Actions

Work Header

wouldn't it be nice to live in a world where we belong?

Summary:

Akhirnya Seokhoon paham sudah berapa lama sejak hal itu terjadi. Dia merindukan senyum cerahnya, dia merindukan just being able to see her. Dia dulu bisa melakukan itu setiap saat.
.
in which they meet again and hope that this time, there's no reason not to stay

Notes:

disclaimer:
+ ini bukan prediksi ku buat season 2. Ini aku nulis karena pingin liat spin-off yang mereka berdua aja. tapi karena gak ketemu ya jadi akhirnya begini, nulis sendiri :)
+ college and stuff, disini ku terinspirasi dari drama “do you like brahms?” aku sama sekali gak ngerti jurusan musik itu kayak gimana, jadi maaf banget kalo semisal salah atau tidak akurat.
+ aku juga nonton drama nya pake eng sub, bukan translate indo. jadi misal panggilan karakternya ada yang gak sama, aku minta maaf juga
+ sama karakter disini diluar yang ada di drama itu oc, gak usah dipikirin orangnya siapa

anyways, enjoy <3

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: cross my heart

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Setelah kematian Bu Shim Su Ryeon, hidup Rona berubah 180 derajat. Ibu nya ditangkap polisi, dituduh sebagai pembunuh. Dia tidak pernah percaya itu, maksudnya bagaimana bisa? Ibunya, Oh Yoon Hee sama sekali tidak mungkin bisa melakukan hal keji seperti itu, apalagi kepada Bu Su Ryeon, temannya sendiri.

Kemudian datang berita mengejutkan, ibunya entah bagaimana melarikan diri saat dipindahkan ke penjara setelah Ia dijatuhi hukuman seumur hidup. Rona seharusnya senang mendengarnya tapi yang bisa dia rasakan hanyalah lega. Lega ibunya bebas. Itu berarti ada kemungkinan ibunya masih hidup, di suatu tempat di luar sana. Dan dia tahu jika Ia bersabar dan terus menunggu, suatu saat mereka akan dipertemukan lagi.

 

Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. 3 tahun tepatnya. Sekarang dia merupakan mahasiswa semester dua, menuju tiga di perguruan tinggi. Rona bukan lagi gadis yang gampang marah seperti saat dia berada di SMA.

Sangat sulit baginya untuk kembali ke sekolah setelah kabar tentang ibunya yang melarikan diri, dia terus menerus diejek dan ditindas murid lain. Ketika itu terjadi, Rona bilang kepada dirinya sendiri, dia melakukan ini untuk ibunya. Untuk ibunya yang dulu ketika berada di bangku SMA dituduh walaupun tidak bersalah di sekolah. Ibunya yang tidak dapat memenuhi mimpinya. Dia harus bisa melewati ini untuk ibunya.

Rona berteman dengan Jenny sekarang, dan Minhyung juga. Mereka berdua satu paket si, saling mengikuti satu sama lain kemana saja. Mereka mencoba banyak untuk membuat sekolah lebih nyaman untuknya dan dia bersyukur untuk itu. Tapi dia rasa belum di level menjadi teman super-duper dekat, tapi juga bukan orang asing atau hanya kenalan belaka. Jadi Rona merasa menggambarkan mereka dengan kata teman terasa benar.

Jika seseorang bertanya kepadanya saat SMP, apakah dia dan jenny, akan berteman di sekolah menengah, jawabannya pasti tidak. Lucu bagaimana mereka berakhir seperti ini.

Oh dan dia rasa kita harus membicarakan tentang Ha Eunbyeol. Dia memenangkan trofi Festival Seni Cheong A, dan lulus semua ujian dengan nilai gemilang. Seperti yang diperkirakan semua orang. Dia diterima di Seoul National University (SNU) tanpa tes.

Ibunya Eunbyeol sangat bangga akan hal itu. Ini pertama kalinya Rona melihatnya begitu bahagia. Terkadang Ia merasa kasihan kepada Eunbyeol. Orangtuanya bercerai, dan dia juga mengetahui bahwa ibunya selingkuh dari ayahnya dengan ayah dari orang yang dia sukai. Sekarang ibunya juga masih menjalani hubungan dengan pria yang sama itu.

Rona tidak tahu bagaimana dia bisa kuat melakukannya. Sering ketika dia berpapasan dengan Eunbyeol, dia terheran dengan dia yang selalu menunjukkan penampilannya yang tangguh dan terpoles sempurna. Apapun yang terjadi.

Nggak capek ya kayak gitu terus?

 

Jika kalian bertanya, Rona tidak lagi peduli dengan penghargaan seni festival itu. Insiden yang menimpa ibunya sangat mengguncangnya. Ada saat dimana dia sempat kehilangan ego dan ambisinya untuk melakukan apa pun.

Tapi mungkin tidak semuanya sih, dia masih Bae Rona yang sama di dalam, tapi dia akan berbohong jika dia mengatakan tidak ada yang berubah. Dia kuliah sekarang, bukan di SNU tapi. Dia muak dengan anak Cheong A dan tidak ingin bertemu orang-orang disana lagi, makanya dia memilih sekolah lain, dia tahu rata-rata dari mereka pasti mendaftar di SNU. Dia mendaftar dan diterima di Yonsei University. Yonsei University masih bagian dari SKY, 3 kampus paling bergengsi di negaranya.

