Actions

Work Header

Married by Main Course

Summary:

Kalau pepatah bilang cinta itu dari mata turun ke hati. Kalau versi wonhosh di sini mungkin bisa dibilang dari lidah turun ke hati. Selamat bertemu kisah perjalanan cinta Chef Wonwoo dengan budak korporat Soonyoung, si pecinta pasta dan Wonwoo.

Notes:

This work is commissioned by — Bitti ★

Tolong siapin obat nyeri takut-takut manisnya bikin gigi kalian kerasa giung hahahaha

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Aroma butter bercampur karamel langsung memenuhi ruangan. Membuat Soonyoung yang duduk manis berselimut di sofa ruang tengah jadi tersenyum tak sabar. Suaminya tengah di dapur, membuat popcorn pesanannya untuk acara theater date mereka di rumah. 

Soonyoung dan suami sedang sama-sama libur dan diputuskan untuk melakukan kencan di rumah saja. Setelah siangnya tadi menghabiskan waktu berkunjung ke rumah orang tua Wonwoo yang memang masih satu kota. Memang dasarnya mereka berdua itu introvert, lebih suka menghabiskan waktu berdua jauh dari keramaian. Seperti ini. 

Sambil menunggu suaminya datang, Soonyoung sedang sibuk memilih film apa yang mau mereka tonton sore ini. Kemudian tak sengaja menemukan file yang tersimpan pada smart TV-nya dengan judul yang membuat dia kembali tersenyum lebar. 

"Nonton apa kamu kok senyum-senyum sendiri." Tanya Wonwoo yang sudah datang membawa sebaskom popcorn hangat dan dua kaleng cola di tangan lainnya. Langsung mengambil duduk tanpa jarak di sebelah suaminya. 

"Lihat deh, kamu lima tahun lalu. Masih agak kurus ya hahaha masih kelihatan muda banget ya kita." 

Wonwoo di sebelah Soonyoung ikut tersenyum melihat rekaman video pernikahan mereka tengah diputar di layar besar itu. Tampak bagaimana keduanya tersenyum bahagia menyalami setiap tamu yang turut hadir di acara bahagia mereka. Mengenakan sepasang jas berwarna putih, Wonwoo dan Soonyoung tampak begitu tampan hari itu. 

"Eh, itu Alin masih bayi banget. Tadi aja dia udah bisa ngoceh berdebat sama aku tau. Cepet banget ya ternyata waktu berjalan, kayak baru kemarin aku gendongin dia sambil kasih susu." 

Alin itu keponakan Wonwoo yang tadi juga bertemu karena memang keluarga adiknya itu tinggal bersama orang tua Wonwoo. Soonyoung sangat dekat dengan gadis cilik itu. 

Kemudian video memutar rekaman catatan perjalanan cinta mereka dari masa awal perkenalan hingga akhirnya sampai ke jenjang serius itu. Wonwoo mendekap erat Soonyoung sembari menyaksikan potongan memori masa lalu yang turut membuka ingatan mereka. 

Soonyoung menempel di dada sang suami, menggenggam erat tangan Wonwoo yang melingkar di pundaknya. Sembari memainkan cincin putih yang melingkar di jari manis suaminya itu. Matanya sudah menghangat mengingat setiap lembar gambar perjalanan kisah mereka. Senyum juga tak lepas dari bibirnya. Ditambah Wonwoo yang juga tak henti mengecup pucuk kepalanya menyalurkan perasaan yang sama. 

Enam tahun lamanya, dari awal pertemuan hingga akhirnya menjalani bahtera rumah tangga. Wonwoo dan Soonyoung sudah menghabiskan waktu bersama selama itu. Setiap langkah yang dijalani dengan rasa cinta dan percaya terasa begitu ringan hingga tak sadar waktu berlalu begitu cepat. Soonyoung dan Wonwoo kembali mengingat debaran perasaan saat mereka pertama bertemu di masa lalu. 

 

 

 

Kalimat "Jodoh itu misteri Tuhan" agaknya memang cocok untuk kisah cinta keduanya. Mari kita kembali ke bertahun lalu, di mana awal cerita mereka bermula. Soonyoung yang pekerja kantoran biasa itu hanya sedang mencoba sebuah resto Italia rekomendasi dari temannya. Setelah datang sekali, tak terasa kunjungan Soonyoung kesana malah lebih sering dari dirinya mengunjungi rumah orang tuanya dalam sebulan ke belakang. 

