Actions

Work Header

Don't Want Anybody Thinking Just Maybe

Summary:

Unit Investigasi Kriminal Beijiang mengalami hambatan dalam penyelidikan mereka, merasa perlu meminta bantuan, mereka meminta Biro Kota untuk mengirimkan seseorang yang bisa menolong. Tetapi siapa sangka kalau orang yang dikirimkan itu menaruh perhatian pada Du Cheng? dan membuat si pelukis kantor kepolisian Beijiang jadi kesal karena mempunyai seorang rival.

Notes:

Yeah, I need more jealous!Shen Yi in my life. Dan tolong jangan terlalu diperhatikan mengenai kasusnya. Meskipun pecinta drama/novel misteri, aku sama sekali goblok untuk nulisnya, apalagi soal-soal bisinis begini, aku juga gak tahu apa-apa. I’m bullshiting through all of that.
And how the hell it end up with 13k words ketika aku bahkan sama sekali gak detail soal kasusnya?!
Also, Shen Yi probably very OOC in this, because I want to make him super jealous.

Chapter Text

Du Cheng membuka pintu mobilnya lalu masuk  dan duduk di kursi kemudi. Shen Yi mengikuti pria itu, membuka pintu di sisi satunya. Du Cheng menjalankan mobil, keduanya larut dalam suasana diam.

Wawancara tadi tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Semua jawaban yang diberikan sama dengan apa yang telah mereka dapatkan dari orang-orang lain yang sebelumnya telah diwawancarai. Tidak ada informasi baru membuat mereka merasa semakin stuck dalam menanggani kasus.

Kebisuan mobil dipecah dering ponsel Du Cheng. Buru-buru pria itu mengeluarkan ponselnya dari saku jaket, kening berkerut halus sebelum ia menekan ikon jawab dan meletakkan ponselnya di dashbor mobil dalam mode speaker. Shen Yi mengintip layar dan menemukan nama Zhang-ju tertera.

“Du Cheng, apa kau sudah selesai dengan wawancaramu?” tanya kepala kepolisian Beijiang itu.

“Ya,” jawab Du Cheng, “Aku sedang dalam perjalanan untuk kembali ke kantor.”

“Baguslah kalau begitu,” balas Zhang-ju. “Kantor Biro Kota sudah mengirimkan seseorang untuk membantu kita pada kasus kali ini.”

Du Cheng menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti afirmasi. Air muka pria itu tampak lega. Kasus yang mereka tanggani kali ini memang terhambat lama sekali untuk ketentraman hatinya.

Awalnya mereka mendapatkan laporan mengenai kecelakaan. Sebuah mobil melewati pembatas jalan dan melesak jatuh ke sungai, pegemudinya tewas sebelum bisa diselamatkan.

Sekilas memang terlihat seperti kecelakaan biasa, tetapi Shen Yi menemukan beberapa keanehan. Du Cheng memeriksa ulang dan memang keanehan itu berdasar. Hal itu didukung pula oleh He Rongyue yang awalnya mengira bahwa ini adalah kecelakaan yang disebabkan oleh mabuk. He Rongyue memang menemukan kadar alkohol yang cukup tinggi dalam darah korban tetapi setelah melakukan otopsi ia menemukan keganjilan pada otot-otot korban terutama otot jantungnya. Susunan otot-otot itu terlalu mirip dengan otot-otot setelah terkena kejutan listrik.

Dan poin terakhir yang memaku semua dugaan itu saat tim forensik berhasil memperbaiki ponsel korban yang mati rusak karena kemasukan air. Ponsel yang anehnya terlalu bersih dikarenakan hampir semua memori terhapus. Tak ada foto, tak ada dokumen, tak ada riwayat panggilan ataupun pesan, tak ada riwayat pada browser internet. Seolah dibersihkan dan diletakkan kembali pada korban hanya agar tak terjadi kecurigaan,  karena orang macam apa yang pada zaman sekarang yang tak membawa ponsel? Benda yang sudah layaknya daging tubuh manusia itu.

Akhirnya kecelakaan itu resmi ditetapkan sebagai dugaan pembunuhan dan mendapatkan tanda hijau untuk melakukan penyelidikan ulang menyeluruh. Korban adalah seorang akuntan yang kini memimpin sebuah perusahaan kecil. Tim mereka memeriksa rumah maupun kantor sang korban, terutama semua berkas perusahaannya.

Tapi disanalah mereka terhalang. Tak ada yang mengerti satupun urusan bisnis ini. Bahkan Shen Yi yang bagi semua orang berwawasan luas. Du Cheng juga sama tak bergunanya di bidang ini karena ia selalu menghindari urusan bisnis keluarganya—sedikit menyesal tapi Du Cheng tidak akan pernah mau mendekati diri pada bisnis apapun yang terjadi.

Mereka sudah mencoba meminta bantuan pada unit penyelidikan kejahatan perdata kantor mereka, tetapi petugas di unit perdata kantor Beijiang tidak begitu banyak. Apalagi kebetulan saat ini mereka sedang menanggani tiga kasus sekaligus. Jangankan harus membantu unit kriminal, tenaga untuk unit mereka sendiri saja tidak mencukupi.

