Actions

Work Header

Unexpected Encounter

Summary:

Ali yang memutuskan untuk melanggar hukum SagaraS hanya karena Raib mengirimkan drunk texts kepadanya. Dia tidak menyangka bahwa gadis itu memiliki kejutan lain.

Notes:

Disclaimer : Bumi Series sepenuhnya milik Tere Liye. Penulis tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfict ini.

Chapter Text

Raib dan Seli terbelalak melihat bangunan di depan mereka. Percayalah, kedua sahabat itu pernah keliling dunia paralel, mereka sudah khatam dengan tempat-tempat aneh yang bahkan di luar nalar. Namun, ini lain cerita. Dari belasan klan, mereka berdua sama sekali belum pernah mendatangi sebuah tempat seperti ini sebelumnya. Maka dari itu, keduanya hanya mematung di luar, mereka menatap ragu ke palang bertuliskan “Stars Resto & Wine” di depan mereka.

“Hai, Ra, Sel!” sebuah suara menyapa kedua sahabat itu. Seorang gadis bersurai panjang sepundak melangkah keluar, dengan cepat mengamit lengan Raib dan Seli. ST4R namanya. Sejak petualangan mereka di Klan Proxima Centaury, ketiga gadis ini menjadi dekat layaknya sahabat dekat. Pembawaan ST4R yang menyenangkan membuat Raib dan Seli nyaman.

“Hei! Selamat atas opening restomu!” sahut Seli tidak kalah riang. Raib mengangguk dengan senyum, tangannya mengulurkan balon berbentuk bunga ke arah ST4R. Mereka berdua tahu bahwa membuka restoran adalah impian ST4R sejak dulu. Karena itulah mereka turut bahagia untuk ST4R, gadis itu pantas mendapatkan segala kebaikan di dunia.

“Terima kasih banyak! Ayo masuk, yang lain juga ada di dalam.”

Raib dan Seli mengikuti Langkah ST4R yang menyibak beberapa pengunjung. Tempat ini indah. ST4R menolak pemakaian lampu besar yang menyumbang polusi cahaya, gadis itu dengan apik memilih sumber pencahayaan yang lebih kecil tapi dengan jumlah banyak. Misalnya seperti tali-tali yang tergantung di bagian atas, tali itu menyala dengan cahaya temaram dan memiliki hiasan berbentuk bintang yang juga menyala pada ujungnya. Tempat ini mengambil tema ruang angkasa yang dikemas dengan sangat cantik.

ST4R mengantarkan kedua sahabat itu ke meja mereka yang terletak di dekat bagian tengah. Raib dan Seli mengedarkan pandangan kemana-mana. Sepertinya ST4R mengundang semua orang ke sini. Bahkan, ada Bibi Gill dan Master B—yang sepertinya jatuh dalam pesona milik ST4R—di arah jam tiga Raib. Ia melambai ke arah dua gurunya tersebut, yang dijawab dengan anggukan.

Sedangkan Seli sudah asik mengobrol dengan Ily. ST4R tahu sekali kalau sahabatnya memiliki ‘sesuatu’ untuk lelaki Tishri itu, dia sengaja mendudukkan Seli dan Ily berdekatan. Raib terkekeh pelan saat melihat kedipan mata penuh arti ST4R kepadanya. Terserah saja lah, hal yang penting bagi Raib hanyalah orang-orang terdekatnya bahagia, sisanya tidak terlalu penting.

“Kamu tahu, Ra. Aku sudah berusaha untuk mengundang dia, sayang sekali aku tidak mendapat jawaban,” ujar ST4R di sebelahnya.

Kening Raib mengerut, “dia siapa?”

Melihat respon Raib, ST4R memutar bola matanya sebal. Dasar tidak peka! “Sahabatmu, Ra, yang lelaki,” ucap ST4R dengan penekanan di kata sahabat.

Raib terbatuk pelan. Ah, dia ternyata.

Sudah lama sekali. Lima tahun yang berlalu begitu cepat membuat Raib perlahan sembuh dari luka itu. Sebentar, Raib terluka? Iya, hatinya yang terluka. Dia kehilangan sahabatnya yang menemaninya sejak awal. Mereka mengalami susah, senang, sedih, dan beribu hal lainnya bersama-sama, bagaimana Raib tidak terluka saat ‘dia’ memutuskan untuk meninggalkan mereka?

Meninggalkan Raib.

Raib menggeleng beberapa kali. Sudahlah, beberapa tahun sudah berlalu, tidak penting lagi untuk dibahas. Raib kembali menoleh ke ara ST4R, “mungkin disana susah sinyal,” canda Raib garing.