Dia selalu memesan setidaknya dua menu utama dengan satu dessert untuk makan siangnya. Terdengar berlebihan tapi Soonyoung memang penggemar masakan Italia. Terutama pasta. Dan dari semua tempat yang pernah ia coba, di sinilah dia menemukan citarasa yang paling pas untuk lidahnya. Soonyoung jadi ketagihan. 

Dan agaknya kehadirannya itu menarik bagi beberapa orang di sana. Hingga suatu siang mejanya didatangi oleh seorang pria tinggi mengenakan seragam berwarna biru dongker, berbeda dengan pegawai yang lainnya. 

"Selamat siang, Tuan. Perkenalkan saya Wonwoo, Kepala Chef di restoran ini. Hanya ingin tahu apakah hidangan kami sudah sesuai? Atau mungkin ada yang perlu diperbaiki, bisa langsung sampaikan pada saya." 

Soonyoung harus sedikit mendongak untuk menatap langsung kepada sang chef. Dia sempat membeku, terpesona melihat wajah tampan chef muda yang tampaknya masih seusia dengannya.

"Siang, Chef. Overall nggak ada masalah sih, Chef. Semua makanannya enak banget, saya suka semuanya. Terutama ini, Spaghetti All'Assassina-nya saya suka banget, Chef." 

Kalau tadi Soonyoung yang mematung, giliran Wonwoo yang agaknya menemukan sesuatu yang menarik dari wajah Soonyoung. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi tertentu, namun butuh waktu sekitar tiga detik untuk Wonwoo kembali menjawab pernyataan Soonyoung. 

"Senang apabila anda menyukai hidangan kami. Sekiranya ada yang kurang atau memiliki pesan khusus, mohon sampaikan pada kami. Kami siap menyajikan hidangan sesuai dengan selera Tuan-" kalimat Wonwoo menggantung, meninggalkan nada tanya di belakangnya. 

"Soonyoung, nama saya Soonyoung, Chef." 

Begitu pertemuan dan perkenalan awal mereka. Awalnya Wonwoo tidak begitu memperhatikan. Hanya saja dia membuat catatan sendiri di dalam otaknya tentang pesanan yang justru berbeda dari kebiasaan pelanggan lainnya. Wonwoo jadi penasaran pada pelanggan itu setelah mendengar kalimat dari salah satu staff server siang itu. 

"Pelanggan biasanya nih, Chef. No special request, no allergies. Cuma minta sesuai menu aja." 

Restoran bernama Ameliè itu biasanya dikunjungi banyak pelanggan yang unik. Wonwoo dan staf dapur lain kadang dibuat pusing dengan berbagai permintaan dari banyak pengunjungnya. Dari yang sekedar meminta tanpa garam, atau yang tidak mau pakai bawang olive oil di aglio e olio-nya. Tapi sebagai juru masak, dia harus profesional memutar otak agar makanan yang disajikan tetap memukau tanpa mengecewakan para pemesannya. 

Resto ini dibuat dengan konsep open kitchen. Wonwoo bisa melihat dengan leluasa ke arah staf server bernama Lee Chan itu mengantar pesanannya. Seorang pria dengan kemeja dan ID Card sebuah perusahaan mengalung di lehernya, tengah lahap menggigit sepotong Burrata Pizza Sandwiches yang ikut dipesannya. Matanya melebar, alis terangkat kemudian tersenyum dan lanjut mengunyah hidangannya. 

Setiap perubahan ekspresi itu tidak lepas dari pengawasan Wonwoo yang kemudian menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Lucu. Batinnya. 

Sejak siang itu, dan saking seringnya Soonyoung datang ke Ameliè Kitchen dia jadi akrab dengan para staff resto yang selalu menyambutnya dengan heboh. Lee Chan selalu berlari penuh semangat menjadi server melayani tiap pesanan Soonyoung sambil kadang bercanda dengannya. 

"Siang mas Soonyoung. Hari ini ramaian nih?" 

"Iya nih, gue mau nraktir mereka. Makanya gue ajakin ke sini." 