Oh well, ternyata egonya memang masih ada.

 

Rona juga masih tinggal di tempat yang sama, apartmentnya di Hera Palace. Setelah kejadian itu, dia benar-benar tidak punya tempat lain ataupun kerabat lain untuk dituju. Jenny dan ibunya banyak membantunya dalam proses ini, juga dengan bantuan Jaksa Lee, ayah Minhyuk.

Secara teknis, dia belum cukup umur dan tidak bisa hidup sendirian. Tapi dengan bantuan mereka Rona berhasil mengamankan tempat itu menjadi miliknya. Karena ibunya dinyatakan hilang, Ia juga mewarisi semua barang milik ibunya padanya. Ibunya ternyata meninggalkannya cukup banyak, cukup untuk bahkan mendaftar ke universitas yang bagus, tetapi dia tahu itu tidak akan cukup untuk jangka panjang setelah itu. Dia harus membelanjakan uang peninggalan ibunya dengan bijak.

Setelah mereka lulus, Jenny memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri, pergi bersama ibunya. Kasihan sekali Bu Ma Ri, Rona merasa setelah ditinggal suaminya lama dan hanya hidup beruda dengan putri satu-satunya, Ia tidak bisa hidup sendirian. Mereka berdua pun mngemas semua barang dan pindah.

Sedangkan Minhyuk, masih tinggal di Hera Palace, berhasil masuk ke SNU. Hal itu mengejutkan smeua orang. Rona tahu mesti banyak yang mengira itu pasti karena koneksinya tapi Minhyuk benar-benar belajar keras untuk ujian masuk itu, dia pantas mendapatkannya.

Cheon Seo Jin dan Joo Dan Tae tinggal di Penthouse untuk beberapa bulan, tetapi kemudian pindah ke rumah besar yang terletak di bagian elit kota, membawa Eunbyeol bersama mereka. Eunbyeol tinggal bersama ibunya sekarang, tetapi Rona melihat ayahnya beberapa kali menjemputnya ketika mereka masih di sekolah.

Dia rasa keluarga Eunbyeol akhirnya menetapkan kesempatan agar ia bisa bertemu dengan kedua ayah dan ibunya. Untuk hubungan yang dimulai dengan kebohongan, mereka berdua secara mengejutkan masih bersama hingga sekarang.

Setahun setelah insiden tersebut, dan ketika semua berita telah mereda, penghuni baru mulai berdatangan lagi. Jadi ya, semuanya kembali normal.

Anak-anak nya berkurang tapi. Maksudnya hanya ada 2, bukan 1 dari anggota Hera Club kecil yang masih tinggal di sini. Minhyung. Jenny pindah ke luar negeri. Rona tidak terhitung, dia tidak pernah menjadi bagian dari geng kecil mereka.

Dan Seokyung serta Seokhoon,

 

Rona tidak pernah melihat mereka berdua lagi setelah mereka pindah ke luar negeri 3 tahun yang lalu.

 

 

 

×××

 

 

 

Semester 3 nya akan dimulai sebentar lagi. Rona mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, bahwa ya, dia harus mulai menghasilkan uang sendiri. 

Jadi di sinilah dia sekarang, di depan sekolah menengah lamanya. Rona menemukan tawaran yang mengatakan bahwa ada pembukaan slot untuk menjadi advisor siswa selama mereka liburan.

Ini sekolahnya, Cheong A, berisi terlalu banyak orang yang ambisius. Dia tidak sedikit pun terkejut bahwa banyak siswa mengambilnya meskipun itu selama liburan. Ditambah bayarannya yang lumayan tinggi bagi mahasiswi sepertinya, mengorbankan waktu luangnya untuk mengajar anak-anak merupakan hal yang setimbang.

Di luar sudah gelap saat dia selesai. Rona berjalan menuruni anak tangga yang dulu biasa la lalui setiap hari. Sekolahnya sangat cantik, dia berharap dia dulu menyadarinya lebih awal.

Memang ada banyak hal yang Rona harap terjadi selain kejadian itu, tetapi menurut apa yang dituliskan di buku yang pernah Ia baca dulu, orang seharusnya tidak usah memikirkan rasa bersalah terlalu lama.

Rasa bersalah.

Dia tahu dia tidak bersalah sama sekali disini, tapi dia tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.

Mungkin jika dulu dia tidak bersikeras, ngotot ingin menjadi penyanyi opera, atau jika dia tidak pernah mendaftar ke Cheong A. Mungkin sekarang dia tidak akan tertinggal di sisa-sisa kekacauan ini.

Sendirian.


Jalanan di luar kosong. Sebagian besar siswa yang pulang dijemput oleh orang tuanya dengan mobil. Ketika berjalan lebih dekat, Rona bisa melihat ada seseorang yang duduk di halte bus.

Orang itu menoleh dan sekarang menatap lurus ke arahnya. Dia berdiri.

Rona bisa mengenali silhouette itu di mana saja. Pakaian yang tertata rapi, cara dia memasukkan tangannya ke saku, rambut yang sedikit acak-acakan karena angin.


Tidak, tidak mungkin.

 

 

"Rona?"

 

 

"Seok-" Rona tersentak dugaannya benar, "Joo Seokhoon?"

