Actions

Work Header

Minggir loe Karbit!

Summary:

Agensi BLPro Entertainment sedang tidak baik-baik saja.

(Office worker Kaiser x Idol Isagi x Office worker Rin)

Notes:

Blue lock and the characters belongs to Muneyuki Kaneshiro and Yusuke Nomura.

Chapter 1: Perusahaan masa gitu?

Chapter Text

Agensi BLPro Entertainment sedang tidak baik-baik saja.

 

Sudah sebulan penuh tidak ada aktivitas promosi. Tidak ada manggung. Jadwal siaran kosong. Studio latihan kosong. Tidak ada tawaran kerja masuk sama sekali–Bahkan vending machine di pojok kantor sudah tidak diisi ulang — yang tersisa tinggal minuman botol rasa tomat dan teh hijau yang tanggal kadaluarsanya sudah jatuh dua hari lalu.

 

Meja resepsionis yang biasanya dipenuhi kiriman bunga dari sponsor, kini hanya tersisa satu vas bening berisi daun kering — itu pun sudah meleyot, lunglai, sama dengan kondisi Agensi saat ini.

 

Di ruang rapat utama yang biasanya jadi tempat briefing tur konser, suasananya juga tidak kalah suramnya. Cahaya matahari sore menyelinap melewati tirai yang setengah tertutup menyinari wajah-wajah empat idol yang kini tampak seperti anak sekolah yang hendak dimarahi orang tuanya karena ketahuan mendapat nilai jelek saat ujian; tegang, celingak-celinguk; kaki goyang-goyang keatas dan kebawah seperti kaki penjahit. Mereka anxious.

 

Anri Teieri berdiri di depan layar presentasi dengan senyum kecut terukir di wajah manisnya. Tangan kirinya menggenggam remote clicker, tangan kanannya… mengetuk meja, ikut cemas. Anri Teieri sendiri bukanlah tipe yang mudah panik meskipun berada di bawah tekanan, namun kali ini adalah case khusus.

 

Semua orang dalam ruangan tak ada yang berbicara.

 

Bagaikan setelan Background Music dalam gim, hanya suara desis AC yang berbunyi entah karena freonnya yang sudah bocor atau karena sudah terlalu tua untuk dipaksa mendinginkan ruang meeting, detik suara jam analog juga ikut berlomba mengisi keheningan dalam ruangan tersebut.

 

Bagaimana Anri harus membuka meeting hari ini? Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia harus menyampaikan beban yang beberapa bulan terakhir ini menumpuk di benaknya? Apakah anak-anak ini dapat menerima segala keputusan yang akan terjadi? — begitu banyak pikiran yang ada dalam benak Anri, meskipun belum terjadi, Anri merasa sangat bertanggung jawab atas anak-anak ini karena Anri sangat menyayangi mereka seperti ia menyayangi keluarganya. Bayangkan betapa beratnya hati Anri ketika ia harus dihadapi dengan musibah seperti ini — meskipun terdengar dilebih-lebihkan, itulah yang menggambarkan apa yang selama ini Anri rasakan.

 

Meneguk ludahnya, Anri dengan berat hati membuka suara, “Kita dapat dua berita; baik, dan buruk. Yang mana yang mau kalian dengar lebih dulu?” tanya Anri, matanya menatap keempat anak-anaknya dengan serius.

 

Anak-anak itu saling sikut menyikut, seolah menyuruh satu sama lain untuk memilih.

 

“Berita buruknya tentang apa?” Tiba-tiba seseorang mengangkat tangan, menundukkan wajahnya ke bawah, ada sedikit rasa enggan Anri untuk mengangkat wajahnya dan menatap wajah lawan bicaranya, sebenarnya ia tak perlu melakukan itu karena ia mengenali suara yang bertanya–Hiori Yo.

 

“Seperti yang kalian tahu…” Anri menghela nafas, mencoba untuk menenangkan dirinya, tangannya menekan tombol merah pada remote clicker yang ia pegang, kemudian Layar proyektor membuka slide presentasi yang menampilkan grafik keuangan agensi.

