Chapter Text
19 November 2029, Musim dingin
Minggu pagi yang cerah, tumpukan salju yang turun semalam sudah hampir menggunung di jalan. Sinar mentari mulai menyinari bumi, burung-burung bernyanyi saling menggaungkan nada indah di pagi hari untuk menyambut hari yang indah. Sinar mentari tampak memasuki jendela bangunan yang akan digunakan untuk acara pernikahan. Kedua mempelai yang sedang menunggu di ruangan masing-masing berjumpa dengan tamu undangan sebelum dimulainya pemberkatan. Acara pemberkatan pun akan segera dimulai mempelai satu persatu tamu yang merupakan masih kerabat dekat kedua mempelai mulai memasuki ruang pemberkatan. Lagu iringan pengantin pun dilantunkan, pria dengan tuxedo hitamnya berjalan memasuki ruangan. Tatapan mata kagum atas ketampanannya terpancar dari para tamu undangan. Suara pintu kembali terbuka untuk menyambut pasangan pria itu., menunggu cukup lama namun tidak ada yang masuk. Mengundang tanda tanya bagi para tamu. Tak lama seorang staff dengan sedikit berlari dan nafas yang tidak teratur, dengan suara paniknya ia menyampaikan kepada semua orang "Mohon maaf, Youngjae-ssi tiba-tiba tidak sadarkan diri di ruang tunggu pengantin." Sebuah berita yang membuat pria di altar itu berlari dengan cepat kearah ruang tunggu calonnya itu.
Beberapa jam sebelum pemberkatan
Youngjae menunggu dengan tenang di ruangannya. Hari ini adalah hari pernikahan dia, bukan dengan orang yang ia cintai, namun dengan seseorang yang neneknya jodohkan untuk dia. Dia tidak bisa membantah bahkan kedua orang tuanya pun tidak bisa berkutik. Alasannya menurut Youngjae cukup sepele, agar kerjasama kedua perusahaan semakin erat dan semakin besar. Baginya, mempererat kerja sama kedua perusahaan tidak harus dengan menikah. Ia yakin ada alasan lainnya di balik itu hingga membuat kedua orang tuanya tidak berkutik membela Youngjae.
Hanya kerabat dekat dan keluarga dua belah pihak yang menjadi tamu pada hari ini. Termasuk yang sedang diruangan berfoto dengan Youngjae saat ini adalah paman dan bibi nya yang baik dan dekat sekali dengan Youngjae.
"Bibi nggak nyangka kamu sekarang udah mau nikah ya. Padahal dulu masih sering menginap di rumah bibi kalau kamu bolos les atau kuliah." Youngjae hanya membalasnya dengan kekehan dan senyuman yang sebenarnya senyuman template yang sudah ia gunakan sedari tadi saat sanak saudaranya datang ke ruangan itu. Melihat balasan Youngjae, bibinya tau pasti ada sedikit rasa tidak bahagia di hari yang seharusnya membuat dia menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini.
Bibinya kembali merangkul Youngjae dan menatap matanya, "Youngjae-ya...kamu bahagia kan?". Youngjae membalas tatapan mata bibinya. Sebuah pertanyaan sulit yang sebenarnya bisa dijawab dari tatapan matanya.
"Bibi tau, mungkin sebenarnya ini sulit buat kamu. Tapi bibi yakin pasti ada alasan nya kenapa nenek memilih jalan ini. Youngjae yang kuat ya, kalau ada apa-apa dan kamu nggak mau cerita ke orang tua kamu, kamu bisa datang ke rumah bibi seperti biasa."
Kalimat lantunan bibinya membuat Youngjae menahan air matanya agar tidak keluar. Setelah kalimat itu, paman dsn bibinya keluar menuju area pesta. Tak lama ibu Youngjae masuk ke dalam ruangan itu
"Youngjae-ya, ayo turun sebentar ada yang ingin bertemu dengan mu."
"eo....ne eomma"
Youngjae kemudian turun ke bawah ke arah belakang gedung yang sudah di sekat agar tidak terlihat oleh tamu lainnya. Tampak kedua orang tua Dohoon yang sedang bersalaman dengan paman dan bibinya tadi. Melihat Youngjae yang sudah hampir dibawah paman dan bibinya Youngjae pergi meninggalkan kedua orang tua Dohoon yang menatap Youngjae dengan senyum manisnya.
"Cantiknya Youngjae" kata ibu Dohoon sambil tersenyum dan memegang lengan Youngjae.
"Jadi, paman dan tante Kim akan pindah ke Eropa dan penerbangannya hari ini. Jadi mereka tidak bisa mengikuti rangkaian kegiatannya." jelas ibunya Youngjae.
"Iya sayang, kami setelah ini harus langsung ke bandara karena penerbangannya mepet sekali dengan acara kamu jadi pas ada waktu kami mampir sebentar." kata ibu Dohoon.
"nggak apa-apa tante, terima kasih sudah meluangkan waktunya" Jawab Youngjae sambil tersenyum. Keheningan sedikit terjadi setelah balasan Youngjae. Sebenarnya ada lagi kalimat yang ingin Youngjae ucapkan tapi tertahan apakah harus dia mengucapkan atau tidak. Tak lama ayah Dohoon menyenggol istrinya, sepertinya mereka akan pamit setelah ini.
"ah...iya sayang maaf sekali kami sekarang harus ke bandara. Selamat ya Youngjae maaf tante nggak bisa sampai acara nya selesai."
"eh...iya gak apa-apa tante. Terima kasih sudah datang."
“aku pamit dulu ya, semoga acaranya lancar” ucap ibu Dohoon ke ibu Youngjae.
