Actions

Work Header

Janda Kembang

Summary:

Inilah kisah Harry Suhendar, seorang janda kembang dengan tiga anak yang ditaksir seluruh komplek.

Notes:

If you're not Indonesian, you may not understand the jokes.
Anw, I love Albus in here lmao

Work Text:

Di suatu komplek perumahan di kawasan KMA (Kumuh Menengah Atas) pelosok kota Depok, hiduplah seorang janda kembang bernama Harry Suhendar. Papa muda yang berstatuskan Omega itu telah berhasil memenangkan nominasi sebagai "Miss Janda 2020" di sebuah ajang kecantikan tingkat kabupaten, yang diselenggarakan oleh Dinas Kesejahteraan Rumah Tangga, dalam rangka memperingati 1000 hari tanpa KDRT.

Harry, yang berhasil mengalahkan primadona dari desa BauBatong—Fleur Florida—mendadak menjadi incaran semua orang di kompleknya. Bukan berarti hal ini tidak pernah terjadi, hanya saja berkat popularitas sebagai janda nomor satu, keberadaan Harry semakin diincar oleh satwa-satwa liar di sekitar rumahnya. Bahkan, dia pernah didatangi oleh polisi dari desa seberang, yang berkedok menilang motor vespa merahnya hanya untuk mendapati nomor WA si cantik. Sejak hari itu, polisi bernama Viktor Komang selalu pamer video latihannya di status WA hanya untuk dilihat sang pujaan hati.

Lagi pula, siapa yang bisa menolak pesona Harry? Tidak seorang pun. Bibit yang diturunkan dari ibunya, Siti Lily Rosmini, terlalu hebat sampai-sampai tiap kali lelaki beranak tiga itu lewat, semua mata memandang akan langsung tertuju padanya. Bagai melihat bidadari jatuh dari surga ke tanah Depok, abang tukang bakso yang suka lewat saja sampai menjatuhkan seisi dagangannya ke selokan terdekat. Melihatnya, pria cantik itu hanya akan tertawa manis sambil berkata,

"Aa' Theo gak papa? Kok Aa' jalannya gak lihat-lihat sih, gak sayang sama baksonya?"

Theo Tresno, seorang pedagang bakso yang selalu lewat di depan rumah Harry tiap 3 x 24 jam, mendadak tersipu malu sambil menggaruk tengkuknya dengan salah tingkah. "Wah kalo ditanya mah, ya saya sayang banget atuh. Tapi gak lebih sayang dari cinta Aa' ke Neng Harry."

Biasanya tanggapan seperti itu hanya akan dibalas dengan tawa garing dari yang bersangkutan. Tapi setelah mendengarnya lebih dari 27 kali, Harry jadi sedikit bosan dan memukul pelan pundak lelaki sunda itu, yang membuat Theo terjerumus lagi ke dalam selokan. "E-EHHH MAAF AA' AKU GAK SENGAJA!!"

Ah benar, sudah kah aku mengatakan jika Harry tidak hanya terkenal sebagai janda kembang nomor satu, tetapi juga sebagai mantan pegulat ternama tingkat kota? Cantik-cantik gitu tenaganya tidak bisa diremehkan. Dia pernah tidak sengaja menendang kaki tetangganya yang cabul karena sudah berani mengambil kutang Harry dari jemuran. Menurutnya sih tendangan itu pelan, tapi saat malam tiba, pria bernama Draco Mansur itu langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat dan didiagnosa mengalami patah tulang. Sejak hari itu, setiap pria dan pemuda yang ingin menggodai Harry jadi mikir dua kali, dan berakhir memberikan jarak minimal satu meter di antara mereka. Social distancing, katanya.

Harry tidak lagi muda, namun tetap awet muda. Di usianya yang ke-35 tahun, ia masih tampak seperti pemuda di pertengahan 20. Banyak yang menolak percaya jika dia adalah seorang janda dari dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Anak pertamanya bernama Jenang atau yang kerap dipanggil Jejen, usianya sudah menginjak 10 tahun pada bulan lalu. Dua tahun lebih muda dari Jejen, ada anak kedua Harry yang bernama Aldol, meski lebih sering disebut Dodol. Terakhir, satu-satunya anak gadis yang ia miliki dan dia baru berusia 6 tahun. Saat itu, Harry sedang tidak fokus ketika menuliskan nama anak ketiganya di akta kelahiran, yang seharusnya Putu Ayu menjadi Kutu Ayu. Karena tidak mau anaknya merasa sedih, akhirnya sang gadis kecil dipanggil Ayu oleh warga setempat.

Penasaran dengan kehidupan Harry dan keluarga kecilnya? Yuk ikuti kisahnya!!

 


 

Musim hujan bukanlah musim yang disukai oleh pemilik bisnis kecil-kecilan. Cedric Bayu Marawis, atau yang biasa dikenal oleh warga komplek sebagai Bangced, tampak sangat galau di teras bengkelnya. Mata coklat menatap sayu pada rintik hujan, lagu "Merindu Lagi (Pada Kekasih Orang)" karangan Yovie & Nuno sampai terputar 33 kali, dan hujan sialan itu masih belum juga reda. Baskom yang menampung kebocoran gentengnya saja sudah 8 kali diganti dan kini akan penuh lagi. Tak satupun ada tanda-tanda pengunjung yang akan datang ke bengkelnya sore itu, jika begini terus, bagaimana dia bisa menabung untuk melamar Harry?

"Gini amat dah nyari duit. Enak bener yak jadi infuser-infuser di Tiktok itu, tinggal joget-joget terus dapet duit," keluh Cedric sambil memandang Gatot, supra knalpot racing kesayangannya, yang sudah dianggap seperti anak sendiri.

Lalu, bagai pucuk dicinta ulam pun tiba, sosok yang selalu menghantui mimpi basahnya sejak 10 tahun terakhir itu pun tiba-tiba saja muncul di teras bengkel Cedric. Pakaiannya basah kuyub, seolah payung yang dia bawa tidak bekerja sama sekali mengingat badai akan membawa air hujan dari segala arah. Daster murahan yang ayah muda itu beli beberapa hari lalu di pasar malam dengan harga 10 ribu dapat 3 menjiplak di tubuh bahenolnya. Kain tipis yang Harry sebut baju itu tampak compang-camping, dengan beberapa robekan di pinggang dan paha bawah, memperlihatkan kulit putih mulus yang menggoda iman. Cedric sampai harus menahan napas untuk tidak terang-terangan salah fokus di hadapan bidadarinya.

"Aduh Dek Harry ujan-ujan begini kok malah keluar?" Seperti protes, padahal mah senengnya setengah mampus.

"Itu lho Bangced, si Dodol hilang lagi. Aku cariin ke rumah tetangga juga gaada yang lihat katanya. Sedih aku punya anak bandel banget, padahal udah dibilang nanti bakal hujan jadi pulangnya jangan lama-lama. Eh yang pulang malah abangnya doang."

"Lho, si Jejen bisa pulang tapi adeknya nggak?" Cedric mengernyit heran.

"Nah itu dia masalahnya. Ternyata si Jejen sama aja oon-nya, disuruh jagain adek sendiri malah pulang bawa anak orang lain."

"Haduh... anak-anak mah gitu. Yaudah sini kamu duduk dulu aja, biar Abang bikinin teh anget ya? Atau mau yang lain?"

Harry yang menerima tawaran itu pun seketika bertindak malu-malu kucing. Dia mengambil duduk di samping Cedric, cukup dekat untuk membuat pria lainnya terkena hipertensi. "Ih gak usah repot-repot Bangced. Aku mah gini aja gapapa kok."

"Dek Harry kayak sama siapa aja. Udah bilang aja maunya apa biar Abang buatin."

Kalau sudah begitu, mau bagaimana lagi? Harry mendesah. "Yaudah, boleh deh kopi susu anget satu. Susunya pake yang oatmilk ya, aku alergi susu biasa. Kopinya dua sepertiga sendok aja. Terus kalo bisa diolesin caramel sauce di pinggiran gelasnya ya, Bang. Sama kalo ada biskuit Regal boleh tuh sekalian."

Pria itu hanya bisa tersenyum mendengarnya. Dalam hati berkata, "Untung cakep lu Her, kalo gak juga udah gue buang ke penangkaran labi-labi."

Namun Cedric tetaplah Cedric, mana bisa sih dia menolak permintaan bidadari? Jadi sambil memasang senyum mempesona (berkhayal dia akan mirip Nicholas Saputra) dia pun mengangguk lalu pergi menuju dapur.

 


 

Setelah menghabiskan 2 setengah jam dengan ghibah bersama Cedric di teras bengkel, Harry pun melanjuti perjalanannya dalam misi pencarian Aldol. Beberapa tempat sudah dia lewati termasuk taman bermain mini yang perosotannya mampet seperti toilet di rumahnya. Dia juga mendatangi lapangan tempat Dodol biasa bermain bersama Satrio, anaknya Draco Munsir si duda genit yang ditinggal istrinya kawin lari.

Saat asik-asiknya keliling, Harry tidak sengaja melewati warteg milik Bella Astuti, atau yang akrab dipanggil Bu Beti. Warteg yang bukanya 24 jam itu sangat laris di daerah mereka, beberapa kali sempat didatangi oleh food vlogger terkenal seperti Ronaldkun dan Seabungbung. Meski rasa masakannya biasa-biasa saja, tapi warung makan ini terkenal dengan konsep mereka yang open kitchen, di mana Bu Beti akan live masak sambil lempar-lempar kuali. Terkadang wanita asal Medan itu juga akan membanting wajan dan melayangkan piring langsung ke hadapan pelanggan yang suka ngutang, dulu almarhum paman Harry pernah menjadi korban hingga merenggut nyawanya. Kasus itu sempat viral, tetapi karena paman Harry ini narapidana yang melarikan diri, jadinya Bu Beti tidak ditangkap dan malah diberi penghargaan.

Bangunan sewarna hijau green screen itu kini tampak cukup ramai oleh beberapa pengunjung, Harry kenal sebagian besar di antara mereka. Ada Mas Oliver Putra Widyanto, bujang lapuk 40 tahun yang masih belum menemukan pujaan hati karena terlalu asik ngoleksi burung. Di sebelahnya duduk Cho Imlek, wanita keturunan Sunda-Tionghoa yang kabarnya sempat berpacaran dengan Bangced, tapi hubungan tersebut ditolak mentah-mentah oleh orang tua Cho lantaran Cedric hanya punya bengkel tua yang atapnya saja sudah mau roboh.

Beralih ke sisi samping, ada Pak Kades alias Raden Tom Mahapraja yang galak namun sering bikin ibu-ibu komplek birahi. Perawakannya tinggi, tampan mirip pemeran sinetron "Ganteng-Ganteng Alien" yang suka Harry tonton, dan sedikit kejam karena suka maksa warganya untuk voting dia lagi sampai 3 periode ke depan, seolah tidak ingat umur jika lelaki itu sudah nyaris 70 tahun (meski tidak terlihat setua itu). Anehnya, Bu Beti adalah yang paling keras menyuarakan dukungannya atas kepemimpinan desa di bawah naungan Pak Tom, padahal dia tidak diberi apa-apa untuk suaranya.

Di meja paling belakang duduk Blaise Zafar, warga perantauan asal Papua Barat. Orangnya sedikit pendiam dan cuek, tapi selalu baik kepada Harry. Dia pernah memperbaiki pagar rumah Harry yang roboh akibat ditabrak sapinya Bapak Lucius Mansur, ayah Draco, yang kabur karena takut dikurbankan. Dia juga tidak menuntut biaya apapun dari si janda kembang. Kalau kata Hermawan Grengger (teman Harry) sih, itu semua berkat beauty privilege-nya.

"Permisi bapak-bapak ibu-ibu, ada yang lihat anak saya gak, ya? Si Dodol dari tadi siang gak kelihatan nih," ujarnya setelah memutuskan untuk masuk ke sana. Semua mata memandang lantas tertuju padanya, mereka semua tampak bersemi-semi melihat kehadiran sang primadona kampung, kecuali Bu Beti yang langsung pasang wajah masam. Wanita itu tidak pernah menyukai Harry lantaran perlakuan spesial yang Pak Kades beri padanya.

"Wah selamat sore Neng Harry," sapa Cho. "Si Dodol hilang lagi? Kok gak kamu kurung aja sih anakmu, daripada keliaran mulu udah kayak burungnya Pak Oliver."

Oliver yang mendengar itu jadi merasa tersinggung. "Mohon maaf nih, tapi burung saya udah gak pernah kabur lagi, kamu gak update sih. Padahal saya sudah upload status Facebook kalo burung saya sudah punya sangkar baru yang lebih luas, jadi gabakal kabur lagi. Mahal lho saya belinya, 550 ribu tanpa diskon soalnya Pak Mansur pelit."

"Halah halah halah... beli sarang 500 ribu aja mampu kau, giliran bayar hutang-hutang kau yang nunggak itu ehh langsung belagak kesurupan," amuk Bu Beti sambil melemparkan piring plastik ke muka Oliver. Piring tersebut masih memiliki bekas kuah gulai yang bercambur dengan sambal bawang, alhasil pria malang tersebut memekik berkat sensasi panas-panas basahnya.

Mencoba mengabaikan kekacauan di sana, Pak Tom mendekati Harry dan menarik pundaknya menuju meja tempat dia makan. "Kamu mending makan dulu aja, Nak Harry. Saya yang traktir, nyari Dodol-nya bisa dilanjut nanti."

Dari meja belakang, Blaise menyahut, "Kalau sampe malem belum ketemu, saya bantu umumin lewat speaker masjid aja gimana?"

Ia pun menggeleng lirih. "Abang lupa ya kalau speaker masjid kita rusak setelah Pak Munsir nyoba-nyoba adzan?" Lagian, orang tua itu memang suka tidak sadar diri kalo suaranya mirip knalpot racing Bangced, Harry membatin dongkol. Dia masih ingat ketika sedang asik-asiknya dandan buat kondangan, eh malah dikagetin sama suara serak-serak beserakan milik Lucius. Sapinya sendiri saja langsung kabur lagi setelah mendengar itu.

"Iya ya..." Blaise kemudian mengernyit ketika menerima tatapan tajam dari Pak Kades di meja depan, tepat di samping bidadarinya. Dia tahu Pak Tom pada dasarnya sama seperti 99% laki-laki di wilayah sini, mengincar hati Neng Harry dan akan melakukan apa saja untuk itu. Tapi bisa dibilang, dialah yang paling agresif dan menganggap semua orang sebagai musuhnya jika terang-terangan mengajak Harry berbicara di hadapan pria itu.

"Nak Harry mau makan apa?"

"Apa aja yang pak Tom pilihin saya makan."

Tom mengangguk, lalu beralih ke depan untuk memanggil sang pemilik warung. "Bu Beti tolong nasi rendangnya satu ya, pakai telur balado dan bakwan jagung tiga, sama capcay terpisah. Minumnya teh anget aja mau? Lagi hujan gini gak bagus yang dingin-dingin."

Mendengar itu, Harry jadi terkejut. "Lho pesenannya banyak banget, Pak?"

"Biar Nak Harry makannya banyak. Saya perhatiin kamu makannya sedikit terus," balas Tom sambil meremas lengan atas papa muda itu, merasakan betapa kurusnya si cantik. Diam-diam dia lebih senang jika melihat Harry sedikit berisi, pasti lekuk tubuhnya akan semakin menonjol dan bahenol. "Gak usah khawatir sama harganya, kan saya yang traktir. Pokoknya kalo sama saya Nak Harry ambil aja apa yang kamu mau, ya?"

Harry tersipu, terutama ketika Pak Tom mulai menurunkan tangannya hingga kini berada di lekuk pinggangnya. Dari jarak sedekat ini, dia bisa menghirup aroma parfum racik milik si Kepala Desa yang sangat wangi, kontras dengan bau santan di warung. Dilihat-lihat, Pak Tom memang sangat menawan, apalagi dia belum pernah menikah selama ini. Tidak heran ada banyak ibu-ibu yang sering modus mengunjunginya entah dengan alasan mengurus surat, minta izin bangun usaha, sampai terang-terangan memberi makanan.

Tapi kalo dirinya sendiri sih, Harry lebih tertarik dengan uangnya Pak Tom. Menjadi Kades pasti membuat gajinya besar jika dibandingkan dengan pendapatan rata-rata di daerah mereka. Selain beliau, dia juga sempat tertarik untuk menggoda Pak Lucius Mansur, semata-mata karena pria itu adalah yang terkaya di kabupaten ini. Bisnisnya ada banyak, dari ternak sapi sampai ke jual kendaraan second. Apalagi sifat pria itu sama seperti anaknya, mata keranjang, jadi akan mudah untuk menggoda si pirang miranda. Tapi sayang, istri Pak Mansur galaknya minta ampun. Harry pernah hampir dilabrak Bu Narcissa karena ketahuan habis disawer suaminya di kondangan Bill, saat Harry menyanyikan dangdut di atas panggung.

"Padahal kan, yang nyawer suaminya, kenapa marahnya ke aku?" batin Suhendar sedih. Tapi tidak apa, yang penting waktu itu dia berhasil mendapatkan 500 ribu dari Pak Lucius.

 


 

"Dodol kamu gak pulang? Nanti Papamu nyari lho..."

Aldol melirik temannya dari samping, memperhatikan bocah albino yang kini setengah dari badannya sudah terendam dalam air selokan. Mereka berdua sama-sama sedang mencari kodok di sana, atau jika beruntung, mungkin akan ada belut yang lewat. Pakaian keduanya basah, percampuran antara air hujan dan got yang menjadi satu.

"Biarin. Lagian Mama sering lupain anaknya sendiri kalo udah ada cowok yang dateng ke rumah."

Satrio mengernyit. "Kok kamu manggil Om Harry pake Mama, sih? Kan dia cowok."

"Tapi kan aku lahir dari perut Mama," jawab temannya santai. "Seenggaknya aku konsisten, gak kayak Jejen. Kalo Mama lagi pake daster dipanggilnya Mama, tapi kalo lagi pake celana dipanggilnya Papa sama dia."

Memang keluarga yang unik, Satrio mengangguk. "Emang siapa sih yang dateng ke rumahmu?"

"Bapakmu."

"Hah?!"

Anak berambut hitam itu hanya mengedikkan bahu, sama sekali tidak peduli dengan ekspresi horror sekaligus malu dari si albino. "Om Draco hampir tiap hari ngapelin Mama di rumah, gak pernah kapok walau udah kena tendang sekali."

Satrio menepuk wajahnya dengan telapak tangan, hanya untuk menjauhkannya segera karena baru ingat dia sedang menggali selokan. "Pantes Papa tadi gak jemput aku di sekolah. Huft, keasikan cari bini sampai anaknya disuruh jalan kaki sendiri."

"Tapi Mamaku juga aneh. Dia sering ngedumelin Om Draco di rumah, tapi tiap Papamu dateng, Mama kayak malu-malu kucing gitu." Sambil berusaha naik ke atas, ia melanjuti, "Apalagi kalo dibawain jajanan, Mama pasti gak pernah nolak."

"Lhoo? Aku aja kalo minta mainan sama Papa dibilangnya gak ada duit." Anak pirang itu jadi merasa terkhianati sekarang. Dia mulai berpikir untuk menyindir ayahnya sendiri di status WA nanti, agar seluruh komplek tahu betapa kejamnya perlakuan sang ayah. Beruntung dia sudah saling simpan nomor dengan orang tua Aldol, siapa tahu jika Om Harry melihat statusnya, pria itu akan menasehati tetangganya hingga membuat Draco membelikan apa yang Satrio mau. Benar, itu ide yang bagus! "Ngomong-ngomong, Papamu kerjanya apa, sih?"

"Godain duda dan bujangan."

"Emang itu kerjaan ya?"

Aldol mengangguk. "Soalnya Mama selalu ditransfer uang sama mereka. Kata ibu guru kan, semua yang menghasilkan uang itu disebut bekerja."

Tunggu, Satrio jadi terpikir sesuatu. "Berarti uang Papaku larinya ke rekening Papamu ya?"

"Emang, baru tahu?"

Wah, itu menjelaskan kenapa Aldol dan kakak-adiknya lebih sering dapat mainan baru ketimbang dirinya sendiri. Padahal Om Harry tidak pernah terlihat bekerja kecuali saat ia mengikuti ajang perlombaan apapun yang dia kuasai. Satrio jadi berpikir, apa sebaiknya dia minta diadopsi keluarga Aldol aja, ya? Toh, uang ayahnya lari ke Papa Aldol, dan Om Harry jauh lebih royal ke anak-anaknya dibandingkan ayah dia sendiri. Om Harry juga cantik, penyayang, selalu baik ke Satrio walaupun dia bukan anaknya.

"Kadang uang Kakekmu juga masuk ke rekening Mamaku, tahu."

"HAH?!"

"Masih ada dari Pak Kades, Om Blaise, Om Cedric, Cici Cho, Pak Polisi Viktor, Paman Ron dan Bibi Hermawan, terus siapa lagi ya..." satu jarinya diletakkan ke dagu, mencoba mengingat nama-nama yang pernah dia lihat dari buku keuangan Mamanya. "Mang Theo gak pernah kirim uang sih, tapi kalo Mama belanja pasti digratisin dan dikasih lebih. Om Oliver pernah ngasih Mama burung Beo. Tante Pansy suka ngirim baju. Aunty Ginny kadang ngajak kami jalan-jalan. Kalo Mama belanja di toko Om Adrian gak pernah bayar."

Satrio sukses nyemplung ke dasar got.

 

Series this work belongs to: