Work Text:
“Selamat sore, Xiao.”
Langkah Xiao terhenti kala sepasang telinganya menangkap namanya mengudara. Diucapkan dengan nada yang lembut, beberapa oktaf lebih tinggi dari suaranya sendiri. Setiap silabelnya sarat akan nostalgia; butuh waktu dan usaha bagi Xiao untuk tidak terjatuh di tempat dan memohon agar dirinya dapat mendengar nama itu berulang kali.
Aether. Kekasihnya di masa lalu , yang kini hanya sebatas sejarah.
Menghembuskan nafas, Xiao membalikkan badan dan mendapati langganan tokonya berdiri di depan pintu masuk. Jam yang sama. Wajah yang sama, ekspresi yang sama. Surai emas yang sama yang seakan dicumbu mentari–
“Hm,” Xiao mengangguk sedikit untuk memberikan isyarat pada lelaki di hadapannya bahwa ia mengamini keberadaannya, “...Aether. Ada jenis bunga yang kau inginkan?”
Basa-basi bukanlah keahlian Xiao.
(Atau mungkin dia hanya tidak punya kapabilitas untuk berbahasa dengan baik di hadapan Aether.)
Tidak pernah dalam ribuan tahun hidupnya, Xiao berpikiran untuk membuka bisnis toko bunga–terutama di tengah Liyue yang sudah ditelan kemajuan teknologi seperti ini, di era tanpa perlindungan Archon.
Semua ini berawal dari preferensinya terhadap bunga Qingxin yang tak pernah sirna semenjak…waktu yang tak dapat diingatnya. Bunga tersebut adalah satu dari segelintir disposisi tentang tanah ini yang tidak hilang ditelan zaman. Bagi jiwa usang Xiao, hal sekecil ini adalah satu-satunya yang ia miliki untuk dapat menjaga sedikit kenormalan di hidupnya. Sesuatu yang tidak berubah.
Sesuatu yang juga memperdekat dirinya dan Aether, sang pengembara dari dunia luar, dengan aura bintang yang mengelilinginya, 3000 tahun yang lalu dan saat ini.
Reinkarnasi kekasihnya tertawa kecil–tawa yang merupakan candu bagi Xiao–sebelum kemudian menggelengkan kepalanya, “Kamu tahu aku nggak mengerti soal bunga. Kecuali bunga Qingxin,” Aether melangkahkan kaki masuk ke dalam toko, lalu berhenti tepat di hadapan keranjang penuh bunga Cecilia; menyentuhnya dengan ujung telunjuk.
Cantik. Cecilia–dan Aether, dua jiwa murni yang tidak pernah terikat pada dunia.
Deruman kecil timbul dari mulut Xiao atas pernyataan lelaki bersurai emas tersebut. Ia paham bahwa tak semua orang tahu tentang bunga, dan ini adalah pekerjaannya.
“Kalau begitu, apa yang ada di pikiranmu sekarang?”
“Eh?”
Xiao mencondongkan dagu kepada bunga yang tengah disentuh Aether, mengisyaratkan bahwa ia sedang berbicara tentang alasan mengapa Aether datang kemari, “Kita bisa menggunakan sedikit bahasa bunga untuk merepresentasikan apa yang kau pikirkan sekarang, jika kau tidak tahu bunga apa yang harus kau pilih.”
Kepala Aether agak menukik ke bawah, binar di matanya meredup, “O-oh…”
Kekecewaan yang nampak di wajah Aether saat itu membuat Xiao berusaha keras untuk mengabaikan ekspektasi di hatinya.
Tapi redupan itu kembali digantikan dengan semangat tatkala Aether membuka mulut. “Mm… Otakku lagi kosong, maaf,” Aether menyeringai kecil dan Xiao menemukan dirinya ingin ikut tersenyum dengannya. “Tapi aku menghargai bunga dan apapun yang kamu rangkai, jadi kali ini pun akan kuserahkan pada Xiao.”
Xiao ingin bertanya kepada siapa buket bunga ini akan Aether beri, tapi ia tak yakin hatinya sanggup menerima jawaban atas pertanyaan itu. Jika Aether menemukan orang lain…
Xiao mengumpat pada dirinya sendiri dalam hati, sebelum menghampiri jajaran bunga segar untuk mempertimbangkan jenis-jenis apa saja yang akan dipetiknya hari ini.
“Baiklah. Tapi aku takkan keberatan jika kau memutuskan untuk memberikan input mu.”