 

Garis merahnya menukik tajam ke bawah — seperti nasib nilai tukar R*piah saat ini.

 

“…agensi kita hampir bangkrut, seperti yang kalian lihat pada slide ini...”

 

Tidak ada yang langsung bereaksi.

 

Kurona yang pertama kali memecah keheningan dengan suara pelan: “Jadi… kita udah gak bisa beli camilan dari F*mima atau Ind*po lagi?”

 

Chigiri langsung menoleh. “Hah?! Aku baru aja mau check out sheet mask di keranjang Sh*pee!”

 

“Kalau agensi tutup…” Isagi mengangkat tangan pelan, “…Apakah kontrak kita yang masih berjalan nggak akan diserahkan ke agensi idol gravure di sebelah kan?”

 

“E-eh? Kenapa langsung ke situ?” Hiori ikut panik,.

 

“…Nggak bukan hanya itu” Anri menghela napas panjang. “..Bukan cuma tutup. Semua investor kita mau tarik dana. Pemegang saham menuntut hasil — sementara manajer lama kalian, Pak Kuon Wataru…” Ia berhenti sebentar. “…kabur. Dia meninggalkan kita di tengah hutang produksi MV dan sponsorship yang belum dibayar.”

 

Semua member terdiam. Tiba-tiba beban di bahunya terasa semakin berat ketika melihat wajah kecewa lawan bicaranya.

 

‘Sudah jatuh, tertiban tangga pula! Memang Manager sialan, bisa-bisanya dia kabur dengan seluruh uang itu!’ Batin Anri. Meskipun tertekan dari segala penjuru, Anri masih dengan wajahnya yang –cukup– tenang, menatap keempat anak-anaknya.

 

“Tapi — ” Anri menatap mereka penuh tekad, “Aku tidak akan membiarkan BLProjeckt bubar begitu saja. Agensi ini adalah impianku. Kalian juga bagian dari mimpi itu.”

 

Ia menekan tombol clicker. Slide baru muncul sebuah profil dan foto seorang pria.

 

EGO JINPACHI — Former Manager of Top Tier Idols.

 

“Karena itu… aku menghubungi satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan kita.”

 

Seketika, pintu ruangan terbuka lebar. Cahaya matahari memantul pada kacamata yang dikenakan Pria yang membuka pintu lebar itu. Pria yang masuk — rambut hitam bowl cut culun, kantung mata yang memiliki kantung mata, mengenakan setelan hitam-hitam, simple dan rapi, ia berjalan memasuki ruangan, sambil membawa tote bag bergambar idol jadul Tahun 90an, suara decit sepatu pantofel yang ia gunakan menggaung di ruangan itu.

 

Penampilannya seperti hasil silang antara wota veteran, dosen ilmu komunikasi, dan pengunjung warnet 24 jam.

 

“Namaku Ego Jinpachi,” ucapnya sambil menaruh laptop gaming tebal di atas meja. “Disini atas permintaan Anri, kalian akan kupoles agar dapat menjadi berlian yang berharga.”

 

Member BLProjeckt saling pandang. Raut wajah mereka terukir ekspresi campuran antara syok, cemas, dan takut. ‘Orang gila apa lagi yang dibawa Kak Anri ke tempat iniiiiii?’ Batin mereka bersamaan.

 

“BLProjeckt… aku sudah mempersiapkan beberapa program latihan dan apa yang harus kalian lakukan untuk setahun ke depan. Kalian tidak hanya berpusat dengan kegiatan Idol, namun kalian juga harus punya sampingan dan aku sudah mempersiapkan semuanya.”

 

Semua terdiam, mereka mencoba memproses ucapan yang keluar dari mulut Ego. Sampingan? Maksudnya apa? Part-time job?

 

Anri tak mengatakan apapun, namun ia tersenyum. Tangannya memegang notebook kecil, dengan gesit mulai mencatat semua yang dibicarakan Ego.