Akhirnya Zhang-ju menyarankan meminta bantuan pada kantor Biro Kota, yang dengan cepat disetujui Du Cheng karena mereka benar-benar tidak mempunyai perkembangan baru yang bisa memajukan penyelidikan.

“Kapten Lu yang memberikan rekomendasi, ia berkata bahwa petugas ini sangat pintar dan kompeten sehingga bisa membantu perkembangan penyelidikan.”

Wajah Du Cheng masam saat nama Kapten Lu disebut, Shen Yi harus menahan tawa gelinya. Pria itu masih sensi saja dengan Lu Haizhou. Tapi setidaknya kali ini yang datang ke Beijiang bukan lah sang Kapten, hanya orang rekomendasinya. Kalau tidak, mood Du Cheng pasti hancur lagi.

“Dia saat ini ada di ruangan utama unit penyelidikan kriminal, kau langsung saja menemuinya saat tiba nanti,” lanjut Zhang-ju.

“Baik.”

Kemudian Zhang-ju memutuskan sambungan telepon. Du Cheng meraih ponselnya untuk kembali memasukkan benda itu ke saku.

“Menurutmu seperti apa orang itu?” tanya Shen Yi berbasa-basi.

Du Cheng mengangkat bahu. “Entahlah, yang penting kuharap dia bagus dalam pekerjaannya.”

“Hmm…” Shen Yi mengangguk sembari berpikir. “Tapi kurasa dia pasti akan bagus, bagaimanapun Kapten Lu sangat tertarik dengan orang-orang berbakat mencolok.”

Du Cheng mendengus mencemooh, “Yah, kau pasti tahu dari pengalaman pribadi,” sarkas pria itu yang membuat Shen Yi tertawa.

Dua puluh menit kemudian keduanya sudah sampai kembali ke kantor polisi kota Beijiang dan sesuai perkataan Zhang-ju, langsung menuju ruang utama unit penyelidikan kriminal tempat dimana semua meja kerja para petugas unit kriminal berada.

Mengedarkan pandangannya, mata Du Cheng akhirnya menangkap figur asing yang belum pernah ia lihat duduk di dekat meja Li Han. Sosok itu sedang membaca berkas-berkas kasus membelakanginya.  

“Siang, kau utusan dari kantor Biro Kota kan?”

Sosok itu berpaling, kursi berputar untuk menghadap orang yang menyapanya. Tak langsung menjawab.

Shen Yi yang merupakan seorang seniman dan potraitist secara refleks menilik wajah petugas itu. Ia laki-laki tetapi guratan wajahnya halus dan elegan memberikannya kesan cantik dan androgini—cukup untuk membuat orang-orang kebingungan jika hanya melihat sekilas apalagi yang tak punya mata jeli dan berpengetahuan seperti Shen Yi. Diperlengkap dengan mata besar, hidung kecil mancung dan bibir penuh yang dipoles lipbalm. Rambutnya kecoklatan dan cukup panjang, ditata sedemikian rupa untuk menonjolkan kualitas androgini yang ia miliki.

Pakaian yang ia kenakan merupakan sebuah turtleneck abu-abu yang luarnya ia lapisi dengan kemeja tipis lengan panjang warna maroon yang hanya sebagian kancing terpasang dan dimasukkan ke dalam celana cokelat. Ikat pinggang hitam dan sebuah kalung perak menjadi aksesoris penampilannya.

Ia sangat stylish disamping cantik. Shen Yi tak benar-benar memiliki gambaraan seperti apa petugas yang akan datang tapi mungkin ia akan memikirkan seseorang dengan potongan rambut rapi mengenakan jas atau seragam kepolisian. Sama sekali tidak membayangkan seseorang yang berpenampilan seperti model dari sampul majalah fashion.

Pria itu tetapi tidak bereaksi bagaimanapun juga. Hanya balas memandang mereka dengan mata yang melebar—atau salah satu dari mereka. Shen Yi mengerutkan alis dan mengikuti arah pandangan pria itu dan menemukan tujuannya merupakan Du Cheng yang mengangkat alis bingung karena sapaannya tak kunjung dijawab.

“Kalau tahu begini, seharusnya aku cepat-cepat saja minta dikirim ke Beijiang,” gumam pria itu yang makin membuat keduanya bingung. Li Han dan Jiang Feng yang tak jauh disana jadi ikut menoleh.

Lalu pria itu berdiri dan mengulas senyum. Mengulurkan tangan pada Du Cheng.

“Namaku Fu Zixin, dari unit kejahatan perdata kantor Biro Kota. Kau Kapten Du Cheng, kan?” ia memperkenalkan diri dengan antusias.

Du Cheng membalas jabatan tangan Fu Zixin, mengangguk pendek. “Benar, Du Cheng, kapten unit penyidikan kriminal Beijiang. Dan ini Shen Yi, seniman potret forensik kami.” Du Cheng menelengkan kepala ke arah Shen Yi. Mata Fu Zixin melirik padanya dan mengulurkan tangan juga, begitu selesai langsung kembali padangannya pada Du Cheng.

“Cheng-dui, aku tidak melihat cincin pernikahan di tanganmu, jadi aku bisa berasumsi kalau kau masih lajang, kan?”

