Work Text:
Kotarou baru mengetahui kalau mengasuh anak akan se....bingung ini? Lebih tepatnya saat dia harus menyelaraskan emosi, dan tinggi badannya saat si anak tidak mau menyentuh makanan yang telah dia siapkan. Yang jika di hari biasa, anak itu sudah pasti menyedot seluruh isi rice cooker miliknya seperti vacuum cleaner. (Kotarou juga baru menyadari bagaimana perasaan Gintoki saat tinggal bersama Leader dulu).
Anak ini, Kazuo, anak yang secara sadar dia gandeng dan ajak pulang ke Bumi. Anak yang secara fasih dia katakan adalah anak angkatnya walau kadang harus sembunyi-sembunyi (karena, hey, bahkan jika Katsura Kotarou adalah salah satu orang yang membantu Bakufu beberapa tahun lalu, dia masih memiliki setumpuk list musuh yang mengincar kepalanya, dia tidak mau ambil resiko, tapi juga sangat menyayangi anak ini).
"Hey, Kazuo, apa masakanku terasa aneh lagi?" Tanya Kotarou, berusaha membujuk anak itu agar lebih mendekat dari jarak mereka sepanjang ruangan. Kazuo bergeming, menulikan telinga dan masih lanjut meringkuk di pojok ruangan. "Apa kau mau ke Ikumatsu-dono? Kita makan di sana. Kau bisa memesan ramen atau soba atau apapun yang kau suka."
Mendengar itu, Kazuo mengangkat kepala berambut coklat terang itu. Wajahnya terlihat lebih cerah walau masih ada mendung di sana. Kotarou mendengus melihat tingkah anak enam tahun itu.
Mereka berangkat ke Ikumatsu sambil bergandengan tangan.
Jika ada orang yang menanyakan mengapa, kenapa seorang Katsura Kotarou mengangkat seorang anak, alih-alih menikah dan punya anak kandung yang akan mewarisi darahnya, Kotarou hanya tertawa.
Dia hanya menjawab sengawur yang dia bisa, kadang hanya asal bunyi, kadang benar-benar menjawab. Ketika yang bertanya adalah Gintoki, Otose, dan Ikumatsu, Kotarou menjawab dengan serius. Bahwa dia merasakan empati yang tinggi saat melihat anak ini di pertama kali mereka bertemu. Dan anak ini juga merasakan hal yang sama. Bawa aku bersamamu, dia berkata seperti itu. Di umur yang masih lima tahun. Dia meraih tangan Kotarou dengan penuh harapan. Terisak dan frustasi secara bersamaan. Hal yang harusnya tak dirasakan, dialami oleh anak seumurannya. Makhluk Bumi atau bukan, Kotarou akan terus berpikir kalau seorang anak memang perlu orang tua.
Jadi dia menggendong anak itu ke pelukannya. Kazuo, dia memberinya nama baru, kehidupan baru. Dan anak itu memeluk leher Kotarou seperti dia adalah seluruh dunianya. Kotarou berpikir, mungkin, mungkin saja ini adalah perasaan Sensei ketika dulu pertama kali menemui Gintoki seperti yang mereka ceritakan padanya.
Mungkin juga karena umurnya yang sudah tiga puluhan, dia sudah tua, sudah banyak hal yang dia lewati dan sesungguhnya, Kotarou merasakan ini di tengah hiruk pikuk kelakuan randomnya setiap hari. Dia kesepian. Memiliki anak yang terus bermimpi buruk di tengah malam, mengharuskan Kotarou juga bangun kemudian menenangkannya, memeluk anak itu dengan perlahan, Kotarou berpikir tidak buruk juga.
Hanya saja, ada satu masalah. Walau Kotarou (dan Elizabeth, dan semua orang di organisasinya) berusaha untuk mencukupi nafsu makan anak ini, sepertinya perut ras anak ini benar-benar black hole berjalan. Elizabeth pernah hampir habis kesabarannya karena Kazuo terus meminta makan setiap dua puluh menit karena Kotarou tidak ada. Membuat mantan pangeran planet Oukoku itu mematahkan papan tulisnya dan memburu Kotarou yang masih dalam kepentingan politik antah berantahnya dengan tulisan penuh penekanan, Beri anakmu makan sebelum kau pergi bekerja, kau orang bodoh. Ditulis menggunakan tinta hitam tebal, dimiringkan, digarisbawahi.
"Aku sendiri pun masih heran bagaimana kau bisa berakhir dengan seorang Yato," Gintoki berkata seperti itu saat mereka di kedai ramen Ikumatsu. Pria berambut keriting silver itu berterima kasih pada Ikumatsu dan mengambil sendok kemudian mulai menyeruput ramennya kalem.
Kazuo sudah anteng dengan lima tumpuk mangkuk ramen di samping Kotarou. Kotarou menghela napas, memilih memakan soba nya sebelum menanggapi Gintoki.
"Semua terjadi begitu saja, Gintoki. Kau juga mengalami itu dulu saat dengan Leader. Yang menjadi masalah sekarang hanyalah mimpi buruk Kazuo masih intens padahal sudah setahun kami bersama dan tidak ada bahaya di sekitarnya." Kotarou melirik Kazuo sekilas. "Untungnya nafsu makannya tetap sama walau akhir-akhir ini dia agak pilih-pilih makanan. Hei, apa Leader dulu juga begitu?"
Kotarou menoleh pada Gintoki yang balas menatapnya datar. "Huh? Tidak tuh. Dia makan apapun yang kuberikan. Dia menghabiskan berasku sampai ke dasar-dasarnya."
"Apa dia sakit ya?" Katsura mulai khawatir.
"Bisa kau periksa ke rumah sakit. Kudengar dari Kagura, mereka sudah mulai maju soal kondisi tubuh Yato terakhir anak itu pergi ke sana."
Kotarou memikirkan itu. "Sepertinya memang begitu."
"Tapi ngomong-ngomong, memang kau memasakkannya apa?" Gintoki bertanya dan kali ini Ikumatsu juga ikut mendengarkan. Wanita itu menghentikan kegiatannya, memperhatikan Kotarou dengan segala antisipasi yang dia siapkan.
"Eh? Aku hanya memasak nasi dan rumput laut." Gintoki hampir menanggapi saat Kotarou melanjutkan, "tapi Hijikata-kun bilang kalau mayones bisa membuat anak tinggi jadi aku memberinya sebotol. Hijikata-kun bilang dia dulu diberikan itu, jadi-"
"Gin-san, pukul belakang kepalanya." Ikumatsu berwajah seram. Kazuo entah bagaimana sudah ada di dekapannya dan kedua matanya dia tutup.
Gintoki menutup juga mata bayi di gendongannya dan memukul belakang Kotarou ke meja. Membuat soba yang dia makan berpencar dari mangkoknya yang pecah kemana-mana.
"Ikumatsu-san, ada baiknya Kazuo-kun menginap dulu di rumahmu hari ini." Gintoki menatap Kotarou yang sudah berasap dengan kepalan tangan yang sama berasapnya dengan kesal. Bayi yang dia gendong mengeluarkan suara lucu kecil seperti ingin melihat. "Tidak boleh, Rintarou. Jangan dilihat. Orang ini tidak patut kau contoh."
"Bwah?" Rintarou, bayi manis itu menggenggam tangan Gintoki di depan wajahnya dengan erat.
"Benar sekali, Rintarou. Dia memang bodoh dan bodoh dan luar biasa bodoh, jadi ada baiknya kau jauh-jauh darinya. Ibumu akan marah kalau kau sering berdekatan dan terkontaminasi oleh kebodohannya." Gintoki akhirnya membuka tangannya dari wajah bayi dua belas bulan itu.