 

 

..

 

Keduanya berdiri diam. Tidak percaya bahwa bertemu lagi disini, out of all places they could be. Akhirnya Rona berkata, "Apa yang kamu lakukan di sini?"


“Baru saja lewat” jawab Seokhoon mengusap debu yang tidak ada di mantelnya.

 


“Oh.”

 

 


Hening.

 


It’s awkward.


Maksudnya, apa yang bisa Seokhoon harapkan selain ini? Ketika mereka bertemu lagi bakal pelukan dan bersenang-senang gitu?

Sudah bertahun-tahun sejak mereka melihat satu sama lain. Dan dulu ketika Ia pergi, Seokhoon juga tidak mengucapkan selamat tinggal. Dia tidak tahu di mana posisi mereka sekarang.


“Kamu habis pulang dari kampusmu, memang melewati sekolah kah? atau?” Seokhoon mencari topik pembicaraan.


“Sebenarnya aku baru saja balik dari sekolah. Aku kayak mengajar gitu sekarang, temporary.” Rona menjawab.


"That’s cool."


"Itu sementara" Rona menempatkan seuntai rambut terurai ke belakang telinganya. “Aku mengajar- ya tapi. Ini sementara-"


“Nggak, serius. Itu keren." Seokhoon meletakkan tangannya di lengan Rona, mencoba menghentikannya merasa gugup. Rona berhenti sejenak, lalu segera melepaskan lengannya.


Benar, Seokhoon seharusnya tidak melakukan itu.


Haruskah dia meminta maaf?


Dia harus, ya, dia harus.

 


"Maaf."


Rona membalas dengan tersenyum kecil.

 


Ada perasaan berdebar muncul di dalam dirinya. Astaga, akhirnya Seokhoon paham sudah berapa lama sejak itu terjadi. Dia merindukan senyum cerahnya, dia merindukan just being able to see her. Dia dulu bisa melakukan itu setiap saat.

 


“Kamu belum benar-benar menjawab pertanyaan ku tadi.”


Seokhoon tidak paham, "Pertanyaan apa?"


"Kamu ngapain ke sini?" ulang Rona sambil sedikit menyipitkan matanya.


Itu juga, gayanya yang bertekad untuk mengetahui jawaban dari setiap pertanyaan. Senang mengetahui banyak hal. Seokhoon senang hal ittu tidak berubah.


“Cuma lewat, beneran. Tadi selesai belanja terus sadar aku parkir di area deket sekolah. Jadi pingin ke sekolah. Jalan kaki lihat sebentar, ngeliat berapa banyak hal yang berubah.”


“Nggak banyak kok yang berubah,” Rona memberi tahu.


“Aku sadar setelah muter sebentar.”


Rona tertawa mendengarnya. "Baiklah, lanjutkan pengembaraanmu. Aku pamit duluan mau pulang” lanjutnya sambil mengangkat bahunya, menunjukkan Seokhoon tas yang Ia bawa.

 

“Kamu mau tak anterin pulang?”

 

 

Seokhoon baru tahu ternyata dirinya memiliki keberanian untuk mengatakan kalimat itu dengan lantang. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, Rona setuju dengan tawarannya. Sekarang Rona sudah duduk manis di kursi penumpang dengan sabuk pengaman terpasanng. Otak Seokhoon masih belum bisa sepenuhnya memproses hal ini sedang benar-benar terjadi.


"Sekarang kamu tinggal dimana?" tanya Seokhoon sambil menyalakan alat navigasi.


“Masih di Hera Palace. Ku yakin kamu tahu dimana tempatnya tanpa GPS."


Seokhoon kaget mendengar jawabannya, "Kamu masih tinggal di sana?"


"Iya." Rona menatapnya, memahami mengapa dia pasti terkejut. "Lagipula aku tidak punya tempat tinggal lain juga. Jadi kalau mau pindah, pindahnya mau kemana."

 

Jika dia benar-benar jujur pada dirinya sendiri, tadi setelah Seokhoon sadar ia berada di lingkungan sekolah. Dia memang sengaja memutuskan untuk menaruh barang dan berjalan-jalan, for old time’s sake. Kakinya membawanya ke halte bus di depan sekolahnya. Ingatannya kembali ke masa di mana dia biasa melihat Rona naik bus.

Seokkyung tidak akan pernah setuju jika dia pulang bersama dengan Rona. Seokhoon kemudian juga ingat bagaimana dia dulu pernah membuat catatan mental didalam kepalanya, untuk diam-diam naik bus pulang bersama Rona. Sayangnya hal itu tidak pernah terjadi.


Lucu bagaimana tadi dia hanya memikirkannya, sesaat kemudian, Rona benar-benar muncul.

 

 


This must be fate.

 


Mereka mulai mengemudi, mengobrol kecil di sepanjang jalan. Rona benar-benar memperbaruinya tentang hal-hal dan bangunan baru yang bisa Ia lihat. Dia bilang ada kedai tteokbokki baru yang harus dia coba, lain kali ketika Seokhoon melewati jalan ini lagi. Menurut Rona, rasanya enak banget, bahkan buat seseorang yang tidak suka jajan dan makanan pedas sepertinya.

Rona masih ingat itu.


