Work Text:
Pergi liburan untuk bermain ski bersama dengan sahabat dan mantan pacar tidak pernah ada di dalam bucket list seorang Yoon Jeonghan. Namun, beginilah keadaannya sekarang dia sedang berdiri untuk antri menaiki kereta gantung yang akan membawanya ke puncak bukit.
Seungcheol sudah berkali-kali mengajak dirinya untuk melakukan hal yang lain, tetapi berusaha untuk tidak memiliki banyak interaksi, Jeonghan memilih bermain ski selama dua hari berturut-turut. Tidak peduli dengan Joshua yang sudah masam karena menjadi tumbal dan obat nyamuk di antara pasangan yang telah karam.
“Mau sampai kapan lo begitu terus?” tanya Joshua, sibuk mengambil foto melalui ponsel. “Kasian dia kali, ngemis minta waktu buat kegiatan sama lo.”
Jeonghan memberengut dan mendengus. “Emang kenapa, deh?”
”Komunikasi kalian jelek.”
”Terus?”
”Ngobrol lah.”
Mendengar desakan yang sama, Yoon Jeonghan mengambil ponsel miliknya yang berada di saku dan mengajak Joshua untuk berswafoto, mencoba mengalihkan perhatian sang sahabat—meskipun nihil.
”Kalian udah lama nggak pernah ngobrol, kan? Apa salahnya ngobrol serius gitu, yang benar-benar ngobrol.”
”Kenapa, sih,” Jeonghan menggerutu. “Lo dibayar Seungcheol?”
”No, but don’t you think it’s already the time to have closure and clear up the air,” Joshua mengedikan bahu. “Katanya obrolan kalian cuma this and that aja di chat.”
” Actually ,” Jeonghan mengambil suara dan melirik ke arah Joshua yang menatapnya penuh dengan ekspektasi. “ We did it .”
Tiga kata yang meluncur dari mulutnya membuat sang sahabat terdiam, kemudian terbatuk dan terdiam lagi. Cukup salting sampai orang yang duduk di sebelah mereka melirik penasaran.
” So , kalian nggak ngobrol tapi fucking each other… american series textbook apalagi ini,” Joshua bersuara dengan kata-kata yang terlontar sangat cepat. “Maksudku, ini gila banget kalian bisa horny padahal udah jadi mantan yang bukan clean break up .”
”Gitu, deh.”
Jeonghan terdiam dan tidak menggubris lontaran pertanyaan dari Joshua Hong. Dia tidak ingin laki-laki itu mengetahui kalau Seungcheol dengan dirinya bercinta di dalam apartemen yang dititipkan. Detail seperti itu tidak penting untuk diketahui orang lain.
Meskipun begitu, semenjak mereka tidak sengaja tidur bareng, Jeonghan tidak pernah menyahuti pesan yang dikirimkan oleh Seungcheol. Bahkan ketika mereka ada syuting bersama, dia hanya berinteraksi sesuai dengan skrip dan arahan sutradara, jika istirahat dia akan pergi dengan sang manager. Mungkin tidak adil untuk Seungcheol mendapat silent treatment dan perlakuan seperti itu, tetapi Jeonghan tidak tahu cara harus menghadapi laki-laki itu.
Kalau dipikir, sepertinya liburan kali ini adalah cara Choi Seungcheol untuk berekonsiliasi dengan dirinya dan membahas silent treatment itu.
Hah.
Benar-benar tidak siap jika dia harus membahasnya, kenapa kehidupan dirinya dan Seungcheol selalu bertaut dengan kesulitan yang menyebalkan.
”Han,” Joshua bersuara saat mereka sudah sampai di atas bukit dan bersiap untuk meluncur dengan papan ski. “ I think it was the best we never debuted as a trio .”
Jeonghan menengok menatap laki-laki yang menatapnya dengan tajam, belum sempat memberikan balasan, laki-laki itu berkata lagi. “ It would jeopardize the whole group if you broke up. He’s right, though, Jeonghan, he knew this would happen.”
“Karier gue stagnan juga karena perasaan gue ke Seungcheol?”
” Life is about sacrifice ,” Joshua tersenyum kemudian bergerak berselancar ke bawah dengan cepat dan meninggalkan penyanyi yang masih terpatung menelan pil pahit.
— — —
Untuk membuat semua menjadi lebih buruk, Joshua dengan ide tololnya membawa mereka bertiga duduk di teras belakang dengan makanan take away . Situasi yang sangat canggung, ditambah dengan laki-laki itu pergi masuk ke dalam penginapan dengan alasan managernya menelpon.
Kenapa dia harus memiliki teman seperti ini, atau lebih tepatnya kenapa dia memiliki ide untuk mengajak Joshua ke acara bodoh ini. Lebih baik dia mengajak Minhyun, sang manajer, kemudian pergi menginap di tempat lain.
Apakah Joshua tidak tahu bahwa dia tidak menyukai jika diletakkan pada posisi yang canggung dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dia benar-benar membenci ini, bukan membenci lawan bicaranya, tetapi membenci atmosfer yang ada di antara mereka.
Oh. Baiklah. Dia agak sedikit membenci lawan bicaranya.
Bisa tidak Choi Seungcheol berhenti menatapnya dengan berbinar-binar? Menggelikan.
” Sorry , aku ganggu ya.” Sang rapper berkata dengan malu-malu, menyeruput kaleng sodanya.
Shit .
Sekarang dia mengatakan sesuatu yang ada di dalam kepalanya dengan keras.
”Kurang lebih, yeah .” Jeonghan menyahut, tidak ingin menyembunyikan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh dirinya sendiri.
”Aku buat salah sama kamu lagi, kah?” Seungcheol bertanya. “Setelah kita doing the deeds , kamu tiba-tiba menjauh dari aku. Apa aku maksa kamu malam itu?”
Jeonghan merasakan kepalanya berdenyut-denyut dan perut yang bergejolak memberikan sensasi mual seperti orang yang hendak terkena serangan panik.
”Itu gue, bukan lo,” Jeonghan menyahut dengan cepat. “Nggak usah diambil pusing, that’s my problem to solve .”
Seungcheol menatapnya dengan wajah penuh dengan penderitaan, seperti hendak mengatakan sesuatu yang sengaja ditahan. “Kamu bisa cerita kalau ternyata semua itu mengganggu kamu, termasuk tindakan aku yang terkesan agresif ini.”
Jeonghan memijat tengkuknya dengan keras hingga mengeluarkan sendawa pelan. Percakapan ini belum berjalan sampai sepuluh menit tetapi seluruh tubuhnya sudah seperti terkena sakit.
”Lo tau kan gue nggak pernah cerita ke siapa-siapa dari dulu kalau ada masalah.”
”Tapi nggak bagus buat diri sendiri, Han.”
Jeonghan tertawa pelan. “Kenapa tiba-tiba jadi perhatian begini ya, Cheol? Kita ngomong to the point aja deh, lo berharap kita balikan lagi atau gimana? Sorry , tapi kalau ternyata lo mau kita balikan gue nggak bisa. You’ve put me through a lot of things .”
“Selalu balik ngebahas masa lalu,” Seungcheol membalas dengan sewot. “Bisa nggak kita berbicara tanpa membahas masa lalu karena aku udah nerima apapun yang udah lewat. Aku nggak mau ada dendam.”
Mendengarkan kata-kata tersebut, yang dapat Jeonghan lakukan hanyalah mendengus dan sepertinya hal tersebut memancing Seungcheol untuk berpikir hal terburuk.
”Kamu dendam sama aku?”
”Hah?”
”Seharusnya aku yang dendam sama kamu dan selingkuhan kamu.”
Jeonghan menggeram. “Not fucking this again. Aku kira kita udahan ngebahas persoalan aku selingkuh, I never did that. Lo bilang lo udah ngelupain ini.”
“Tapi bukan berarti aku maafin kamu yang udah selingkuh.”
” I never, oh my fucking god ,” Jeonghan beranjak berdiri dan dengan dramatis menegak habis satu kaleng berisi diet coke . “ Look me in the fucking eyes , menurut lo apa gue bisa untuk selingkuh dengan semua yang udah gue relakan di dalam hubungan ini? Gue merelakan american advancement untuk lo dahulu dengan memiliki pergi ke Jepang, gue nggak pernah sekalipun mempermasalahkan kak Doyoung memilih lo daripada gue. It’s crystal clear, Cheol, I sacrificed too much in this relationship .”
Yoon Jeonghan dan kemarahan yang sudah lama tertimbun di dalam bawah sadar, kini perasaan itu naik dan meluap ke permukaan. Jika Joshua meminta dia untuk berbicara benar-benar dengan Seungcheol dan jika laki-laki itu menginginkan ini, maka dia akan memberikannya.
”Aku juga berkorban, Jeonghan, bukan kamu doang.” Seungcheol menyahut, raut wajahnya tidak seperti yang Jeonghan harapkan—ia melihat laki-laki itu menatapnya dengan raut sedih.
”Lo pergi mengejar grammy and left your pathetic loser boyfriend bukan pengorbanan. Jelasin ke gue sekarang, apa yang lo korbankan untuk kita? Lo nggak coming clean ke kak Doyoung kalau kita pacaran itu udah red flag .”
“Han…” Seungcheol berbisik. “Aku nggak cerita karena aku nggak mau interaksi kita dibatasin seperti saat grup kita bertiga gagal debut. Saat itu aku masih muda, aku berpikir hal tersebut yang terbaik, tetapi aku cerita ke kak Doyoung tentang kita.”
Jeonghan meringis mendengar kata-kata yang tidak lebih dari sekedar omong kosong untuk dirinya. “Lo cerita ketika sebelum lo chasing grammy dream , fuck gue benci sama kata-kata grammy . Terus lo liat setelah lo cerita gimana? He pushed you .”
”Ya iyalah, Jeonghan. Dia mendukung aku karena pencapaian aku adalah pencapaian dia sebagai manager. Nggak ada hubungannya dengan kamu sebagai pacarku.”
”Wow,” Jeonghan berujar. “Terus pencapaian gue apa, Seungcheol? I have nothing under my name .”
“ You have me .”
”I don’t want a fucking thropy boyfriend . Maaf kalau ini jahat tetapi gue iri dengan Joshua dan lo, Seungcheol, I want what both of you have—a stable career ,” kata-kata itu meluncur dengan pelan dari mulut laki-laki yang air matanya telah kering. “ We’d meet a little too soon, Cheol— fuck, gue nggak bisa ngobrol dan ngebahas ini terus-menerus, kepala gue rasanya mau meledak.”
Jeonghan berjalan dengan langkah besar masuk ke dalam kabin penginapan, meninggalkan Seungcheol yang sedetik terlambat menghampiri dirinya.
”Berhenti, Jeonghan. Kita belum selesai.” Seungcheol berujar. Kini mereka telah berdiri di antara dapur dan ruang santai, saling beradu pandang dan kepala berisi taktik untuk menghadapi percakapan yang memusingkan.
” We’re done , we were done since a year ago, Seungcheol, ” Jeonghan membalas. “ Just give up on me .”
”Kamu nggak mau tau perasaan aku gimana?”
” Why? Buat apa, Cheol?”
” Who knew maybe we could—“
”—jadi apa? Gue kan udah bilang—“
”—teman, Jeonghan. Gue mau kita memulai menjadi teman lagi, let’s have a clean start .”
Yoon Jeonghan menggigiti jari-jarinya dengan keras, mencoba untuk tidak melontarkan makian yang telah menumpuk di dalam kepala.
”Oke,” Jeonghan berkata. “ Let’s be friend or whatever fucking you want .” Lanjutnya yang langsung diterima oleh lawan bicara dengan senyum sumringah, namun sebelum ada percakapan lagi, Jeonghan sudah pergi masuk ke dalam kamar tidurnya dengan suara pintu dibanting keras.
— — —
“ Sorry, Seungcheol.” suara Joshua yang tiba-tiba mengagetkan Seungcheol dari lamunannya di teras belakang.
”Nggak apa-apa, begini lebih baik daripada tidak berbicara sama-sekali, meskipun nggak jauh beda dengan yang dibahas di chat .” Seungcheol mengernyitkan dahi, memberikan penolakan pada diri sendiri.
”Dia sangat keras kepala, sooner or later he’ll come .”
Seungcheol mengedikan bahu. “Gue sadar kalau kita emang masih terlalu muda saat itu, masih penuh ego dan ambisi masing-masing. Gue paham sama pergulatannya.”
” It’ll be rough to win him back .” Joshua menengak kaleng bir yang sudah dibawa-bawa sejak tadi.
