Chapter Text
Alex menghempaskan diri ke sofanya, bersandar dan meregangkan otot-otonya yang entah bagaimana masih terasa kaku seperti baru saja bangun tidur meskipun sekarang sudah siang.
June yang duduk di sebelahnya mengerutkan hidung saat ia harus merasakan lompatan kecil akibat ulah Alex.
Dengan malas, Alex meraih sepotong pizza yang ada di atas meja. Dibawa oleh June. Saudarinya itu mengajaknya untuk makan siang bersama, tetapi Alex sangat malas untuk pergi keluar. Pekerjaannya yang baru selesai menguras tenaganya dan ia ingin bersantai di rumah pada hari liburnya mengenakan kaus usang dan celana trainingnya yang nyaman, jadi ia berkata pada June jika ia memang ingin makan bersama maka ia harus membawa take out ke apartemen Alex.
Alex mengunyah pizzanya, ia tidak sarapan karena memilih tidur lebih lama dan kini sangat lapar, membuatnya mengambil gigitan besar-besar. June memutar bola mata akan tingkahnya, memakan pizzanya dengan lebih lambat dan santai. Sebuah majalah terbuka di atas pangkuannya, jari-jarinya yang dihias kuku palsu membalik halaman satu per satu.
“Is there anything interesting on that?” tanya Alex dengan nada tak sepenuhnya tertarik.
June menggumam. Membalik selembar halaman lagi. “Berita yang paling menarik perhatian adalah artikel mengenai Henry Fox.”
“Itu majalah gosip selebriti?” Alex mengernyitkan hidung dengan rasa tak puas. June sedari kecil memang sangat suka dengan majalah-majalah remaja yang penuh dengan hal remeh temeh semacam kabar terbaru selebriti, astrologi, atau hal-hal klise lainnya yang disukai oleh remaja labil. Mungkin obsesinya pada majalah itulah membuat tak mengherankan dia berakhir menjadi jurnalis. Meskipun June seorang jurnalis yang berkecimpung di dunia politik dan isu kemanusian, bukannya tabloid gosip dan gaya hidup, kebiasaan lama tetap masih bisa melekat.
“Alright, what it is this time?” lanjut Alex menyumpal mulut dengan pizza. Meski ia tidak peduli pada berita-berita murahan kehidupan selebriti, ia tetap membiarkan June membicarakan ketertarikannya. Dan ia juga suka membuat komentar sarkas jika beritanya benar-benar konyol. Menebak-nebak seberapa persentase kebenaran yang ada dalam tulisan tersebut. Media ketika haus akan atensi bisa membuat cerita paling tak masuk akal.
June menelisik deretan huruf-huruf yang tertulis, alisnya bertaut samar. “Apparantely, ada seorang hater yang menerobos kerumunan dan sepertinya akan melukainya secara fisik saat ia sedang mendatangi acara ...”
Alex mengerutkan kening, beringsut mendekati June agar ia bisa mengintip ke majalah tersebut dengan lebih baik. Pada halaman itu terlihat foto yang menampilkan seorang Henry Fox yang terlihat dalam proses untuk berbalik dan seorang wanita yang mengulurkan tangan ke arahnya. Di foto kedua ia melihat bahwa seorang pria yang kalau tidak salah adalah manajer Henry menghadang wanita tersebut, Henry sudah sepenuhnya berbalik dengan wajah terkejut. Dan di foto ketiga, wanita itu telah diseret sekuriti dan Henry yang telah didorong oleh manajernya untuk menjauh dari tempat tersebut.
June mendecakkan lidah. “Ini adalah acara amal kecil-kecilan, bagaimana mungkin ada orang yang mau menghabiskan tenaga untuk pergi kesana dan menyerang seseorang?”
Alex mengangguk menyetujui, biasanya ia selalu punya komentar sarkastis atau humoris tentang artikel selebriti, tetapi ia tidak bisa untuk merasa bahwa ini adalah hal yang lucu. Disamping perbuatan hater tersebut yang jelas jahat, juga terlihat jelas media yang mengejarnya. Para paparazi yang mengerumuninya padahal acara tersebut bukan acara publik.