Seokhoon kemudian bertanya kepada dirinya sendiri, apakah perkataan Rona adalah undangan bagi mereka untuk bertemu lagi? Tapi dengan cepat menghapus pikiran tersebut.

Lampu lalu lintas berubah menjadi merah dan mereka berhenti. Sekarang mereka berdua terdiam, Rona menyalakan radio, melodi lembut yang keluar dari speaker mengisi ruang di antara mereka.

Seokhoon melihat ke kaca spion tengah, mencoba melihat Rona sekilas tanpa dia sadari. Rona sedang menghadap ke jendela luar, melihat lampu di seberang jalan. Terlihat dari refleksi bercak cahaya kecil terpantul di wajahnya. Ketika Rona berbalik, pandangan mereka bertemu.

Mereka tetap seperti itu, saling memandang, tanpa saling bertukar kata. Mobil di belakang mereka membunyikan klakson, menandakan lampu sudah berubah hijau, memutuskan kontak mata mereka.

 

“Kamu tahu,” Rona akhirnya mengatakan sesuatu.

"Yaa." Seokhoon menjawab dengan sedikit senandung, mata fokus kembali ke jalan.

"Kamu tadi bisa naruh tas belanjanya di bagasi mobil."

Tas barang belanjaan. Seokhoon tadi meletakkannya di kursi belakang tanpa berpikir panjang. Dia melirik kebelakang sekilas dan Rona benar, beberapa hal, seperti jeruk yang dibelinya, setengahnya sudah terguling keluar dari kantong plastik, turun ke kursi.

“Tadi gak kepikiran.” Jawab Seokhoon.

“Kalau begitu lakukan itu lain kali.”

“Iya. Next time.” Rona menangguk merespon.

Itu lagi, kata-kata ‘lain kali’. Apakah dia hanya mengucapkan kata-kata kosong kepadanya atau apakah dia benar-benar serius, ingin bertemu dengannya lagi?


Mereka tiba di Hera Palace, Rona berkata tidak apa-apa menurunkannya di trotoar depan, tapi Seokhoon, menjadi pria gentlemen, mengantarnya sampai depan lobi. Rona turun, lalu mengucapkan terima kasih.

Seokhoon berpikir kepada dirinya sendiri, Ini mungkin terakhir kalinya dia bisa bertemu seperti ini.

Dalam perjalanan tadi, Rona sama sekali tidak meminta nomor barunya atau bahkan penasaran dan bertanya, “di mana kamu tinggal sekarang? ” Kalau ada yang penasaran dengan jawabannya Seokhoon sekarang tinggal di tempatnya sendiri, bersama Seokkyung.


He better not messed this up.

 

 

“Bae Rona.” Panggilnya.


Rona berbalik badan. Lampu di tempat ini luar biasa, dia terlihat menakjubkan, berdiri di depan pintu kaca besar yang terang. Pantulan cahaya lampu di mata dan rambutnya membuat Rona tampak bersinar. Literally.

 

It’s nice seeing you again.” Seokhoon melanjutkan. He want to facepalmed himself, that was g-r-e-a-t.


"Likewise." Rona balik menjawab dalam bahasa Inggris.

 

 

Cute.

 

Dia tidak bisa menahannya. Seokhoon tersenyum dalam seluruh perjalanan pulang. Dia melihat dari kaca spion, Rona menunggu dan melambaikan tangan sampai mereka berdua tidak bisa melihat satu sama lain.

Sekarang ini rasanya seolah-olah dia kembali berada di bangku sekolah 

Malam ini, Seokhoon menyadari, bahkan setelah bertemu ratusan orang baru selama dia tinggal di luar negeri, hatinya masih sama. Bukan, dia tahu, sejak awal hatinya memang tidak pernah berubah.


Hatinya masih bersamanya.

 


Dia bertanya apakah Rona sadar betapa besar efek yang dia miliki terhadap dirinya.

 

 

 

×××

 

 

 

Wednesday
20:26

 

me:

hey tebak coba

kamu ini lagi jam tidur apa bangun si
sorry. sumpah gak inget perbedaan waktu kita berapa jam

dah lah langsung tak ceritain aja

aku ketemu dia hari ini


Thursday
00:33


jenny:
lu ngirim itu kepagian. google aja bedanya tu sekarang 14 jam :v

di sana tengah malem mesti ini

dia siapa?

runggu dia...

dia, as in him??

mereka udah balik? sejak kapan??

Minhyuk gak ada bilang apa-apa. Gak ada yang ngasih tau gua apa-apa

 

01:05

me:
iya. him

aku juga baru tau


jenny:
you should be asleep by now


me:
iyaiyaaya


jenny:
(─_─)

lu tahu dari mana?

bahkan gua aja gak ngerti. Dan gua selalu ngerti

me:
tadi malem? technically taunya udah kemaren, aku ketemu

pas pulang


jenny:
Papasan gitu?

me:
iya

trus pulang bareng

jenny:
sama elu?

bukannya keluarganya udah pindah ya dulu. dah gak di Hera Palace lagi

me:
pulang barengnya kayak,

nganterin-aku-pulang bareng…


jenny:
Bae Ro Na?!?!!