“Hah?” Du Cheng berseru bingung, amat tertegun dengan pertanyaan tiba-tiba tersebut. Li Han dan Jiang Feng menganga dengan mata berkedip bingung. Shen Yi juga sama. Tak banyak yang bisa membuat pria itu bergeming, tapi saat ini ia juga memiliki ekspresi yang sama dengan semua yang ada di kantor.

“Memangnya kenapa?” sahut Du Cheng, pria itu selalu jadi defensif kalau sedang kikuk dan diusik urusan pribadinya.

Fu Zixin mengangkat bahu acuh. “Kenapa tidak boleh? Aku hanya mengatakan sedikit observasiku. Kalian para penyelidik kriminal kan juga suka sekali melempar berbagai pertanyaan, apa tidak boleh sebaliknya?”

Du Cheng mendecakkan lidah. “Kami hanya melakukannya pada tersangka, jadi kau tidak perlu bertanya hal-hal tak relevan mengenaiku.”

Fu Zixin mengerucutkan bibir, ekspresi kesalnya yang pura-pura terlihat dari matanya yang malah makin berbinar. “Karena kita akan bekerja sama, aku kan boleh saja ingin mengenalmu, Cheng-dui.”

“Lihat saja profilku di data kepolisian, hanya itu yang perlu diketahui,” balas Du Cheng pendek. Sama sekali tak terpengaruh sikap Fu Zixin.

“Hum, galak sekali. Tapi aku yakin kau akan ramah juga akhirnya,” gumam Fu Zixin entah untuk dirinya sendiri saja atau sengaja agak keras agar bisa kedengaran juga. Lalu sekonyongnya ia kembali mendudukkan diri dan membuka folder berkas.

“Aku sudah membaca perkembangan penyelidikan korban bernama Tu Jianghong itu,” sahutnya terdengar formal. Cara bicaranya yang ringan dan agak-agak flirty tadi sudah berubah menjadi nada suara petugas kepolisian pada umumnya. “Aku sangat terkesan dengan cara kalian bisa menemukan semua keganjilan dan dengan cepat menarik kesimpulan bahwa kasus ini merupakan kasus pembunuhan yang disamarkan sebagai kecelakaan.”

Du Cheng mengangguk dengan ekspresi serius, Shen Yi meliriknya dan mengulum senyum. Du Cheng selalu tersipu malu saat dipuji, tapi tidak mengenai pekerjaan. Baginya pekerjaan harus diselesaikan dengan baik sebagai kewajiban bukan sebagai hal yang patut dibesar-besarkan.

“Jadi hal yang paling penting untuk dicari tahu saat ini adalah…” Fu Zixin sengaja membiarkan perkataannya menggantung, bergantian menatap Shen Yi dan Du Cheng.

“Motif,” jawab Du Cheng tegas. “Kami sudah mewawancarai hampir semua orang yang punya hubungan dengan korban, tapi tak ada satupun yang memiliki konflik ataupun hal yang bisa dijadikan motif.”

Fu Zixin mengangguk paham, kembali membolak-balik lembaran kertas laporan dan membacanya ulang sekilas. “Karena tak ada motif yang bisa dicurigai jadi tidak punya orang yang bisa dikaitkan dengan kejadian ini sebagai acuan penyelidikan.”

“Tidak ada saksi mata atau rekaman?”

Giliran Shen Yi yang menggeleng. “Kami sudah mencoba memeriksa kamera pengawas jalan untuk mencari tahu kemana dan darimana korban pada hari kecelakaan tetapi tidak ada kamera pengawas yang mendapati mobil korban sama sekali sehingga kita tidak bisa memperkecil lingkup pencarian saksi mata.”

Du Cheng mendesah. “Akan sangat mudah jika ada kamera yang menangkap korban dengan pelaku atau orang mencurigaka bahkan jika wajahnya kabur sama sekali, tapi sudah cukup.”

Kapten itu melirik Shen Yi dan sang pelukis memberikannya senyum kecil. Yah, memang akan sangat mudah, dengan begitu Shen Yi hanya perlu melukis wajah orang tersebut dengan kemampuan analisisnya. Kalau saja seperti itu dan semuanya akan sangat mudah karena Du Cheng sudah punya Shen Yi.

Fu Zixin menatap Du Cheng kemudian menatap Shen Yi beberapa detik. Lalu pria itu mengulas senyum basa-basi kepada Shen Yi.

“Ah, benar, aku sudah mendengar kemampuan melukis potretmu yang sangat terkenal itu, Shen-laoshi,” ucapnya. “Orang-orang membuatnya terdengar seperti keajaiban, aku juga jadi ingin bisa menyaksikannya secara langsung.” Kemudian ia mengangkat bahu dan kembali membalik-balik kertas. “Sayang sekali kemampuanmu kali ini tidak diperlukan.”

“Kita belum tahu mengenai itu,” balas Shen Yi tegas. Kening pria itu berkerut samar. Sesuatu tentang kata-kata dan nada bicara Fu Zixin mengusiknya.

Fu Zixin hanya melemparnya dengan senyum yang lebih manis lagi—manis yang sama seperti sakarin, dibuat-buat—Shen Yi menahan diri untuk tidak berkomentar. Pria itu sepertinya tahu apa yang ia lakukan terhadap Shen Yi tapi malah pura-pura tidak sadar. Ia menghadap Du Cheng lurus-lurus, memunggungi Shen Yi.

