Chapter Text
Pertama kali Natasha bertemu dengan anak Tony Stark jam hampir menunjukkan pukul tiga pagi. Menara Stark biasanya kosong; semua orang telah tidur atau pura-pura tidur. Natasha sudah terbiasa menikmati Menara Stark untuk dirinya sendiri.
Tapi saat itu lampu dapur menyala. Ada remaja yang duduk di meja dapur.
Butuh waktu beberapa detik bagi Natasha untuk mengenali remaja itu. Dia mengangkat satu kakinya di kursi, tangannya memeluk gelas yang mengepul karena teh hangat, bibirnya bergumam tanpa suara, matanya serius menatap buku pelajaran di hadapannya. Dia memakai kaus baggy abu-abu dan celana tidur Hello Kitty.
Natasha berdeham.
Remaja itu mengangkat kepalanya, mata cokelatnya terlihat waspada dan bingung. Natasha langsung tahu siapa remaja itu ketika melihat wajahnya, dia anak magang Tony Stark. Natasha tidak pernah bertemu dengannya secara langsung tapi Natasha beberapa kali melihat anak itu sekilas. Dia mengikuti Stark seperti anjing mengikuti tuannya, berbicara tanpa henti. Natasha tidak tahu banyak mengenai hubungan mereka, tapi Natasha cukup tahu bahwa Tony Stark berada di bawah kendali anak itu.
“Ya Tuhan,” Katanya, dia menutup buku kimia dengan cepat. Matanya merah tapi mata tersebut melotot lebih lebar dari mata manusia pada umumnya, “Kau Black Widow.”
Natasha meneliti remaja ini, mulai dari celana Hello Kitty hingga pelindung yang ada di kedua pergelangan tangannya.
“Celana yang bagus.” Kata Natasha.
Dia melihat ke bawah dan wajahnya berubah merah. “Terima kasih,” Jawabnya, “Tuan Stark yang memberikan ini. Black Widow mau … teh ... atau sesuatu?”
Natasha menaikkan alisnya tapi tidak menjawab. Dia bergerak di antara laci-laci Tony Stark, membuka salah satu laci-laci itu. Bagian bawah palsu di salah satu laci itu masih ada. Simpanan rahasia cokelat panas miliknya masih tersembunyi di tempat semula, aman dari Clint.
Mulut remaja tersebut terbuka, “Wah!” Katanya, “Sejak kapan itu ada di sana?”
Natasha tidak menjawab pertanyaan tersebut, “Jika kau memberitahu Tony, Aku akan ….”
Natasha tidak melanjutkan kata-kata ancamannya, semuanya menggantung di tenggorokannya karena remaja itu membelalakkan matanya, ada ketulusan di dalamnya, yang mengingatkan Natasha akan Steve. Oh, dan dia masih anak-anak.
Natasha berdeham, “Jangan bilang Tony.”
Remaja itu menggigit bibirnya, “Aku nggak boleh bohong, terutama sama Tuan Stark,” ucapnya, “Tapi kayaknya Tuan Stark nggak bakal nanyain hal itu ke aku, jadi rahasiamu aman denganku.”
Natasha membuat cokelat panas dengan cara yang dia sukai, dua paket cokelat panas, ¾ gelas air panas, sisanya dengan air biasa agar tidak membakar lidahnya. Natasha menambahi 7ml creamer yang ada di dapur. Rasanya persis seperti yang dia ingat dahulu.
Natasha pergi tanpa pamit ke remaja itu; wajahnya sekali lagi serius menatap buku kimia di depannya. Natasha tidak yakin remaja itu tahu Natasha sudah pergi.
*
Remaja itu sudah meninggalkan gedung ketika Natasha bangun di pagi hari, maka Natasha memutuskan untuk menemui Stark.
Peter sangat janggal. Ada sesuatu yang salah darinya, sesuatu yang tidak dimengerti Natasha. Natasha tidak suka tidak mengerti sesuatu.
Stark ada di laboratoriumnya, sibuk memperbaiki baju perang baru untuk orang-orang yang berjuang bersama mereka di Jerman. Friday mempersilahkan Natasha masuk dengan mudah, artinya Stark sedang ingin bersosialisasi.
“Ada apa dengan anakmu?” Kata Natasha tanpa tedeng aling-aling begitu dia masuk ke dalam lab.
Tony tidak mengalihkan perhatiannya dari layar komputer. Matanya bersinar dibalik kacamatanya dan dia terlihat cukup istirahat dibanding ketika Natasha terakhir bertemu dengannya.
“Kau sudah terlalu banyak baca berita gosip.” Kata Tony datar, “Aku belum punya anak.”
“Lantas siapa yang mengerjakan PR di dapurmu semalam?” Tanya Natasha, “Perlu kutambahkan, pada jam tiga pagi?”
Tony mengerutkan alis dan kerutan tampak diantara alisnya.
“Peter? Kenapa dia masih bangun jam tiga pagi?”
Natasha mencari jawaban, bukan pertanyaan lain, “Siapa dia? Dan kenapa dia menginap di sini?”
“Dia magang di SI,” kata Tony, dengan nada layaknya orang yang telah banyak diwawancarai sejak dia masih kecil, “Bisakah kau duduk? Kau membuatku cemas, berdiri di depanku dengan wajah seperti itu.”
“Kenapa dia menginap di sini?” Tanya Natasha sekali lagi, tidak berniat untuk duduk.
Akhirnya Tony menatap wajah Natasha, “Itu rahasia.”
Tony Stark menyembunyikan hal yang penting. Natasha tahu tiga puluh tujuh hal yang dilakukan Tony jika dia cemas dan sekarang Tony melakukan empat belas dari semuanya. Bibirnya menutup penuh curiga.
“Suaranya terdengar familiar.” Kata Natasha pada akhirnya, “Apa aku mengenalnya?”
“Kau mungkin pernah melihatnya di menara sebelumnya,“ Kata Tony. Dia kembali ke program komputernya, “Dia tidak bisa berhenti bicara, aku tidak terkejut kalau suaranya akan terngiang-ngiang di kepalamu.”
“Dia tidak begitu banyak bicara semalam,” Kata Natasha, “Setidaknya dari skala Bruce ke Clint dia lebih ke Bruce.”
“Mungkin dia cuma terpukau padamu. Begitu kau mengenalnya, kau tidak akan bisa membuatnya menutup mulut bahkan jika kau mencoba. Tentu saja dia sama seperti Bruce; Peter benar-benar cerdas.” Kata Tony, ada kebanggan di suara Tony.
Natasha mengangkat satu alisnya, “Dan menurutmu Clint tidak cerdas?”
“Clint tidak cerdas, dia cerdik.” Kata Tony datar. “Dia mata-mata, maksudku, tentu saja dia cerdik. Dia juga punya insting pertahanan diri yang kuat. Peter, sayangnya, sedikit kurang di hal itu.”
Natasha tidak paham apa yang dia dapat dari perkataan Tony.
“Dan kau mengirimnya pulang jam tujuh pagi?” Tanya Natasha, melihat ke jam tangannya.
“Dia harus sekolah.”
Natasha pergi sebelum dia melakukan hal bodoh, seperti menginterogasi Tony hingga Tony menjawab semua pertanyaannya. Karena Tony bisa mengambil keputusan yang sangat menarik di hidupnya tapi dia bukanlah seorang mentor. Memang Tony pikir siapa dirinya?
(Tentu saja, mana mungkin ada orang dewasa di hidup Peter yang tidak memiliki insting untuk menjaganya. Tapi Natasha tidak tahu hal itu; belum.)
*
Kali kedua dia bertemu Peter, jam menunjukkan pukul dua pagi dan sekali lagi Peter sedang belajar di dapur.
Kali ini kalkulus. Peter tidak suka kalkulus. Natasha bisa melihat dari caranya menggigit bibir. Tangannya menggaruk rambut setiap beberapa detik.