Ini kalian lagi cinta lama bersemi kembali gitu? Setelah berapa tahun? Ketemu lagi langsung??

me:
nggak

jenny:

apa iya

<(¬_¬<)


me:
beneran

dia ngajak, trus aku jawab iya. udah


jenny:
Hal pertama yang dia lakuiin setelah lama gak ketemu ama lu langsung ngajak kencan?

lagi??

wah joo seok hoon (´▽`ʃƪ)♡

me:
NGGAK

maksudnya ‘ya’ tu jawab dia nawar nganterin aku pulang

dah ah males mau ngomong

jenny:
ih kenapaa

dia telpon ya????

cieee

ronaa

 

..

Rona meletakkan teleponnya. Dia bisa melihat dari layar bahwa itu masih berkedip. Indikasi pesan baru masih datang dari Jenny.

Dia berbaring di atas tempat tidurnya memikirkan apa yang baru saja dikatakan Jenny. Maksudnya pesan yang baru saja dia kirim. Seokhoon meneleponnya? Bagaimana dia bisa melakukan itu jika dia tidak memiliki nomornya?

Rona menarik selimutnya ke dagu. Mengapa dia tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Rona mungkin tadi bisa mengumpulkan keberanian untuk bertanya. Atau mungkin tidak. Dia berteriak di dalam hati dan mengubur kepalanya di atas bantal. Tadi tidak terasa nyata Rona bertemu dengan Seokhoon lagi. Dia menampar pipinya dengan ringan.

 

Itu sakit.

 

Ini nyata.

 

 

Rona sadar ternyata Seokhoon tidak banyak berubah ternyata selama berada disana. Masih berjalan dengan cara yang sama, berbicara dengan cara yang sama, dan memandangnya dengan cara yang sama juga.

Tunggu, ini dia bergerak terlalu cepat.

 

Kenapa dirinya seperti ini?

 

Dia kemudian memainkan apa yang baru saja terjadi di dalam kepalanya. Mereka bertemu di halte bus. dia memintanya untuk mengantarnya pulang. Ini hanyalah hal-hal kecil yang sederhana.

Sekarang dia membayangkan, belanjaan berada di kursi belakang, seolah itu yang belanja dia dan Seokhoon. Itu terlihat domestic.

 

Domestik

Seperti-pasangan-yang-habis-pergi-berbelanja-bersama-domestik

Masih incredibly domestik.

 

She doesn’t like this.

 

 

 

×××

 

 

 

Seokhoon seharusnya bisa meramalkan ini.

Sama sekali tidak mungkin dirinya di masa depan akan melanjutkan harinya dengan normal seolah-olah dia tidak bertemu Bae Rona. Ditambah dia juga mengantarnya pulang. Dirinya sekarang sedang mengutuk diri nya di masa lalu karena tidak mengumpulkan keberanian untuk bertanya. Dia bisa saja meminta tolong sekretaris ayahnya untuk melakukan pencarian, tetapi dia tahu dia tidak akan lolos begitu saja tanpa pertanyaan.

Jadi sekarang Seokhoon berada di kamarnya, sedang memikirkan antara siapa yang harus Ia bertanya di antara kedua teman lamanya, Jenny atau Minhyuk.

Seokhoon menimbang opsinya. Begitu dia bertanya tentang Rona kepada Jenny, dia tahu cewek itu pasti akan langsung lapor kepada Seokkyung. Bahkan jika Seokhoon berhasil menyuapnya dengan apa pun, dia akan mengambil hadiah itu dan tetap memberitahu saudara perempuannya.

Jika dia bertanya kepada Minhyuk, dia pasti juga akan memberi tahu Jenny. Keduanya akan berakhir dengan hasil yang sama. Seokkyung ujungnya juga akan tahu bahwa dia bertemu dengan Rona. Seokhoon tidak ingin hal itu terjadi, setidaknya untuk saat ini.

Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Minhyung. Bertahun-tahun telah berlalu, semoga dia berubah, tidak lagi sedekat itu dengan Jenny. Dan semoga juga dia tidak mengubah nomor teleponnya.

 

..

8:19


me:
Hai, ini aku Joo Seokhoon

Apa benar ini nomor telepon Minhyuk?

 

Ping


Dia terkejut seberapa cepat nomor tersebut menjawab.

 

 

Minhyuk (semoga bener):
hai. kamu benar in minhyuk

ini yang ngirim benar-benar seokhoon?

kembarannya Seokkyung?

me:
Iya

Minhyuk (semoga bener):
woww

hey dude

what’s up, how’s it going??

me:
Good

lalu mereka saling mengirim pesan disaat yang sama

Minhyuk (semoga bener):
What do you need man?

me:
Bisa minta tolong nggak?

Sama drop the english, aku masih paham

Minhyuk (semoga bener):
gua tentu bisa bantuin apa aja

Ini mesti tentang a certain someone gua yakin. seseorang yang masih tinggal di apartemen yang sama kayak dulu.

namanya dimulai dengan

b

lalu a

kemudian

e

 

 

Seokhoon menatap layarnya dengan tidak percaya. Bagaimana Minhyuk mengetahui semua ini?

 

 


me:
Kamu kok? Tahu?

Minhyuk (semoga bener):
[mengirimi gambar]

sejak liat itu dah mikir, berapa hari si gua bakal nunggu sebelum lu akhirnya nanya sesuatu lol

 

 

Seokhoon membuka file tersebut. Itu adalah foto Rona yang melambai kepadanya di lobi Hera Palace.