Dari sebulan lanjut ke bulan berikutnya. Kadang siang, kadang malam. Atau pas weekend pun Soonyoung sempatkan menyetir untuk bisa bersantap di sana. Dan di setiap kedatangan Soonyoung itu ada satu orang yang selalu bahagia hingga senyum lebar tak pernah lepas dari bibirnya. Tatapannya berbeda, menjadi lembut dan hangat ketika Soonyoung hadir di sana. Tak jarang juga Wonwoo meninggalkan dapurnya hanya untuk menyapa pelanggan spesial, di hatinya itu. 

Semua gerak gerik Wonwoo itu tentu bisa dirasakan tim resto yang sudah bekerja bersamanya selama hampir setahun itu. Tiap Soonyoung datang dengan senyuman khasnya, di dapur menjadi ribut karena para chef muda itu sibuk menggoda sang bos yang telinganya memerah setelah disapa. Mereka melihat bosnya seperti remaja puber yang baru jatuh cinta. 

 

Suatu Minggu siang, Soonyoung kembali datang ke resto berniat untuk makan sembari menyelesaikan sedikit pekerjaan. Tapi pas sampai di sana malah terdapat mobil konstruksi dan beberapa tukang berlalu lalang. Soonyoung melongok ke pintu untuk melihat yang terjadi di dalam. Malah wajahnya tiba-tiba hampir berbenturan dengan dada bidang berotot yang tiba-tiba hadir di hadapannya. Hidung mancungnya sedikit mencium dada itu. 

"Eh, sorry-sorry. Loh, Soonyoung? Kamu nggak apa-apa?" wajah Wonwoo tampak panik memegang dua pundak Soonyoung. Hidung mancung itu tampak sedikit merah. 

"Nggak apa-apa kok, Chef. Maaf ya udah lancang tengok-tengok tadi."

"Permisi, Mas." Seorang tukang menginterupsi meminta jalan yang dihalangi oleh keduanya. 

Obrolan mereka lanjutkan di bangku depan resto. Wonwoo masih terus memperhatikan hidung Soonyoung yang bahkan sudah tidak memerah lagi. 

"Beneran nggak apa-apa, Chef. Kebentur dikit tadi. Nih nggak sakit, nih." Soonyoung menekan hidungnya sendiri. Membuat Wonwoo malah terkekeh melihat tingkah lucu itu. Soonyoung ikutan senyum jadinya. 

"Emangnya restonya kenapa, Chef? Kok tiba-tiba banyak tukang?" 

"Kemarin mesin exhausting kita tiba-tiba rusak. Dan pas lagi dibenerin malah plafon sebelahnya ikutan ambruk. Jadi sekalian kita ganti semuanya biar nanti ga bikin bahaya. Kamu kenapa ke sini?" 

"Tadinya mau makan siang sekalian nyelesein lemburan dikit di sini. Tadi aku juga habis mampir kantor sebentar. Tapi ternyata lagi dibenerin. Padahal aku lagi pengen Chicken Piccata-nya." Bibir Soonyoung manyun tapi sambil tersenyum gitu. Jadi seratus kali gemesnya. Kulit putih wajahnya juga memerah kena pantulan panas matahari. Wonwoo harus menggigit sendiri pipi dalamnya sambil menahan diri supaya tak langsung menyergap pipi gemas itu. Lalu membiarkan intrusive thoughts-nya menang. 

"Mau saya masakin di rumah aja, nggak? Nanti kamu bisa sekalian kerja di sana. Kebetulan saya lagi free." 

"Eh, nggak usah. Nanti ngerepotin, Chef. Masa iya restonya ditinggal." 

"Nggak apa-apa. Udah ada adik saya yang ngawasin. Dia kontraktornya. Mau ya, Soonyoung?" 

 

Dan scene berikutnya mereka sudah ada di supermarket dengan Wonwoo yang mendorong cart dan Soonyoung berjalan di sebelahnya. Wonwoo takut kalau dia kehabisan daging ayam di kulkasnya jadi mereka memutuskan untuk belanja terlebih dahulu. Jangan salah, bukan hanya Wonwoo yang jantungnya berpacu dan suka senyum salah tingkah, Soonyoung sendiri tidak jauh beda. 