“Apakah kalian punya data profil perusahaan korban?”

Du Cheng mengangguk. “Jiang Feng yang mengurusnya, biar kuambilkan sebentar.” Pria tinggi itu berdiri dari kursinya dan langsung beranjak.

“Menarik,” gumam Fu Zixin menatap Du Cheng yang mengambil berkas-berkas di meja Jiang Feng.

“Tentang apa?” balas Shen Yi, diam-diam menyelamati dirinya sendiri berhasil tidak terdengar defensif ataupun sewot, ia terdengar tenang seperti nada bicaranya yang biasa.

“Meskipun seorang kapten, dia sama sekali tidak memerintahkan orang lain untuk melakukan tugas remeh, dan sama sekali tidak peduli bahwa baru saja di perintah oleh aku yang merupakan orang asing,” jawab Fu Zixin.

“Du Cheng tak peduli soal hal-hal seperti ego,” Shen Yi mengulum senyum. Bahkan bisa-bisanya Shen Yi menyuruhnya menjadi peraga lalu berlutut dan mencium boneka monyet padahal Du Cheng tetap saja adalah atasannya. Rasa bangga dan afeksi terhadap sikap partnernya itu selalu menghangatkan Shen Yi.

Fu Zixin menatapnya lekat. Ada kilat tertarik di matanya yang entah mengenai apa. Perlahan sudut bibir pria itu terangkat, dia mencondongkan tubuh untuk lebih dekat dengan Shen Yi dan dengan suara berbisik bertanya.

“Dia tidak mau menjawab tadi, tapi dia benar-benar lajang, kan?”

Senyum Shen Yi seketika luntur, ia tatap Fu Zixin dengan wajah datar. “Kau benar-benar peduli soal itu ya?”

Fu Zixin mengangguk antusias.

Shen Yi dalam hati mengerang, menutup mata dan menghela napas sebelum ia menjawab. “Iya, dia memang masih lajang.”

Wajah Fu Zixin langsung cerah. Shen Yi tidak pernah melihat orang yang sangat pandai memainkan ekspresi sehebat ini—dia bilang begitu karena terkadang Fu Zixin sulit dibaca dan terkadang sangat mudah dimengerti sampai rasanya kita dipaksa untuk mengerti.

Sebelum Shen Yi bisa bertanya apa yang diinginkan oleh pria itu, Du Cheng sudah kembali. Langkahnya besar dan cepat, datang seperti sebuah badai. Jiang Feng selangkah di belakangnya.

Keduanya meletakkan beberapa buah folder ke atas meja. Du Cheng menyodorkan salah satu map ke pada Fu Zixin. “Ini profil perusahaan itu.”

“Terima kasih, Cheng-dui,” sahut pria itu tersenyum dan berkata dengan nada manis. Shen Yi tidak bisa lagi menahan kerutan jengkel di dahinya.

Fu Zixin membaca dengan cepat. “Oh, jadi perusahaan korban masihlah anak perusahaan milik Gang Cuanli,” sahutnya tertarik.

Du Cheng mengangguk. “Tapi tetap saja dia hanya satu dari sekian banyak perusahaan yang berhubungan dengan Gang Cuanli. Kau pikir akan ada hubungannya?”

Fu Zixin mengangkat bahu. “Saat ini kita tidak memiliki sesuatu yang mengindikasikan hal tersebut.”

Kemudian pria itu meletakkan file dan meraih folder lainnya. Selama beberapa menit membaca dan membolak-balik berkas. “Perkembangan perusahaannya memang memiliki sedikit penurunan tahun ini tetapi tidak terlalu signifikan. Bukan sesuatu yang besar.” Fu Zixin menggumam, keningnya berkerut halus.

Kembali ia meraih map file lainnya. Matanya menelisik dengan gerakan yang cepat, nyaris liar bagaimana pupilnya naik turun dalam hitungan sepersekian detik. Mulutnya menggumamkan beberapa istilah bisnis yang lewat begitu saja di telinga ketiga polisi lainnya. Disela-sela itu ia juga menggumamkan angka-angka.

“Dia benar-benar akuntan yang hebat, sangat rinci dan rapi sekali sampai kau tidak akan sadar beberapa ketidaksesuaian dalam perhitungan keuangannya,” sahut pria itu akhirnya. Ia mendongak pada ketiga polisi Beijiang itu dengan senyum penuh arti. Meletakkan folder yang terbuka di atas meja.

“Lihat disini ada selisih beberapa puluh ribu yuan yang hilang, dan disini, ada beberapa puluh ribu Yuan lainnya, dan pada bulan Januari tahun ini saja ada sekitar seratus ribu Yuan yang tak ada pada catatannya.” Fu Zixin itu menunjuk beberapa bagian pada kolom penuh deretan angka dengan lugas dan cepat.

Ketiga polisi itu hanya bisa menatap kertas yang ditunjuk dengan kening berkerut, masih belum melihat perhitungan yang dimaksud. Jiang Feng sampai mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi kalkulator dan mencoba memasukkan deretan angka itu, semenit kemudian mengerang frustasi karena kebingungan.