 

 

me:
1. that’s really creepy
2. itu dapet dari mana
3. lu mau apa dari gua

Minhyuk (semoga bener):
A good, let's say, magician never reveals his secret

Bisalah dapet

me:
you are not a magician

Minhyuk (semoga bener):
Yes, but I happen to magically have Rona’s phone number ^.~

 

 

Seokhoon menghela napas. Minhyuk tahu persis apa yang sedang Ia lakukan.

 


me:
lu mau apaan cepet

Minhyuk (semoga bener):
Kalo sama aku bicaranya gak gitu sayang

Kita mulai dengan kamu maunya apa

Trus nanti kita diskusiin dari situ

 

..

Meskipun dari mana Minhyuk bisa mendapatkan fotonya itu terlihat mencurigakan, dia akhirnya bercerita banyak tentang Rona, dan anehnya secara gratis. (atau mungkin ini Minhyuknya sendiri lupa, dia tadi sangat entusias tadi menceritakannya. Seokhoon tentu saja tidak akan mengingatkannya).

Seokhoon sekarang tahu bahwa Rona sedang belajar di Yonsei University, jurusan Music Composition. Minhyuk menjelaskan bagaimana Rona tidak ingin pergi ke SNU, walaupun memiliki nilai yang cukup, karena dia hanya akan bertemu orang yang sama lagi, seperti saat dia di Cheong A. Dia menginginkan awal yang baru.

Minhyuk juga memberitahunya tentang rutinitas hari-hari Rona, setelah meyakinkannya bahwa dia bukan penguntit, Rona sendiri yang mengatakan ini secara langsung. tahu ini karena rupanya mereka bertiga sekarang berteman. Dia, Rona dan juga Jenny.

Pada hari kerja, Senin sampai Jumat, Rona pergi kuliah seperti mahasiswa lainnya. Lalu istirahat makan siang, sebagian besar makan di luar kampus si, kemudian balik untuk kelas-kelas selanjutnya. Jika dia harus berlatih, dia pergi ke ruang latihan setelah itu. Dan kemudian langsung pulang. Rona dulu mengajar setiap hari Senin dan Rabu, tetapi sekarang tidak lagi. Minhyuk menemukan bahwa pelajaran terakhir dari kelas tambahan atau apa pun sebutannya adalah pada hari Seokhoon mengantar Rona pulang.

Akhir pekan dia kebanyakan berada di rumah, tapi sekarang karena pengajarannya sudah selesai, dia sedang mencari pekerjaan paruh waktu lain yang tidak bertentangan dengan jadwalnya.

 

..

me:
Hari nya terdengar

Minhyuk (semoga bener):
membosankan,

iya tahu

me:
dia harus tiap harinya seneng-seneng, pergi ke aku gak tahu, shopping, jalan-jalan sama temennya

Minhyuk (semoga bener):
jangan salahin dia milih kayak gitu

jadi mahasiswa musik itu udah susah, bayangin sesulit apa buat dia yang sendirian, gak ada orang yang dukung dari belakang.

 

 

 

×××

 

 

 

“Kamu bukan anak sini.” Rona berkata pada sosok yang menghalangi jalannya.

"Emang bukan." Seokhoon menjawab, "Tapi kampus adalah ruang publik, aku bisa pergi kemanapun yang aku suka."

Hyewon, temannya yang berjalan bersamanya menerima petunjuk itu. “Dia benar, jadi aku akan pergi.” Dia berkata. “Rona, bersenang-senanglah!”

"Hyewon no- jangan ninggalin aku-." Tidak ada gunanya memanggil Hyewon, temannya meninggalkannya dengan sengaja. Rona melihatnya sudah menyeberang jalan ke sisi lain.

Rona berusaha sekuat tenaga untuk untuk tidak merasa tersipu dengan pertemuan mendadak ini. Apakah ini takdir atau campur tangan Seokhoon ini sehingga dia dapat menemukannya tanpa informasi apa pun?

Rona merasa ini adalah campuran keduanya.

 

Dia tahu, sekarang Seokhoon pasti sedang mengamati benda yang tergantung dari tasnya. Itu gantungan kunci birunya. Dulu, walaupun sakit hati sekali Ia menerima hadiahnya kembali, Rona tidak pernah tega untuk membuangnya. Memulai kuliah dia membutuhkan sesuatu untuk membuatnya mengenali barang miliknya dengan cepat, gantungan kunci itu terpasang di tasnya terus sejak saat itu.

Rona memilih untuk mengabaikan Seokhoon yang masih terpaku dengan gantungan kuncinya dan terus berjalan. Sesuai dugaan, Seokhoon pun mulai mengikuti.

Setelah berjalan sekitar satu meter, Rona berhenti dan bertanya, "Kamu ngapain ngikutin aku?"

“Aku nggak ngikutin.” Seokhoon masih bersikeras dengan jawab sebelumnya. “Udah bilang tadi ini itu adalah ruang publik. Aku bisa pergi kemanapun aku suka.” Dia menjawab dengan cuek.

"Okay,” Rona memberi isyarat dengan tangannya. “Kamu boleh jalan duluan."

"Right." Seokhoon dengan percaya diri lanjut berjalan. Rona bisa melihat dia tidak tahu arah ke mana dia pergi. Dia berdiri dan menonton, Seokhoon lalu belok ke kanan menuju Kampus Sastra, bukan ke kiri, dimana pintu keluar berada.

