Chapter Text
Good afternoon ladies and gentlemen, shortly we will be arrived at Kansai International Airport, in Osaka, Japan. Please fasten your seatbelt, adjust your seat position….
Ten tersadar dari tidur siang singkatnya. Penerbangan yang hanya memakan waktu sekitar 2 jam itu terasa sangat melelahkan. Mungkin bukan hanya karena fisiknya yang lelah, namun hati dan pikirannya juga. Kurang dari 24 jam yang lalu Ten masih bekerja di kantornya, sebuah majalah bisnis mingguan terkemuka di Korea. Bekerja di bidang yang disenangi tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi setiap orang. Sayangnya, kebahagiaan itu bukan milik Ten.
Setelah lulus kuliah ia harus dihadapkan pada realita kehidupan bahwa tidak semua yang dicita-citakan akan tercapai. Idealnya, Ten pikir ia akan lulus tepat waktu dari kuliahnya di jurusan seni rupa dan desain, langsung bekerja sebagai kurator karya seni di art gallery nomor wahid di Seoul, punya kolom editorial sendiri di majalah seni terpopuler.
Nyatanya dia harus berkutat sebagai editor majalah bisnis mingguan. Menyusun lay out demi lay out dari artikel yang harus terbit besok, memastikan setiap halaman layak naik cetak, tidak ada salah ketik, dan sebagainya dan sebagainya. Jam kerja yang sibuk membuat ia jarang bersosialisasi. Jangankan memikirkan untuk punya kekasih, teman saja hanya segelintir. Ia juga jadi jarang pulang ke rumahnya di Thailand. Untung saja orang tuanya tidak pernah komplain, malah mereka sangat mendukung karier apapun yang dipilih anaknya dan Ten sangat bersyukur akan hal itu.
Sudah sewindu ia menggeluti karier editornya ketika akhirnya Ten berpikir: Cukup.
Cukup sudah dia bekerja dari malam hingga malam lagi, cukup sudah menabung uang gaji, cukup sudah ia menghabiskan masa muda dengan tidak bahagia, cukup.
Di usianya yang menginjak 30 tahun dalam satu bulan lagi, Ten memutuskan untuk berhenti bekerja. Keputusan ini sudah bulat, tidak ada keraguan lagi. Awalnya, atasan tempat ia bekerja sangat menentang keinginannya. Pasalnya sebentar lagi Ten akan dipromosikan ke posisi yang strategis. Rekan kerja yang sekaligus sahabatnya, Doyoung sampai menangis saat ia membereskan barang-barang di mejanya kemarin. Namun Ten sudah yakin akan keputusan ini. Walaupun sebenarnya, ia belum tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Hidup cuma sekali, pikirnya.
Disinilah ia, di penerbangan menuju Osaka tanggal 1 Februari. Kurang dari satu bulan menuju ulang tahunnya. Osaka bukanlah kota tujuan terakhirnya karena sebenarnya ia ingin ke Kyoto. Kota yang kental dengan budaya dan seni yang masih sangat murni. Ia ingin belajar hal baru, ingin bertemu orang baru, sambil berkontemplasi tentang tujuan hidupnya setelah ini. Kyoto tempat yang tepat.
Setelah pesawat landing dengan mulus, Ten bergegas keluar dari pesawat dan menuju bagian luggage claim. Ia hanya membawa satu koper besar dan satu ransel saja, cukup untuk perjalanan 1 bulannya. Selesai mengambil koper, ia menuju gerbang imigrasi dan berhasil keluar ke arrival hall.
Welcome to Japan, Ten! pikirnya sambil tersenyum.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jam 8 malam Ten sampai di Kyoto dengan menggunakan shinkansen. Ia memutuskan untuk tinggal di share house yang ditemukannya di Airbnb. Letaknya di distrik Higashiyama, hanya satu kali naik bus ke stasiun Kyoto. Cukup strategis untuk bepergian ke seluruh penjuru kota. Ia disambut oleh host-nya, seorang anak muda seusianya yang bernama Yuta.
“Hai, betul dengan Chittaphon Lee..Leechaaa..”
“Ten, panggil Ten aja.” Sela Ten dengan cepat, Namanya memang rumit bagi lidah sebagian orang.
“Oh oke, Ten ya? Kenalin aku Yuta. Welcome di share house ku! Satu kamar untuk satu bulan betul ya? Sendiri aja kan?”
“Betul, aku sendiri aja.” Jawab Ten “Perlu deposit kah?”
Yuta tertawa kecil “Hehehe ga perlu kok, ini cuma share house kecil aja, bukan hotel.” Ujarnya sambil memberikan kunci untuk Ten “Ini ada dua kunci, satu untuk pintu kamar, satu lagi untuk pintu depan. Di rumah ini ada tiga kamar, satu kamar yang ku tempati di lantai bawah, dua kamar tamu di lantai atas. Nanti kamarnya yang di pojok sebelah kanan dari arah tangga ya, yang sebelah kiri sudah ada orang nya.”
“Oke makasih ya Yuta, aku ke kamar dulu mau taruh barang.” Ten tersenyum.
“Sama-sama, oh iya dapur, ruang tv, ruang laundry nya milik bersama ya, pakai aja kalau butuh. Met istirahat, Ten!” Yuta melambaikan tangan dan masuk ke kamarnya.
“Met istirahat juga Yuta.” Ten melambaikan tangan Kembali. Ramah banget, pikir Ten. Kayaknya aku bakal betah disini. Ten pun masuk ke kamarnya di lantai dua dan bersiap untuk tidur.