Salah satu alasan dia sering datang ke Ameliè, selain karena makanannya enak ya karena chef ganteng bernama Wonwoo itu. Soonyoung bukan tidak mendengar ketika para staf resto menggoda Wonwoo tiap dirinya datang. Soonyoung selalu menyembunyikan senyum serta wajah merahnya karena ikut tersipu. Senyum yang dilempar Wonwoo tiap ia berpamitan dari resto selalu terbayang di mata Soonyoung hingga terbawa ke alam mimpinya. Wonwoo tidak jatuh cinta sendirian. 

Soonyoung sampai tidak fokus mendengar celotehan Wonwoo tentang bahan untuk resepnya karena sibuk menetralkan detak jantung yang terus berpacu. Takut kalau-kalau Wonwoo bisa mendengarnya. Grocery shopping menjadi salah satu kegiatan domestik yang ada di bayangannya bila sudah punya kekasih. Terlebih ini dia sedang bersama Wonwoo. Orang yang dia taksir belakangan ini. Soonyoung itu hopeless romantic banget. 

"Soonyoung? Halo?" Wonwoo mengibaskan tangannya, menyadarkan Soonyoung dari lamunannya. 

"Eh, iya. Kenapa Chef?" 

"Saya tanya, kamu ada mau dessert apa gitu sehabis makan? Es krim atau apa? Susah ya mikirnya sampai bengong gitu?" 

"Eh, nggak, Chef. Ada yang dipikirin aja tadi. Es krim juga boleh kok. Es krim aja." Soonyoung jadi makin kayak kepiting rebus karena ketahuan bengong. 

"Oh iya, saya boleh minta satu hal nggak?" tanya Wonwoo dengan wajah serius dan tubuh menghadap lurus ke arah Soonyoung. 

"Eh, apa, Chef?" 

"Bisa stop manggil saya chef, nggak? Panggil Wonwoo aja nggak apa-apa loh. Kan kita seumuran. Saya jadi kayak lagi kerja terus kalau kamu panggil begitu."

Di akhir kalimatnya, Soonyoung seperti melihat wajah kucing yang protes dengan kening berkerut dan bibir tipisnya mengatup rapat. Wonwoo yang biasanya tampan dan berkarisma jadi tampak gemas di hadapannya. 

"Okay, Wonwoo. Dan kamu stop nyebut pakai saya. Kayak lagi ngomong sama bos di kantor." 

"Oke, aku coba." 

Rumah Wonwoo bentuknya minimalis dan agak klasik. Seperti rumah bergaya Belanda dengan bukaan lebar tapi dengan interior modern. Tidak banyak perabotan, hanya yang memang fungsional saja. Soonyoung melihat sekeliling sembari menunggu Wonwoo yang sedang berkutat di dapur. Aroma saus mentega yang bercampur lemon dan white wine segera menyebar ke seluruh ruangan. 

 

Dari ruang TV tempatnya berdiri, Soonyoung memandang dan mengagumi Wonwoo yang tengah lihai membumbui hidangan pesanannya persis seperti scene film tentang chef tampan dan mahir. Tak ingin menyiakan pemandangan itu, Soonyoung segera mengambil ponsel, mengarahkan kamera dan menekan tombol ketika fokus sudah mengambil gambar Wonwoo dengan sempurna. 

Bunyi shutter kamera yang ternyata cukup kencang menggema menyita fokus Wonwoo beralih ke arahnya. Soonyoung terdiam salah tingkah, malu karena kelakuannya sudah ketahuan. Soonyoung berlari dan masuk ke dalam toilet karena terlalu malu dengan perbuatannya. Dia merutuk dirinya sendiri yang telah melakukan hal bodoh. 

Kedua pemuda itu makan dalam diam walau sambil berhadapan. Soonyoung masih salah tingkah dan hanya fokus mengunyah serta memotong daging ayam di hadapannya. Sementara Wonwoo malah tersenyum melihat orang yang ditaksirnya tengah bergelut dengan penyesalannya. 

"Soonyoung." 

"Eh? I-iya?" 

"Boleh pinjam ponselnya sebentar?" 

"Eh, Won. Sorry banget ya tadi. Nanti aku hapus beneran. Eh enggak, tadi aku cuma fotoin dapur kamu kok. Tapi kalau nggak dibolehin nanti aku hapus juga."

"Soonyoung, pinjam hp-nya sebentar? Ini bukan soal foto kok". 