“Kau bisa menghitung secepat itu?” Du Cheng yang dari awal sudah menyerah menghitung untuk membuktikan perkataan Fu Zixin, melirik pada polisi kantor Biro Kota itu. Nada suaranya setengah kagum setengah skeptis.

Fu Zixin mengulas senyum. Menumpukan kedua siku di meja, menopangkan dagu pada jemarinya yang bertaut. “Aku sangat baik dalam pekerjaanku,” sahutnya percaya diri dan nada suara jenaka, mengedipkan sebelah matanya yang berbingkai bulu mata lentik pada Du Cheng.

Jiang Feng tersedak. Shen Yi menahan diri untuk tidak memutar bola mata jengah. Terutama saat Du Cheng tertegun dan membuang wajah kikuk karena terang-terangan di-flirt begitu.

Fu Zixin terkekeh. “Aww, adorable.”

Jiang Feng tersedak untuk yang kedua kali. Belum pernah ada orang yang memuji kaptennya yang bertampang garang tersebut imut.

Du Cheng berdehem. “Apa ada hal yang dikaitkan dengan kecelakaan dibuat-buat yang terjadi pada korban?” pria itu mencoba mengalihkan pembicaraan dengan telingan yang mulai memerah, meskipun dada Shen Yi yang rasanya memanas.

Fu Zixin kembali mengulum senyum pada Du Cheng sebelum menggeleng dan menjawab. “Belum bisa. Ini hanya beberapa perhitungan yang anomali, aku perlu melihat dengan rinci semua aliran kasnya. Apa kalian mempunyai semua dokumen perusahaan Tu Jianghong?”

Du Cheng menggeleng. “Sayang sekali tidak. Karyawan perusahaan keberatan kami membawa dokumen karena kami belum bisa membuktikan apakah bisnis perusahaan berhubungan dengan kematian pemimpin mereka.”

Fu Zixin mengangguk mengerti. “Aku tidak perlu semua dokumen tetapi memang semuanya dokumen-dokumen penting. Kita bisa kesana dan memperlihatkan bahwa ada hal yang patut dicurigai.” Ia melambaikan tangan pada folder berkas yang terbuka.

“Kita berempat saja sudah cukup, kan?” Du Cheng bertanya retoris dan Fu Zixin mengangguk. “Oke, kita pergi sekarang.” pria itu kembali kepada mode kaptennya yang tegas dan langsung bergerak. Ketiga pria lainnya mengikutinya keluar bangunan dan menuju parkiran dimana Buicknya terparkir.

Du Cheng sudah dulu memasuki kursi kemudi saat Fu Zixin berjalan lurus menuju kursi penumpang di sebelahnya, pria itu meraih pegangan pintu mobil sebelum sebuah tangan menduluinya menggapai gagang tersebut.

Ia menoleh. Sekilas menatap pada wajah Shen Yi yang berekspresi dingin. Detik berikutnya, ekspresi dingin dengan mata yang menyorot tajam si pelukis luntur, berganti dengan sebuah senyum tipis. Ekspresi lembut yang pastinya selalu berhasil membuat orang menanggalkan kewaspadaan mereka karena kesan ramah yang menguar dari pelukis tersebut.

“Maaf, tapi aku sangat mudah mabuk kendaraan, jadi aku butuh duduk di depan,” sahut pria itu dengan nada minta maaf. Fu Zixin meniliknya, tidak mengatakan apa-apa selama lima detik—dan kenapa hanya karena menonton dua pria itu balas tatap-tatapan membuat Jiang Feng menahan napas tegang?

“Oh, maaf aku tidak tahu Shen-laoshi,” Fu Zixin dengan lugas menerima. “Tak apa, aku masih bisa mengobrol dengan Cheng-dui meski duduk di belakang.”

Pria itu berbalik dan membuka pintu belakang, masuk mendului Jiang Feng yang hanya bisa melihatnya dengan ternganga. Sedikit merasa pria itu berani karena semenjak Shen Yi pindah ke Beijiang bisa dibilang pria itu adalah pemilik kursi penumpang di sebelah Du Cheng. Semenjak mobil pria itu masih Jeep Wrangler yang kemudian berganti Buick—He-Fayi bahkan bercanda bahwa pergantian mobil itu dilakukan sang Kapten untuk seniman mereka, yang Jiang Feng mulai percayai hanya bukan sekedar candaan lagi. Bahkan Jiang Feng sendiri pun tak berani mengambil tempat itu kecuali memang tidak ada Shen Yi.

Begitu semua orang sudah masuk dan memasang sabuk pengaman mereka, mobil mulai berjalan. Du Cheng dengan bijak tidak menyinggung kejadian barusan dan menjaga tatapan lurus pada jalanan.

Tak perlu waktu bagi Fu Zixin untuk membuka percakapan, walaupun percakapannya hanya terfokus pada kapten unit investigasi kriminal itu. Ia bertanya pada Du Cheng mengenai perjalanan karirnya, awalnya pria tersebut hanya menjawab seadanya namun lama kelamaan ia mulai mengobrol panjang dan gantian melempar pertanyaan pada Fu Zixin. Tertarik pada perjalanan hidup seseorang yang berkuliah di kampus kenamaan luar negeri tetapi berakhir bekerja pada kepolisian.