Natasha tidak begitu tertarik dengan eksakta dan sains. Tidak seperti Stark atau Bruce. Tapi instingnya mengatakan ada yang salah dengan anak ini, jadi Natasha melakukan eksperimen.
Sebuah tes, bukan rencana pembunuhan.
Bergerak dalam kecepatan yang hanya bisa didapat karena latihan bertahun-tahun, Natasha mengeluarkan pistol dan menodongkannya ke kepala Peter. Peter bereaksi lebih cepat dari manusia pada umumnya. Peter sudah meninggalkan kursi, buku kalkulus tergeletak di tanah. Peter mengibaskan pergelangan tangannya, terlalu cepat untuk diikuti mata Natasha. Dalam hitungan detik pistol lepas dari tangan Natasha dan lengket ke dinding.
Peter bernapas dengan cepat, menatap Natasha dengan mata cokelat besarnya. Peter mengambil sikap bertahan dengan berjongkok, lengannya masih terulur dan tatapannya waspada. Peter tidak berkedip.
Ujung bibir Natasha terangkat dengan tidak sadar. Natasha suka dengan remaja ini.
“Jadi,” Natasha berkata dengan lembut, alisnya terangkat, “Kau Spiderman.”
Napas Peter makin cepat, masih menatap Natasha dengan kedua mata besar itu. “Kau … kau ….”
“Santai saja,” Kata Natasha, bergerak ke tumpukan cokelat rahasianya, “Jika aku ingin membunuhmu, kau sudah mati. Mau cokelat panas?”
Rasanya Natasha bisa mengatasi Peter sekarang, Natasha tidak begitu bisa berhadapan dengan anak-anak, terkadang dia merasa semua sikap keibuan yang seharusnya dia miliki turut hilang bersama operasi di masa lalu itu. Tapi Natasha bisa mengatasi Spiderman, pahlawan yang bertarung dengannya di Jerman.
“Kau seharusnya tidak tahu.” Peter meraung, mengangkat buku kalkulusnya dari tanah, kini kedua telinganya memerah. “Tuan Stark dengan jelas mengatakannya … oh, dia akan membunuhku.”
Natasha tidak merespon. Dia sedikit terluka mengetahui bahwa Stark tidak begitu mempercayainya. Tapi dia mengerti. Tanpa berkata Natasha memberi Peter cangkir dan memperlihatkan ekspresi tenangnya.
Bahu Peter menegang, dia bersiap untuk pertempuran.
“Aku tahu apa yang akan kau katakan.” Katanya dengan nada datar. “Aku sudah berkali-kali berkelahi dengan orang dewasa. Oke, sebetulnya hanya dua, tapi ….”
“Aku tidak yakin kau tahu apa yang akan kukatakan.” Kata Natasha, meneguk cokelat panasnya dengan tenang.
“Kau akan bilang aku terlalu muda.” Kata Peter dengan pahit. “Bahwa Tuan Stark salah telah memasukkanku ….”
“Aku lebih muda darimu, ketika aku memulai karirku.” Kata Natasha, memiringkan kepalanya ke satu sisi, “Dan sudah jelas aku tidak membantu pemadam kebakaran untuk menurunkan kucing dari atas pohon.”
Natasha sudah melihat video-video Youtube itu.
Mata Peter terbuka lebar. “Asal kau tahu pemilik kucing itu memberiku uang saku lumayan besar.”
Natasha hampir tertawa.
Peter tersenyum kembali pada Natasha dan membuka buku kalkulusnya. Natasha pergi segera setelah cokelat panasnya habis. Pembicaraan berhenti di sana.
*
Peter kembali ke dapur hampir seminggu setelahnya, kali ini waktu menunjukkan pukul 4:30 dini hari. Bibirnya pecah dan kedua matanya bengkak, namun Peter masih sempat tersenyum tulus pada Natasha.
Peter membaca buku. Non fiksi, pikir Natasha. Tentang Georgia O’Keef. Mungkin dia sedang mencoba menjauhkan diri dari Natasha. Natasha suka membaca orang, dan Natasha tidak bisa membaca Peter jika Peter beralih dari buku-buku eksakta ke buku-buku tentang seniman terkenal.