Soonyoung tampak takut dan agak ragu tapi masih tetap menyerahkan ponselnya yang sudah dibuka kuncinya. Wonwoo tampak mengetik sesuatu sebelum benda yang sama di sebelah piringnya menyala dan berdering. 

"Kalau mau minta foto, chat aja. Nanti aku kirim sebanyak yang kamu mau". Wonwoo dengan wajah tersenyum mengembalikan ponsel Soonyoung. Sementara yang satunya hanya melongo mencoba mencerna situasi yang baru saja terjadi. Matanya berkedip-kedip lucu menyadarkan diri bahwa dia masih berada di dunia yang sama sekarang. 

"Coba deh chat nomorku barusan. Kirimin fotoku yang di dapur tadi. Kayaknya bagus."

Sialan. Wonwoo ini tujuannya apa, sih? Kenapa menyerang terus-terusan begini? Kenapa tidak satu-satu dulu? Soonyoung makin pusing. 

"Wonwoo. … M-maksudnya gimana ya?" wajahnya total kebingungan. 

Wonwoo mengulurkan tangan seperti hendak menyentuh milik Soonyoung yang menganggur tak memegang ponsel. 

"Boleh?" tanyanya meminta ijin. 

Tangan dingin Soonyoung langsung menjadi hangat di dalam genggaman tangan besar Wonwoo setelah dia mengiyakan permintaan si pemilik rumah itu. 

"Soonyoung, maaf kalau ini terlalu jujur but I think I like you. Dan aku pengen mencoba lebih dekat sama kamu tapi bukan hanya sebagai teman. Kalau kamu ijinin sih, let's get to know each other more". 

Dan sorenya mereka lanjut menikmati semangkuk es krim di teras rumah Wonwoo sembari mengobrol ringan walau dengan jantung yang terus berdetak hebat mengetahui tujuan mereka ternyata sama. 

Setelah momen itu kedekatan mereka juga semakin intens. Soonyoung suka berada di resto lebih lama, mengobrol di ruangan pribadi Wonwoo atau menghabiskan kopi sampai pelanggan berikutnya datang. Atau kalau Wonwoo sedang libur, dia akan mengantar dan menjemput Soonyoung dari tempat kerjanya dilanjut dengan agenda pergi ke kafe atau menonton film. Umumnya yang dilakukan orang-orang saat pendekatan lah. 

Soonyoung juga makin sering berkunjung ke rumah Wonwoo. Kadang pulang kerja dia langsung menuju ke sana untuk dibuatkan makan malam spesial. Lalu Wonwoo akan lanjut mengantarkan pulang dan mengucapkan selamat malam sebelum berpisah. Begitu selama hampir dua bulan kegiatan intens itu berlangsung. 

 

Hingga suatu malam, Soonyoung pulang sangat larut setelah lembur di akhir bulan bersama timnya. Seakan hari itu sudah ditakdirkan sial untuknya, mobil Soonyoung tiba-tiba mogok di jalan. Sementara di luar hujan juga sudah mulai turun. Saat membuka ponsel pun ternyata sudah mati kehabisan baterai. Rasanya Soonyoung ingin menangis saja. 

Dia melihat sekeliling mencoba mencari sekiranya ada yang bisa dimintai bantuan. Tapi jalanan itu sudah cukup sepi. Namun perlahan dia ingat kalau posisinya sekarang itu tidak jauh dari restoran milik Wonwoo. Hanya perlu berjalan di belokan dua gedung dan dia akan sampai di sana. Begitu biasanya dia melalui jalan ini dari kantornya. 

Melihat air yang menetes dari langit awalnya Soonyoung ragu. Tapi karena tidak begitu deras akhirnya ia nekat menembusnya. Selama berjalan sambil memeluk tubuhnya sendiri Soonyoung berharap Wonwoo ataupun staf toko lain masih ada yang tinggal dan bisa membantunya. 

Soonyoung tersenyum senang saat orang yang dia cari itu sedang berada di ujung jalannya. Ia mempercepat langkah dan hendak menyapa. Namun, semakin dekat Soonyoung jadi jelas melihat kalau Wonwoo sedang memegang payung untuk melindungi seorang wanita dengan perut buncitnya. Langkahnya terhenti seketika. 