Besok hari baru akan dimulai.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ten terbangun karena silaunya cahaya matahari yang masuk melalui tirai jendela. Seketika ia panik melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ia bergegas ingin menuju ke kamar mandi sebelum akhirnya tersadar kalau sedang tidak berada di kamar apartemennya, aku kan sudah resign, pikirnya sambil tertawa kecil.
Dengan santai Ten melipat selimut, merapikan tempat tidur dan membuka jendela dan kamarnya. Udara dingin namun sejuk menyapa Ten dan membuatnya sedikit kedinginan. Namun ia tetap keluar menuju balkon, musim peralihan dari musim dingin ke musim semi adalah favoritnya.
Setelah bersiap-siap, Ten turun ke lantai bawah dan menuju ke dapur. Yuta sudah menyiapkan kopi dan teh dan beberapa bahan makanan untuk sarapan. Ia meninggalkan notes yang ditempel di kulkas: Pergi kerja sampai jam 6 sore, kalau ada perlu chat/telpon aja yaa, lengkap dengan gambar anime yang mirip dirinya. Ten tersenyum, benar-benar orang yang unik, pikirnya.
Saat sedang menikmati kopinya, Ten terkejut dengan kehadiran seekor kucing cantik berwarna putih abu-abu di depannya. Ada kalung dengan inisial Y di lehernya, kucing peliharaan, pasti milik Yuta. Seketika Ten langsung merasa kangen pada dua kucing kesayangannya, Louis dan Leon yang saat ini ia titipkan ke Yangyang di Seoul.
“Halo cantik, jadi temanku sebulan ini ya.” Ucap Ten sambil mengelus kepala si kucing.
Setelah selesai sarapan, Ten memutuskan untuk berkeliling dengan berjalan kaki di sekitar share house nya. Distrik Higashiyama tempat ia menginap sebenarnya penuh dengan objek wisata, namun suasana nya masih tenang dan tradisional. Sebab disini ada aturan yang tidak memperbolehkan wisatawan mengabadikan foto di daerah rumah warga. Hanya diperbolehkan di objek wisata seperti kuil dan pertokoan saja.
Ia menyusuri kuil Kiyomizudera dan berdoa sejenak. Mengamati pepohonan rimbun yang tertiup angin dan toko-toko souvenir dan camilan yang mulai baru saja buka. Banyak rombongan turis mulai berdatangan, juga ada beberapa pasangan yang mengenakan kimono sedang asik berfoto. Liburan memang menyenangkan, pikirnya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Ten sedang berjalan-jalan di pertokoan sekitar Kiyomizudera ketika tak sengaja ia menemukan sebuah coffee shop di ujung jalan. Coffee shop yang mungil itu tidak bernuansa minimalis seperti kebanyakan, cenderung klasik. Ten memutuskan untuk mampir sebentar. Begitu masuk, ia disambut oleh interior kayu terang dan sofa dengan cushion berwarna pastel. Seorang barista berdiri di counter kasir. Tampak ramah dan sudah cukup berumur, tapi masih tersenyum penuh semangat menyambut pelanggan.
Setelah melihat menu, Ten jadi bingung harus memesan apa. Coffee shop ini ternyata tidak hanya menjual kopi saja, tapi juga cemilan tradisional khas Jepang seperti kue dango, taiyaki dan mochi. Terlalu banyak yang ingin dipesan, tapi perutnya Cuma satu!
“Saya rekomendasiin kue dango hangat nya, ini salah satu yang terbaik di Kyoto.” Ujar suara pria di belakangnya.
Terkejut karena tidak menyadari ada orang di belakang, Ten pun menengok. Segera ia disambut oleh seorang pria bermata coklat dan berambut hitam yang mengenakan jaket hitam sederhana. Pria itu membawa ransel dan kamera yang dikalungkan di lehernya. Tampan.
“Atau kalau sedang lapar, coba pesan kitsune soba. Cocok untuk cuaca dingin seperti sekarang ini.” Ucapnya lagi sambil tersenyum.
Ten melamun sesaat sebelum akhirnya ia tersadar. “Oo..oh, terima kasih rekomendasinya.” Sambil membalikkan badan kembali ke kasir, ia merogoh tas untuk mengambil dompetnya. “Satu hot café latte dan satu kue dango untuk dine-in, terima kasih.”
Selesai membayar, Ten memilih untuk duduk di kursi dekat jendela. Sambil menunggu pesanan, ia mengamati sosok pria tadi. Sepertinya seumuran denganku, pikirnya. Pria itu memesan untuk take away dan sepertinya akan segera menuju pintu keluar sesaat setelah kopinya siap. Yang membuat Ten terkejut lagi, ternyata pria itu malah berjalan ke arah mejanya.
“Maaf kalau saya lancang, tapi sepertinya anda bukan turis lokal, betul ya?” ucapnya dengan ramah. “Ini beberapa rekomendasi tempat wisata di Kyoto dan sekitarnya yang belum mainstream, siapa tahu bisa jadi tambahan untuk tujuan di itinerary anda.” Ujarnya sambil menyodorkan brosur berbahasa Inggris. “Selamat berlibur!”
Ten bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih atau berkenalan kerena pria itu hanya tersenyum dan segera keluar dari coffee shop.
Ten sedikit berharap bisa bertemu lagi dengannya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
