Actions

Work Header

rumah di ujung dunia.

Summary:

White primrose sudah jadi bunga yang tumbuh dan Yoriichi telah mengenalinya dalam waktu yang lama— Yoriichi tak pernah berpikir bunga itu akan hilang suatu hari nanti.

Sumiyoshi membawa angin layu yang membawa bunga itu pergi bersamanya, membawa yang baru ke dalam hidupnya. Rahasia senja di ujung dunia, hutan pelosok tempat Yoriichi membagi cinta.

Notes:

day 4 of #knyrarepairweek2024! finally i have the excuse to make yoriisumi. they're so cute and fluffy!

 

10 june — royalty au / flowers / baking.

 

☀️🏮

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Berjalan ke gubuk Sumiyoshi sudah jadi rutinitas baginya. Yoriichi makin familiar dengan lembutnya angin yang menari disekitarnya, menarik ranting pohon berdansa dalam lantunan hilir sungai. Langkahnya terasa ringan memikirkan senyuman lelaki dengan rambut burgundi itu. 

 

Di perjalanannya, Yoriichi dapat rasakan yang namanya lega. Tenang. Ia tak perlu berjaga, tak perlu waspada. Dari belasan mata pengawal kerajaan yang tak pernah berhenti mengikutinya. Semua karena kehidupannya disembunyikan; diasingkan sebab anak kembar adalah pembawa petaka. Dibubuhi dengan simbol merah yang melukis wajahnya sejak waktunya pertama kali menghirup nafas; paranoid sang Ayah— sang Raja— berakhir dengan mengasingkan anak kedua dari kehamilan istrinya yang pertama.

 

Di antara mahkota bunga lily, Yoriichi teringat akan Sumiyoshi. Warna putihnya mengingatkannya tentang matanya yang indah. Yoriichi suka sekali memandangi yang lebih muda, walaupun sering kali diberikan respon yang malu-malu. Yoriichi tak protes, ia suka. Ia suka semuanya tentang Sumiyoshi.

 

Dari aromanya yang layaknya roti di pagi hari, hangat dan lembut. Dari senyumnya yang lebar, merekah dari pipi ke pipi, membawa hangat ke hati Yoriichi yang sering dipendam kelam. Sentuhnya yang begitu halus, menelusuri luka demi luka yang membekas di tubuhnya.

 

Sumiyoshi bagaikan cahaya di tengah dukanya, bagaikan penuntun di dalam hutan yang gelap. Lentera dengan pancaran hangatnya di tengah kelam malam; Yoriichi tak berhenti mencari-cari temaramnya ketika lepas dari pandangannya. 

 

Pertemuan mereka berdua masih segar di ingatannya. Sebuah memori yang Yoriichi sendiri memohon untuk dibiarkan terlukis di antara relung rusuknya agar ia tak pernah lupa. Ia masih ingat rintihan ketakutan Sumiyoshi; dan juga coreng tanah di wajahnya. Diwarnai air mata, Sumiyoshi bangkit dari tanah setelah dipojokkan babi hutan. Pedang kayu di tangannya terasa berat, namun Yoriichi tahu bahwa pedang itu menemukan tempat singgah yang benar. 

 

Yoriichi tak menjawab semua yang dikatakan Sumiyoshi; entah terima kasih, atau caranya yang keras kepala ingin Yoriichi membalas kalimatnya. Yoriichi tak mengucapkan sepatah kata ‘pun, tapi Sumiyoshi tetap membawanya ke gubuk di tengah hutan.

 

Beberapa kali, memang, Yoriichi sering lihat gubuk itu. Tempat tinggalnya ketika ia masih kecil, jauh di dalam hutan, terasingkan dari peradaban. Namun ia sering kali mencari rute yang lain, mencoba menghapus ingatannya tentang Ibunda. Karena itu ‘lah keinginan terakhirnya, lupakan Ibu, Yoriichi. Dan Yoriichi tak punya pilihan selain berpegang kepada anting hanafudanya, yang di setiap langkahnya membunyikan suara dari masa lampau— masa dimana Ibunda masih hidup. Masa dimana Michikatsu masih sering berkunjung, walau kakaknya itu tahu betul bahwa akan berakhir buruk baginya.

 

Putra mahkota—merupakan hal yang biasa dijadikan ajang balapan antar saudara. Atau, seringnya. Namun keluarga Tsugikuni berisi dan melahirkan anak-anak gila, yang didewasakan oleh cepatnya waktu; yang merasakan pahitnya kehilangan. Yoriichi tahu rasanya kehilangan, dia tahu bagaimana sakitnya ditinggal Ibunda pergi ke alam baka; tubuh Ibunda yang lemah pernah digenggamnya, sebelum ditariknya badannya oleh Ayah, dengan membentaknya, “Jangan sentuh dia, dasar kau anak terkutuk!” 

 

Yoriichi tahu rasanya kehilangan, seperti menunggu di teras gubuk— menunggu kunjungan sang kakak yang sudah jadi rutinitas mereka. Dan ketika gagak menghampiri raganya, bertengger di pangkunya, Yoriichi tahu Kakak takkan pernah datang lagi. 

 

Yoriichi hidup dengan sepi. Yoriichi hidup berdampingan dengan sepi. Bangun, bersihkan rumah, berburu, memasak, makan, mandi, bersihkan rumah, tidur. Bangun, bersihkan rumah, berburu, memasak, makan, mandi, bersihkan rumah, tidur. Bangun, bersihkan rumah, berburu, rambut burgundi— 

 

Kehadiran Sumiyoshi hari itu tak bisa pergi. Bahkan bunga white primerose¹ liar yang tumbuh sejak hari kematian Ibunda layu hari itu. Tak pernah sekali lagi tumbuh di belakang rumah. 

 

Yoriichi sekarang pindah dari gubuk itu. Membiarkan Sumiyoshi mengurusnya; tangan yang lebih muda sekarang lebih kasar. Lebih familiar. Sudah berapa kali Yoriichi menggenggamnya, Yoriichi tak menghitung. Namun hangat yang disalurkan Sumiyoshi begitu halus; begitu lembut, hingga di malam-malam sunyi, Yoriichi sedikit berharap ia tak pernah pergi dari kediamannya itu.

 

Kakinya tak juga berhenti untuk menyusuri sungai, birunya memantulkan langit di junjungannya. Netra laksana kayu terbakar menyapu halaman yang dilindungi pohon bunga. Warna putih dan merah muda berpadu dalam lukisan milik awan, dan Yoriichi dapat mencium aroma roti hangat dan juga Sumiyoshi. Sumiyoshinya. 

 

Tanpa suara, senyap seperti angin, Yoriichi memasuki rumah yang familiar. Langkahnya bahkan tak perlu dipikirkan, karena otot-ototnya masih ingat betul bentuk rumah itu. Jika Yoriichi diberi yang namanya kebutaan, hidup di rumah itu takkan jadi masalah.

 

“Yoriichi-san!?” pekikan dari suara kekasihnya mengambil tahta kembali di pikirannya. Surai bergelombang milik Yoriichi beradu dengan musikal api yang berkobar di panggangan. Ketika Yoriichi berbalik menatap yang terkasih; ia diberi pelukan hangat.

 

“Kau kembali.” bisiknya, dan Yoriichi mengambil tubuh itu ke dalam peluknya. Gerakannya lambat dan hati-hati, seperti sedang memegang artefak kerajaan yang berumur ratusan tahun. Sebuah benda yang satu diantara ribuan. Seseorang yang takkan Yoriichi tukar dengan apapun.

 

“Aku pulang.” walaupun telah lama membagi kasih, rasanya Yoriichi ingin berduka dengan hangat yang mati di kulitnya. Sumiyoshi melepas pelukan mereka, dan dengan senyum lebarnya: “aku membuat roti, Yori-san. Baru saja matang, aku akan mengambilnya!” 

 

Yoriichi hidup dengan sepi. Yoriichi hidup berdampingan dengan sepi. Namun, dengan Sumiyoshi di hidupnya; sunyi tak lagi dingin, dan, bunga white primerose tak tumbuh lagi di teras gubuk itu.

 

. . . 

 

 

¹bunga white primerose memiliki arti tersendiri dalam bahasa bunga; menyimbolkan kesedihan dan berkabung/berduka. 

 

 

Notes:

@sirowtie