Setiap hari Jumat pukul 4 sore. Aether selalu datang ke toko bunganya secara reguler untuk memesan buket bunga. Tiap kunjungan, ia selalu menyerahkan segalanya pada Xiao, mempercayainya untuk merangkai bunga untuknya, kecuali bunga Qingxin yang selalu dimintanya untuk disematkan di setiap pesanan.
Fakta terkecil bahwa Aether, sama halnya dengan dirinya, memiliki kecintaan terhadap bunga Qingxin, membuat Xiao semakin berharap bahwa Aether di hadapannya ini adalah Aether yang sama dengan yang ia kenal beribu-ribu tahun yang lalu.
Ia baru menemukan Aether kurang lebih tiga bulan yang lalu, setelah terpisah selama apa yang dirasakannya sebagai keabadian. Ketika pemuda bersurai emas dengan kelip bintang di netranya tersebut hadir di depan mata, Xiao nyaris, nyaris , tumbang karena rasa gugup yang merangkak naik ke tenggorokannya. Ia ingat bagaimana sepasang lengannya mengalami tremor hebat, berupaya keras menahan diri agar tidak langsung melakukan teleportasi dengan mengandalkan kekuatan anemo . Dirinya berhasil, hampir , semua berkat ribuan tahun penuh menahan diri.
Aether pada hari itu mengenakan hoodie dengan satu ukuran lebih besar dari tubuhnya, overall jeans yang menggantung dan longgar di kedua kakinya, dan sepasang sneakers berwarna putih. Ia bertanya pada Xiao mengenai bunga putih dengan daun berbentuk hati yang selalu ditemuinya ke mana pun ia pergi, namun tak punya kesempatan untuk mencari tahu sendiri.
Untuk seseorang yang sangat familiar, setelan pakaian pemuda tersebut nampak begitu asing. Kesadaran Xiao mengambang di antara dua era yang berbeda, memori membawanya kepada pahlawan yang menjadi inspirasi bagi puisi para penyair, tentang keberanian sang pengembara untuk menentang dekrit tuhan. Akan tetapi figur di depan matanya tidak memegang pedang di genggamannya. Tiada sedikitpun ingatan tentang keberaniannya di masa lalu.
Tak ada ingatan tentang Xiao, dan apa yang telah mereka lalui bersama.
Xiao tidak mengetahui apa pun soal Aether di hadapannya, dan pada saat itu juga terbesit di benak bahwa Aether yang ini bukanlah Aether yang sama.
Mengejutkan baginya, hari itu berjalan seperti hari-hari biasa; selain reuni dengan kekasihnya di masa lalu, tidak ada peristiwa tak terduga yang dihadapi Xiao. Xiao menjalankan bisnisnya seperti biasa, Aether membawa pulang buket bunga ke tempat yang tak Xiao ketahui (bukan pedang, tapi Xiao menemukan dirinya menyukai panorama itu).
Hal mengejutkan yang kedua di minggu itu, Aether kembali dua hari kemudian. Dan beberapa hari setelahnya, hingga akhirnya kunjungan Aether menjadi suatu kebiasaan baru di hidup Xiao.
Ia mengetahui beberapa hal baru tentang Aether di kehidupannya yang sekarang: dirinya bekerja sebagai penjaga di perpustakaan beberapa blok dari toko bunga milik Xiao, memiliki pengetahuan seluas tempurung tentang flora, minuman kesukaannya adalah caramel latte , dan ia selalu menatap Xiao lembut ketika ia mengira orang yang bersangkutan tak menyadari itu. Aether selalu terlihat seperti sedang mencari sesuatu… dan Xiao ingin melakukan segalanya untuk menemukan apa pun itu yang tak bisa Aether raih saat itu.
Satu hal lain yang ia pelajari tentang Aether adalah bahwa pemuda itu dapat dengan mudah mengukir eksistensinya di hidup Xiao untuk kedua kalinya.
“Cantik banget ,” Suara kagum Aether tepat di belakang Xiao menyeret dirinya kembali dari lamunan. “Namanya apa?”
Sepasang mata Xiao sontak terbelalak ketika menyadari apa yang baru dilakukannya.
“...Aster, Lily of the Valley , dan… Kala Lili,” Seusai menata flora tersebut di atas kertas kraft, Xiao membungkusnya secara terampil sebelum diikat dengan pita. Rutinitas ini ia akhiri dengan menyematkan satu bunga Qingxin di tengah-tengah buket, “Suka?”