Natasha membuat cokelat panas untuk Peter diam-diam. Dia tidak langsung pergi kali ini, Natasha duduk dan memperhatikan Peter. Dia menyangka Peter akan berbicara, Tuhan tahu Peter tidak bisa diam di dekat Stark, tapi Peter menutup mulutnya dan menurunkan kepalanya.
“Kenapa wajahmu?” Akhirnya Natasha bertanya, menghancurkan sunyi.
“Beberapa pengedar narkoba mengira mereka bisa merusuh di bar.” Katanya, ada ketegangan dalam nada suara Peter. “Aku bisa mengurusnya, Tuan Stark tidak perlu ….”
Dia memutus kallimatnya, matanya bergerak menatap Natasha untuk beberapa waktu. Natasha bisa melihat rasa malu jauh di dalam mata itu.
“Kukira kau akan banyak bicara.” Kata Natasha, “Setidaknya, ketika tidak ada aku.”
Peter mendongak, terlihat terkejut. “Kukira kau nggak ingin aku mengoceh. Lagian, kau, seperti salah satu pahlawanku. Dan aku punya kebiasaan buruk untuk nggak memfilter omonganku. Jadi, ya ….”
“Ah, akhirnya.” Kata Natasha datar. “Lihat siapa yang sudah menemukan suaranya.”
Peter tersipu, “Kau terdengar seperti psikolog.”
“Apa kau ingin jadi psikolog atau terapis?” Tanya Natasha, demi Tuhan, Natasha tidak bisa membaca Peter. Dia pribadi canggung, tapi cukup pintar untuk tahu reaksi yang tepat di saat tertentu. Dia tidak bisa berhenti bicara, tapi bisa diam seribu bahasa jika dia pikir orang-orang tidak ingin mendengar celotehnya. Peter adalah misteri, namun dia juga buku yang terbuka lebar.
“Percayalah, kau nggak mau jadi terapis.” Peter memberitahunya. “Mereka harus sekolah dan itu butuh waktu lama tapi nggak bisa memberi resep, nggak seperti psikiater, kau tahu? Temanku MJ bilang dia ingin jadi terapis, tapi dia selalu ngasih nasehat yang nggak asik, jadi ….”
Natasha memotong, karena dia tidak tahu cara mengatasi Peter. Natasha terbiasa membaca orang dan mengetahui sifat orang tersebut secara instan, dia tidak terbiasa bingung dengan orang di hadapannya dan semua itu membuat Natasha merasa tidak nyaman.
“Jika kau tidak ingin aku menjadi pendengarmu, kau ingin aku jadi apa?”
Peter menutup buku buografi dan menatap mata Natasha. Dia terlihat sama bingungnya seperti Natasha.
“Aku nggak mengerti.”
Natasha mendengar kalimat itu tapi tidak begitu memahaminya. Apa yang tidak bisa dipahami Peter?
Stark ingin seseorang yang selalu menurutinya kemanapun. Wanita tangguh yang bisa membantu Pepper menjalankan perusahaan dan juga memiliki wajah cantik untuk dinikmati mata Stark. Mungkin itu tidak adil, karena pada akhirnya Stark ingin lebih akrab, tidak melulu mengikutinya layaknya anjing. Bruce ingin seseorang yang menyayanginya, yang akan selalu ada di sisinya meski Bruce berubah menjadi orang lain. Terutama ketika dia menjadi orang lain.
Fury ingin mata-mata super tanpa belas kasihan. Clint ingin seorang rekan.
Steve ingin seorang teman.
Oh, ada kemungkinan kau berada di sisi yang salah, Rogers.
“Nggak, rasanya aku mengerti.” Kata Peter perlahan. Dia masih melihat Natasha dengan pandangan yang lebih ke arah mengasihani. “Aku ingin kau menjadi dirimu sendiri.”
Dan Natasha pergi, karena dia sudah selesai dengan Peter Parker dan bagaimana dia tidak bisa membaca Peter layaknya buku yang terbuka.
*