 

‘Gak masuk akal! Ga masuk akal banget!’ Salah satu anggota BLProjekt, Isagi Yoichi menjerit dalam batinnya, ia melihat ke kiri dan ke kanan, berusaha menerka-nerka pikiran rekan-rekannya: Kurona bibirnya membentuk huruf o, menatap Ego dengan tampang planga-plongo polosnya; Chigiri yang tadinya sibuk bermain dengan kepangan rambut miliknya tiba-tiba berhenti, tangannya terlipat di depan dada, sorot matanya menatap Ego dengan serius, penuh dengan ambisi, dan Hiori yang terlihat terkejut dengan kalimat yang diutarakan Ego barusan, ia sampai memperbaiki postur duduknya yang tadinya bersandar ke kursi, kini condong ke depan, tangannya terlipat di atas meja, terlipat.

 

Isagi menahan dirinya untuk tidak membenturkan kepalanya ke meja. Gawat, sepertinya mereka tertarik dengan program Ego! Dan yang lebih buruknya adalah hanya Isagi sendiri yang masih tak bisa menanggapi dengan serius omong kosong Ego barusan.

 

“Mulai minggu ini, kalian memulai siaran kegiatan harian kalian di channel BLTV, sebuah platform livestream milik kita sendiri. Masak bareng! Main game bareng! Rebutan shampoo juga bareng! Dunia harus tahu kehidupan kalian yang… ‘real’!”

 

“Huh.. Livestream ya?” gumam Chigiri. “Aku nggak bisa tampil tanpa filter…”

 

“Gimana kalau pas livestream game, aku gak sengaja ngomong hal toxic?” Hiori cemas

 

“Aku nggak bisa ngambil roti milik Chigiri di pantry lagi..” timpal Kurona.

 

“Aku nggak mau kalau aku ditonton fans saat nyuapin Kurona pakai sendok H*llo Kitty,” keluh Isagi sambil tutup muka pakai tangan.

 

Khalayak umum akan mengetahui apa yang mereka lakukan selama berada dalam penthouse bersama. Bukankah itu berarti mereka tidak bisa menjaga Image ‘Seiso’ mereka di panggung nantinya!?

 

Tapi Ego hanya menyeringai. “Kalau kalian mau bertahan di industri ini, kalian harus jadi pelopor. Idola era digital. Aku yakin… BLProjeckt bisa go internasional dengan cara ini.”

 

Anri menunduk. Ia diam-diam menghapus air mata haru dan setengah stress, tangannya mengacungkan jari jempol. “Aku percaya sama kalian semua…”

 

“Trial program akan dimulai besok.” Ujar Ego. “Semua. Tanpa kecuali.” senyum licik terukir di wajah Ego Jinpachi, membuat anak-anak di depannya bergidik ngeri.

 

“Kalian boleh beristirahat sekarang.”

 

Tanpa ba bibu, mereka melipir keluar dari tempat itu, meninggalkan Ego sendiri di dalam ruang meeting itu. Anri juga ikut keluar berdampingan dengan mereka.

 

“KAK ANRIIII–” Mereka merengek bersamaan, Anri membentangkan tangannya kemudian memeluk mereka. Bagi keempat anak-anak BLPro, Anri bagaikan malaikat penyelamat mereka, benteng kokoh yang melindungi mereka dari badai dan angin topan, seorang sosok ibu yang mengayomi, mengasihi, tanpa pamrih.

 

Keputusan Anri mengundang Ego jinpachi mungkin terdengar sangat mendadak di telinga anak-anaknya, namun mereka yakin dengan apa yang dilakukan Anri pasti untuk kebaikan mereka bersama. Sekalipun orang yang Anri undang terlihat seperti seorang sosiopat.

 


Jam 9 malam, Itoshi Rin yang baru pulang lembur dan saat ini masih terjebak di tengah kemacetan ibu kota. Di tengah penat dan suara klakson kendaraan lain, ia memutar lagu random di playlistnya.

 

Rin sedang menikmati lagu yang ia suka; Prayer X yang dibawakan oleh King Gnu, saat lagu speaker mobilnya terpotong dan berubah menjadi iklan selama lima belas detik yang tidak dapat dilewati menghancurkan build up emonya (Rin bersumpah ia akan berlangganan Sp*tify premium akhir bulan nanti!) Siaran itu berlangsung selama lima belas detik, berita tentang idol group yang akan mengadakan live stream kehidupan mereka sehari-hari. Alisnya mengerut. “Idol-idol apaan sih…” ia mendengus kesal karena part lagu favoritnya terpotong iklan.

 

Sementara itu, Siluet kuning — yang lagi rebahan di sofa ruang tamu, kemeja yang berantakan dan dasi yang simpulnya sudah kendur, namun masih mengalung di lehernya, sedang asik scrolling Yout*be shorts, sampai tiba-tiba ia disuguhi sebuah teaser acara di channel Yout*be dengan nama BLTVProjekt — Manik birunya terlihat berkilau? Mungkin tertarik? Ia tersenyum seperti orang gila sambil menonton ulang teaser dimana part salah seorang pria berwajah imut disorot. “Oh? Menarik.”

 

Dan saat dunia bersiap menyaksikan kebangkitan idol group paling chaotic ini, Ego berdiri di depan papan tulis dan menulis satu kalimat besar:

 

“MULAI BESOK: BLTV DEBUT STREAM.”


 

Hari selasa di Mikage corp lantai 5, Pukul 21:40 malam

 

Suara jam analog dan ketak-ketik Keyboard mengalun, menemani dua orang yang sedang berkutat penuh fokus dalam pekerjaannya masing-masing.

 

Malam di kantor divisi IT terasa tenang. Terlalu tenang… kalau bukan karena suara lagu Pop yang tiba-tiba memecah keheningan.

 

“SHINE LIKE A DIAMOND — OH! MY STAR, LOVE ME TONIGHT!”

 

Bachira Meguru, duduk di meja paling ujung, dekat dengan jendela, berkutat dengan alat persegi di hadapannya–sedang ngoding sambil sesekali bergoyang pundak. Ia bersenandung, melepas penat dan kantuk yang dari tadi mengusiknya dari kerjaan yang deadlinenya hanya seumur jagung itu.

 

Tidak menyadari bahwa headset yang bertengger manis di kepalanya tidak terhubung ke laptop. Tangannya sibuk mengetik sambil sesekali membuat heart gesture ke arah monitor.

 

“Let’s go Fly~day~!”

 

Satu-satunya hal yang lebih nyaring dari suara lagu adalah suara keyboardnya yang berbunyi klik-klak-klik-klak seperti mesin ketik jadul warisan nenek.

 

Di seberang ruangan, Itoshi Rin, si Head Division, menatap layar monitornya dengan mata setajam silet. Entah sudah berapa lama ia berkutat dengan layar sialan di hadapannya, berputar-putar hanya untuk kembali ke titik awal, tak ada kemajuan. Tangan kirinya menggenggam mug berisi kopi yang entah isinya hanya kopi panas tanpa gula atau kopi panas tanpa gula yang sudah bercampur dengan peluh dan air mata derita, sementara telinganya jelas menangkap suara sumbang yang… tidak profesional itu.

 

Namun, tak ada satu pun teguran yang keluar dari mulutnya. Tidak ada geraman maupun keluhan berisik keluar dari mulutnya.

 

Tidak ada lemparan paperclip maupun spidol.

 

Tidak ada “Bachira, tolong kecilin.”

 

Tidak juga “Bachira, pake headsetnya.”

 

Hanya sunyi… lagu Pop jedag-jedug dan Bachira yang bernyanyi dengan nada sumbang.

 

Seharusnya dia sudah pulang ke rumah pukul 5 sore lalu, namun lihatlah dia! Sudah berapa jam Rin terduduk di tempat ini, hanya menatap layar seolah otaknya ikut mengalami internal lagging, alisnya dari tadi berkedut. Itu satu-satunya tanda emosional yang berhasil lolos dari ekspresi datarnya yang sedatar papan tulis.