Hujan memang tak begitu lebat jadi masih cukup jelas di penglihatan Soonyoung bagaimana Wonwoo tersenyum lalu mengecup pipi dan mengelus perut buncit itu. Tubuh Soonyoung seperti membeku di tempat. Otaknya tidak mampu berpikir dan hanya diam menyaksikan semua pemandangan itu. Bahkan hingga mobil yang ditumpangi perempuan itu pergi menjauh. 

Soonyoung tersadar tepat saat Wonwoo berbalik dan tatapan mereka langsung bertemu. Otak Soonyoung memerintahkan untuk berlari tapi panggilan dari Wonwoo langsung membuat kakinya kelu tak mampu diajak kompromi. Lelaki itu akhirnya berdiri tepat di hadapan Soonyoung memayungi tubuh basahnya. 

"Kamu ngapain hujan-hujanan gini Soonyoung? Ayo, masuk dulu."

Soonyoung sungguh seperti dihipnotis. Tubuh setengah basahnya sudah duduk di bangku di dalam resto menunggu Wonwoo mengambilkan handuk untuknya. Matanya menatap nanar sebuah paper bag berlogo toko perlengkapan bayi, lengkap dengan aroma bedaknya. Mata Soonyoung terasa panas hingga kemudian air mata meleleh di masing-masing sudutnya. 

Wonwoo datang membawa handuk dan sepasang pakaian kering. Mungkin miliknya. Soonyoung segera menghapus air matanya sebelum Wonwoo melihat wajah konyolnya. Tapi gerakan sekecil itu terlalu kentara bagi Wonwoo yang memiliki kepekaan seperti putri malu. 

"Keringin rambutnya dulu. Nanti kamu masuk angin." 

Wonwoo bukan menyuruh, tapi melakukannya sendiri, mengusap kepala Soonyoung dengan handuk yang dia bawa. Yang dibegitukan juga hanya diam duduk dan menurut karena isi kepalanya masih berkecamuk. Hasratnya ingin marah dan mengamuk meminta penjelasan pada Wonwoo. Hatinya merasa dipermainkan kalau memang yang dia takutkan itu benar adanya. Tapi di sisi lain, Soonyoung juga takut kalau harus kehilangan Wonwoo secepat ini. 

"Kamu ngapain hujan-hujanan begini? Mobilnya mana?" 

"Mogok, di gang sebelah. Ak-gue mau minta tolong ke sini soalnya handphone gue juga mati. Gue ga bisa telepon siapa-siapa". 

Wonwoo mengerutkan kening mendengar kata ganti yang sangat asing baginya itu. Dan suara datar Soonyoung yang juga sedikit serak itu makin membuat Wonwoo heran. Wonwoo menaruh handuknya. Ia berjongkok menyamakan tinggi dengan Soonyoung. Tangannya menangkup dua pipi Soonyoung yang sangat dingin. Soonyoung looks so miserable

"Kamu kenapa? Ada masalah? Mau cerita?" 

Dan Soonyoung tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia ceritakan semua yang dijalaninya hari ini. Tentang lemburnya, tentang mobil mogoknya juga baterai ponselnya. 

"Lalu -Soonyoung terisak- cewek tadi siapa Won? Kamu udah nikah dan mau punya anak? Kalian habis belanja perlengkapan bayi bareng? Lalu kita apa, Won? Kamu bilang mau deketin aku? Aku bukan selingkuhan, kan?" 

Ocehan Soonyoung yang tak masuk akal itu langsung terhenti karena bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Wonwoo. Sambil masih sedikit terisak dan mata membelalak Soonyoung diam mematung dan terkejut. Ia bisa merasakan bibir Wonwoo mulai bergerak pelan memagut miliknya. Pagutannya lembut sampai membuat bibir Soonyoung ikut menghangat. Wonwoo kemudian berhenti menyadari Soonyoung tak membalasnya. 

Wonwoo mengelus pipi Soonyoung yang mulai memerah dan menghangat. Ditangkup sebelah dan matanya dikunci dengan tatapan Wonwoo yang penuh dengan keyakinan. 

"Itu tadi adik aku. Adik kandung aku. Tadi habis belanja sama suaminya lalu mampir kesini. Aku ga akan berani deketin kamu kalau aku punya orang lain, Soonyoung. Kamu terlalu berharga untuk disakitin seperti itu. Aku tulus sayang sama kamu. Aku cuma mau kamu".