Jiang Feng menyimak dengan keheranan pada keanehan suasana ini. Biasanya yang banyak bicara dengan orang baru adalah Shen Yi karena pria itu ramah dan selalu tertarik pada manusia dan segala sifat mereka, sedangkan kapten mereka itu sama sekali tak membuka mulut kalau tak dipaksa. Dan kini malah terbalik, kapten mereka mengobrol dengan begitu lancarnya sedangkan Shen Yi sama sekali tidak bersuara.

Dan lebih luar biasa lagi pelukis itu sama sekali tidak tertidur padahal mobil berjalan dengan begitu tenang dan mulus.

Mereka tiba di perusahaan milik Tu Jianghong dan segera menemui wakilnya. Pria itu tampak tak senang dengan kehadiran polisi walaupun berusaha tak menampakannya namun menilik dari ucapannya yang mengatakan bahwa mereka sangat sibuk mengatur ulang perusahaan karena kematian pemimpin mereka, dapat diketahui kalau ia tidak terlalu menyukai gangguan dari pihak kepolisian.

Du Cheng dengan ringkas menjelaskan maksud kedatangan mereka dan tentu saja sama seperti sebelumnya pria itu tak menyetujui tapi Fu Zixin segera mengeluarkan kartunya mengenai ketidaksesuaian pada laporan keuangan mereka. Wakil pimpinan itu langsung mati kutu dan akhirnya menyerahkan izin, tahu bahwa pihak kepolisian akan tetap bersikeras tak peduli akan keberatannya.

Dokumen-dokumen ditumpuk di depan mereka dan Fu Zixin menyortir apa saja yang ia butuhkan, termasuk meminta beberapa kopian data digital kantor.

Keempat pria itu membopong masing-masing satu dus penuh berkas-berkas dan menempatkannya ke bagasi mobil. Mereka meletakkan semua dokumen di ruangan rapat karena Fu Zixin meminta sebuah ruangan yang cukup kosong. Segera meja panjang tersebut diisi dengan tumpukan kertas.

“Aku ingin memeriksa data-data digital di komputer sekalian memprintnya, bisa kalian keluarkan dan susun semua berkas?” tanya Fu Zixin melambaikan usb di tangannya.

Du Cheng mengangguk. “Kami bisa memulai melihat dan melakukan beberapa perhitungan, yah setidaknya yang bisa kami pahami saja,” sahut Du Cheng menggumamkan bagian terakhir.

“Terimakasih Cheng-dui,” sahut Fu Zixin dengan nada manis, sekali lagi memberikan Du Cheng kedipan mata sebelum berlalu dengan cepat keluar ruangan.

Dua polisi disana hanya bisa menganga keheranan dengan sikapnya, sedangkan si seniman forensik yang sudah kehilangan rasa keterjutan memasang ekspresi kesal. Jiang Feng dan Shen Yi melirik kapten mereka.

Menyadari kalau ia jadi pusat perhatian, Du Cheng memasang wajah garang mode kaptennya—yang kedua bawahan terdekatnya tahu betul kalau tampang yang satu ini hanya untuk menutupi kekikukannya. “Kenapa kalian jadi diam? Ayo kerja.”

Jiang Feng dan Shen Yi saling pandang, berbagi pemikiran yang sama, tapi tetap patuh mulai menyortir lembaran kertas.

“Kau sangat tenang menghadapi Fu Zixin,” sahut Shen Yi setelah tiga menit ruangan hanya berisi suara kertas. Suara pria itu tenang dan dalam sebagaimana biasanya ia ketika memulai pembicaraan.

“Hm? Menghadapi bagaimana? Dia bukan tersangka atau saksi interogasi, kenapa aku harus menghadapinya?” balas Du Cheng bingung.

“Maksudku, kau sama sekali membiarkan dia mencoba merayumu. Biasanya kau cepat kesal kalau ada orang yang tidak serius,” jelas Shen Yi, berhenti sebentar mengurus kertas-kertasnya dan menatap lurus pada Du Cheng. “Apa kau malah menyukai tingkahnya?”

Begitu kalimat itu terucap, Shen Yi berusaha untuk tidak meringis karena kesinisan yang kentara sekali terselip di suaranya.

“Apa sih?!” decak Du Cheng, mulut dan alis pria itu menekuk sebal seperti anak kecil yang merajuk. Biasanya Shen Yi akan mendapatinya imut tetapi saat ini ia terlalu kusut untuk mengapresiasi pemandangan itu. “Memangnya kalian suka saat aku marah-marah? Aku hanya bersikap tenang kenapa kalian malah menuduh yang aneh-aneh?”

Shen Yi berbalik kembali agar Du Cheng tidak melihatnya memutar bola mata.

“Dia orang yang kompeten dalam mengerjakan pekerjaanya, pendapat pribadiku harus dikesampingkan demi keefektifan penyelidikan,” sambung pria tinggi itu, terdengar seolah ia mengatakan suatu fakta yang simpel.

Shen Yi menghela napas. Ah, tentu saja dia berpikir begitu. Du Cheng adalah orang yang fair dan sangat cepat menghargai seseorang ketika mereka membuktikan bahwa mereka pantas untuk dipercayai penilaiannya sekalipun secara pribadi dia menganggap orang itu menjengkelkan. Sama seperti saat dia tetap mau bekerja dan mendengar masukan Lu Haizhou maupun Shen Yi saat pertama kali pindah ke Beijiang. 