ST4R baru saja akan menanggapi ketika seruan kakaknya terdengar dari seberang. SP4RK terlihat melambai sambil menunjuk pergelangan tangan, tanda kalau acara harus segera di mulai. ST4R mengacungkan jempol, ia dengan cepat berdiri dan berpamitan ke Raib.

 

--oOo--

 

Raib duduk sendirian di meja bar sambil memandangi gelas berleher tinggi di tangan kanannya. Acara pembukaan sudah selesai, mereka mencicipi beberapa makanan dan wine. Sebenarnya keseluruhan tempat ini adalah kolaborasi antara ST4R dan SP4RK. SP4RK yang mengurus bagian wine, ST4R sisanya. Raib tidak heran, SP4RK memang memiliki indra yang tajam, terbukti dengan semua minuman disini terasa enak.

Sekali lagi gadis itu meneguk cairan keunguan di gelasnya sampai habis. Hei, dia sudah besar, sudah 23 tahun, tentu saja dia boleh minum ini. Raib menyodorkan gelas itu lagi, dia ingin tambah. Namun, sebuah suara menghentikannya.

“Ini sudah gelas ketigamu, Putri,” ucap seorang lelaki dengan suara tegas.

Raib menoleh dengan terkejut, sebuah senyum langsung tergambar di wajahnya. “N-ou!”

“Hai, Putri Raib,” sapa N-ou dengan senyum tak kalah lebarnya.

“Kamu datang? Jauh sekali,” tanya Raib heran.

“Iya. ST4R sengaja mengabari aku berbulan-bulan yang lalu agar aku bisa datang. Tapi tetap saja aku terlambat karena kelakuan Si Putih.”

Raib menepuk tangannya sekali, “apa kabar kucing kesayanganku?”

“Baik, dia semakin membesar setiap harinya. Beberapa kali dia bilang kalau dia merindukanmu. Kapan-kapan kamu harus datang ke Polaris, Ra. Aku, Vapa, dan orang tuaku akan senang menyambutmu.”

Raib mengangguk setuju. Mereka berdua terus bertukar cerita. Raib telah beberapa kali mengisi ulang gelasnya. N-ou juga menegurnya beberapa kali, tapi Raib meyakinkan N-ou kalau dia akan baik-baik saja. N-ou mengerling, ia skeptis dengan hal itu. Raib kini tengah menunduk sambil memencet-mencet ponselnya sendiri. Entah apa yang gadis itu lakukan.

 

--oOo--

 

Di menit dan jam yang sama, tempat yang berbeda…

Ali menopang dagunya dengan satu tangan, matanya mulai terasa berat karena mengantuk. Namun, alat sialan ini tidak akan menyelesaikan dirinya sendiri. Ali berdecak beberapa kali, mulai mencebik dan mengeluh seperti biasa. Ia menolak mengikuti jalan Ibu menjadi Ksatria SagaraS, Ali tidak tertarik sama sekali. Lelaki itu memilih masuk ke bagian Pengembangan Ilmu Pengetahuan Multi-Klan yang ada di Strata A Pemerintahan SagaraS.

Walaupun Ali jenius, dia masih harus banyak belajar. Bohong kalau Ali bilang kehidupannya selama di SagaraS berjalan mudah. Dia harus tertatih-tatih mengejar ketertinggalan, menyesuaikan diri dengan tempat dan kondisi baru, dan ia juga harus berperang dengan perasaannya sendiri.

Benar, kalian tidak salah baca. Ali memang tengah berusaha memahami perasaannya sejak dulu. Ketika ia memutuskan untuk menetap di SagaraS, hatinya terus bimbang dalam mengartikan perasaannya. Karena itulah, Ali memutuskan untuk menghilang sama sekali dari radar. Ia tidak mengidahkan ratusan—mungkin ribuan—pesan dan telfon dari Seli, beberapa juga ada dari Raib, bahkan Master B dan yang lainnya pun juga mencari Ali. Namun, Ali menguatkan diri untuk tidak terpengaruh, dia perlu melakukan ini.

Saat Ali baru saja beranjak untuk mengambil kopi, ponsel lama miliknya berdenting beberapa kali. Ali mendengarkan notifikasinya dengan seksama, itu adalah notifikasi khusus yang ia pasang untuk Raib. Raib jarang sekali mengirimkan banyak pesan secara bersamaan. Berdasarkan asumsi itulah, Ali mengambil ponsel lama miliknya yang terkubur di tumpukan layar transparan. Jangan tanya bagaimana cara Ali bisa mendapatkan sinyal di sini, dia itu jenius.

 

Raib

 

Aliiio

Knnapa km harus pergi?

Kenapa kamu

Tdak

Kmebali walau sudh lewat 5 yahun hmm

Kamu tidak merijndukan kami, aku?