Soonyoung menyelam sampai ke dalam mata Wonwoo. Tidak ada keraguan atau bohong yang dia temukan. Tatapan itu hangat dan hanya punya satu tujuan. Yaitu dirinya. 

Soonyoung langsung menubruk dan merangkul tubuh Wonwoo mempertemukan kembali bibir mereka. Wonwoo membawa keduanya berdiri dengan tubuh saling memeluk erat dan bibir yang mulai saling melumat seirama. Bokong Soonyoung didudukan di atas meja resto. Menikmati alunan lembut dan basah dari belah keduanya. 

Tidak perlu lagi berucap kalimat. Bahasa tubuh mereka sudah sangat menggambarkan betapa mereka memang saling mendamba satu sama lain. Hawa dingin yang tadi dirasa perlahan meleleh berganti panas yang menghangatkan dada. Mata saling terpejam, yang satu meremas tengkuk, dan satunya mengelus punggung basah kelelahan itu. 

Waktu yang berjalan sampai tidak terhitung hingga keduanya merasa lelah dan butuh bernafas. Saling berebut udara memasok oksigen untuk kebutuhan paru-paru mereka. Tubuh masih melekat, kening saling bertaut dan mata sayu memandang dalam temaram lampu. 

"Be mine, Soonyoung? I love you so much". 

"I'm yours, Wonwoo. I love you too". 

 

Esok paginya Soonyoung terbangun di atas kasur yang bukan miliknya. Kaos kebesaran dan celana training gombrong membungkus tubuhnya. Ia meraba sisi sebelah dan tidak menemukan siapapun di sana. Soonyoung tidak mabuk. Jadi begitu kesadaran dari alam mimpinya kembali, Soonyoung langsung ingat dengan kekasih barunya itu. Ia sampai tersenyum malu mengingat status baru mereka sekarang. 

Tenang, mereka penganut pacaran sehat. Semalam sesampainya di rumah Wonwoo mereka hanya lanjut berciuman dengan sedikit cumbuan lalu tidur sambil berpelukan hingga pagi datang. Lagipula baru juga semalam resmi memberikan label untuk hubungan mereka. Tidak ada yang perlu diburu-buru, kan? 

Hatchiimmm

Sisa hujan semalam sepertinya meninggalkan pilek yang juga membuat kepalanya sedikit berat. Soonyoung menggosok hidungnya yang gatal itu hingga membuatnya menjadi semerah tomat. Sambil berjalan keluar mencari kekasihnya. 

"Wonwoo.… Kayaknya aku pilek deh…." 

Soonyoung mematung di tengah ruangan dan langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Karena bukannya menemukan Wonwoo, malah ada sepasang pria dan wanita setengah baya yang duduk di meja makan menatap dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Sang bapak hanya tersenyum tipis lalu lanjut melihat ponselnya, lalu sang ibu menggeleng tipis sambil menghela nafasnya dalam. 

"Dasar anak muda". 

Soonyoung melirik ke dapur meminta bantuan Wonwoo. Tapi malah menemukan pacarnya itu sedang tertawa sambil menyeduh kopi di sana. Soonyoung ingat wajah kedua orang tua itu. Foto mereka dipajang besar di atas TV di ruang keluarga Wonwoo. Lengkap dengan Wonwoo dan adiknya. 

 

Soonyoung ingin menghilang saja rasanya.

 

 

______________<<<<💜💛>>>>______________

 

 

Video yang terputar berakhir dengan potongan foto first dance mereka di sebelah tampilan credit yang mulai berjalan. Soonyoung sudah terisak dengan pipi basah di dada suaminya. Mengenang cerita perjalanan cinta mereka membuat hati Soonyoung menjadi terasa penuh dengan rasa bahagia. Tak henti dia mengucap syukur dalam hati karena telah diberikan suami dan kehidupan yang selalu membuatnya bahagia. 

"Jadi mellow gini, kan. Ga jadi nih nonton horornya?" 

"Mataku udah pedes banyak nangis. Ga bisa nonton lagi". Soonyoung mengeluh sambil mencebikkan bibir. Malah kedua pipinya dicubit gemas oleh Wonwoo. 

"Iya nih, jadi jelek gini suami aku." Godaan Wonwoo berhadiah satu pukulan di dadanya dengan Soonyoung yang total cemberut. 

"Wonwoo ih jahat banget." 

