Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-05-09
Words:
1,079
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
21
Hits:
62

Mug Merah

Summary:

Kopi hangat, satu mug, dan dua hati yang saling mendekat.

Notes:

Fanfic ini ku buat dalam rangka latihan menulis, karena hari ini aku tiba-tiba ngeh, oh iya udah lama banget aku ga nulis pakai bahasa Indonesia. Jadi, maafin karna rada kaku gitu hihihi. Enjoy!

Work Text:

Karena dia punya café kecil di dekat pusat kota, mungkin orang akan mengira kalau Hinao pandai memasak—atau paling tidak, bisa memasak, dan punya isi dapur dan alat makan yang lengkap.

Hakuri berdiri di depan kabinet dapur, pintunya terbuka, dan sudah hampir semenit penuh dia merenungkan itu.

Pemikiran yang sangat salah besar.

Setelah dia kabur dari rumah—bukan, Hakuri menolak tegas pikiran ini, aku mengikuti Samurai untuk menolong orang-orang yang ayah tindas, dia sekarang tinggal di apartemen Hinao. Menumpang, lebih tepatnya.

Chihiro, Shiba, si kecil Char, dan Hakuri sekarang tinggal di apartemen Hinao. Kemarin malam Hakuri memberanikan diri bertanya kepada Shiba yang sedang selonjoran santai di sofa, kenapa mereka semua berdesakan tinggal di sini. Shiba menatapnya sekilas dari atas korannya, mengangkat bahu, dan menyeringai,

“Jadi beban itu enak.”

Segera, Chihiro langsung menyela. “Kita tinggal disini karena ini lokasi paling dekat dari lokasi Rakuzaichi. Dan juga, disini Hinao bisa bantu untuk menjaga Char. Setelah lelang berakhir, kita akan pindah. Kita tak akan lama merepotkan Hinao.” ucapnya, sambil memberi tatapan lelah ke Shiba yang masih menyeringai.

“Jangan sekarang ke apartemenku, aku belum bayar listrik bulan kemarin.”

Chihiro hanya bisa menghembuskan nafas atas kelakuan lelaki paruh baya itu.

Begitulah keadaan hidup Hakuri saat ini. Sekarang hari ketiga dia tinggal bersama mereka. Meski sudah tiga hari tinggal bersama, ada satu hal yang Hakuri masih bingung—peralatan makan di apartemen Hinao.

Dia menatap kabinet dapur, menatap satu-satunya mug yang tersisa di situ. Beberapa hari ini, Hakuri memperhatikan kalau setiap minum, Hinao dan Char punya gelas mereka sendiri. Hinao mug berwarna biru malam bertabur bintang, dan Char mug kecil berwarna hijau muda. Shiba minum dari botol air plastik yang Hakuri yakin harusnya sudah dibuang sejak lama, dan Chihiro… memakai satu-satunya gelas yang tersisa. Ya, meski dia pemilik sebuah café, Hinao hanya punya tiga mug.

Hakuri merenung. Sekarang hampir jam enam pagi, dan sebentar lagi Chihiro bangun. Biasanya, dia akan langsung ke dapur untuk menyeduh kopi panas menggunakan mug merah tua itu—mug terakhir di kabinet dapur Hinao.

Beberapa hari ini, Hakuri menahan diri dengan hanya meminum air keran menggunakan botol plastik dari minimarket. Biasanya di rumah, Hakuri memulai hari dengan segelas kopi juga. Tapi apabila dia menyeduh kopi, mug apa yang akan Chihiro pakai?

Wajah Hakuri memerah. Dia sudah sangat berhutang budi kepada Chihiro—Samurai yang merupakan cahaya terang di gelap gulita hidupnya. Dia tidak ingin membuat Chihiro benci kepadanya, merebut kesempatan paginya meminum kopi, apabila Hakuri memakai mug itu untuk menyeduh kopi lebih dulu.

Mug merah yang warnanya serupa dengan merahnya mata Chihiro, mata yang penuh dedikasi namun penuh kasih…

Hakuri tersipu, hingga ia tidak mendengar langkah kaki yang memasuki dapur.

“Pagi, Hakuri.”

Ucap Chihiro, pelan dan masih diselimuti kantuk.

Hakuri terlonjak mendengar suara itu, sampai hampir menjatuhkan botol plastik di tangannya. Ia berbalik cepat, lalu dengan panik berseru, “Slamat pagi, Chihiro.”

Chihiro menguap pelan, rambutnya sedikit berantakan, dan langkahnya masih malas baru bangun tidur. Ia menepuk pelan pundak Hakuri, lalu berhenti di sebelahnya, di depan kabinet yang masih terbuka. Matanya mengarah langsung pada mug merah yang mengilap terkena cahaya pagi.