 

Ali tersentak di kursinya. Raib tidak mungkin mengirim pesan seperti ini jika dia sadar. Lagipula, selama ini Raib tidak pernah menunjukkan tanda-tanda merindukan Ali. Well, tidak bisa dipungkiri kalau Ali merasa sedikit senang sih, sedikit banyak.

Gadis ini pasti mabuk. Ali berdecak beberapa kali. Tangannya sibuk menari di atas layar ponsel. Lelaki itu menelfon Raib beberapa kali, hanya untuk mendengar suara operator yang menyatakan bahwa telfon telah ditolak.

Ali langsung berdiri dari duduknya ketika seseorang bernama N-ou memberikan alamat tempat Raib berada. Dia menyambar layar transparan yang menempel di ujung monitor miliknya. Ali akan melanggar salah satu hukum SagaraS yaitu keluar dari Klan, tapi untuk saat ini Ali benar-benar tidak peduli. Ia hanya ingin segera menghampiri Raib.

Delapan menit, Ali sudah sampai di tempat itu. Sebenarnya sudah sejak dulu Ali mengembangkan portal yang bisa memecahkan enskripsi SagaraS, tentunya dengan segala kehati-hatian agar dia tidak tertangkap dan dihukum. Jika Ali mau, dia bisa keluar-masuk SagaraS dengan mudah. Tapi Ali memilih untuk tidak memakai portal buatannya kecuali untuk sesuatu yang mendesak. Nampaknya Raib adalah salah satu keadaan mendesak untuk Ali.

“… Ali? ALI?!”

Suara melengking milik Seli menyapanya ketika Ali mulai menyibak pengunjung. Astaga, sudah lama sekali sejak Ali mendengar suara cempreng itu. “Hai, Sel.”

“Kamu … Kamu ngapain disini? Kok kamu bisa keluar? Kenapa tiba-tiba keluar dari SagaraS?” Ali segera mengangkat tangannya, berusaha menghentikan rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Seli—ia yakin sahabatnya itu masih memiliki seratus pertanyaan lainnya. Ada hal yang lebih penting sekarang.

“Sel, dimana Raib?”

“Eh?” Seli mengedarkan pandangannya. “itu, di sana. Aku ingat dia bersama N-ou sejak tadi,” ucap Seli sambil menunjuk ke arah jam 11.

Ali mengikuti arah jemari Seli, terbelalak saat sadar kalau … “N-ou itu laki-laki?!”

“Iya. Dia pemilik asli dari Si Putih. Raib cukup dekat dengannya,” jawab Seli santai.

Tangan Ali mengepal. “Oke, aku ke sana dulu, Sel.”

Ali berlalu dengan cepat sebelum Seli sempat menjawab. Ia meninggalkan Seli yang mengerutkan kening dengan heran. Gadis berambut pendek itu bolak-balik memperhatikan Ali dan Raib sampai ia mendengar bunyi klik di otaknya sendiri. Ah, begitu ternyata. Seli mengulum senyum lebarnya. Ini akan seru.

“Raib,” panggil Ali sambil menepuk pundak Raib.

Gadis berambut panjang itu tidak banyak berubah. Perawakannya masih sama seperti yang Ali ingat beberapa tahun lalu. Hal mencolok yang menurut Ali berbeda adalah aura di sekitar Raib. Gadis ini terasa lebih dewasa, jauh lebih menawan dengan bola mata hijau pekat yang memantulkan cahaya temaram dari seluruh restoran.

Mata Raib yang terasa berat menatap malas ke arahnya. Kedua iris berwarna hijau itu kemudian membelalak. “Ali?” ucap Raib parau.

Ali mengangguk, ia merangkul Raib and membawanya berdiri. “Ayo pulang. Kamu sudah mabuk.” Kedua tangannya memegang tubuh Raib yang limbung. Raib beberapa kali bergumam pelan, Ali tidak bisa mendengarnya karena keramaian dan juga adanya lagu yang diputar di restoran ini.

“Kamu pasti Ali,” ujar seorang lelaki yang duduk di sebelah Raib. Ali tidak sempat memperhatikan tadi. Lelaki ini, sepertinya bernama N-ou. Dia tinggi, rambutnya yang panjang tidak terlihat berantakan, hampir membuat Ali iri.

“N-ou?” tanya Ali langsung. Lelaki itu mengangguk tegas.

“Raib sering bercerita tentangmu.”

Ali menengok tajam, sering? Berarti mereka berdua sering bertemu? “Oh ya? Tentang apa?”

N-ou mengangkat sebelah bahunya. Ia meneguk minuman sejenak sebelum menjawab, “Rahasia.”