 

Bachira, masih sibuk dengan dunianya sendiri, bekerja menyelesaikan keluhan user yang sudah beberapa minggu ini menumpuk dan sering terjadi. Bukan Bachira Meguru namanya kalau hal sepele seperti ini tidak dapat selesai, kan!?

 

Setelah dua chorus, Bachira akhirnya menyadari keanehan: Headsetnya rusak kah? kok suaranya jadi stereo?

 

Manik keemasannya menengok ke tempat dimana colokan headset terhubung namun… kosong.

 

Muka Bachira langsung pucat. “Eh…”

 

Lalu pandangannya naik, dan matanya tak sengaja bertemu mata Rin yang sedang menatapnya. Bukan tajam, bukan marah namun lebih ke… ‘Tolong sudahi omong kosong hari ini karena aku sudah lelah dengan semua ini.’

 

“Umm… hehe…” Bachira nyengir kuda. “Tadi… testing audio.” padahal aslinya mau mati.

 

‘Anjir lah, tamat sudah karir ini.’ batinnya. Bachira sudah merencanakan 1001 cara untuk basa basi busuk pada Rin, selaku kepala divisinya untuk menyelamatkan dirinya dari amukan Rin.

 

Rin tetap menatapnya, tanpa sepatah kata apapun. Suhu ruangan yang tadinya normal, tiba-tiba terasa dingin. Sangat dingin, Bachira bersumpah kalau bulu kuduknya ikutan berdiri dan ia sampai merasakan keringat dingin mengucur deras dari keningnya.

 

Hening lima detik. Lalu Rin pelan-pelan kembali menatap layar, kembali berkutat pada layar di hadapannya lagi tanpa berkata apa-apa. Bachira menghela nafas lega. Setidaknya Rin memilih untuk berdamai, alih-alih melemparnya dengan spidol atau cangkir kopi yang ia pegang ke arah Bachira.

 

Namun satu hal mengganjal, normalnya, si Boss akan menegur atau memarahinya, seperti biasanya. namun kali ini, Rin terlihat… pasrah? Benaknya berpikir, apakah pekerjaannya sebanyak itu sampai kepala divisinya yang terkenal galak dan senggol bacok itu hanya bisa diam seribu bahasa tanpa menegurnya dan memilih untuk mengampuni dosanya?

 

Divisi IT kala itu memang sedang dilanda banyak masalah, dari banyaknya keluhan pengguna sistem, hingga projek besar yang memerlukan dedicated team untuk menghandle proyek tersebut. Dengan jumlah anggota yang tak seberapa dibanding tim divisi lain, mereka jelas kewalahan menghadapi ombak pekerjaan yang belum terlihat kapan redanya. Bachira sendiri sangat bersyukur dapat bekerja di bawah naungan Rin, meskipun temperamennya buruk dan terkenal senggol-bacok, Rin menjalankan pekerjaannya sebagai ketua divisi dengan benar. Ia bertanggung jawab dan menuntun timnya agar lebih terarah (meskipun masih dengan temperamen buruk dan mood senggol bacok).

 

“…Kok gak dimarahin?” gumam Bachira, bingung sendiri. “Besok laporan ke KarBit ah…”

 

Rin mengusap matanya. Melawan rasa kantuk dan pening yang mengusiknya. Ia kembali berkutat dengan layar laptop di hadapannya sambil menenggak pahitnya kopi yang sudah mendingin.

 

Ah.. sampai mana dia tadi? Lagu yang Bachira setel barusan sedikit membuyarkan fokusnya. Tanpa Rin sadari, lagu yang Bachira putar, terus terngiang-ngiang dalam otaknya bahkan Bachira sudah tidak memutar lagu itu, namun lagu itu terus terngiang-ngiang dalam pikirannya.

 

Apa tadi liriknya? Sesuatu seperti..

 

“…let’s go friday…?” Penggalan lirik itu keluar dari mulutnya tanpa Rin sadari.

 

Rin mengambil secarik kertas, kemudian mencatatnya, ia harus mendengar lagi itu sekali lagi. Mungkin saja sindrom earworm ini akan segera berhenti dan meninggalkan otaknya.