“Apa ini masih berhubungan dengan masalah itu?”
June mengangguk. Matanya masih lekat pada tulisan. “Wanita itu bilang kalau Henry membangun karirnya dengan kebohongan dan tipuan, memanfaatkan audiens wanita untuk menyukainya padahal dia sama sekali tidak akan membalas perasaan mereka.”
Alex tertawa terbahak-bahak. “Wow, these people really are delusional and entitled! Mereka pikir dia berhutang apa pada mereka hanya karena fantasi yang mereka buat sendiri hancur oleh realita?”
Alex kembali menatap lekat wajah Henry Fox yang terpapar di kertas mengkilap itu. Teringat dengan skandal aktor tersebut enam bulan yang lalu.
Henry Fox adalah aktor kebangsaan Inggris yang merupakan anak dari seorang megabintang. Mendiang ayahnya bernama Arthur Fox yang merupakan aktor kenamaan atas perannya sebagai James Bond. Dan anak bungsunya mengikuti jejak sang Ayah di dunia yang sama.
Terkenal sebagai anak yang manis tersayang oleh sang Ayah dan tumbuh menjadi pria tampan dengan tampilan layaknya perwujudan mimpi kaum wanita, Henry adalah favorit media untuk ditulis di artikel mereka. Mengenai apapun. Rumor apapun. Spekulasi kehidupan percintaannya silih berganti. Dan mereka semakin menjadi-jadi mengejar kehidupannya setelah ayahnya meninggal.
Dan enam bulan yang lalu, berita paling sensasional terbit. Seorang mantan kekasihya mengedarkan foto telanjang dan sex tape-nya. Membongkar bahwa ternyata, Henry Fox adalah seorang gay, dan hampir seluruh orang kini tahu bagaimana ia di ranjang.
That’s absolutely the worst way someone to get outted.
Dan kini aktor muda itu harus menghadapi begitu banyak haters yang kebanyakan merupakan orang-orang homophobik serta fans-fans wanita yang kini beralih menjadi hatersnya hanya karena mimpi mereka untuk bisa mengencani aktor itu sirna.
Dengan segala silau kemewahan kehidupan selebritinya, Alex sama sekali tidak iri kepada Henry Fox.
“Bukankah ini sudah keterlaluan? Aku rasa aku sudah cukup banyak membaca artikel dimana hatersnya begitu agresif.” June menyahut dengan nada iba. June bukanlah fans berat aktor tersebut, tapi ia telah mengembangkan empati yang besar kepadanya.
Alex mengangguk setuju. Matanya menelisik foto tersebut. Hanya ada manajernya yang tampak menjaga Henry. “Apa sebaiknya mereka tak menyewa keamanan untuknya? Tidak mungkin ‘kan mereka hanya akan terus membiarkan begitu saja? Bagaimana kalau dia benar-benar celaka?”
“Tapi bagaimana kalau agensinya malah merasa kalau itu hanya akan memperburuk imejnya?” sebuah suara baru tiba-tiba muncul. Alex dan June mendongak untuk melihat sahabat mereka, Nora, yang muncul entah dari mana dan dengan seenaknya menselonjorkan diri di sofa dan ikut mengambil pizza.
Wanita itu muncul entah darimana tapi dia memang tahu kode pass apartemen Alex sehingga ia sudah biasa masuk seenaknya.
“Bagaimana bisa?”
“Mungkin saja publik malah mengatakan bahwa ia terlalu sensitif atau angkuh, kau tahu sendiri sifat privatnya Henry Fox malah dikatakan sebagai kesombongan dan sikap dingin bagi para antis-nya,” jawab Nora setelah menelan kunyahannya.
“Itu konyol,” sanggah Alex sengit, “Jelas-jelas jika ia memakai keamanan setelah bertahun-tahun ini, itu artinya bahwa dia memang membutuhkan hal tersebut!”
Nora mengangkat bahu, menyapu saus yang ada di sudut bibirnya sebelum bicara. “Lalu kenapa mereka malah meminta bodyguard diam-diam?”