“Ayo kita bertemu besok. Sepertinya kita butuh bicara. Berikan aku nomormu.” Sejak dulu Ali tidak pernah suka berbasa-basi.

“Aku tidak suka memberikan nomorku kepada orang asing,” sahut N-ou.

Ali memutar bola matanya kesal. Dia baru saja ingin menimpali ketika merasakan tubuh Raib kini tengah bersandar sepenuhnya pada Ali, sepertinya Raib mulai mengantuk—atau hilang kesadaran. “Kalau aku berhasil menemukanmu, kita harus bicara,” ucap Ali cepat sebelum melangkah pergi bersama Raib.

N-ou tersenyum simpul. Selamat, Putri, yang kamu tunggu-tunggu telah pulang.

 

--oOo--

 

Keduanya telah berada di kapsul terbang menuju alamat yang dibisikkan Raib setengah sadar. Ali terus menatap ke arah Raib yang membuang tatapan ke arah luar. Seluruh wajah gadis itu merah, Ali tidak tahu entah itu akibat alkohol yang diteguknya atau bagaimana. Raib jadi berkali lipat lebih lucu.

“Aku merindukanmu,” ucap Raib pelan. Dua kata itu sanggup membuat Ali membatu di kursinya.

“Kita semua merindukanmu. Aku, Seli, banyak orang yang mengenalmu juga mencarimu kemana-mana. Kami berusaha keras menghubungimu, berkali-kali, semuanya gagal. Bahkan saat aku dan Seli hampir … kehilangan semuanya, kamu tidak bisa digapai.”

Raib kini menoleh ke arahnya dengan mata berkabut penuh tumpukan air mata. “Tapi kenapa kamu datang sekarang? Kenapa harus sekarang? Saat aku mulai bisa melanjutkan hidup tanpamu, saat aku mulai bisa melupakanmu, saat aku siap membuka lembaran baru, kenapa kamu datang?”

Bibir Ali kelu, lelaki yang mungkin paling pintar di Klan ini tidak bisa memikirkan jawaban dari satu pertanyaan yang sangat sederhana.

“Aku benci perasaan ini, Ali. Aku benci merasa terpuruk karenamu, berharap setiap malam kamu akan menghubungiku, kemudian bangun dengan hati sakit karena aku sadar bahwa hari telah berlalu dan kamu tetap tidak ada di sini. Aku benci itu. Aku benci pada hatiku sendiri yang menumbuhkan perasaan lebih kepadamu.”

Raib kini mengepalkan tangan, ia meremas ujung bajunya sendiri. Ini efek dari alkohol sialan itu. Tapi biarkan saja. Entah yang berada di sebelah Raib ini adalah Ali yang asli atau hanya khayalannya, Raib ingin menumpahkan semuanya.

“Selama kepergianmu, aku sadar bahwa perasaanku tidak semudah itu untuk diartikan. Kamu tidak cocok lagi untuk kukategorikan sebagai sahabat, perasaanku jauh lebih besar dari itu. Maka aku terus mengorek hatiku sendiri, berharap dengan begitu, perasaan ini akan hilang dengan sendirinya. Namun tidak, dengan keberadaanmu di sini, perasaan itu muncul kembali. Aku lagi-lagi berharap seperti orang bodoh.”

Suara Raib semakin mengecil. “Aku tidak tahu kamu benar-benar ada atau tidak. Kamu bahkan tidak menjawab perkataanku.”

Gadis itu menoleh, “apakah kamu nyata?” tanyanya sebelum ia jatuh tertidur di pundak Ali.

Ali menggeser duduknya agar posisi Raib bisa lebih nyaman. “Aku nyata, Ra. Tapi aku sengaja tidak menjawab karena aku tahu, kamu akan melupakan semua ini besok pagi. Tunggulah, maaf telah membuatmu merasakan semua itu sendirian. Aku akan menjagamu mulai sekarang. Aku akan menjagamu lagi.”

 

-tbc-

 

Spoiler for next chapter :

 

Raib terbangun dengan kepala berputar, ah, dia menyesal telah minum sebanyak itu. Tertatih-tatih, Raib berusaha menuju dapur untuk mengambil aspirin. Namun, sosok dengan baju putih polos yang tengah berada di depan kulkas miliknya membuat Raib terpekur. “Ali?”

--oOo--

Ali meneguk minuman dengan tenang. “Sudah kubilang aku bisa menemukanmu,” ujarnya sombong.

Lelaki di depannya menggeleng takzim. “Aku membiarkanmu menemukanku, Ali. Percayalah, tidak semudah itu menemukan orang seperti aku. Kita harus berkenalan dengan benar. Namaku N-ou.”