Du Cheng adalah orang yang skeptis karena pekerjaannya. Tapi begitu pula sebaliknya, karena sifat profesinya, jika dia diberikan bukti dia akan mempercayaimu.

Tidak ada gunanya bicara pada pria itu kalau mereka masih ada di jam kerja. Shen Yi meletakkan lembaran terakhir yang ada di tangannya pada satu-satunya ruang kosong yang tersisa di atas meja. “Aku ingin membuat kopi, apa kalian juga ingin?”

Kedua rekannya mengiyakan dan Shen Yi keluar menuju pantri kantor. Melewati ruangan fotokopi yang pintunya terbuka lebar, dimana Fu Zixin tengah duduk di hadapan sebuah laptop dan mesin printer yang terus menerus bekerja.

He Rongyue muncul dari arah lain, tidak melihat kehadiran Shen Yi dan langsung saja memasuki ruangan fotokopi. Tapi tentu saja ia menyadari kehadiran Fu Zixin saat ia sendiri menuju mesin fotokopi. Fu Zixin juga menyadari kehadiran wanita itu dan melempar senyum basa-basi.

“Kau utusan kantor Biro Kota itu, bukan?” tanya He Rongyue. Wanita itu memang pendiam tapi dia ramah, hanya saja nada tertarik dan penasaran di  suaranya cukup tak biasa.

“Ya…” jawab Fu Zixin terdengar ragu dan agak bingung, sepertinya juga merasakan ketertarikan dan rasa penasaran He Rongyue. “Apakah aku benar-benar semenarik itu untuk menjadi bahan gosip kantor Beijiang?” senyum pria tersebut.

Dokter koroner itu mengangguk. “Tentu saja. Semua orang membicarakan bagaimana kau dengan berani mencoba mendekati Du Cheng. Dan topik kehidupan percintaan Du Cheng adalah salah satu hal paling diminati di kantor ini sejak dulu karena ia sangat canggung, jadi selalu menjadi cerita lucu.”

He Rongyue benar, Kapten Lei bukan satu-satunya yang memfavoritkan si pria tinggi itu semasa ia masih anak baru. Dan bagi rekan-rekan seumurannya seperti He Rongyue dan Jiang Xue, apa gunanya teman kalau tidak bisa saling meledek satu sama lain?

Fu Zixin terkekeh, matanya berbinar jenaka. “Bukankah kalian teman? Jangan terlalu kejam padanya begitu.”

“Lagipula,” He Rongyue melipat tangan, mengepit dokumen yang ia bawa di ketiak, “Apa yang membuatmu langsung tertarik pada Du Cheng? Wajah default-nya itu kan ekspresi cemberut.”

Fu Zixin menopang dagunya pada tangan, tersenyum merenung. “Dia tipeku sekali. Wajah dan penampilannya seperti karakter-karakter dari film atau drama action bertema kepolisian favoritku.”

“Dengan wajah jutek dan sikap judes begitu?”

Pria itu terkekeh. “Justru sikapnya semakin membuatku tertarik padanya. Orang yang penuh dedikasi terhadap pekerjaannya dan penuh rasa tanggung jawab dan keadilan, jarang sekali bisa menemui yang begitu di profesi ini. Berbeda sekali dengan kebanyakan polisi yang kutemui yang gelap mata karena kekuasaan dan uang.”

Fu Zixin mengernyit, ekspresinya yang masam cukup mengindikasikan banyak hal yang telah ia lihat dikesehariannya. Kemudian kembali air mukanya menjadi santai. “Orang yang tampan dan penampilannya liar tidak seperti petugas divisi perdata yang membosankan tapi juga memiliki kepribadian baik dan integritas tinggi yang sama sekali berbeda dari kebanyakan polisi yang membosankan dan munafik itu, bagaimana bisa aku tidak tertarik?”

“Oh, kau serius,” sahut He Rongyue terdengar tertegun dan pria itu melemparnya sebuah senyum.

Shen Yi sama sekali tidak sadar bahwa kakinya sudah melangkah, sudah berdiri begitu saja di ambang pintu. Ia berdehem dan kedua orang yang ada ruangan itu menoleh padanya, tetapi Shen Yi hanya membalas satu tatapan saja.

“Berkas yang di ruangan sudah selesai disortir, kau bisa melakukan apa yang kau ingin lakukan, kalau kau memang bisa.” Shen Yi tidak akan minta maaf dengan bagaimana dingin dan sinis ia terdengar.

Fu Zixin membalas tatapannya. Tidak tersenyum dan matanya begitu tajam menilik ekspresi Shen Yi. Perlahan, bibirnya melengkung membentuk senyum kecil. “Tentu saja, Shen-laoshi, aku akan segera melakukannya. Kau tidak akan kecewa.”

Pria itu berdiri dan mengambil semua kertas yang selesai dikeluarkan mesin printer. Shen Yi mengangguk dan berbalik, sudah berjalan terlebih dulu ke ruangan rapat. Karena itu ia tidak mendengar saat He Rongyue mencondongkan tubuh ke arah Fu Zixin dan berbisik, “Sayang sekali, tapi kau punya saingan yang berat.”