Kotarou yang tidak terima mengangkat wajahnya dan menatap Gintoki nyalang. "Bukan bodoh! Tapi Katsura! Oi! Jangan kau berkata seperti itu di depan anak kecil!"
"Haaaalah! Orang gila mana, yang benar-benar melakukan nasehat maniak mayo dari satu-satunya maniak mayo di dunia ini itu?! Dan kalian itu musuh!! Bagaimana bisa kau menanyakan masalah gizi anak ke orang yang adalah musuhmuu???! Otakmu hilang kah?? Aku kasihan pada Kazuo-kun. Mending kau cuci otakmu agar Kazuo-kun tidak ikut gila sepertimu!"
"Aku hanya melakukannya sekali--"
"Sekali dalam berapa hari kutanya!"
".....seminggu?"
Gintoki menendang pantat Kotarou dengan emosi menggebu. Rintarou ikut bersuara, entah antara kasihan, atau memang senang melihat adegan kekerasan ayahnya pada temannya itu.
"Sudah cukup, Gin-san. Biarkan si bodoh itu introspeksi diri. Kazuo akan bersamaku malam ini. Setidaknya aku akan memberitahunya tentang beberapa hal, seperti tidak mengindahkan perkataan orang ini jika memang sudah terdengar sangat bodoh." Ikumatsu juga sudah melepas Kazuo. Membiarkan anak itu kembali ke tumpukan ramen yang dia makan. Dua bungkus ramen Ikumatsu berikan pada Gintoki.
"Dan ini pesananmu. Beri salam pada Tsukuyo-san. Berkunjunglah bersama-sama lain kali. Ajak Haruaki-kun juga, aku rindu dengannya. Ah, tentu saja aku senang melihatmu Rintarou-kun," Ikumatsu tersenyum saat menepuk lembut puncak rambut blonde Rintarou. Bayi itu tersenyum lebar pada Ikumatsu.
Gintoki tersenyum kecil, "tentu saja. Dan pastikan si bodoh ini," Gintoki menendang Kotarou sekali lagi, "tidak melakukan hal aneh lagi. Setidaknya dia tidak memberikan makanan anjing itu ke Kazuo."
"Bukan bodoh. Tapi Katsura." Kotarou berkata lirih dari mulutnya yang terbenam di mangkok.
Ikumatsu tertawa. "Ya. Tentu saja."
Gintoki keluar dengan pesanannya, puas dengan makanannya, dan tertawa bersama anaknya. Setidaknya nasib Kotarou masih belum selesai karena Ikumatsu menjejalkan banyak protesan, nasehat, dan uringan padanya setelah Gintoki hilang dari kedai.
Hubungan Kotarou dengan Ikumatsu berada di zona yang ambigu. Wanita itu tidak terlihat menanggapinya dengan serius saat dulu dia pernah mengajaknya menikah. Kotarou setengah bercanda, setengah serius saat itu. Ikumatsu terdiam, tertawa, kemudian menepuk punggungnya. Berkata kalau dia terlalu mabuk atau keracunan soba. Kotarou sadar kalau dia memang tidak akan bergerak maju dengan Ikumatsu, tapi wanita itu juga tidak menolaknya.
Setiap kali dia berkunjung (sering iya daripada tidak), Ikumatsu tersenyum padanya dan meletakkan soba di meja. Tanpa kata. Kotarou juga menikmati sobanya dengan tenang, sesekali bercerita tentang yang dia lakukan dan Ikumatsu akan mendengarkan. Rutinitas yang membuat Kotarou tenang. Setidaknya seperkian menit dalam hidupnya, dia mendapat angin kedamaian di kedai itu.
Saat Kazuo datang ke kehidupannya, Kotarou mengenalkan mereka. Ikumatsu menepuk kepala anak itu. Kazuo mempelajari kalau Ikumatsu adalah orang penting bagi ayah angkatnya dan segera juga termasuk penting baginya.
(Di masa depan yang tidak terlalu jauh, kedai Ikumatsu akan lebih sering terlihat seorang remaja Yato yang mondar-mandir mengantarkan ramen ke meja satu ke meja lain. Atau mengantar pesanan ke beberapa pelanggan. Mereka mengatakan kalau anak itu adalah anak Ikumatsu yang selalu dibalas tidak oleh yang bersangkutan. Namun semua orang tahu kalau Kazuo memang sangat dekat dengan wanita itu, seperti ibu dan anak.)
Ikumatsu juga tidak keberatan saat Kotarou meminta tolong padanya untuk menjaga Kazuo saat dia tengah sibuk dengan urusannya. Kazuo awalnya sedikit cemas dan malu saat bersama dengan Ikumatsu saja, namun lambat laun dia malah senang bersama dengan Ikumatsu. Seperti saat Kotarou mengajaknya makan ke sana, Kazuo akan berjalan lebih dulu. Payung hijau yang dia belikan diputar senang. Anak itu dengan semangat menariknya untuk berjalan lebih cepat.
Lihat, ini sangat menggemaskan, Kotarou tidak bisa untuk melepaskannya.
Kehidupan mereka berputar antara bangun dan Kazuo yang meracau untuk sarapan. Mengunjungi Ikumatsu. Menonton tv serial kartun kesukaan Kazuo. Berjalan di sekitar kota dan menyapa teman-teman Kotarou. Kazuo yang sering menginap di rumah Ikumatsu saat Kotarou sibuk. Dan seperti itu.
Ini kehidupan yang aneh, jujur saja. Kotarou juga tidak pernah menyangka kalau dia berakhir mengasuh seorang Yato (seperti perkataan Gintoki). Tapi ini bagus. Ini baik bagi Kotarou. Dia tidak melulu berambisi untuk menghancurkan Bakufu. Ada seseorang yang amat penting, sangat membutuhkannya pulang dan mengisi perut black hole anak itu ketika dia pulang dari hari yang panjang.
Tentu saja mereka masih belajar. Banyak yang mereka baru rasakan, baru mengerti saat mereka bersama. Tentang bagaimana menjadi seorang ayah, seorang teman, seseorang yang dijadikan sandaran namun bukan pemimpin perang. Mereka tidak perang, Kotarou tidak mengajarkan pedang pada Kazuo walau beberapa kali bercerita tentang bushido. Bukan apa-apa, hanya bercerita dan dia tidak mendorong Kazuo agar mengikuti jejaknya. (Dan di masa depan nanti, Kotarou lebih senang melihat Kazuo yang melakukan tugas membantu Ikumatsu daripada tanpa sengaja ikut dengannya untuk menyelesaikan masalah berkaitan hal antah berantahnya. Kazuo mengerti posisi Kotarou seiring bertambahnya umur, namun dia tidak mengatakan apapun. Kazuo hanya menunggu di depan tv mereka saat Kotarou pulang larut. Mereka akan bicara tentang apapun sampai Kotarou menyuruh Kazuo tidur.)
Kotarou kadang menghubungi Tatsuma. Mengatakan terima kasih secara tersirat di antara tulisan di balik konteks bisnis mereka, tentang Tatsuma yang menjadi jembatan Kotarou bertemu dengan Kazuo. Tatsuma memberinya jawaban berupa empat lembar tulisan "HAHAHA" padanya. Kotarou berakhir mengepalkan kertas itu dan membuangnya ke luar jendela. Tapi dia paham kalau Tatsuma mengerti maksudnya.
Hidup barunya terasa menyenangkan. Lebih menyenangkan dari sebelumnya. Dengan tanggung jawab baru, dengan beban baru di pundaknya. Kotarou menyukai kehidupan di mana dia mempunyai Yato di bawah radarnya. Dan Yato itu adalah anaknya.