Puas dengan apa yang dilihatnya, akhirnya Rona memanggil. “Btw, aku mau makan siang. Jalannya belok ke kiri.” Seokhoon langsung berhenti dan berlari balik ke arahnya.

 

 

Mereka berdua memutuskan untuk makan sub sandwich yang dijual di kedai di depan kampus, duduk di meja di sebelah jendela setelah Seokhoon bersikeras bahwa dialah yang akan membayar. Bahkan ketika Rona mengatakan dia sangat mampu membeli makan siangnya sendiri.

Rona menggigit sandwichnya. Dia melihat Seokhoon di depannya dan melihat dia tidak makan dengan benar. Matanya masih terpaku pada gantungan kunci di tas punggung Rona. Dia meraih tasnya dan melepaskan gantungan kunci.

Seokhoon menunjuk, “Kamu masih memiliki itu.”

“Aku gak tega buang. Kamu boleh kok ambil lagi, kalau masih mau” Rona meletakkan gantungan kunci di sebelah air minumnya. Seokhoon hanya terdiam.

"Kecuali kalo emang udah gak mau, tak ambil lagi- “Dia berdiri mengulurkan tangannya.

"Nggak, mau kok." Seokhoon menghentikannya. Dia mengambil dan memegang erat gantungan kunci di tangannya.


Setelah 3 tahun, akhirnya balik juga kembali ke pemilik awalnya.

 

 

“Kok kamu bisa tahu aku sekarang kuliah dimana?”

“Minhyuk.” Seokhoon menjawab singkat. Itu masuk akal.

 

 

 

Sebelum balik lagi ke kampus, Rona bertanya "Bisakah kita melakukan ini?"

“Bisakah, kita ketemu kayak gini, melihat satu sama lain segampang ini?”

 

"Kita bisa." Seokhoon menjawab dengan mantap, meyakinkannya.

 

“Aku mau ini Rona. Aku mau ketemu sama kamu.”

 

 

 

Ini rumit. Rona jujur tidak tahu di mana mereka berdiri sekarang. Mereka tidak pernah secara resmi ‘putus’ dulu, tetapi mereka sebenarnya juga tidak benar-benar berkencan, bukan? Dan setelah apa yang terjadi diantara orang penting di kehidupan mereka, keduanya tidak punya waktu untuk memikirkan perasaan romantis dalam bentuk apa pun.

Tapi melihat Seokhoon lagi, sejauh ini tidak memberinya apa-apa selain perasaan manis, bahagia, yang bisa membuat dia tersenyum selama berjam-jam. Rona berharap apa yang dia lakukan adalah hal yang benar. Dan jika suatu hari mereka mendapat bagian untuk membicarakan hal itu di masa lalu mereka, ketika mereka sampai di sana, Seokhoon akan tetap mendengarkannya kan ya?

 

..

19:52

hyewon:
Jadi gak mau cerita ni tadi siang tu siapa :)

me:
gak ada yang diceritaiin

dia bukan siapa-siapa :))

hyewon:
Really?

Dia nggak kelihatan kayak bukan siapa-siapa

me:
he’s no one but at the same time he's someone

hyewon:
how come someone be a nobody and a somebody at the same time?

me:
he just

is

 

 

 

×××

 

 

 

 

Setelah makan siang itu, mereka bertukar nomor telepon dan melakukan rutinitas baru bersama. Setiap dua atau tiga hari sekali, mereka menghabiskan makan siang bersama. Tempatnya bervariasi. Mereka seringnya berkunjung ke tempat yang Rona sarankan dan bersikeras agar Seokhoon mencobanya.

Awalnya Seokhoon tahu Rona berhati-hati dengan pilihan yang mereka coba, tapi setelah Ia memberitahunya bahwa dia tidak lagi pilih-pilih makanan dan mengatakan bahwa dietnya adalah kebiasaan yang dipaksakan dulu, Rona menjadi lebih ambisius dengan petualangan makanan mereka.

Sekali pernah mereka mencoba dessert burrito manis setelah makan siang. Burritonya itu terasa terlalu manis sampai gigi mereka berdua sakit setelah gigitan pertama. Untung Seokhoon mengingatkan untuk membeli satu dulu untuk dicoba, jika tidak dia pikir perut mereka berdua tidak akan selamat dari itu.

Hari ini alih-alih makan siang, mereka bertemu di café setelah pelajaran. Itu adalah tempat pilihan Seokhoon, yang katanya sering dia kunjungi. Satu langkah masuk dan Rona tahu ini adalah salah satu café kelas atas dengan resep minumannya sendiri.

Seokhoon mengambil waktu lama untuk memesan. Rona melihat ke konter dan melihat bahwa Seokhoon masih berbicara dengan barista. Dia mengerti.

Rona melihatnya selesai membayar dan berjalan ke meja mereka. Dia melihat barista itu juga meninggalkan posnya dengan sepotong kue, tapi begitu dia menyadari bahwa Seokhoon sedang berjalan ke arahnya, barista tersebut mundur dan kembali dengan wajah sedih.

"Apa yang kamu lihat?" tanya Seokhoon, meletakkan pesanan mereka di atas meja lalu berbalik untuk melihat kemana pandangannya tertuju.