"nggak apa-apa kok, hati-hati di jalan ya. Kabar-kabarin kalau udah landing nanti" setelah ucapan itu, ibu dan ayah Dohoon berbalik ingin meninggalkan tempat sampai....
"eummm.....tante!!" suara Youngjae berhasil menghentikan langkah kedua orang itu. Youngjae masih menunduk seperti anak kecil yang bersalah. Youngjae pun mendekati mereka berdua, "maaf...Youngjae minta maaf." Ayah Dohoon mengkerut tidak mengerti namun ibu Dohoon langsung memeluk Youngjae dan berkata, "tidak ada yang salah disini, hanya takdir berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan." Youngjae hanya menghela nafas sampai ibu Dohoon melepaskan pelukan itu dan menggenggam tangan Youngjae, “tidak perlu merasa bersalah, kerjakan apa yang sudah terjadi ya” balas ibu Dohoon.
"Tidak ingin menyapa Shinyu diseberang sebelum pergi?" tanya Youngjae. Namjn, orang tua kedua Dohoon hanya membalas dengan gelengan, "Tolong sampaikan saja salam kami untuk dia ya sayang." kata ibunya Dohoon sambil menggenggam tangan Youngjae lalu pamit lagi kearah luar. Youngjae pun kembali ke ruang tunggu pengantin dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan. Hatinya nyaman lagi, tidak tenang dan perasaan bersalah itu muncul kembali. Dari depan ia melangkah masuk dan melihat sebuket bunga dengan dua boneka guinea pig di dalamnya yang sedang berpelukan. Melihat itu, hanya satu nama yang terlintas diotaknya, satu nama yang sudah kurang lebih lima tahun tidak terlihat dari manapun. Ia langsung berlari kembali ke ruangan tadi dan juga keluar. Satu nama yang lima tahun lalu tiba-tiba menghilang, tidak meninggalkan pesan apapun, tidak mengucapkan selamat tinggal, tidak meninggalkan jejak yang sama sekali. Satu nama yang membuat Youngjae berpikir jika waktu bisa diputar, ia ingin kembali ke masa orang itu masih selalu di sampingnya.
'Han Jihoon' ucapnya dalam hati.
Dengan napasnya yang sudah terengah-engah, ia mencoba mengejar langkah orang yang sudah lima tahun menghilang dari hadapannya. Kini kembali hadir dihadapannya meski hanya punggung yang terlihat. Air mata mulai menggenang di pelupuk jikalau orang dihadapannya berputar mungkin akan langsung jatuh air mata.
"Han Jihoon..." lirih Youngjae. Langkah kaki didepannya langsung berhenti mendengar suara itu. Ia membalikan badannya melihat Youngjae yang sudah menangis. Jihoon hanya menyyunggingkan senyumnya. Youngjae menangis di hadapan Jihoon, ingin mendekat untuk memeluk namun ia sadar kalau dirinya bukan siapa-siapa Jihoon dan akan menjadi pasangan orang lain.
"Lama tidak bertemu, Youngjae hyung." jawab Jihoon. Ingin Youngjae bertanya kemana saja selama 5 tahun ini, kenapa dia pergi tiba-tiba, kenapa dia menghil—
"Kamu cantik pakai suit putih itu. Seperti mimpimu saat itu....."
"Aku......aku meninggalkan buket bunga dengan boneka guinea di ruang tunggu mu karena aku pikir aku tidak bisa melihatmu lagi. Aku berpikir hatiku akan lebih sakit melihatmu dengan setelan putih itu. Tapi kau tampak cantik saat ini." ucap Jihoon lagi
"Shinyu hyung.....dia orang yang baik, dia pasti akan menjagamu dan merawatmu lebih baik.......dibanding aku"
"Dahulu aku yakin padamu, tapi seseorang benar. Kita terlalu jauh berbeda dari segi apapun hyung. Tidak baik memaksakan takdir, takdirku tidak bisa bersanding dengan seberapa besar dan kuat aku melawan, kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama." ucapan Jihoon membuat Youngjae menggeleng dengan keras dalam tangisnya yang cukup deras.
"Hyung...selamat. Maaf selama lima tahun ini aku menghilang. Alasan yang cukup panjang namun tidak bisa aku ceritakan sekarang. Aku tidak menceritakannya di hari bahagiamu." mata Jihoon sudah berkaca-kaca. Ia harus mengakhirinya disini sekarang juga. Mobil jemputannya sudah terlihat didekatnya, tandanya ia harus segera berangkat. Ia juga sudah melihat siluet orang dengan tuxedo hitam di depan pintu keluar belakang itu.
"Maaf aku harus pergi sekarang, jangan cari aku lagi ya hyung. Maaf aku tidak bisa menjagamu selama ini. Sekarang kamu sudah punya Shinyu hyung yang bisa menjagamu dengan baik." Jihoon menghela napas sebentar, "Annyeong...."
Jihoon berbalik meninggalkan Youngjae yang masih menangis keras. Jihoon berjalan menjauh dari Youngjae tanpa berbalik. Air mata yang jatuh ia usap dengan kasar lalu masuk ke dalam mobil itu. Sementara Youngjae menangis lebih keras dari sebelumnya sampai jatuh ke bawah. Shinyu yang melihat mereka sejak tadi langsung berlari ke arah Youngjae yang menangis dengan keras, membawa kepelukan Shinyu. Sesekali meraungkan nama Han Jihoon dalam tangisnya. Sesekali melihat mobil yang Jihoon gunakan menjauh dari tempat mereka. Mengingat kembali bahwa ada satu orang yang ia kenal selain Jihoon yang ada di dalam mobil itu.
Selain mereka ada juga ibu Youngjae yang melihat itu...dan juga.....neneknya Youngjae.