Xiao menyerahkan buket bunga tersebut kepada Aether, jemari mereka bersentuhan beberapa detik lebih lama.
Aether selalu mendekap hasil karya Xiao dengan kasih sayang di matanya, dan inilah salah satu alasan mengapa Xiao mendedikasikan waktunya merangkai bunga untuk pemuda ini.
Terutama ketika Aether menyentuh bunga Qingxin dengan hati-hati, seperti saat ini.
“ Everytime I’m alone… I can’t help thinking about you.”
Bisikan lirih yang terangkat dari bibir Aether membuat jantung Xiao seakan terhenti. Dalam sekejap, dunianya berhenti berputar; darah tak lagi memompa oksigen ke otaknya.
Aether… apa Aether Ingat? Apa tadi kebetulan saja– apa Xiao berhalusinasi?
Xiao mengambil satu langkah mundur, kepala menunduk dalam. Satu-satunya upaya menyedihkan yang bisa ia lakukan saat ini untuk menyembunyikan kepanikan, tak kuasa untuk menatap Aether.
Bagaimana bisa? Cintanya baru saja mengucapkan hal yang sama dengan apa yang diucapkannya ribuan tahun yang lalu. Di malam yang amat penting ketika Xiao menyematkan bunga Qingxin di telinga Aether dan memutuskan bahwa ia ingin melalui masa depan bersama, sekalipun hanya korupsi dan hutang karma yang akan menyelimuti masa depan tersebut.
(“ Dengan kekuatanku yang seperti ini, aku tidak bisa memurnikan jiwamu, Xiao.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku ingin… ingin menjalani hubungan ini denganmu. Selama yang kita bisa, hingga apapun yang kita miliki sekarang diambil dari kita.”
Xiao tangkup pipi Aether, kemudian menengadahkan kepala sedikit untuk mengecup dahinya.
“Dan aku akan ada di sampingmu hingga waktu itu tiba.”)
“Xiao… selama ini, kamu tahu, ‘kan?”
“Aether…”
Dengan langkah kecil, Aether menghampirinya. Tangannya yang tak sedang memegang buket bunga mencengkram ujung kaus yang Xiao kenakan, meskipun Xiao bisa lihat tremor dan ketidakpastian dibalik gestur itu. Ketika Xiao bawa tatapannya kepada Aether, air mata mengaliri kedua pipi tanpa cela miliknya.
Xiao merasakan hal yang sama meluap di irisnya sendiri.
Mengabaikan benda yang berada di tengah mereka, Xiao bawa Aether ke dalam dekapan, erat. Bibirnya terasa asin, hidungnya perih, dadanya diremas oleh perasaan yang sudah dibendungnya semenjak kematian pemuda di pelukannya. Nama Aether, Aether, Aether diucapkan seperti mantra–di dalam pikiran, secara lisan.
Tangisan yang Aether keluarkan menghancurkannya, tetapi di saat yang bersamaan juga memperbaiki retak di hatinya.
Aether nyata. Ia ingat segalanya, dan yang terpenting, ia sudah kembali.
“Nanti bunganya rusak,” Ucap Aether di tengah isakan; suara hidung membuang ingus terdengar jelas. Xiao harap ia juga menyimpulkan senyum, sebagaimana Xiao menyimpulkan senyum yang tak tertahankan saat ini. “Maaf udah bikin kamu menunggu lama…”
Aster putih dan kuning adalah untuk kesetiaan Xiao terhadap cintanya; penyesalan bahwa ia tak bisa menjadi seseorang yang dapat mengubah takdir mereka, menuntunnya kepada determinasi untuk melindungi sang kekasih, meskipun dari dirinya sendiri.
Ukuran kecil Lily of the Valley sempurna untuk menggambarkan bagaimana Aether tak ayal menyadarkan Xiao tentang manisnya berada di samping lelaki ini, baik dengan ingatan yang utuh ataupun tidak.
Dan yang terakhir… Kala Lili adalah cara bagi Xiao untuk menyampaikan bahwa dirinya akan selalu menemukan Aether kapanpun ia dilahirkan kembali.
Xiao rekatkan bibirnya di pelipis sang kekasih, takkan merisaukan waktu yang harus dilaluinya untuk mampu mendapatkan Aether kembali di dalam pelukan, jika kebahagiaan ini adalah apa yang akan dirasakannya setelah pengorbanan itu.
Karena bagaimanapun juga, mereka punya segala waktu yang ada di semesta ini.