"Nggak lah. Suami aku tetep yang paling ganteng paling cakep paling aku sayangi sedunia." 

Mereka berpelukan sangat erat seerat sumpah janji sehidup mati yang sudah diikrarkan dan tak akan pernah dilanggar. Sumpah di hadapan Tuhan yang akan terus mereka bawa sampai maut memisahkan. 

Setelah bebersih dan semuanya, dimulailah rutinitas mereka sebelum menjemput alam mimpi bersama. Diawali dengan mereka duduk berhadapan lalu Wonwoo mengecup kening Soonyoung. Dilanjut dengan kedua pipi, hidung kemudian saling mempertemukan bibir disertai lumatan lembut. 

Lalu giliran Soonyoung mencium kedua telapak tangan Wonwoo bergantian. Kemudian buku-buku jari di kedua sisinya, berakhir satu kecupan pada cincin pernikahan mereka. Wonwoo membalas di cincin yang dikenakan Soonyoung. Ritual mereka berakhir ditandai dengan keduanya bergelung hangat saling mendekap di balik selimut tebalnya. Sudah lima tahun dan kebiasaan mereka tak pernah berubah. 

Lima tahun waktu yang sudah dilalui bersama sebagai pasangan menikah terasa berlalu begitu cepat. Sepertinya baru kemarin Wonwoo melamar Soonyoung dengan sebuket bunga dan cincin emas. Disaksikan para staf resto dan seluruh pengunjung yang hadir pada malam spesial itu. Soonyoung jadi tersenyum geli mengingatnya. 

"Sayang." 

"Hm?" 

"Soal adopsi anak, kamu mau sekarang aja nggak?" 

Soonyoung mendongak kaget menatap suaminya yang tiba-tiba membawa topik yang selalu membuatnya semangat sejak pernikahan mereka. Soonyoung sangat suka anak-anak. Adopsi juga menjadi salah satu tujuan mereka sebelum memutuskan untuk menikah dan keduanya juga sepakat akan hal itu. 

Mereka sudah pernah mencoba mengurus, tapi dikatakan bahwa usia pernikahan mereka masih terlalu muda dan banyak syarat lain yang masih belum bisa mereka penuhi saat itu. Namun sekarang, syarat umur pernikahan sudah lulus. Lalu secara finansial dan tabungan, Wonwoo juga sudah menghitung-hitung dan ia merasa sudah sangat mampu untuk itu. Ia bahkan juga sudah mendaftar asuransi pendidikan untuk anak yang bahkan belum ada di pelukan mereka. 

Obrolan Soonyoung yang begitu semangat tentang keponakannya tadi, juga cerita tentang mama Soonyoung yang ingin menimang cucu lagi, ditambah tadi siang Lee Chan juga sudah mengajukan cuti untuk kelahiran anak pertamanya. Membuat Wonwoo berani membawa kembali topik yang sudah lama diidamkan Soonyoung ini. 

"Kamu serius, Sayang?" 

Wonwoo tersenyum lalu mengangguk. 

"Kita udah sangat siap untuk itu. Aku yakin kamu akan jadi papa yang terbaik untuk anak kita nanti. Dan aku juga akan selalu berusaha menjadi ayah serta suami yang bertanggung jawab dan memberikan semua yang terbaik untuk keluarga kecil kita. Ayo kita mulai petualangan baru itu sama-sama, sayang. Kamu mau?"

Tangis haru mengiringi pelukan erat Soonyoung pada tubuh suaminya. Jantungnya berdegup kencang, campuran rasa senang dan euforia semangat juga sedikit gugup membayangkan perjalanan baru dalam rumah tangga mereka. Soonyoung dan Wonwoo saling mencintai, dan tidak pernah ada pikiran selain menghabiskan sisa umur bersama-sama. Dan keberadaan anak akan semakin menambah lengkap kebahagian yang terus mereka bangun setiap harinya berlandaskan cinta dan kasih sayang. Wonwoo dan Soonyoung sudah siap. Mereka bisa. 

 

 

 

💜💛

Notes:

Ga cuma nulis bokep, aku bisa juga bikin yang manis2 loh. Ayo yang mau commis juga silakan ketuk dm X aku ya. Any svt pair is ok. Maap kalo telat buka dm soalnya notifnya suka ga masuk hehehe bless you all and be happy 💜💛

Series this work belongs to: