Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-06-06
Words:
1,615
Chapters:
1/1
Kudos:
7
Hits:
83

June

Summary:

Sore hari, kafe, Arthur yang lupa membawa dompet dan juga orang yang membantunya.

Notes:

Lanjutan dari Desember

Work Text:

ㅡ Lanjutan dari Desember ; typo

Sudah lebih dari lima bulan lamanya Arthur berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Hajirin, dia berusaha untuk hidup lebih baik dengan mendistract pikirannya agar tidak memikirkan kekasihnya yang sudah tiada itu. Mulai dari kuliah, mengambil kelas melukis, impulsif membeli novel, mengerjakan tugas bersama teman-temannya, terkadang, bekerja di kafe milik ibunya dan itu lumayan membuatnya sibuk sehingga tidak sempat memikirkan soal Hajirin. Namun, ada kalanya dia merasa kesepian dan menangis saat malam hari ketika mengingat kekasihnya lalu bangun dengan mata bengkak dan terpaksa mengompresnya dengan es sebelum berangkat kuliah agar tidak dicurigai oleh teman-temannya, apalagi Rendy. Tidak. Dia tidak ingin itu terjadi.

Dia tidak ingin Rendy menatapnya dengan pandangan iba. Dengan pandangan kasian atau apalah itu. Sudah cukup dengan semua itu.

“Nanti sore kita jadi kerjain tugas kan? Tinggal beberapa bab sih sebenarnya.” Rendy menepuk pundaknya saat ia sedang asyik membaca novel di pojok kelas.

Arthur mengangkat kepalanya sekilas menatap Rendy. “Kurang tau, coba tanya ke Ridho soalnya yang ajakin kan dia. Tapi aku udah bawa bahan tugasnya sih.”

Rendy menoleh, mencari sosok yang disebutkan oleh Arthur tadi. “RIDHO!” teriak Rendy yang mana buat beberapa orang menjingkat terkejut termasuk Arthur. Sedangkan yang dipanggil mengelus dadanya, “APA?!” balasnya berteriak.

“Nanti jadi kerkom gak?!”

“Jadi! Tugas kita tinggal sedikit, tanggung kalau engga dikerjain sekarang!”

“Oke! Nanti kabarin mau dimana kerjainnya!”

“Iya siap!”

Arthur menutup telinganya yang berdenging karena Rendy dan Ridho yang saling adu teriak di dekatnya. “Kenapa engga samperin si Ridho aja sih, Rendy?” gerutunya.

Rendy tertawa, suara tawanya yang melengking itu buat beberapa orang yang berada di kelas menatap ke arahnya sekilas namun kembali pada kesibukan mereka seolah suara Rendy itu hanya angin lalu. Sudah terlalu biasa dengar suara melengking tersebut.

“Males, enakan teriak.” Ucap Rendy santai dan langsung dibalas dengusan oleh Arthur.

Rendy kembali tertawa, namun, kali ini sembari menoel – noel dagu Arthur gemas.

--

Siang yang terik itu, empat mahasiswa sedang sibuk mengerjakan tugas di taman dekat belakang kampus mereka.

Jangan tanya kenapa tidak di perpustakaan atau tempat – tempat yang sepi, senyap atau tempat belajar, karena Arthur sendiri tidak paham. Ia hanya menurut dan tidak banyak protes saat tangannya ditarik oleh Rendy menuju tempat tersebut.

Sebenarnya, tempatnya itu bagus. Banyak bunga yang mekar, banyak pohon – pohon yang berjejer dan suara angin gemerisik serta ranting yang saling bergesekan ciptakan suasana yang syahdu dan tenang. Tapi tetap saja! Ini jam satu siang, yang mana sekarang matahari sedang berada di atas kepala mereka, apalagi ini di Surabaya.

Terik matahari yang menyengat serta udara yang sedikit pengap buat Arthur dan Rendy kepanasan. Terbukti dari mereka berdua yang heboh mengipasi diri sendiri, Arthur yang wajahnya sudah memerah karena hawa panas kota itu.

Tangan kecil Arthur meraih botol minum yang berada di tasnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop. Mengernyit saat rasakan beban botol itu yang terasa ringan di tangannya, ia melirik sekilas dan mendesah kecewa. Airnya habis, dan dia sedang kehausan.

Buru – buru dirinya bangkit, membersihkan celananya dari sisa daun dan tanah yang menempel disana. Pergerakannya itu buat ketiga temannya menatap ke arahnya.

“Mau kemana?” tanya Rendy.

“Cari minum. Gerah, aku kehausan.”

Rendy mengangguk, ia juga ikut berdiri buat Ridho mendelik. “Mau kemana kau?!” sentaknya.

Rendy ikut mendelik, “mau ikut Arthur lah, kita beli minum kalian kerjain itu tugas.” Ucapnya santai.

“Gak boleh! Biar Arthur sendirian aja, kau kerjain tugas bagian kau itu, belum selesai mau kabur!”

“Enak aja kau bilang aku kabur! Engga akan kabur aku!”

Namun mahasiswa dari Aceh itu menggeleng tidak setuju, “gak boleh pergi! Kau kerjain bagian kau itu buru, mau pulang cepat gak?!”

Rendy menghentakkan kakinya di tanah namun akhir menurut. Ia kembali duduk di tanah walaupun mulutnya cemberut.

Arthur terkekeh, “gak apa Ren, aku bisa sendiri. Oh iya, kalian mau nitip apa?”

“Soda gembira!”

“Es teh jumbo.”

“Es campur ya, koh.”

Raut wajahnya Arthur langsung mendatar. Sepaneng mendengar jawaban konyol temannya.

“Aku samain aja sama yang aku beli aja deh.” Ucapnya yang hasilkan seruan tidak percaya dari teman sekelompoknya. Arthur tertawa kecil sebelum dirinya pamit untuk membeli minuman.

Langkahnya santai saat menelusuri jalan sekitar taman itu walaupun keringat menetes dari pelipis dan lehernya. Mata kecilnya menelisik ke kanan dan ke kiri, barangkali dirinya menemukan outlet kopi kekinian atau toko kelontong.

Sampai akhirnya setelah ia berjalan beberapa meter dari tempatnya kerkom, ia menemukan sebuah kafe mungil dengan nuansa coklat tua dan putih yang sederhana namun ada kesan hangat. Tanpa ragu, Arthur berjalan kesana.
Aroma susu, bubuk kopi dan juga mentega yang harum langsung menerpa hidungnya saat ia memasuki kafe tersebut. Dalam hati, lain kali ia akan mengajak Rendy kemari saat waktu mereka lenggang.

Langkah kaki Arthur yang ringan membawanya ke depan meja kasir. Ia membaca sekilas menu yang ada disana.

“Selamat siang! Selamat datang di kafe kami!” sapaan ringan, ceria dan semangat menyapa rungu Arthur buatnya mendongak sekilas lalu tersenyum sembari mengangguk. Menyapa kasir yang sedang berjaga.

“Kami punya menu favorit disini. Untuk basic susu, kami ada mango milkshake. Untuk soda, kami ada fruit punch yakult soda dan pink mojito. Sedangkan untuk kopi kami mempunyai banyak varian tapi yang paling best seller adalah cappucino dan americano. Jadi kakak ingin pesan yang mana?”

Arthur sedikit kelimpungan mendengar ucapan sang kasir yang berbicara begitu cepat itu. Dia meringis pelan, “eum....maaf, saya mau lihat – lihat menu dulu ya.”

“Oh! Baik kak! Silakan.”

Arthur menimbang – nimbang menu yang akan ia pilih, namun pada akhirnya pilihannya jatuh pada menu yang di sebutkan oleh kasir tersebut. Mango milkshake, terdengar menggiurkan di telinga Arthur apalagi dia pencinta mangga garis keras! Bodoamat dengan Rendy, Ridho dan juga Rizki yang tidak terima dengan menu pilihannya, kan yang penting ia sudah belikan.

“Aku pesan mango milkshake empat ya kak, bisa di take away?
Kasir tersebut mengangguk, jarinya sudah stanby di layar monitor. “Bisa kakak. Ada tambahan? Mungkin kue – kue kecil yang di display sebelah bisa buat kakak tertarik?”

Arthur menggeleng kecil, menolak halus tawaran tersebut. “Engga kak, itu aja.”

“Baik kak. Totalnya delapan puluh ribu. Mau bayar pakai cash atau metode qris?

“Cash.” Sahut Arthur mantap. Tangannya merogoh saku celananya, namun, kosong. Berusaha tidak panik, dia merogoh saku celananya yang lain, tapi tetap kosong. Harapan terakhir. Arthur merogoh saku hoodienya, namun tetap kosong. Dompet dan juga ponselnya tidak ada disana.

Panik bukan main. Arthur menepuk keningnya. Ia juga tidak menemukan seperser uang pun di pakaiannya. Dirinya menatap kasir yang menunggunya dengan sabar. “Eum sorry kak, tapi pesanannya dibatalin aja ya soalnya dompet sama ponselku ketinggalan.” Ucapnya cepat. Gugup, takut, panik, semua bercampur jadi satu di dalam benaknya.

Sial. Sial. Sial.

“Maaf kak, engga bisa dibatal soalnya saya sudah –“

“Tambah ice americano satu, take away juga. Jadiin satu sama pesenan dia."

Arthur membeku. Suara itu. Suara itu mirip Hajirin.

Bahkan hidungnya bisa mencium bau Hajirin yang sangat dekat dengannya – lebih tepatnya, di belakangnya.

Arthur ragu. Ini sungguhan atau hanya halusinasinya saja?

Perlahan, dia membalikkan badannya dan tatapannya langsung tertuju pada dada seseorang yang terbalut kaos putih dan jaket kulit hitam. Arthur menelan ludahnya, maniknya perlahan melihat ke atas, dan nafasnya langsung tercekat.

Wajah itu. Wajah Hajirin.

Rambut itu. Rambut Hajirin.

Bedanya, laki-laki itu memiliki satu piercing di telinga sebelah kanan sedangkan Hajirin tidak.

Arthur bisa merasakan matanya memanas. “Ha – Hajirin?” Bisiknya setipis angin yang berhembus.

Orang ini benar – benar seperti Hajirin bak pinang dibelah menjadi dua. Tubuhnya menggigil, lututnya lemas.

“Hey? Maaf, ini pesenan kamu. Tadi kasirnya manggil kamu tapi kamunya gak respon.”

Arthur mengerjap, orang itu, orang yang mirip Hajirin – atau mungkin Hajirin – menepuk pundaknya. Tangannya terulur, mengulurkan kantong plastik berisi pesanannya.

Buru-buru Arthur meraih itu, dan tanpa sengaja jari mereka bersentuhan, dan rasanya seperti Arthur tersetrum oleh listrik bermuatan tinggi. Seluruh tubuhnya yang sudah lemas semakin melemas.

“Ma – makasih.”

Orang tersebut tersenyum tipis. “Sama-sama. Lain kali jangan lupa bawa dompet sama ponsel ya soalnya kedua barang itu penting buat kita.” Ucapnya sembari tersenyum manis.

Astaga! Jantung Arthur rasanya seperti berhenti berdetak. Senyum itu, benar-benar mirip seperti senyum Hajirin.

Lalu orang itu keluar dari kafe tanpa mengucapkan kata lagi.

Arthur yang masih memproses kejadian tersebut langsung tersadar jika orang yang mirip mendiang kekasihnya itu sudah pergi. Buru-buru Arthur lari keluar dari kafe, mencari jejak orang tersebut dan ketemu!

Orang itu berjalan santai ke arah kanan sembari meminum americano – nya dengan santai.

Tanpa pikir panjang, Arthur langsung berlari menyusul laki-laki itu, tangannya meraih ujung jaket yang dipakai oleh orang tersebut buat langkah kaki lebarnya terhenti seketika.

Laki-laki itu menoleh, dan mendapati Arthur yang bernafas berantakan berdiri di depannya.

“A- aku,” Arthur menelan ludahnya, “aku boleh minta nomermu engga buat gantiin minumanku ini.”

Laki-laki itu tersenyum tipis, “engga perlu. Aku emang ikhlas bayarin dan bantuin kamu.”

“Jangan gitu,” gak boleh! “a – aku harus tetap ganti uangmu.” Ucapnya tergugu.

Perasaan senang, terkejut dan tidak percaya buat degup dadanya memburu, jantungnya berdetak sangat kencang karena bertemu dengan orang yang mirip Hajirin, ditambah ia juga habis berlari mengejar orang tersebut. Nafasnya tercekat, seperti dicekik oleh kawat tak kasat mata yang melilit di lehernya. 

Laki-laki itu mengernyitkan dahinya, “tapi kamu kan engga –“

“Aku aja yang kasih nomerku ke kamu, biar kamu bisa tagih uang itu ke aku kapan pun.” Sahut Arthur cepat.

Laki-laki itu terdiam, namun ketika melihat raut wajah Arthur yang terlihat seperti memohon, mau tidak mau ia merogoh saku celananya untuk meraih ponsel tersebut dan memberikan benda itu kepada Arthur yang dengan sigap menerimanya dan langsung menekan nomornya dengan jari gemetar.

“Arthur.” Arthur mengembalikan ponsel itu sembari tersenyum tipis. “Namaku, Arthur. Arthur Sunarkho. Kalau kamu?” suaranya bergetar. 

“Wira. Wira Gunawan.”

Arthur tersenyum tipis, “Makasi ya Wira, kebaikan kamu enggak bakalan aku lupain. Dan ingat, hubungin aku kalau kamu mau tagih. Kapan pun, aku siap buat transfer atau ketemu langsung buat kasih uang itu ke kamu.”

Wira mengangguk mengiyakan. “Oke.”

Mata Arthur kembali berkaca-kaca, “salam kenal, Wira. Semoga kita bisa jadi teman ya besok.” Ucapnya tulus.