Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-09-08
Words:
1,111
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Hits:
36

Audition

Summary:

Nagi kecil ikut audisi model cilik, tapi pulang dari audisi bukannya dapet juara malah dapet temen baru.

Work Text:

Katanya anak merupakan anugerah dari Tuhan sekaligus menjadi pintu pembuka rezeki bagi kedua orang tuanya. Mungkin itu juga yang dipercaya oleh ibu Nagi setelah melahirkan anak lelaki di musim semi beberapa tahun yang lalu. Anak lelaki yang diberi nama Seishiro tumbuh sesuai dengan namanya yang berarti penuh ketenangan. Seishiro kecil tidak pernah membantah omongan orang tuanya, selalu berusaha melakukan semua kegiatannya sesuai dengan aturan yang dibuat oleh ayahnya dan membantu ibunya dengan pekerjaan rumah.

Suatu hari ayahnya sedang membaca majalah dan melihat iklan pencarian bintang untuk iklan merek susu anak yang terkenal di kalangan orang tua muda seperti ia dan istrinya, kemudian ia berpikiran untuk mengajak anak semata wayangnya tersebut.

Maka berakhir di sinilah Seishiro dan ibunya, di sebuah gedung perkantoran dan mengantri untuk menunggu gilirannya diwawancara oleh sekelompok orang dewasa serta dipotret dengan berbagai gaya. Malam sebelumnya, ayahnya sudah mengajarkan Seishiro beberapa pose yang ia pelajari dari sebuah video dan Seishiro dengan semangat mengikuti pose yang diarahkan.

Tetapi saat ia maju di depan kamera gerak tubuh Seishiro tidak sinkron dengan raut wajahnya. Tubuhnya terus mempraktekkan pose yang sudah diajarkan ayahnya dengan lincah, namun raut wajahnya kelewat tenang dan datar membuat sekelompok orang dewasa di ruangan itu (termasuk ibunya) tertawa geli melihat tingkahnya.

Pada akhirnya Seishiro kecil tidak bisa membawa pulang kontrak untuk menjadi bintang iklan susu, hanya goodie bag berisi beberapa cemilan dan flyer tidak penting lainnya sebagai hadiah hiburan bagi anak-anak yang sudah mendaftar ke pencarian bintang iklan tersebut.


“Sei, mau ke kamar mandi nggak?”

“Enggak.”

“Ya sudah, kamu tunggu di sini sebentar. Ibu mau ke kamar mandi, jangan kemana-mana ya!”

Seishiro menganggukkan kepalanya dan duduk di sebuah bangku yang tidak jauh dari kamar mandi. Ia sibuk mengintip isi goodie bag tersebut sampai kesibukannya terganggu dengan suara isak tangis yang datang tiba-tiba. Penasaran dengan suara tersebut, Seishiro turun dari bangkunya dan mencari pemilik suara tersebut.

Sesosok anak lelaki dengan rambut keunguan bersembunyi di balik pohon besar yang ada di taman itu, wajahnya penuh dengan air mata dan ia sibuk menghapusnya dengan lengan bajunya. Suara tangisnya sedih sekali, persis seperti ketika ia menangis saat ayahnya tidak sengaja menginjak robot kesayangannya.

“Kamu nangis kenapa?”

Pertanyaan dari Seishiro berhasil membuat anak tersebut mengalihkan perhatiannya dan menoleh ke arah Seishiro yang sedang merangkak menghampirinya.

“Kamu nangis gara-gara gak dipilih sama om fotografernya?”

Seishiro kembali bertanya namun kali ini ia memberanikan diri untuk duduk di sebelah anak lelaki itu. Sedangkan anak lelaki yang daritadi diberikan pertanyaan masih sibuk menahan isak tangis dan mengusap air matanya. Kemudian Seishiro mengeluarkan susu kotak dari goodie bag yang tadi ia dapatkan dan menyodorkannya ke anak lelaki itu.

“Kamu minum ini aja biar nggak nangis, aku nggak suka susu rasa cokelat jadi boleh buat kamu aja.”

“A—aku juga ng—nggak suka susu cokelat.”

“Sama dong, terus kamu sukanya rasa apa?”

“ng—nggak suka minum susu.”

“Kok ada sih anak kecil yang nggak suka minum susu?” keluh Seishiro lalu ia kembali memasukkan susu yang tadi dan menggantinya dengan permen lollipop.

“Kalau permen suka nggak?”

Anak lelaki tersebut hanya menganggukkan kepalanya dengan ragu, namun ia berhasil membuat Seishiro merasa berhasil membuat tangisan anak itu berhenti. Rasanya seperti menjadi orang dewasa karena bisa membuat anak tersebut berhenti menangis, pikir Seishiro.

“Nama aku Seishiro.”

“Aku Reo.”