Shen Yi masuk dengan suara langkah ribut yang membuat dua petugas polisi yang wajahnya menempel lekat pada kertas terkesiap kaget, Fu Zixin tak jauh darinya menggendong setumpuk kertas. Pria itu meletakkan ke atas meja dan ikut menjatuhkan diri ke salah satu kursi.

“Kudengar orang-orang di kantor Biro Kota menjulukimu dengan Super Komputer.” Shen Yi berjalan memutari meja, berdiri tepat diseberang Fu Zixin. “Julukan yang tinggi sekali.”

Shen Yi tahu kekanakan menyelidiki seseorang hanya karena cemburu. Tapi kalau julukan itu adalah hasil pertama yang keluar saat mengetikkan namanya pada internet, Shen Yi tidak terlalu merasa bersalah menggunakannya.

Fu Zixin menyunggingkan senyum basa-basi. “”Tidak lebih keren dari julukan ‘Detektif sakti dalam melukis dan memburu penjahat’. Mereka hanya melebih-lebihkan julukanku, kau pastinya mengerti hal itu juga kan, Shen-laoshi?” sahutnya dengan nada yang begitu manis sampai-sampai Shen Yi bisa merasakan rasa sirup di lidahnya.

Dan baiklah, Shen Yi bukan satu-satunya yang kekanakan disini dengan menyelidiki saingannya di internet.

Jiang Feng merasakan bulu kuduknya berdiri dan ia melirik AC, memastikan bahwa pengaturan suhu tidak turun mendadak tanpa sebab apapun. Du Cheng mengerutkan kening, tertegun dengan lemparan komentar pasif-agresif yang terjadi diantara dua pria itu. Ia melihat partnernya dan pikirannya teralihkan karena teringat sesuatu.

“Dimana kopinya?”

“Oh,” Shen Yi menoleh padanya, matanya bulat dan polos tanpa rasa bersalah dengan santainya menjawab. “Aku lupa.”

Du Cheng mengedipkan mata beberapa kali dengan cepat, bingung dan kehilangan kata-kata sedangkan partnernya itu dengan tenang duduk dan mengambil kertas. Fu Zixin juga sudah tenggelam dalam zonanya. Matanya memindai deretan angka dan huruf, pena ditangan kanan mencoret-coret sesuatu di kertas tersebut, hanya beberapa detik dan ia sudah berganti pada lembaran berikutnya.

Akhirnya si kapten menoleh pada Jiang Feng. Mendecakkan lidah dan menganggukkan kepala pada pemuda itu.

Jiang Feng mengerang, mengerti perintahnya. Ia menggerutu karena malah disuruh menyeduh kopi. Terserahlah, dia akan ambil kesempatan ini untuk mencuri waktu mengobrol dengan Li Han.

Lima menit kemudian Fu Zixin berpindah duduk ke kursi sebelahnya. Lembaran kertas yang tersebar di depan kursinya sudah tercoret semua. Kini memulai di area yang baru.

Du Cheng memperhatikan pria itu melakukan perhitungannya. “Kau tahu, kenapa tidak melakukannya di komputer saja? Bukankah akan lebih cepat daripada menghitung manual seperti ini?”

Fu Zixin hanya menggerakkan matanya untuk melirik Du Cheng sejenak. Wajahnya tetap dalam posisi menunduk. “Tapi bagiku lebih mudah jika aku bisa melihat semuanya sekaligus. Aku bisa secara langsung melihat hubungan satu tabel dengan tabel lainnya daripada menggunakan komputer aku harus mengklik satu per satu file bergantian.” Pria itu mengangguk. Ia mencoret sesuatu pada kertas di depannya lalu mengulurkan tangan untuk mencoret sesuatu di kertas yang agak jauh lalu kembali pada kertas semula.

Du Cheng mengangguk, entah benar-benar mengerti tapi sepertinya bisa merasa kalau ucapan Fu Zixin ada masuk akalnya. Ia kembali menatap kertas yang ia sudah pegang selama beberapa menit. Mencoba melakukan perhitungan juga walaupun jujur ia kesulitan karena tak memiliki latar belakang pendidikan bisnis.

“Tidak perlu memaksakan untuk membantuku. Kalian pasti tidak mengerti berbagai istilah bisnis dan ekonomi, kan?” tiba-tiba Fu Zixin menyela kesunyian. Akhirnya mengangkat kepala dari lembaran kertas. Ia tersenyum simpul.

Dengan sikap pasrah Du Cheng mengangguk mengakui.

“Aku bisa melakukannya sendiri, kalian bisa melakukan hal lain dulu untuk menungguku.”

Du Cheng berdiri. “Baiklah.” Ia menoleh pada Shen Yi. “Kita sebaiknya bersama Li Han saja untuk melihat apakah kita bisa berhasil mendapatkan informasi mengenai perjalanan korban pada hari kejadian.”

Shen Yi mengangguk dan ikut berdiri.

“Jika ada yang kau butuhkan, bilang saja nanti,” sahut Du Cheng berpamitan.

“Kalau makan siang berdua?” Fu Zixin memiringkan kepala dengan sikap imut. Du Cheng memutar bola mata dan keluar tanpa menjawab. Dan diam-diam Shen Yi tersenyum puas.