Alex dan June mengedipkan mata mereka. “Diam-diam?”
Nora mengangguk dengan cengiran, ada kilat jenaka dan nakal di matanya. Menandakan bahwa ia punya sesuatu luar biasa yang hanya ia ketahui. Membuat kedua bersaudara itu makin penasaran.
“Agensi Henry Fox baru saja meminta jasa perusahaan kita untuk bodyguard.”
“Oh, baguslah kalau mereka peduli pada aktor mereka,” komentar Alex, menyandarkan punggung pada sandaran sofa.
“Yes, but listen, they asked for one bodyguards only,” sahut Nora dengan menekankan katanya.
June mengerutkan kening, matanya kembali melirik pada halaman majalah. Kerutan itu makin dalam. “Kenapa hanya satu? Itu tidak akan cukup.”
“Karena itu mereka meminta agen terbaik.”
Alex mengangguk paham. Tapi butuh beberapa detik baginya untuk mencerna itu. Matanya membulat begitu lebarnya, menoleh pada Nora dan menunjuk dirinya sendiri.
“Of course, it’s you, Alejandro,” sahut Nora.
Alex bekerja pada perusahaan penyedia jasa keamanan, alias penyewaan bodyguards, dan Alex adalah adalah satu bodyguards di sana.
Dan semua track record-nya menjadikannya salah satu agen terbaik yang dimiliki perusahaan. Alex memiliki fisik yang kuat—seperti yang seharusnya bagi orang dengan profesi tersebut, tetapi ia juga tangkas, awas terhadap lingkungan, cepat tanggap dalam perubahan situasi apapun, efisien dalam bertindak, dan cukup memiliki kemampuan bersosialisasi dan berbicara yang handal jika keadaan menuntutnya untuk berhadapan dengan media.
Semua kualitas itu membuatnya dipercaya meng-handle klien-klien amat penting atau klien-klien dengan situasi yang kompleks.
Ia masih muda, tapi bersanding dengan para bodyguards yang mempunyai pengalaman bertahun-tahun lebih dulu darinya.
“Kau akan tahu detailnya saat jadwal mereka berkunjung ke kantor untuk mengurus urusan ini,” sahut Nora, menyambar sepotong pizza lagi. “Tidak banyak yang mereka katakan saat menghubungi perusahaan, mereka ingin mengurus detail dan persyaratan secara langsung. I’m giving you a head up.”
Kata-kata Nora semakin membuatnya penasaran, ingin bertanya lebih lanjut tetapi Nora selalu menceritakan semua yang ia ketahui pada sahabatnya. Ia selalu berbagi pada kedua Claremont-Diaz. Jika memang hanya itu yang ia ceritakan, berarti hanya itu yang ia ketahui.
Nora bekerja di tempat yang sama dengan Alex, June kadang bercanda bahwa mereka memiliki sifat yang mirip bahkan sampai berakhir dalam bidang pekerjaan yang sama. Berbeda dengan Alex yang bekerja di lapangan sebagai bodyguards, Nora bekerja di bagian IT dan administrasinya. Nora adalah seorang yang bisa Alex sebut jenius saking pintarnya, jadi tak mengherankan ia sudah ada di posisi yang tinggi dalam perusahaan hanya dalam waktu yang sedikit. Karena itulah dia bisa tahu semua informasi penting seperti ini.
“Baru pertama kali ini ada yang menghubungi dengan sangat sedikit kejelasan, I wonder why are they playing it so mysteriously,” gumam Nora.
June menggedikkan bahu lalu menoleh pada adiknya. “Kalau kau bertemu dengan Henry Fox nanti, ceritakan apakah dia memang se-hot yang ada di fotonya,” ucap June menyeringai disertai kedipan.
Alex mendengus, mengambil bantal sofa dan memukul saudarinya itu. “He’s gay, June, dia tidak akan tertarik padamu.”
“What? I’m still allowed to enjoy the view, don’t I?”
Nora mengangguk, menyetujui dengan serius.“She’s right, you know. He’s not into women, but damn, he makes it hard not to fantasize about it.”
Alex mengerang. “Can you two stop?!”
