, “sejak kecil daya tahan tubuh dan fisiknya kuat, jarang sakit. Tapi kalau dibandingkan luka tembak atau tusuk, demam adalah kelemahannya.”
Kekeh William mengudara. “Aku bisa bayangkan masa kecilnya.”
“Jangan tanya. Tidur jadi hal yang mewah buatku begitu dia sembuh.”
“Seperti dulu, sekarang pun Anda masih menjaganya, Mr. Holmes.”
Tak ada makna tertentu atau bentuk sindirian dari pernyataan William tadi, tetapi cara bagaimana William mengucapkannya dengan begitu mudah seperti bernapas, fokus Mycroft berhasil teralihkan. Ia mengerling mantan konsultan itu sejenak, kemudian memandang Sherlock tanpa berkedip. Kepalanya penuh kontemplasi.
Sherlock, nampak kepayahan hanya karena demam. Kompres di kening beberapa kali merosot turun sebab dia tidak bisa diam, terkadang meracau, terkadang napas tersengal. Entah berada di dalam mimpi buruk yang mana. Sherlock—Sherly—gambaran bocah belasan tahun silam dalam memori Mycroft, memanggil namanya berulang kali, jari kecil terpaut di antara jemarinya hingga pagi tiba dan leher Mycroft kaku karena salah posisi tidur, terkulai di sisi Sherlock sepanjang malam.
Kemudian dirinya sendiri, yang sedikitnya, tidak benar-benar berubah. Masih menempati kursi kosong di sisi Sherlock.
Mycroft nyaris mendengus sebab hal berbau sentimental dan afeksi terasa pahit untuk mereka berdua.
“Bagaimana dia—” jeda sejenak, lalu, “saat di New York?”
William adalah seorang observan, jadi dia paham maksud pertanyaan Mycroft tanpa harus berpikir dua kali. Bagaimana keadaannya setelah terjatuh—melompat—dari ketinggian di jembatan kala itu? Bagaimana luka-lukanya? Bagaimana kondisi mentalnya? Bagaimana mungkin setelah siuman adik bodohnya itu tidak lekas menemui kakaknya dan memilih menghilang selama tiga tahun? Bagaimana mungkin dia sampai membiarkan Mycroft membuatkan upacara kematian untuknya?
Bagaimana keadaannya selama tiga tahun?
“Makan dengan baik, rajin belanja kebutuhan sampai kulkas di flat kami penuh, dan salah satu favoritnya, membuat kopi.” William tidak membalas tatapan Mycroft. “Lalu, menjagaku sepenuh hati.”
Ah. Kini sudut hati Mycroft tergelitik, ia tidak tahu harus merasa takjub karena momen domestik macam itu terlihat asing jika disandingkan dengan Sherlock, atau—barangkali—rasa cemburu kalau rupanya ia tidak mengenal Sherlock sejauh yang selama ini ia kira. Mycroft selalu merasa bahwa ia adalah orang yang akan selalu mengenal adiknya lebih dari siapa pun.
Dulu, ia berada di posisi paling atas. Sebelum John Watson dan William James Moriarty tiba dalam teritori kehidupan sang adik.
“Apa dia terjebak lagi dalam kasus yang membuatnya lupa mengurus diri?”
Walau bukan bermaksud berkelakar, pertanyaan itu mengundang tawa dari William. Renyah, renyah sekali. “Oh, Anda tahu dengan baik. Suatu waktu Billy panik bukan main menemukan Sherly terkapar di ruang tengah flat kami, seperti mayat hidup.”
Sherly, katanya. Sudut bibir Mycroft tertarik simpul.
“Ketergantungan obat?”
“Tidak sama sekali. Sherly bilang dia harus tetap waras sampai aku siuman.”
Opium, kokain, morfim—semua itu tidak lagi nyaris merenggut nyawa Sherlock, Mycroft tidak sadar menarik napas lega. Seolah hidupnya terasa lebih muda sepuluh tahun.
“Berhenti menginterogasinya begitu, Myky. Aku ini sedang di ambang batas.”
Kepala Mycroft lekas menoleh, ia dihadapkan dengan sepasang mata memicing Sherlock yang diarahkan untuknya. Pipi sang adik bersemu karena panas, nyawa di raut mukanya belum sepenuhnya kembali, tetapi ekspresi kesal itu murni dari dalam hati Sherlock.
“Cepat urus surat wasiatku.”
What a damn lovely little brother of mine. “Itu cuma flu, Sherly. Kau tidak akan mati.”
“Aku sudah pernah mati.”
Jelek sekali bercandanya. “Pikiranmu kacau.”
Ketika William meraih kompres untuk direndam kembali dalam bejana air, Mycroft spontan beringsut pelan dan meletakan kelima jemarinya di kening Sherlock, sebelum kemudian turun hingga menutupi sepasang mata biru itu. Biru serupa dengan miliknya sendiri. Biru di antara mereka berdua.
“Sleep, Sherly. Nanti lagi surat wasiatnya.”
Sekon menjadi menit itu Mycroft habiskan memandang Sherlock dalam hening, memastikan bahwa gerak fluktuatif dadanya masih berjalan seirama detik jam, bahwa pusat kehidupan adiknya belum berhenti dan Mycroft tidak terombang-ambing antara mimpi juga realita.
Kemudian ia memutuskan pergi, setelah yakin secuil ketakutan yang pernah disimpannya rapat-rapat memudar dan ia tidak ikut berdelusi bersama Sherlock, dan samar-samar menangkap suara sang adik bersama William.
“Liam, kalau aku besok tidak—”
“Akan aku pilihkan peti mati terbaik.”
“Ha ha, sama gilanya. Kau mau ikut?”
“Heaven knows.”
Mycroft menggeleng pelan. Hati manusia memang rumit.