"Dia." Rona menjawab, menunjuk ke barista. "Aku yakin dia pasti sedih sekarang"

"Kok tahu lagi sedih?"

"Aku baru saja menghancurkan impian coffee shop au-nya." Rona ingin mengeluarkan tawa jahatnya.

“Apa itu coffee shop au?”

“Tahulah, cerita klise di mana ada barista yang cakep, ada satu pelanggan juga yang cantik atau sebaliknya, yang mengunjungi café-nya setiap hari. Mereka sering ngobrol, terus jadi deket. Awalnya pelanggannya dateng untuk minum kopi, tapi lama-lama karena pingin ketemu sama si barista. Baristanya juga nanti minta shiftnya ganti, biar bisa ketemu terus sama pelanggan, gitu-gitu.”

"Jadi kayak di fanfiction?"

"Iya seperti itu." Rona menyesap kopinya.

“Kamu barusan ngaku kalau aku cakep.”. Ucap Seokhoon sambil berpose dengan secangkir kopinya.

“Aku ngaku baristanya cantik. Kamu emang ganteng. Aku gak usah bilang itu juga semua orang tahu.” Rona menjadi merah setelah mengatakannya.

Seokhoon tertawa, "Iya aku juga tahu."

 

“Biar kutebak, dia pasti juga memberimu kue gratis.”

“iya mbaknya kadang gitu. Apa ini masuk bagian dari the-whole-au-thing?”

"Ya" Rona menyipitkan mata. Tidak menyukai Seokhoon memanggil baristanya 'mbak'

"Apa dia pernah minta nomor juga?" Dia terus menginterogasi.

"Belum pernah deh." Seokhoon menggaruk kepalanya yang tidak gatal “Kami tidak sampai level itu.”

“Jadi kamu ingin berada di level itu?” dia bertanya, sedikit meninggikan suaranya. Dia kesal sekarang. Dan dia tahu, bahwa Seokhoon tahu bahwa jawabannya lah yang membuatnya kesal.

 

"Nggak. Tapi juga kalo punya pun kenapa? Satu-satunya orang yang pingin aku denger suaranya tiap hari itu cuma kamu.”

 

Rona tidak suka ini. Orang di depannya ini tidak memiliki hak untuk membuatnya merasa seperti ini. Bagaimana dia berubah dari awal mengganggunya menjadi membuatnya tersipu dengan begitu cepat?

Tidak membantu juga sekarang Seokhoon bersandar lebih dekat. Jika dia maju 10 cm lagi, Rona yakin dia bisa melihat jelas dan menghitung helai bulu dimata Seokhoon satu-satu, atau melihat kerutan lucu di bawah matanya lebih jelas lagi.

Jadi Rona melakukan apa yang dilakukan oleh seorang pengecut, dia berdiri dan pergi. Dia bisa mendengar suara gemerisik Seokhoon yang mencoba mengemasi barang-barangnya dengan cepat dan mengikutinya di belakang. Seokhoon berhasil menghendahuluinya, bahkan memegang untuk membukakan pintu untuknya tapi Rona tetap mengabaikannya.

 

"Rona." Seokhoon meraih tangannya untuk membuatnya berhenti.

“Kenapa?” dia merengek pelan, “Kamu mau aku gimana? Gak kesana lagi?”

"Aku gak pernah nyuruh kamu ngapa-ngapain. Lagian juga kopinya beneran enak, ngapain kamu mau berhenti beli.” Rona mengangkat bahu.

"Ronaa." Seokhoon memanggil lagi, menarik sedikit lengannya. Kemudian tangannya berpindah, sekarang menggenggam telapak tangan kanan Rona dengan erat.

 

“Aku nggak akan kesana lagi.”

 

Rona menatapnya, akhirnya menjawab pelan "oke."

Mereka kemudian terus berjalan, masih berpegangan tangan. Keduanya tiba-tiba lupa bagaimana caranya melepaskan.

 

 

.

 

Keesokan harinya, dia dihentikan oleh penjaga security di lobi saat berjalan keluar. Penjaga memberinya a cup of coffee on the go, mengatakan bahwa seseorang meninggalkan ini untuknya. Dia melihat cangkir tersebut dan menyadarinya bahwa bungkusnya berbeda dengan yang tempat yang Ia kunjungi kemarin. Rona tersenyum.

Rona sebenarnya tahu ini pasti dari siapa tapi masih bertanya kepada penjaga, siapa yang mengiriminya kopi. Dia menjawab bahwa dia telah disumpah untuk merahasiakan identitas pengirim sehingga dia tidak akan mengatakan apapun. Rona lalu bertanya apakah ada post-it, dia ingin menulis pesan untuk sang pengirim.

Dia menulis: terima kasih

Itu terlalu sederhana, pikirnya. Rona mencoretnya dan mengambil kertas baru.

 

thank you for the coffee ♡♡

 

Dia memberikannya kepada penjaga, menyuruhnya memberikan kertas itu kepada pengirim keesokan harinya. Dia memiliki perasaan bahwa pengirimnya pasti akan kembali.

Notes:

title: Wouldn't It Be Nice - Kate McGillan .
chapter title: Hesitate - Jonas Brothers .

why does the title sound so sad. when it's not though.