“Reo jangan nangis lagi ya, kata Ibu kalau nangisnya lama-lama nanti mata kita bisa jadi besar kaya mata kodok!” Kali ini Seishiro mengusap usap punggung Reo dengan hati-hati, persis seperti apa yang ibunya sering lakukan kalau ia sedang menangis. Sementara Reo hanya menatapnya dengan bingung, namun lidahnya masih sibuk menjilat permen pemberian Seishiro.

“Kamu takut sama kedip-kedip dari kamera?”

“Kedip-kedip kamera?”

“Iyaa itu loh yang kaya petir, kamu nangis gara-gara itu?” ternyata Seishiro kembali bertanya pertanyaan yang sama.

“Bukan.”

“Terus kenapa?”

“Aku bosen main sama Baaya.”

“Kaya gitu doang kamu nangis?” ucapan Seishiro barusan ternyata kembali memancing air mata dari Reo yang sudah siap menuangkan kembali tangisnya.

“Aku nggak punya temen!! Tiap hari aku cuma main sama Baaya doang!!” suara Reo bergetar karna menahan tangis sambil mengepalkan tangan satunya yang tidak menggenggam lollipop.

“Ohhh kamu nggak punya temen? Main sama aku aja kalo gitu.” Reo kembali mengusap air matanya yang hampir jatuh dan tersenyum mendengar ide dari Seishiro. Sepertinya main dengan Seishiro jauh lebih seru dibandingkan dengan Baaya, walaupun Seishiro daritadi sibuk dengan 1001 pertanyaannya.

“Kalau kamu main sama aku, emang nggak bakal dicariin sama mami kamu?”

“Enggak kalau misalnya aku pamit dulu sama ibu sebelum main.”

Beberapa saat kemudian suara segerombol derap kaki menghampiri kedua bocah tersebut, saat suaranya makin mendekat Seishiro dapat melihat siluet ibunya dengan wajah paniknya. Sontak ia langsung berlari menghampiri ibunya.

Sedangkan senyuman Reo barusan langsung digantikan dengan raut wajah kesal karena melihat gerombolan tersebut ternyata merupakan Baaya dan juga beberapa orang suruhan ayahnya yang selalu mengikuti ia dan Baaya kemanapun mereka pergi.

“Sei darimana aja? Kenapa Sei jalan-jalan sendiri? Kan tadi ibu bilang jangan kemana-mana.”

“Tuan Reo baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Ini permen dari siapa?”

Ibu Seishiro langsung menarik Seishiro ke dalam pelukannya sambil mencubit pelan pipi gembilnya. Berbeda dengan Reo yang justru dihampiri oleh Baaya yang sibuk mengecek keadaan badannya, juga lollipop yang tadi ia makan.

“Tadi Sei denger ada suara anak kecil nangis, terus Sei cari yang nangis siapa. Ternyata Reo yang nangis sendirian di sini, Reo sedih soalnya nggak punya temen, tiap hari Reo cuma main sama Baaya aja.”

Jawaban panjang dari Seishiro berhasil membuat Ibunya juga Baya dan beberapa orang suruhan tuan Mikage terhenyak. Baaya selaku sebagai ketua dari gerombolan tersebut juga sebagai butler pribadi Reo langsung meminta maaf kepada ibu Seishiro karena merasa tidak enak membuatnya panik, tetapi Ibu Seishiro juga merasa tidak enak karena merasa anaknya menjawab dengan terus terang.

Namun justru karena kejadian ini lah ibu Seishiro dan Baaya malah jadi bertukar kontak dan sering membawa Seishiro dan Reo untuk bermain bersama. Kadang mereka main di rumah Seishiro dengan konsol game miliknya lalu tidur siang, sampai Baaya menjemput Reo saat matahari sudah tenggelam. Atau kadang Seishiro yang diajak main ke rumah Reo yang besarnya mirip dengan supermarket 5 lantai yang sering oleh ibunya di akhir bulan.


Ternyata kehadiran anak di tengah keluarga Mikage dan keluarga Nagi berbeda, jika yang satunya menganggap kelahiran Reo merupakan kewajiban untuk meneruskan keturunan dan bisnis, berbeda dengan kelahiran Seishiro yang menjadi sumber kebahagiaan juga guru kecil bagi kedua orang tuanya.

Meskipun begitu, Reo dan Nagi tetap senang bisa bertemu satu sama lain di taman milik gedung Mikage di siang itu. Reo senang karena bisa menemukan teman baru yang ternyata memang jauh lebih seru kalau diajak main dibandingkan dengan Baya. Seishiro juga senang bisa berteman dengan Reo yang tidak pernah mengeluh kalau dikalahkan saat bermain game dengannya.

Tapi apa pertemanan ini akan selamanya seperti ini? Who knows.