Tanpa banyak bicara, Chihiro mengambil mug itu. Tapi saat ia hendak mengarah ke teko air panas di meja, ia tiba-tiba berhenti, dan menoleh,

“Kamu mau kopi juga?” tanyanya.

Hakuri terperangah. Butuh beberapa detik untuknya menjawab.

“A-aku… tidak, bisa tunggu nanti. Tidak apa-apa, benar-benar tidak apa-apa. Ga kepengen banget juga kok,” kilahnya.

Chihiro mengangkat alis, lalu menatap mug di tangannya, kemudian kembali menatap Hakuri. Lalu, ia mengangguk kecil.

"Kita bagi dua aja.”

“Eh?”

“Mug ini besar, kita minum bareng aja kopinya. Satu mug cukup.”

Chihiro menuangkan air panas ke cangkir, kemudian memasukkan bubuk kopi yang terletak di samping teko, stok bubuk kopi Hinao yang dengan senang hati dia bagi untuk semua. Setelah menuangkan sedikit susu dari kulkas, Chihiro mengaduk perlahan kopi itu, dan kemudian menyodorkan mug merah tersebut ke Hakuri.

“Kamu duluan.”

Hakuri memandang mug merah itu seperti benda paling berharga di dunia. Ia ragu-ragu mengambilnya dari tangan Chihiro, lalu mencium aroma kopi yang hangat.

“Thanks, Chihiro…” gumamnya pelan, kemudian menyeruput sedikit kopi itu. Nikmat dan hangat, memberi kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya, kontras dengan dinginnya pagi di bulan November ini.

Chihiro mengangguk, kemudian bersandar pada meja dapur. “Kamu tahu, aku nggak keberatan kalau kamu mau pakai mug itu juga. Bukan punyaku pribadi.”

“Tapi… setiap pagi, kamu selalu pakai…”

Chihiro mengangkat bahu. “Nggak juga, beberapa kali aku tidak pakai, kok. Kadang pagi-pagi Shiba pakai mug itu untuk nyeduh teh panas—buat ngilangin mabuknya setelah dia habis kebanyakan minum bir sama Azami.” Chihiro menggelengkan kepala, namun bibirnya tersenyum. “Santai aja, Hakuri.”

Hakuri ingin membalas senyumnya, namun ia takut akan tersipu lagi. Ia memilih untuk menyeruput lagi sedikit kopi dari mug itu, lalu menyodorkannya kembali ke Chihiro. Ujung jari mereka bersentuhan sesaat.

Chihiro menerima mug itu tanpa banyak bicara. Hakuri memperhatikan, ia dengan santai minum dari sisi yang sama dengan Hakuri.

Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersipu. Beruntungnya, Chihiro tidak memperhatikan rona kemerahan yang muncul di kedua pipi Hakuri.

“Kamu… nggak keberatan berbagi?”

Chihiro mengangkat bahu. “Bahkan kalau kamu pakai duluan pun, aku nggak bakal marah,” balasnya. Tatapan mata Chihiro, meski masih terlihat sedikit kantuk, tampak jernih dan hangat. “Selama kamu sisain dikit kopinya buatku.”

Hakuri menunduk, pipinya merah padam lagi. “Baik… bakal aku sisakan terus.” Dia berharap keras semoga Chihiro tidak menyadari wajahnya yang tersipu.

Hening sejenak di dapur itu. Hanya sayup suara klakson mobil dari kejauhan dan suara dengkuran Shiba di kamar sebelah yang terdengar.

“Kalau gitu,” Chihiro berkata sambil menyeruput lagi, “Besok pagi kamu yang bikin kopinya, ya?”

Hakuri menatapnya dengan mata membelalak. “Aku? Tapi aku ga terlalu bisa…”

“Aku juga ngga jago nyeduh kopi, cuma bisa bikin kopi rumahan biasa. Tapi pagi-pagi itu rasanya lebih enak kalau kopi pertama hari itu diseduh orang yang dekat sama kita, kan?”

Ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Chihiro, begitu santai, seperti bukan sesuatu yang besar. Tapi rasanya, dunia Hakuri berhenti.

Wajah Hakuri nyaris menyalakan lampu dapur. Ia menatap mug merah itu seperti sedang melihat artefak suci. Kemudian, tanpa bisa menahan senyup gugupnya, ia mengangguk.

“Baik, aku akan menyeduh kopi terenak sedunia.” serunya, agak keras, karena ia gugup.

Chihiro tertawa pelan. “Gak harus terenak sedunia, yang penting kopi hangat.”

Mereka melanjutkan pagi dalam keheningan nyaman, duduk di meja makan di dapur itu, bergantian menyeruput kopi dari satu mug yang warnanya sama seperti mata Chihiro.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia pergi dari rumah, sejak ia akhirnya berani memilih jalannya sendiri, Hakuri akhirnya merasa dirinya sedang tumbuh, perlahan, bersama seseorang yang memberinya kehangatan.